Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Jadi Ini alasannya


__ADS_3

Beberapa hari sudah berlalu, rupanya Dika masih diuji dalam usahanya. Dika yang sudah berikhtiar untuk mencari tempat sewaan nyatanya belum juga mendapatkan tempat yang cocok lagi. Ingin berputus asa, namun Dinda dan Fatih terus menyemangati Dika agar tidak pantang menyerah. Namun nyatanya hari ini adalah hari terakhir Dika berjualan di warung mie ayamnya.


Dengan wajah sedih Dika memanggil semua pegawainya dan mereka berkumpul bersama setelah pengunjung sepi dan jualan mereka sudah tutup.


"Sengaja semuanya dikumpulkan disini, karena saya ingin sampaikan kepada kalian semua. Mulai besok,,, warung mie ayam ini akan ditutup. Tentu kalian juga sudah tau soal ini..." ucap Dika


"Kami ikut bersedih pak" Ucap Daru


"Terima kasih karena kalian sudah membantu saya mengelola warung ini selama bertahun tahun. Ini pesangon kalian,,," Dika memberikan amplop putih kepada masing masing pekerjanya.


"Nanti kalau bapak sudah ada tempat baru, saya masih mau bekerja di tempat pak Dika" Ucap Santo


"Saya juga pak" , Jawab Daru


"Kita lihat saja nanti yah, saya coba ikhtiar lagi untuk mencari tempat yang cocok dan dengan budget yang sesuai. Kalian boleh pulang, biar barang barang ini semua saya bawa pulang. Saya sudah pesankan mobil untuk mengangkut gerobaknya" ucap Dika


"Kami boleh bantu pak?" tanya Daru. Dika mengangguk pelan.


Setelah mobil pickup yang disewa Dika sampai,mereka pun mengangkat barang barang Dika keatas box pickup itu. Setelah semuanya terangkut, Dika melepas spanduk yang ada di depan warung dengan kembali mengingat bagaimana dulu dia membangun usaha itu. Ada rasa sedih yang mendera hatinya, namun Dika tidak bisa berbuat apa-apa. Kemudian Dika naik vespanya dan menjadi petunjuk supir pickup menuju kerumahnya.

__ADS_1


Beberapa menit Kemudian Dika sampai dirumah, lalu dia dibantu supir pick up menurunkan barang barangnya didepan rumah. Sementara itu Dinda dan Fatih melihat dari depan rumah. Dinda melihat kesedihan di wajah Dika meski sesekali Dika melihat mereka dengan tersenyum dan mengisyaratkan


"Aku gak papa"


Setelah semuanya selesai Dika mengajak anak dan istrinya masuk kedalam rumah.


"Ayah, ayah gak jualan lagi?" tanya Fatih


"Iya,,, sementara kita gak jualan dulu sampai kita dapat tempat yang baru" jawab Dika


"Ini bang,, minum dulu" Dinda memberikan segelas air putih untuk Dika


"Abang yang sabar ya bang, semua ini adalah ujian untuk kita. Dinda yakin akan ada jalan keluarnya nanti. Kita gak boleh putus asa dulu" Ucap Dika


"Iya,, abang akan tetep ikhtiar selama darah abang masih mengalir. Kalian berdua adalah alasan abang untuk tetap berusaha dan tidak menyerah" ucap Dika merangkul anak dan istrinya.


**


Waktu sudah menjelang pagi,,,

__ADS_1


Dika, Dinda dan Fatih sudah bersiap untuk ke kampus pagi itu. Meski usahanya sedang tidak baik baik saja, namun Dika tetap akan mengajar seperti biasanya, sambil memikirkan ikhtiar apa yang bisa dia lakukan selanjutnya.


Saat di perjalanan menuju ke kampus, mereka melewati bekas warung Dika yang ternyata pagi itu sudah ada beberapa orang yang akan merenovasi tempat itu. Dika melihat ada pan Anjas dan juga seorang anak muda yang di yakini adalah anaknya karena begitu mirip dengan pak Anjas


"Bang,,, bukannya itu pak anjas?" tanya Dinda


"Iya,, sepertinya tempat itu akan di pakai pak Anjas sendiri" jawab Dika Saat melihat spanduk di pasang dan ternyata tempat itu akan menjadi warung mie ayam juga


Jadi ini alasannya pak Anjas menaikan sewa warungnya? agar aku tidak bisa membayar sewa itu dan dia sendiri yang memakainya.


.


.


.


.


Sabar ya bang,,,,🥺

__ADS_1


__ADS_2