
"Bapak,, di pecat dari kantor bu" jawab Dimas
Deg!
"Dipecat?!" Sekar terkaget kaget sampai menganga lebar
"Iya bu,," jawab Dimas
"Kok bisa pak? ada PHK besar besaran ya?" tanya Sekar semakin mendekat dan terlihat begitu penasaran, kenapa suaminya sampai di pecat
"Gak bu, itu karena bossnya genit. Bapak gak mau di tempelin terus! bapak kan sudah punya ibu" jawab Dimas
Wajah penasaran Sekar tiba tiba berubah merona. Tak tahan mendengar jawaban Dimas yang saat itu terlihat tengah serius menatapnya
"Bapak iihhh" Sekar tersenyum malu malu
Plaakkk
Tepukan ringan Sekar layangkan pada lengan Dimas
"Serius pak,,! jangan gombal gitu! ibu nanya serius!" ucap Sekar
"La beneran bu, itu boss bapak ternyata ada maksud tertentu sama bapak. dia naikin jabatan bapak di kantor eh ternyata itu hanya untuk kedok dia saja bu! tiap hari bapak di tempelin ibu monica, geli bapak!" jawab Dimas
"Ohhh bossnya ganjen...." sahut Sekar manggut manggut
"Ibu gak marah kan, bapak gak kerja lagi di kantor?! sekarang bapak sudah miskin, gak punya kerjaan, status masih mahasiswa , ,," ucap Dimas
"Bapak ngomong apa sih?! ibu cuma kaget aja denger bapak di pecat. Kalau ibu sendiri gak masalah sih bapak gak kerja di kantor itu, justru ibu juga gak suka kalau bapak di tempelin sama wanita lain" jawab sekar
"Jadi ibu sudah cinta sama bapak?" tanya Dimas
Deg!
Sekar terdiam saat tatapannya dikunci Dimas,
"Belum deh kayaknya,," kekeh Sekar
"Yah,, kirain udah" Sahut Dimas
"Pelan pelan aja pak, masih banyak waktu untuk saling mengenal. Jadi apa rencana bapak selanjutnya apa?" tanya Sekar mengalihkan pembicaraan
"Hum,,, "
"Tadi pagi bapak gajian 15 juta, Nanti 5 jutanya ibu pegang untuk kebutuhan makan kita sehari hari. 10 jutanya,, rencana bapak pengen buka usaha, tapi belum tau sih mau buka apa" jawab Dimas
"Ibu boleh saran?" ucap Sekar
__ADS_1
"Boleh,,," Dimas membenarkan duduknya dan memperhatikan Sekar yang terlihat sangat serius akan bicara
"Rencana ibu mau buka tenda pecel lele lagi di dekat taman kota pak, kalau bapak mau, gimana uang yang tadi kita pakai untuk itu? mungkin selain itu kita sama sama ngurus empang dan tenda tenda pecel lele?" ucap Sekar
"Bapak setuju, bapak akan bekerja keras untuk ibu dan anak anak kita nanti!" ucap Dimas dengan penuh semangat
"Hu'um,,," Sahut Sekar
"Bapak pikir, ibu akan marah dan ngomel ngomeliin bapak" ucap Dimas merangkul bahu isterinya
"Gak lah pak,, rejeki itu sudah ada yang mengatur pak, kalau sekarang kita kehilangan pekerjaan, tapi Allah gak akan tutup pintu rejeki yang lain" jawab Sekar
"Ini yang bapak suka dari ibu, ibu Sekar itu pikirannya Dewasa,, selalu bisa bikin bapak makin sayang" ucap Dimas ngedusel pada ceruk leher isterinya
"Pakkk,,,, jangan gitu ah! geli pak,, malu di lihati orang kerja!" Sekar menjauhkan wajah Dimas yang masih mencuri curi kecupan di lehernya
"Iya iya,,, Jadi kapan kita mulai belanja barang barang?" tanya Dimas
"Besok saja gimana pak? malam ini kita ke lokasi untuk di tinjau, gimana?" tanya Sekar
"Baiklah,,, bapak nurut sama ibu,," Dimas menggenggam tangan Sekar dan tersenyum padanya
"Makasih ya bu,,," ucap Dimas dengan penuh rasa lega
"Iya pak" Jawab Sekar terlihat malu malu.
"Cih! benar benar selera rendahan! wanita kampung begitu yang jadi sainganku?! OMG! benar benar tidak selevel denganku! Apa bagusnya dia daripada aku?! dilihat dari sudut manapun dia tidak ada bagus bagusnya! jangan jangan Wanita kampung itu memakai pelet sampai Dimas mau sama dia! Lihat saja, apa yang bisa aku lakukan untuk membalas sakit hatiku!!" Batin Monica sangat kesal karena wanita yang dipilih Dimas sangat jauh dari ekpektasi dia, Monica berfikir jika wanita yang mampu menaklukan hati Dimas sangat tinggi levelnya daripada dirinya. Kemudian Monica segera pergi meninggalkan empang Sekar sebelum ada yang melihatnya.
**
Malam menjelang,,,
Sejak setelah makan malam, Dinda berada di kamar Fatih. Sedangkan Dika berada di ruang kerjanya . Dinda fokus mengerjakan tugas kuliahnya sambil menemani Fatih yang tengah mewarnai kertas bergambar miliknya.
"Bunda,, ini baguc gak?" tanya Fatih saat menunjukkan hasil mewarnainya
"Emm bagus,, coba kakak kalau warnainya gak keluar dari garis sayang,,, sini bunda ajari ya" Dinda meraih pensil warna dan memberikan contoh pada Fatih. Dinda pun mengganti panggilan Fatih dengan kakak, untuk membiasakan Fatih nanti jika adiknya sudah lahir
"Coba kakak ikutin bunda" ucap Dinda dan Fatih menuruti bundanya. Kemudian Dinda kembali melanjutkan menyelesaikan tugas kuliahnya.
"Bunda,, Ngantuk" ucap Fatih sambil mengucek matanya
"Ya sudah,, ayo kita tidur" Ucap Dinda meninggalkan tugas kuliahnya dan mengajak Fatih menuju tempat tidurnya.
Dinda mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur saja. Lalu Dinda menemani Fatih untuk tidur. Tidak membutuhkan waktu lama, Fatih akhirnya tidur dengan pulasnya.
Setelah membereskan barang barang Fatih, Perlahan Dinda keluar dari kamar dengan membawa buku kuliahnya.
__ADS_1
"Apa abang masih di ruang kerja?" Dinda melangkah kakinya menuju ke ruang kerja Dika
Ceklekkk,,,
Dengan hati hati Dinda membuka pintu, dia fikir Dika tidak dengar, namun Dika menyapanya dengan tersenyum
"Masuk sayang" ucap Dika melihat sebentar ke arah pintu
"Hehe,, abang masih sibuk ya?" Dinda membuka pintu dan masuk kedalam ruang kerja. Tak lupa Dinda menutupnya kembali
"Sedikit lagi,, Abang lagi buat soal ujian" jawab Dika yang kemudian menutup soal yang baru saja dia buat di laptopnya
"Ohh,,, ya sudah kalau masih kerja, Dinda ke kamar saja kalau begitu." Dinda sudah akan pergi namun ditahan oleh Dika
"Sayang tunggu" Dika berdiri dan menghampiri Isterinya
"Ada apa bang?" tanya Dinda
Dika menghadapkan Istrinya tepat di hadapannya, ditatapnya Dinda dengan serius sedang Dinda tampak bingung di tayap begitu oleh suaminya
"Apa kamu sering curhat masalah rumah tangga kita pada ibu?" tanya Dika
"Maksud abang?" tanya Dinda
"Ya maksud abang, kamu cerita semua masalah rumah tangga kita pada ibu?" tanya Dika
"Oh,, pasti karena siang tadi ya?" ucap Dinda langsung menebak dan Dika mengangguk
"Iya" Jawab Dika
"Gak curhat sih bang, Dinda cuma cerita cerita biasa aja sama ibu. Gak semuanya,, Dinda masih tau batasan mana yang boleh di bicarakan dan mana yang tidak boleh. Abang gak perlu khawatir" ucap Dinda
"Alhamdulillah kalau kamu berfikir seperti itu. Abang hanya mengingatkan sayang,,, kamu sekarang adalah istri abang, kamu tanggung jawab abang. Didalam biduk rumah tangga, tidak akan hanya ada yang manis manis saja. pasti akan ada masalah, besar ataupun kecil didalamnya. Dan itu adalah masalah kita berdua, jadi kita berdua yang bisa menyelesaikannya. Cukup mereka tau kita dari luar saja, karena kadang pertikaian antara pasangan itu bisa bersumber dari keluarga. Contoh,, dulu Sierra selalu bercerita dan berkeluh kesah pada ibu dan bapaknya. Setiap ada masalah, masalah kecil pun mereka selalu ikut campur dan abang tidak ingin seperti itu, kamu mengerti kan maksud abang?" ucap Dika menangkup wajah istrinya
"Iyah,, insyaaAllah Dinda paham bang,,, kalau ada apa apa Dinda pasti ngomongnya sama abang" ucap Dinda
"Good wife, abang yakin isteri abang sudah semakin dewasa,,"
"Terima kasih sudah mengingatkan" ucap Dinda yang kemudian memeluk Dika dengan begitu eratnya
"Iya sayang" jawab Dika
.
.
.
__ADS_1
Nah,, yang gini nih emang sering terjadi di dunia nyata🤭 kadang curhatan itu yang sering menimbulkan pertikaian😑 bener gak gaeessss?