
Dika melangkah tegap dan penuh wibawa berjalan menuju ruang kelas . Senyum tipis nya sesekali terlihat saat para mahasiswanya memberi sapaan mereka.
"Selamat pagi semuanya,," Ucap Dika saat masuk kedalam kelas
"Pagi pak" jawab semua mahasiswanya
Dika meletakkan tas dan mengeluarkan lembaran putih dari dalam tasnya
"Silahkan tutup semua buku kalian!, pagi ini kita akan ujian tertulis, mengulang pelajaran yang sudah bapak sampaikan beberapa kali pertemuan kita." Ucap Dika
Glek!
Semua mahasiswa kaget mendengar ucapan Dika termasuk juga Dinda yang tidak tau jika soal ujian yang dibuat suaminya untuk ujian hari ini.
"Ujian dadakan pak?" tanya seorang mahasiswanya
"Iya, jangan coba coba mencontek, atau bekerja sama saat ujian. Semua harus dikerjakan sendiri sendiri!" ucap Dika dengan nada tegas.
Kemudian Dika berjalan menuju ke meja mahasiswanya untuk membagikan kertas ujian yang sudah disiapkan.
"Kak Din, kakak tau kalau hari ini ujian dadakan gini?" tanya Zara dengan berbisik
__ADS_1
"Gak tau, abang cuma bilang dia lagi buat soal ujian. Mana ku tau kalau ujiannya ternyata hari ini" jawab Dinda
"Duh! mana aku gak belajar!" Zara menggaruk kepalanya yang terasa pusing
"Memang kamu pikir aku belajar?!" sahut Dinda
"Duh aku gimana ya jawabnya" ucap Zara saat melihat lembaran ujian sudah di depan matanya.
"Gimana mau belajar, Semalem abang minta jatah! awas aja kalau soalnya susah ! nanti malam aku akan ngambek sama abang!" batin Dinda yang kemudian melihat lembar ujian yang baru di berikan oleh teman yang duduk di depannya
"Oke, Silahkan di kerjakan, waktu kalian hanya 60 menit!" ucap Dika yang kemudian kembali duduk di tempatnya sambil mengawasi mahasiswanya yang sudah mulai mengerjakan soal ujian mereka.
Kemudian Dika berdiri dan matanya berkeliling menyusuri setiap mahasiswa yang tengah sibuk sendiri tanpa ada yang bersuara.
"Mudah mudahan deh jawabanku bener, Duh yang ini apa ya maksudnya?" Dinda berfikir keras dan mencoba mengerti satu soal yang membuatnya kesulitan. Karena merasa sangat tidak paham, Dinda meninggalkan soal itu dan mengerjakan yang mudah terlebih dulu.
Waktu terus berjalan sampai tidak terasa sudah hampir 1 jam berlalu
"Waktu kalian 5 menit lagi, silahkan kumpul kertas ujian kalian kedepan" ucap Dika
Waktu 5 menit lagi membuat sedikit keributan di kelas itu,
__ADS_1
"Wah tinggal satu ini! aku gak tau jawabnya! udah ah gak usah jawab. Salah satu gak papa kali yah! tapi apa iya yang lain benar semua?! ahhh aku yakin benerrr!!" ucap Dinda yang kemudian mempunyai ide gila untuk memberi jawaban yang tidak masuk akal
Jawaban no 15 : Pak dosen ganteng, maaf yahh Dinda gak tau jawabannya yang ini apa. Jadi Dinda gak jawab deh. Semoga pak Dosen gak marah ;)
Kemudian Dinda berdiri dan mengantar kertas ujian yang sudah di jawabnya itu ke meja Dika bergantian dengan yang lain. Begitu sampai di depan tatapan keduanya bertemu dan Dinda bisa melihat senyum tipis Dika seolah menyapa lembut istrinya, sementara Dinda menatap datar tanpa ada balasan senyum yang mengembang.
"Kenapa Dinda diam saja? apa dia marah padaku?" batin Dika
Dinda berbalik dan berjalan meninggalkan meja dosen, sementara mata Dika masih mencoba menjangkau istrinya yang sama sekali tidak membalas senyumannya
"Wah gawat! apa karena ujian dadakan ini?! semalam dia tidak belajar, apa dia kesulitan menjawabnya?! Oh ya ampunn,,,! jangan sampai dia mendiami ku terus!" Batin Dika sambil menerima kertas ujian dari mahasiswa lainnya.
Setelah semuanya sudah mengumpulkan kembali kertas ujian mereka, Dika menutup perkuliahan dan keluar dari kelas itu. Meski hatinya gelisah, namun dia tidak bisa langsung menyelesaikan masalahnya saat itu juga. Terpaksa dia harus menunggu mereka berdua pulang kerumah. Dika hanya berdoa, semoga Dinda tidak mendiaminya gara gara ujian dadakan ini.
.
.
.
.
__ADS_1