Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Memulai Semuanya Dari Titik 0


__ADS_3

Dinda menghapus air matanya dan berjalan keluar dari ruangan Dekan. Hatinya sudah pasrah menerima semua yang terjadi saat ini. Meski cita citanya pupus, tapi Dinda tetap ingin semangat menjalani hidup.


"Dinda? kenapa dia baru keluar dari ruang Dekan? sepertinya dia habis menangis" Angga yang baru saja keluar dari ruang wakil dekan cukup kaget melihat Dinda mengusap air matanya tadi


Saat Akan melangkah maju, langkah Angga terhenti ketika melihat Dika yang baru keluar juga dari ruangan Dekan


"Loh! itu,, pak Dika?! Kenapa mereka berdua keluar dari ruang Dekan?!" Angga masih bertanya tanya sendiri.


Angga terus melihat Dika yang berjalan cepat menyusul Dinda dan dia juga melihat Dika menggandeng tangan Dinda dengan begitu erat, seperti sedang menguatkan.


"Apa yang sedang terjadi?" batin Angga


"Kita pulang yah,," ucap Dika saat tatapan nya bertemu dengan Dinda


"Iya bang" jawab Dinda dengan mengangguk


keduanya langsung turun ke bawah menjemput Fatih yang di titipkan pada Edo.


"Aku bener bener gak nyangka Dik! kok bisa sih isu itu muncul?! padahal kan jelas, nilai Dinda itu murni bukan perbuatan curang ataupun bantuan dari kamu!" ucap Edo masih tidak percaya


"Aku juga gak ngerti do. Ya sudah aku pamit ya, karena aku juga secara tidak langsung di berhentikan dari kampus ini. Setelah ini mungkin kami akan fokus jualan saja" jawab Dika yang kemudian berpamitan dengan Edo dan juga beberapa dosen lain yang ada di ruangan itu.


Sementara itu diluar, Angga mendengar semua pembicaraan mereka membuat Angga semakin penasaran.


"Siapa yang menyebarkan isu?! memangnya isu apa?!" batin Angga yang masih menerka nerka


"Apa isu hubungan mereka berdua?! tapi apa salahnya?!" Angga sempat berfikir keras, namun dia segera tersadar dan pergi saat melihat Dinda dan Dika akan keluar dari ruangan dosen. Angga bersembunyi agar keduanya tidak tau.


Kemudian Dika, Dinda dan fatih keluar dari ruang dosen dan akan pergi meninggalkan kampus.


"Ayah, kenapa kita pulang?" tanya Fatih

__ADS_1


"Gak papa, ayah sekarang gak ngajar lagi disini jadi kita pulang sekarang ya" ucap Dika dan diangguki oleh Fatih. Sejenak Dika menatap istrinya yang sedari tadi masih tidak banyak bicara. Tatapan keduanya tak sengaja bertemu, seolah Dinda mengatakan 'aku baik baik saja'.


"Aku harus cari tau, apa yang sebenarnya terjadi" Angga terpaksa harus pergi mengikuti jam kuliahnya.


**


Sampainya di rumah,,,


Dika memarkirkan motornya di depan pagar rumah, mengingat didepan rumah itu sudah menjadi warung mie ayamnya sekarang. Terlihat tempat itu cukup banyak pengunjung dan ada beberapa ojol yang duduk menunggu pesanan. Kemudian Dika, Dinda dan Fatih menyapa sekilas dengan ramah semua orang yang ada di sana,


"Gimana san warungnya?" tanya Dika


"Terpantau aman pak Dika! semua bisa teratasi. Loh bapak kok sudah pulang? Bukan biasanya sampai siang?" tanya Santo


"Gak papa,, kalian lanjutkan dulu ya, saya masuk kedalam sebentar" Dika kemudian berjalan menyusul Dinda yang sudah membawa Fatih masuk kedalam rumah


"Baik pak" jawab Santo


"Dinda"


"Iya bang?" jawab Dinda saat menatap suaminya


"Abang ingin bicara" Dika meraih tangan Dinda dan mengajaknya untuk masuk ke kamar mereka.


"Ada apa bang?" tanya Dinda saat keduanya sudah duduk bersama dan saling berhadapan. Tatapan keduanya pun sangat serius


"Soal kuliah kamu,,," Ucapan Dika menggantung


"Maaf bang, jika abang ingin membahas soal kuliah Dinda, seperti yang Dinda sudah katakan tadi di ruang dekan, Dinda sudah memutuskan untuk berhenti kuliah bang. Dinda gak mau malah menjadi beban Abang" ucap Dinda


"Maaf karena ketidakmampuan abang membiayai kuliah kamu" jawab Dika

__ADS_1


"Dinda tidak ingin memaksakan kehendak bang, kalaupun Dinda gak jadi dokter, berarti itu jalan takdir untuk Dinda. Lebih baik sekarang kita fokus saja pada tujuan kita kedepan bang. Kita mulai lagi semuanya dari titik 0. Bukan kah kata abang ' Jika hari ini kita gagal, masih ada hari esok untuk mencoba lagi. Kalau masih gagal lagi, terus mencoba jangan pernah berhenti. Kegagalan mengajarkan kita untuk sukses kedepannya nanti' Kita usaha sama sama ya bang, kita harus bangkit" Dinda menggenggam erat tangan Dika menunjukkan dia serius dengan ucapannya.


"Abang benar benar beruntung! abang tidak salah memilih untuk menikahi kamu! kamu itu seperti mutiara di padang pasir! " Dika meremat pelan jari jemari istrinya


"Kamu salah satu alasan abang masih bisa kuat untuk menjalani hidup ini. Tetaplah bersama abang meski saat ini keluarga kita diterpa badai" Dika memeluk Dinda dengan begitu eratnya. Dinda pun membalas pelukan Dika dengan tak kalah eratnya. Kedua nya pun menumpahkan rasa yang sudah menumpuk didalam dada.


"Kuatkan hati kami untuk bisa melewati ujian ini,,," Dinda berdoa didalam hatinya yang terdalam.


Di tempat lain,,,


Angga yang baru saja keluar dari kelasnya langsung berlari menuju ke ruang dosen untuk menemui Pak Edo. Awalnya tadi dia ingin langsung menemuinya namun Angga teringat, dia memiliki jadwal kuliah pagi itu. Begitu sampai di ruang dosen, Angga langsung masuk dan menuju ke meja Pak Edo


"Selamat siang pak" Sapa Angga saat melihat Pak Edo tengah sibuk dengan pekerjaannya


"Siang,, ada apa?" tanya Edo


Angga langsung duduk meski belum di persilahkan duduk oleh Edo


"Pak, saya mau tau soal Dinda dan pak Dika" Jawab Angga dengan setengah berbisik


"Hah?! untuk apa?!" Edo terkejut


.


.


.


.


Kembang kopinya yahhh biar betah lanjut nulisnya😃 Ujiannya nya masih berat banget ini🤐

__ADS_1


__ADS_2