
Dimas bergidik ngeri, lalu dia cepat cepat meninggalkan ruangannya begitu ibu Monica keluar dengan rasa kesalnya. Bahkan Dimas tak sempat menyapa sekretarisnya yang masih berada di meja kerjanya
"Tumben pak Dimas gak nyuruhin aku beres beres meja. apa sudah di beresin?! terburu buru banget pulangnya" Lalu Sekertaris Dimas beranjak dan melihat ruangan Dimas masih berantakan seperti biasa. Tanpa di suruh dia pun masuk dan membereskan meja kerja dimas
"Ada hubungan apa pak Dimas dan ibu monic?! apa jangan jangan Ibu monic suka lagi sama pak Dimas?! wah,, bisa patah hati sekantor kalau sampai pak Dimas jadian sama ibu monic!" ucapnya sambil beres beres
"Hiiiii ngeri banget di tempelin ibu monic!!!" ucap Dimas yang sudah berada didalam lift, lalu dia mengambil hand sanitizer dan menyemprotkan pada tangannya yang sempat di pegang oleh ibu monic dan juga sempat menyentuh paha mulus ibu monic.
Di tempat lain,,
Dika baru saja sampai dirumah mertuanya. Begitu sampai dia sudah di sambut hangat oleh Istri dan putranya. kemudian mereka pun langsung pamit pulang pada Ibu Arini dan Bapak Jaka . Setelah berpamitan, mereka pun segera pulang ke rumah. Tidak ada obrolan serius saat di mobil, yang ada hanya mendengarkan celoteh Fatih yang seperti menghibur kedua orang tuanya.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah, Sore itu didepan rumah Dika terlihat lumayan ramai pengunjung dan terpaksa Dika memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
"Ayo masuk" ajak Dika
Mereka pun berjalan menuju ke pintu rumah melewati pengunjung warung mie ayamnya sore itu.
"Mama?!" Ucap Fatih saat melihat Sierra duduk di depan rumah
"Sierra?!" Batin Dika
"Hai Fatih,, baru pulang ya?" sapa Sierra
"Iya" Jawab Fatih singkat
"Sore mas,," Sapa Sierra dengan ramah
"Hem, ada apa kamu kemari?" tanya Dika tidak ingin basa basi
"Aku ingin menjemput Fatih mas, sudah sebulan kami tidak bersama Fatih. Papa dan mama juga rindu" ucap Sierra
"Fatih mau kan ikut mama? Oma dan opa kangen sama Fatih. Dirumah juga ada kak Deffan" ucap Sierra
Mendengar ajakan Sierra tidak seperti biasanya, Fatih mengangguk pelan
"Ayah, boleh Fatih ikut?" tanya Fatih pada Dika
"Terserah Fatih, kalau mau ikut mama juga boleh. Besok atau lusa papa jemput kalau Fatih mau" ucap Dika dengan lembut
"Iya" jawab Fatih
__ADS_1
"Sebentar Saya siapkan pakaian Fatih dulu" ucap Dinda
"Gak usah, dirumah banyak baju Fatih dibelikan omanya" jawab Sierra dengan cepat
"Ya sudah kalau begitu" Dinda mengurungkan niatnya
"Besok dirumah ada acara pertunangan ku dan Gion mas, kalau mas ada waktu... datanglah kerumah" ucap Sierra dengan lesu..
"Selamat ya, semoga kalian bahagia. Tapi sepertinya aku tidak bisa. Besok ada ujian anak anak di kampus" Jawab Dika
"Ya sudah aku pulang" Ucap Sierra yang kemudian mengajak Fatih pergi dari rumah Dika.
"Kenapa dia terlihat tidak bahagia?" batin Dika saja
"Bang,,, ayo masuk" ucap Dinda membuyarkan pikiran Dika
"Iya,, ayo" jawab Dika
"Bang kenapa natap mb Sierra kayak tadi?! nyesel?! masih cinta?!" Tanya Dinda dengan ketus
"Gak gitu sayang,,, siapa juga yang natap dia?!" elak Dika
"Halah! Dinda punya mata! Dinda bisa lihat abang tadi natap mamanya Fatih kan?! jujur aja deh! " ucap Dinda dengan nada kesal
"Tuh kan, abang tadi mikirin mb sierra!!! tadi katanya enggak! bilang aja masih sayang! bilang aja masih cinta! nyesel gitu jadinya?! terus kasihan, trus apa? mau balikan?!" Dinda malah emosi
"Udah sana balikan sana!! huhuhu" Dinda sudah menangis sendiri dan berjalan cepat menuju ke kamar Fatih
Duaaarrrrr!
Dika terkaget kaget mendengar pintu kamar di banting oleh istrinya
"Oh ya ampun,,,, dia ngambek lagi! gini nih kalau nikah sama ABG, harus punya stock sabar yang unlimited!" Gumam Dika yang kemudian Mengejar istrinya
Tok
Tok
"Sayang,,, buka dong pintunya,,," Ucap Dika membujuk istrinya
"Udah gak usah peduliin Dinda,,, Biar Dinda sendiri" jawab Dinda dari balik kamar Fatih
__ADS_1
" Sayang,, jangan gini dong,, kasihan loh baby kita kalau bundanya nangis terus. Ayo buka, kita bicara baik baik" bujuk Dika
"Masuk aja, Pintu gak di kunci!" jawab Dinda dengan ketus
"Oh ternyata gak di kunci, ngerti gitu langsung masuk aja tadi!" batin Dika
Ceklek
Kemudian Dika masuk dan melihat Dinda meringkuk di atas tempat tidur, lalu Dika menghampirinya
"Sayang,,, jangan ngambek gitu dong, beneran abang gak pernah kepikiran buat balik sama Sierra, abang sudah punya kamu, cinta abang cuma buat kamu" ucap Dika membelai lembut kepala istrinya
"Gombal!" Sahut Dinda meski hatinya sudah kembang kempis karena begitu senang mendengar rayuan Dika.
"Kok gombal sih? beneran sayang,,, abang gak cinta lagi sama mamanya Fatih,,, Cinta abang cuma buat kamu dan anak anak kita. Kalau gak percaya belah lah dada abang" rayuan maut Dika keluar juga
"Beneran boleh di belah?!" Sahut Dinda masih terdengar ketus
"Ya jangan beneran yang, nanti kalau abang mati gimana? abang gak rela kamu jadi janda, pasti banyak pria di luaran sana yang ngantri! abang gak mau! itu kan cuma ungkapan, didalam hati abang cuma terukir namamu" ucap Dika memeluk Dinda yang masih merebahkan dirinya diatas kasur
"Gombal bangett sih!!!" Dinda mengelak dan mencoba bergeser namun di tahan oleh tangan besar suaminya
"Jangan ngambek lagi yah,,," ucap Dika dengan penuh permohonan
"Oke! tapi ada syaratnya!" ucap Dinda masih tetap pada posisinya
"Apa?" sahut Dika dengan cepat
"Weekend ini, Dinda mau kita kencan!" ucap Dinda
"Kencan?? weekend ini?!" Tanya Dika lagi
"Ya!"
Glek!
"Duh, weekend ini aku sudah janji pada mas Tedja ke Bintaro, tapi Dinda malah ngajakin kencan?! Duh gimana ini?!" Dika terlihat bingung sendiri....
.
.
__ADS_1
.
.