Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Bunda Rindu Nak,,,,


__ADS_3

Sierra ke belakang dengan membawa keranjang pakaian kotornya. Sampai di belakang, Sierra melihat Dinda yang tengah menjemur pakaian. Dinda hanya diam dan bersikap cuek saja dengan keberadaan Sierra saat itu.


"Aku gak suka ya, kamu deket-deket dengan Fatih dan Mas Dika! kamu itu harusnya sadar! kamu itu cuma pelarian mas Dika dari aku! Dia itu sebenarnya masih cinta kepadaku dan gak cinta sama kamu!" Celoteh Sierra namun Dinda masih diam dan terus menjemur pakaian. Sierra geram karena Dinda tidak merespon ucapannya.


"Hey! kamu itu denger gak sih?!" Sarkas Sierra


"Harusnya mba itu yang sadar! mba bukan istri Bang Dika lagi, kenapa mba maksa tinggal dirumah ini! harusnya mba malu!" ucap Dinda dengan santai namun begitu menohok


Sierra mengeratkan genggaman tangannya karena menahan kesal pada Dinda


"Dan,,, mba juga gak ada hak melarang aku untuk dekat dengan bang Dika. Dia suamiku dan aku yang lebih berhak dekat dengan Bang Dika di dibandingkan mba yang hanya Mantan Istrinya! " sambung Dinda lagi tanpa melihat bagaimana wajah Sierra yang sudah marah padam


"Tutup mulutmu! lancang kau bicara ya! Aku memang sudah berpisah dengan mas Dika! Tapi aku masih punya anakku! aku pastikan aku, Mas Dika dan Fatih akan kembali lagi bersama. Dan Kamu yang akan pergi dari rumah ini!" sarkas Sierra


"Benarkah? Jelas sekali terlihat, mba yang tidak memiliki rasa malu sedikitpun! sudah membuang suami dan anak, tapi ingin kembali lagi! aku gak yakin bang Dika mau balikan lagi sama mba ! Jadi menurutku, lebih baik mbak pergi dari rumah ini dengan baik-baik daripada menunggu Bang Dika yang mengusir mba!" Ucap Dinda menatap sinis kearah Sierra


"Beraninya Kau!!!" Sarkas Sierra yang dibuat semakin naik darah oleh Dinda


"Kamu gak akan sebanding dengan ku! Dilihat dari manapun jelas aku lebih dari kamu! Bahkan di ranjang, aku yakin hanya aku yang bisa memuuaskan Mas Dika!" Sinis Sierra saat melihat Dinda yang terlihat dimatanya biasa biasa saja dari segi fisik.


Deg!


Dinda tersentak, Sierra benar-benar bermulut pedas, dan panas itu mengeluarkan semua yang ada di pikirannya dan dia menatap tajam setajam silet kearah Dinda. Sementara Dinda masih berfikir, kata pamungkas apa yang cocok untuk membalas ucapan Sierra


Kemudian dinda tersenyum sinis seperti memandang remeh lawannya itu

__ADS_1


"Oh iya?! Jika memang begitu, kenapa abang tidak mau kembali pada mba? dan lebih memilih ku?! Berarti pelayanan ku yang lebih baik dong?!" Ucap Dinda dengan enteng. Padahal maksud Dinda pelayanan sehari-hari


Sierra semakin geram karena Dinda selalu mencela ucapannya. Dia pun sudah kehabisan kata-kata. Sementara Dinda tersenyum penuh kemenangan saat meninggalkan Sierra yang berdiri di dekat mesin cuci.


"Benar-benar gak punya malu" ucap lirih Dinda namun masih terdengar oleh Sierra


"Aku tidak akan tinggal diam! aku akan membuat mas Dika kembali padaku! Hanya dengan aku hamil, dia akan kembali padaku! aku harus mencari kesempatan untuk itu!" Batin Sierra


Dinda masuk kedalam kamar saat mendengar ponselnya berdering, dilihatnya Dika yang menelfon nya


"Assalamualaikum bang?” ucap Dinda dengan lembut


"Wa'alaikumsalam, kamu lagi apa?" tanya Dika


"Apa Sierra menindas mu?" tanya Dika


"Abang tenang saja, semua aman terkendali. Abang gak usah khawatir"ucap Dinda


"Abang khawatir kalau kamu kenapa-napa" ucap Dika dan membuat Dinda merona


"InsyaaAllah engga Dinda baik-baik aja" jawab Dinda


"Alhamdulillah kalau begitu, abang jadi tenang. Ingat ya kalau ada apa-apa kamu bilang sama abang" ucap Dika


"Iyah,,, " jawab Dinda

__ADS_1


"Ya sudah kalau gitu abang kerja lagi ya. Abang cuka mastiin kamu baik-baik aja. Oh iya Fatih mana?" tanya Dika


"Kayaknya didepan lagi nonton bang. Dari tadi Dinda gak boleh deketin Fatih, sedih sihh tapi mau gimana lagi?" ucap Dinda


"Kamu yang sabar ya,,, Sepertinya kita harus lebih extra untuk mengusir Sierra. Nanti setelah pulang kerja, abang akan temui orang tuanya untuk membawa dia pulang!" ucap Dika


"Iya bang, mungkin lebih baik begitu" Ucap Dinda


Setelah cukup lama mereka berbicara, telfon ditutup dan Dinda ingin keluar menemui Fatih. Rasanya Dinda rindu bermain dengan anak lelaki itu. Namun sepertinya harapannya musnah, karena Sierra tengah duduk mengawasi Fatih sambil memainkan ponsel nya. Dekat di mata namun tidak bisa diraih.


"Bunda rindu nak,,,,"


.


.


.


.


.


Maaf yahh, telat update nya, laporan akhir bulan lagi numpuk, jadi waktunya kejer-kejeran deh🤗


Makasih yang masih setia, tinggalin jejak kalian dong, biar uni semangat😚

__ADS_1


__ADS_2