Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Gara gara lipstik


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, secerah senyum pasangan suami istri yang sepertinya tengah berbunga bunga. Bagaimana tidak seolah keduanya tidak ingin berpisah lagi setelah kejadian semalam. Meski tidak terjadi hal yang serius namun mampu menambah kadar cinta dihati keduanya.


"Dinda,,"


"Iya bang?"


"Hari ini kuliah sampai jam berapa?" tanya Dika saat mereka berada di meja makan


"Jam 12 bang, ada 3 mata kuliah. Ada apa bang?" tanya Dinda


"Ohh gak papa,, abang nanya aja. Nanti abang jemput pulangnya" jawab Dika


"Sebenernya, Dinda bisa pulang naik angkot . Abang nanti repot jemput Dinda terus" jawab Dinda


"Gak repot, nanti sama fatih jemput nya sekalian jalan pulang" jawab Dika


"Pagi ini gak jadi jemput Fatih?" tanya Dinda


"Gak jadi, tadi mama nelfon Fatih mau di ajak kerumah bude. Jadi abang anterin kamu ke kampus, setelah itu abang ke warung"Jawab Dika sambil menikmati sarapannya bersama Dinda.


"Ohh gitu,, padahal udah kangen banget sama Fatih" jawab Dinda dengan sedikit lesu


"Siang nanti kan ketemu juga" Jawab Dika dan diangguki oleh Dinda.


Beberapa menit kemudian keduanya sudah selesai sarapan, Dinda kekamar dan bersiap siap untuk pergi ke kampus, sementara Dika hanya duduk di ruang tamu sambil menunggu Dinda selesai bersiap.


"Ayo bang berangkat" Ucap Dinda saat sudah berada di ruang tamu. Dika mematikan ponselnya dan melihat kedepan, Dika sedikit menganga melihat Dinda yang terlihat cantik sekali saat itu. Dinda pun tersenyum malu malu saat Dika terus menatapnya, lalu Dika tegak dan menghampirinya


"Abang bisa cepet mati muda kalau kamu kayak gini Din" ucap Dika


"Apa sih bang? ngomongnya kok gitu! serem banget!" sahut Dinda dengan wajah tak suka


"Abang bakal cemburuan kalau kamu kayak gini Din! abang gak rela, pasti banyak cowok-cowok yang bakal deketin kamu! cantik banget, maasyaaAllah!" ucap Dika dengan memegang kedua bahu Dinda


"Terus Dinda harus gimana bang? apa Dinda dirumah aja, gak usah kuliah?" tanya Dinda


"Oh No! itu justru gak boleh! kamu harus jadi dokter seperti yang kamu inginkan!" jawab Dika


"Jadi?"


Satu tangan Dika beralih menyentuh tengkuk Dinda dan merapatkan kearahnya. Dika langsung menjangkau bibir nude itu dan membuat warnanya semakin memudar lalu menghilang. Dinda yang tidak memiliki kesempatan untuk menolak pun hanya bisa mencengkram erat kaos yang dikenakan suaminya.


Setelah dirasa cukup, akhirnya Dika melepaskan nya lalu mengambil tissue dan membersihkan sisanya yang terlihat berantakan.


"Lipstik mu terlalu tebal, abang gak suka dilihatin orang" ucap Dika sambil mengusap bibir Dinda


"Iya, maaf bang, besok besok pake lip gloss aja" Jawab Dinda


"Iya, mungkin itu lebih baik. Sepertinya abang harus lebih ekstra menjaga istri abang ini, lengah sedikit ditikung orang!" Ucap Dika sembari menjawil dagu Dinda dan membuat Dinda tersenyum.


"Yuk berangkat" ajak Dika


"Sebentar bang!" sahut Dinda cepat

__ADS_1


"Apa lagi?" tanya Dika


Lalu Dinda mengambil tissue di meja dan mengusap bibir Dika yang masih menempel bekas lipstiknya.


"Ada bekas lipstik! nanti dikira abang setengah setengah!" kekeh Dinda


"Hahaha,,, hancur reputasi abang!" jawab Dika


Setelah semuanya beres, keduanya pun langsung menaiki Vespa dan menuju ke kampus. Yang biasanya Dinda hanya berani memegang jaket Dika, namun tidak pagi itu. Dinda memberanikan Diri memeluk Dika saat berkendara dijalan raya. Tentu saja hal itu membuat Dika semakin bahagia hatinya.


Sampainya di kampus, Dika hanya mengantar sampai di parkiran, Dinda melepaskan helm yang dipakai dan memberikan kepada Dika


"Belajar yang rajin ya, biar nanti jadi dokter yang bisa menolong banyak jiwa" ucap Dika


"Aamiin,, doain Dinda ya bang, Dinda juga doain semoga usaha abang makin berkembang pesaaaatttt!"


"Aamiin" keduanya mengaamiinkan bersama.


"Dinda masuk dulu yah, abang hati-hati" ucap Dinda


"Iya,,, assalamualaikum"


"Wa'alaikumsalam"


Lalu Dika menjalankan vespanya meninggalkan kampus, sementara Dinda berjalan menuju ke kelasnya.


"Semangatt!!" Dinda menyemangati dirinya sendiri dan terus berjalan menuju kelasnya


"Dinda, tunggu"


"Angga?! ada apa?" tanya Dinda yang kemudian menarik lengannya


"Aku mau ngomong sama kamu, penting" ucap Angga


"Gak bisa Ngga, kelas ku mau di mulai" jawab Dinda


"Sebentar aja Din"


"Gak bisa! udah mau telat aku. Nanti aja kalau aku keluar kelas pertama" jawab Dinda


"Ya udah, aku tunggu di perpustakaan ya" jawab Angga


"Iya,, aku ke kelas dulu" Jawab Dinda yang kemudian pergi meninggalkan angga yang sepertinya juga baru sampai di kampus. Kemudian Dinda masuk kedalam kelas dan mengikuti mata kuliah perdananya.


2 Jam berlalu,,,,


Kelas Dinda sudah berakhir, dia bersama teman temannya pun keluar kelas satu persatu. Zara yang juga 1 kelas bersama Dinda mengajak Dinda ke kantin karena dirinya belum sarapan sejak pagi


"Ayolah Din temenin aku ke kantin" bujuk Zara


"Aku ada janji Ra, lagian cuma ada waktu 10 menit kan istirahatnya. Jadi aku pergi bentar ya," jawab Dinda


Zara tidak bisa memaksa Dinda, akhirnya dia pergi sendiri ke kantin sementara Dinda ke perpustakaan sesuai janjinya pada Angga. Saat sudah dekat di gedung perpustakaan, Dinda melihat Angga yang duduk di ruang tunggu saja bersama beberapa mahasiswa yang ada disana.

__ADS_1


"Sini Din" Angga tersenyum ke arah Dinda saat melihatnya.


Lalu Dinda mendekat dan duduk di bangku sebelah Angga


"Ada apa Ngga? aku gak bisa lama, mata kuliah keduaku sebentar lagi" ucap Dinda


"Aku,, mau nanya serius sama kamu" ucap Angga yang kemudian menarik lengan Dinda dan membawanya di samping gedung perpustakaan.


"Apaan sih?! gak perlu seret seret aku kayak gini juga!" Sarkas Dinda mencoba melepaskan cengkraman tangan Angga


Lalu Angga melepaskan lengan Dinda dan menatapnya dengan serius.


"Apa benar kamu sudah menikah?!" Tanya Angga langsung


Deg!


Dinda kaget saat Angga bertanya soal itu.


"Kamu,, kamu tau dari mana?" tanya Dinda dengan gugup


Rasanya hati Angga luluh lantah, baru mau membibit, malah harus sudah kecewa di awal.


"Jadi benar kamu sudah menikah?!" tanya Angga lagi


"I,,iya,,," jawab Dinda gugup karena hanya angga di kampus itu yang tau jika Dinda sudah menikah


Angga menarik nafas berat saat mendengar kejujuran Dinda saat itu.


"Aku baru merasa senang bisa ketemu kamu lagi. Aku,, aku baru mau menyatakan perasaan yang sedari dulu aku pendam. Tapi,,, hari ini aku harus menelan kekecewaan" ucap Angga lesu


"Maksud,,, kamu ,, apa?" tanya Dinda tidak mengerti,


"Aku suka sama kamu Din! dari kita bareng pas masuk OSIS. Tapi,, aku gak berani nyatain cinta aku sama kamu" jawab Angga


"Hah?!" Dinda syok


"Iya,, aku sudah menyukaimu sajak lama" Ucap Angga lagi


Deg!


"Kalau kamu tau aku hampir Nikah sama Kak Dimas, aku gak tau lagi kalian berdua bakal gimana! mungkin kalian akan saling terkapar di lapangan belakang sekolah!" batin Dinda.


Tak jauh dari Dinda dan Angga bicara, Zara yang akan kembali ke kelas dengan membawa makanan untuk Dinda terkaget saat melihat keduanya seperti terlibat pembicaraan yang serius.


"Jadi karena itu kamu gak mau nemenin aku ke kantin?!" Zara terlihat kecewa, yang kemudian memilih segera mempercepat langkah kakinya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Makasih yang sudah baca, dan ninggalin jejaknya di sini๐Ÿ˜๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2