
Dimas tengah duduk di meja kerjanya dengan berfikir sangat keras. Dia benar benar memikirkan apa yang dikatakan papanya. Dia memikirkan niatnya untuk menikahi sekar, apa dia benar benar yakin?. Kemudian Dimas mengambil ponselnya dan membuka galeri ponselnya. Ponsel yang dulu sepertinya penuh dengan foto fotonya bersama Dinda kini sudah berganti banyaknya foto Sekar yang dia ambil secara diam diam. Dimas terus menatap satu persatu foto gadis manis itu
"Apa benar aku sudah mencintainya?! atau aku hanya kagum dengan kemandiriannya?! Tapi kenapa setiap kali aku bersamanya, aku merasa senang, aku merasa dipedulikan, setiap kata yang terlontar dari mulut nya selalu seperti cambuk yang membuatku tersadar. Apa aku terlalu cepat memutuskan ini? tentu aku juga tidak mau kejadian di masa laluku bersama Dinda akan terulang lagi. Aku benar benar bingung!" Dimas mengacak acak rambutnya sendiri meski rambut pendek itu sama sekali tak berubah.
"Aku harus pergi sekarang!" ucap Dimas yang kemudian beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari kantor itu. Sebelum pergi , Dimas mengatakan pada sekretarisnya jika dia ada urusan penting di luar. Setelah kepergian Dimas, bossnya pun mencari keberadaannya diruangannya
"Dimana pak Dimas?"
"Maaf bu Pak Dimas keluar, katanya ada hal penting yang harus di kerjakan" jawab sekertaris Dimas
"Apa dia lupa jika nanti jam 11 ada rapat dengan klien penting?!"
"Pak Dimas bilang akan kembali sebelum rapat dimulai bu, dia tidak akan terlambat" jawabnya
"Sepenting apa sih urusannya?! kenapa dia harus pergi di jam kantor seperti ini?! apa ini urusan wanita?! kenapa susah sekali mendapatkan hati dan perhatian nya?!"
Monica, seorang pimpinan tempat Dimas bekerja saat ini. Seorang janda kembang yang diam diam menyukai pegawainya. Dia melakukan berbagai cara untuk mendekati Dimas, sampai Dia memberikan jabatan wakil direktur kepada Dimas agar dia bisa terus berdekatan dengan lelaki itu. Namun Dimas tidak tidak pernah beranggapan lain dan hanya sebatas profesional kerja.
Monica sedikit kesal karena belakangan ini sangat sulit untuk menemui Dimas, dia sering menghilang meski saat jam rapat ataupun bertemu dengan klien penting dia selalu datang tepat waktu. Monica pun begitu penasaran
Sementara itu, Dimas sudah sampai didepan rumah keluarga Sekar. Tentu Dimas tau karena dia sudah pernah mengantarkan sekar pulang sebelumnya. Kemudian Dimas mengetuk pintu rumah kecil yang tidak sebanding dengan rumah keluarga pak Dirdja
Tok
Tok
"Permisi,,,"
__ADS_1
Tok
Tok
"Permisi,,,"
Dari dalam terdengar seperti orang yang tengah berbincang. Dan tak lama benda persegi panjang itu pun perlahan terbuka, seorang pria paruh baya berdiri didepan pintu sambil menatap Dimas dengan bingung
"Mau anter paket ya? Bu,,, ini loh paket Sekar sudah sampai. Mana uangnya, mas nya nunggu mau COD" ucap bapak sekar saat melihat Dimas membawa kotak coklat yang dia kira kurir
"Astaga! aku disangka kurir!" batin Dimas
"Um,, pak,, maaf saya bukan kurir" ucap Dimas setelah kaget di sangka kurir
"Ini pak uangnya,,," ibu datang dengan membawa lembaran uang dan diberikan kepada bapaknya sekar
"Saya Dimas pak, saya temannya Sekar" jawab Dimas
Bapak Sekar melihat penampilan Dimas sangat rapi, dia juga baru sadar mana ada kurir serapi dia saat ini.
"Ohh maaf saya kira kurir. Silahkan masuk nak,, mari silahkan duduk" ucap bapak sekar mempersilahkan masuk Dimas
"Terima kasih" jawab Dimas masuk dan melihat rumah itu sederhana sekali, sangat jauh dari kemewahan. Namun Siapa sangka jika didalamnya banyak orang orang baik
"Ada apa ya nak Dimas?" tanya Bapak Sekar
"Ini saya bawakan sedikit oleh oleh untuk bapak dan ibu. Saya kesini hanya ingin silahturahmi, ingin kenal dengan bapak dan ibunya Sekar" ucap Dimas
__ADS_1
"Terima kasih,, repot sekali bawa oleh oleh segala. Salam kenal juga yah nak Dimas, ini ibu sutini, ibunya sekar dan Saya pak Hartono bapaknya Sekar" ucap bapaknya Sekar
"Pak,, kalau saya ingin mengajak Sekar serius menjalin hubungan apa boleh?" tanya Dimas tanpa basa basi
"Loh,,," Bapak Sekar kaget
"Tapi,, Sekar sudah terikat dengan juragan Broto nak,, " ucap ibu Tini
"Saya tau bu, karena saya sudah bertemu dan saya juga sudah tau semua ceritanya. Maka dari itu saya berniat serius dan saya yang akan membayar sisa dari hutang hutang keluarga ini dari juragan broto" ucap Dimas
"Apa kamu serius?" tanya bapak
"Iya pak, saya serius, saya ingin membebaskan Sekar dari tanggungan hutang itu" Jawab Dimas
"Kalau memang nak Dimas serius, kami sebagai orang tua hanya bisa mendoakan dan merestui kalian. Tapi,, apa Sekar tau soal ini?" tanya bapak Sekar
"Belum tau pak, dan,, dia juga tidak mau menerima saya sebelum saya bicara dengan bapak dan ibu. Jadi kalau bapak dan ibu sudah memberikan izin kepada saya, saya yakin Sekar juga akan menerima saya" ucap Dimas
"Tapi nak,,,"
.
.
.
.
__ADS_1