
"Bagaimana kalau mulai sekarang kita menjalin hubungan? hubungan serius" ucap Dimas saat mereka sudah saling melerai pelukan
"Aku,, aku tidak berminat. Aku tidak mau menentang badai yang sudah jelas terlihat di depan mata. Mumpung perasaanmu belum terlalu dalam, lebih baik jauhi aku. Aku yakin kok kamu akan dengan mudah melupakan aku. Aku serius Dimas,, Kita tidak akan mungkin bersatu" ucap Sekar
"Kamu itu keras kepala ya! Aku sudah katakan, aku akan membujuk mama untuk menerima hubungan kita" ucap Dimas
"Hubungan apa?! kita gak ada hubungan apa apa?! memangnya aku pernah mengatakan iya?! aku bahkan menolak mu terang terangan!" ucap Sekar
"Iya di mulut bilang menolak, tapi di hati?! bilang mau kan?! apa susah nya sih jujur?!," ucap Dimas
"Aku tidak suka dengan berondong sepertimu! Diusia seperti kamu ini, pasti belum memikirkan masalah rumah tangga yang akan di hadapi ketika sudah menikah. Apa kamu pikir menikah itu hanya manis manis saja?! yang indah indah saja?! gak seenak itu Dimas! bahkan aku yakin bunyi token listrik saja pasti kamu gak tau!" ucap Sekar
"Maka Dari itu, aku mau kamu ngajari aku dalam segala hal! mengajari arti hidup yang sebenarnya" ucap Dimas berharap rayuannya mempan namun sayang, Sekar malah memukul lengan Dimas mesti hanya ringan
"Mana Ada lelaki minta di bimbing istri?! yang ada istri minta di bimbing suami! makanya aku gak mau sama kamu, kamu itu belum Dewasa, kamu masih memikirkan kesenanganmu sendiri" ucap Sekar yang sudah merasa lelah
"Please, beri aku kesempatan" ucap Dimas dengan permohonan
"Kesempatan apa?" tanya Sekar
"Kesempatan untuk kita saling mengenal, siapa tau cocok. Sambil aku akan terus meyakinkan mama untuk merestui hubungan kita nanti" ucap Dimas.
Sekar menatap Dimas yang terus menatapnya. Dia berfikir sendiri, sebenarnya apa yang membuat Dimas kekeh ingin dekat dengannya. Padahal sudah jelas, jika Sekar itu seusiaan dengan Dika
"Bagaimana?" tanya Dimas
"Terserah kau saja" jawab Sekar, Dimas tersenyum dan akan kembali memeluk gadis itu tapi
"Eeiiitttt!!!" Sekar menahan Tubuh Dimas yang sudah akan kembali memeluknya
"Aku gak suka kontak fisik! sudah cukup kau menyentuhku berkali kali bahkan tanpa seizin ku. Aku gak suka!" ucap Sekar
"Hem,, baru juga akan memeluk" gerutu Dimas
"Apa?!" sahut Sekar dengan cepat
"Iya iya,,Sekarang aku janji tidak akan menyentuhmu" ucap Dimas didepan Sekar
"Tapi tidak janji besok besok besok yahhh" batin Dimas menyeringai
__ADS_1
"Awas kamu!!" ucap Sekar dengan tegas
"Iyahhh" jawab Dimas dengan tersenyum, kemudian Sekar turun dari mobil begitu juga Dimas.
"Sana pulang!" ucap Sekar mengusir Dimas
"Ck! ketus sekali! manis sedikit apa gk bisa?" tanya Dimas dengan bibir manyun
"Model kayak kamu gitu gak pantes di manisin!" Sahut Sekar
"Assalamualaikum" ucap Dimas
"Wa'alaikumsalam" jawab Sekar sedikit ketus. Kemudian Dimas menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Sekar.
Beberapa menit kemudian, Dimas sudah sampai di kantor. Lalu Dia berjalan cepat keruang rapat karena rapat akan segera di mulai
"Darimana saja kamu Dimas?" tanya Monica saat melihat Dimas baru saja keluar dari lift
"Ibu Monic, saya ada sedikit urusan diluar" Jawab Dimas
"Kemana?! kamu tidak bisa seenaknya saja keluar tanpa ada izin " jawab Monica
Monica tidak bicara lagi dan mereka segera masuk kedalam ruang rapat.
**
Dika baru saja kembali ke ruang Dosen, Setelah mengajar sebenarnya Dika ingin mengajak Dinda untuk makan siang bersama, namun para dosen mengajaknya untuk makan siang bersama yang hari itu sudah disiapkan diruang Dosen. Terpaksa Dika mengurungkan niatnya untuk mengajak Dinda makan siang.
"Mari pak Dika, silahkan duduk" ucap salah satu dosen
"Baik pak, terima kasih" jawab Dika yang kemudian duduk bersama dosen lainnya.
Semua dosen tengah berbincang sambil menikmati makan siang mereka, begitu juga dengan Dika
"Dalam mengajar, kita harus menjunjung tinggi profesionalitas. Harus menilai sesuai kemampuan mahasiswanya bukan dari kedekatan dengan dosennya. Tapi kadang banyak Dosen yang lupa akan hal itu. Dengan mudahnya memberikan nilai A hanya karena kedekatan dengan mahasiswanya" Pak Aryo mengatakan itu pada dosen dosen yang berada disana.
Dika langsung menghentikan sendok nya saat mendengar ucapan pak Aryo
"Iya betul pak, harusnya kita melihat dan menilai dari kemampuan mahasiswa" jawab Dosen lain
__ADS_1
"Saya juga setuju pak Aryo, karena tugas dosen itu mendidik mahasiswanya agar menjadi pandai, bukan memanjakannya dengan nilai tinggi. Karena di dunia kerja yang berguna adalah ilmu bukan nilai yang diberikan oleh dosen" Dika menjawab itu
"Anda betul pak Dika. Maka dari itu saya menghimbau pada semua dosen untuk tetap profesional meski ada salah satu dari mahasiswa itu misal keluarga, adik, ponakan, atau istri sendiri" ucap pak Aryo kembali menyindir Dika
"Apa pak Aryo menyindir saya?" tanya Dika terus terang dan suasana ruangan itu mendadak tegang
"Ohh,, anda merasa tersindir? padahal saya tidak menyindir anda" jawab pak Aryo dengan senyum sinis
"Dari kata kata anda, secara tidak langsung tengah menyindir saya. Tenang saja pak, saya tidak seperti itu. Saya menilai setiap mahasiswa saya sesuai dengan kemampuan mereka, meski diantaranya ada istri saya sendiri. Lagian untuk apa saya harus melakukan itu, jika istri saya sendiri juga mampu menjawab soal ujian sendiri tanpa harus saya bantu" ucap Dika
"Huh, benarkah pak Dika?" tanya Pak Arya seperti meremehkan
Dika berdiri dan meninggalkan tempat itu. Lalu Dika pergi keruangan nya untuk mengambil sesuatu. Tak lama Dika kembali dengan membawa kertas jawaban hasil ujian Dinda.
"Silahkan bapak lihat sendiri" ucap Dika setengah menahan emosinya
"Pak Aryo, apa bapak tidak tau jika Isteri pak Dika itu mendapatkan beasiswa penuh di kampus ini. Dan sudah dipastikan mahasiswa yang mendapatkan beasiswa itu adalah mahasiswa yang memiliki intelektual tinggi. Anda tidak perlu meragukan soal itu" Seorang dosen menimpali
Sementara pak Aryo tengah melihat kertas itu.
"Ya ya,, memang tapi ini lihat,, di dalam jawaban no 15. Dengan seenaknya Dinda memberi tulisan seperti ini. Apa ini pantas?! Oh iya,, saya lupa, dia kan istri pak Dika ya. Jadi di rumah maupun di kampus dianggap sama saja" ucap Pak Aryo
Semua dosen melihat kearah kertas yang tengah di pegang pak Aryo
" Iya benar, Dinda menuliskan itu, apa lantas saya membenarkannya?" jawab Dika dan semua terdiam
"Bapak bisa melihat sendiri bukan, jika salah,,, saya akan tetap menyalahkan, jika benar,,, saya juga akan membenarkan" ucap Dika lagi
"Sudah sudah,, saya rasa sudah cukup pak Aryo, pak Dika,, saya percaya semua dosen di kampus ini sangat menjunjung tinggi profesional dan bisa menempatkan diri masing masing. Jadi saya rasa sudah cukup pembahasan ini ya pak Aryo, pak Dika" ucap salah satu dosen senior
Pak Aryo mengembalikan kertas ujian Dinda dan Dika segera mengambilnya.
.
.
.
.
__ADS_1