Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Butuh Waktu Untuk Memaafkan


__ADS_3

Malam menjelang,,,


Dimas dan Sekar baru saja kembali dari masjid ke tenda pecel lele Sekar. Lalu keduanya duduk berdua untuk makan malam bersama.


"Mau makan apa?" tanya Sekar


"Ayam goreng boleh, sama kangkung" jawab Dimas


Lalu Sekar memesankan makanan untuk keduanya pada salah satu pegawai mereka


"Nanti mau pulang jam berapa?" tanya Dimas


"Kayak biasa" jawab Sekar


"Oohh,, kirain lebih cepet" sahut Dimas


"Ini kan hari minggu, pasti rame. Lagian mau ngapain pulang cepet?" jawab Sekar


"Yah,, kan kita pengantin baru. Masak sih gak libur aja?" ucap Dimas dan sukses mendapat tatapan tajam istrinya sedang Dimas nyengir kuda


"Jangan marah marah atuh bu Sekar,, ini makanannya udah siap" ledek pegawai Sekar


"Apa kamu?" tanya Sekar


"Gak bu,, enggak,, " pegawai sekar segera kabur, setelah itu Dimas dan sekar makan malam bersama.


Dika, Dinda dan Fatih memutuskan untuk makan malam di luar. Lagi lagi Dika ingin menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya. Sebisa mungkin mereka memanfaatkan waktu sebaik baiknya. Meski bukan di restoran mahal, namun mereka terlihat tetap ceria.


"Bang, kata ibu besok jadi mau anter gerobak mie ayam kerumah?" tanya Dinda


"Jadi, abang sudah bilang sama pak Rojak untuk anter kerumah ibu. Dan juga bangku bangku yang abang pesan juga besok di antarkan. " jawab Dika


"Alhamdulillah kalau begitu. Semoga usaha kita makin berkembang ya bang" ucap Dinda


"Aamiin,,, ini semua juga untuk keluarga kita" Jawab Dika


"Oh iya, pulang dari sini, kita mampir ke pasar malam dulu ya, abang mau lihat langsung progress penjualan kita disana" ucap Dika


"Iya bang" Jawab Dinda


Setelah mereka selesai makan malam bersama, Mereka bertiga langsung menuju ke pasar malam tempat Dika membuka warung mie ayam juga.


Beberapa menit kemudian, motor Vespa Dika sudah sampai di pasar malam, setelah memarkirkan motornya, mereka pun menuju ke gerobak mie ayam Dika


"Ayahhh,,, atih boleh naik itu?" tanya Fatih saat melihat salah satu wahana permainan


"Itu tidak di perbolehkan untuk anak balita sayang, terlalu bahaya. Nanti kalau Fatih sudah besar, baru boleh main ya" ucap Dika memberi penjelasan pada putranya


"Ohh gitu" Sahut Fatih

__ADS_1


Pandangan Dinda tertuju pada tenda pecel lele Sekar yang disana Dia melihat Dimas tengah melayani pembeli


"Bang,,," panggil Dinda


"Ada apa sayang?" tanya Dika


"Itu, Dimas kan? dia ikut kerja di sana?" tanya Dinda, lalu Dika menoleh ke tenda pecel lele Sekar


"Oh iya iya,, itu Dimas, mungkin dia bantuin Sekar jualan" jawab Dika


"Umm iya bang kayaknya" Sahut Dinda


"Kita ke warung dulu deh ya,, baru kita kesana" ucap Dika.


Kemudian mereka bertiga berjalan menuju ke warung gerobak mie ayam Dika. Sekedar mengontrol saja karena bagaimana pun semua juga sudah di urus oleh Sekar. Dan selama Sekar mengurusnya, dia melaporkan semua hasil penjualan mie ayam di tempat itu pada Dika. Setelah beberapa menit Dika melihat kondisi warungnya, Dika pun pamit.


"Meja No 4,,," Ucap Dimas pada Sekar


"Oke" Jawab Sekar


"Pengantin baru kok gak libur?" ucap Dika saat mereka sudah sampai di tenda pecel lele Sekar


"Dika?! Dinda?!" Ucap Sekar


"Abang?!" Dimas kaget melihat kedatangan Dika dan Dinda juga Fatih


"Tadi kami cuma mau lihat warung kami, eh lihat kalian ternyata masih jualan bukannya libur" ucap Dika


"Kalian gak nginep di rumah papa?" tanya Dika


Dimas dan Sekar langsung kicep tak bersuara. Raut wajah keduanya pun langsung berubah. Dika dan Dinda bisa melihat perubahan itu


"Apa yang terjadi?" tanya Dika


"Mama masih sama bang" ucap Dimas lirih


"Jadi kalian bagaimana?" tanya Dika


"Sekarang kami tinggal di pondok, dan kami akan belajar hidup mandiri" jawab Dimas


"Ternyata pikiranmu sudah semakin dewasa. Semoga kalian bahagia bersama" Ucap Dika


"Aamiin, terima kasih doanya bang. Abang, kakak ipar dan Fatih mau makan apa?" tanya Dimas


"Kami sudah makan tadi sebelum kemari" Jawab Dika


"Dinda kenapa diem aja?" tanya Sekar


"Ah,, gak papa, ini lagi ngawasin Fatih dari tadi mau ngajak main komedi putar" Jawab Dinda setengah gugup

__ADS_1


"Oohhh,,, Fatih mau naik komedi putar ya?" tanya Sekar dan di anggkui oleh Fatih


Cukup lama Dika, Dinda dan Fatih berada disana, kemudian mereka pamit pulang karena waktu sudah semakin malam. Sementara Sekar dan Dimas juga bersiap untuk pulang lebih awal dari malam biasanya.


Di sepanjang perjalanan Fatih sudah tertidur karena lelah dan kekenyangan, sedangkan Dinda dan Dika masih terjaga hingga mereka sampai dirumah.


Ketika Mereka sudah sampai dirumah, Dika langsung menggendong Fatih dan menidurkan di kamarnya sendiri. Sedang Dinda berganti pakaian dan bersiap untuk tidur


"Sayang,," ucap Dika saat masuk kedalam kamar dan melihat Dinda yang sudah naik ke atas tempat tidur


"Ada apa bang?" tanya Dinda


Dika menghampiri istrinya dan duduk di sebelahnya.


"Boleh abang tanya?" ucap Dika dengan penuh keseriusan. Dika tidak ingin istrinya terus terlihat murung. Meski dia tau saat ini Dinda begitu sangat sensitif karena kehamilannya.


"Iya" Jawab Dinda


"Apa,, kamu masih memikirkan Dimas?" Tanya Dika dengan sangat pelan


Deg!


Dinda terdiam saat netra keduanya bertemu dan saling mengunci


"Kenapa abang tanyakan itu?" jawab Dinda


"Karena abang melihatmu berubah murung saat kita bertemu Dimas" jawab Dika


"Jawab Dinda,, " Ucap Dika saat melihat istrinya hanya diam saja menatapnya.


"Dinda,, Dinda kembali merasakan rasa sakit yang teramat dalam bang. Dinda merasa tersakiti, rasanya kemarin kemarin Dinda sudah belajar melupakan, belajar memaafkan, tapi,,, nyatanya luka itu kembali menganga. Sakit banget bang hati Dinda,,," Dinda meluapkan semua rasa di hatinya dengan tangis mendera didepan suaminya.


"Sesekali Dinda berfikir,,, mungkin dulu Dinda begitu bodoh, sampai mau di permainkan Dimas, Bahkan sampai di buang gitu aja. Dia mencampakkan Dinda disaat kami sudah akan menikah,,, Mungkin dulu dia masih kekanakan, dan sekarang dia sudah berfikir Dewasa. Jadi dia mau berjuang dengan susah payah untuk hidup bersama sekar. Bahkan dia berani memutuskan untuk keluar dari rumah. Dulu dia gimana sama Dinda??" Ucap Dinda dengan menangis sejadi jadinya


Dika terdiam, melihat istrinya meledak ledak meluapkan emosinya. Dika tidak pernah menyangka jika Dinda sampai seterluka itu, bahkan dia berfikir Dika sudah mampu mengobati luka hati yang di torehkan adiknya. Namun nyatanya tidak


"Apa kamu masih mencintai Dimas?" tanya Dika dengan takut takut,,


"Tidak,,"


"Rasa cinta itu sudah hilang sejak dia pergi meninggalkan Dinda. Tapi,,, ntah kenapa rasa sakit itu masih begitu terasa bang,," jawab Dinda dengan segukan


Dika menarik Dinda kedalam pelukannya, mencoba menenangkan istrinya dan menawarkan raganya untuk tempat bersandar. Hanya itu yang bisa Dika lakukan Sekarang, karena akan sulit memberi pengertian jika istrinya belum bisa tenang, di tambah hormon kehamilannya yang membuat Dinda begitu labil dan sensitif.


"Karena kamu belum memaafkan Dimas sepenuhnya Dinda. Kamu masih menyimpan Dendam padanya,,, semua butuh waktu untuk memaafkan " Batin Dika


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2