
Beberapa hari sudah berlalu, Dika dan Dinda jadi menitipkan Fatih dirumah keluarga Dinda untuk menemani Ibu Arini yang kesepian. Fatih pun terlihat senang tinggal di rumah kecil itu, selain ada ibu Arini, ada Bima anak tetangga yang seusiaan Fatih sering bermain bersamanya. Sementara Dinda sedikit di ringankan bebannya dan bisa lebih fokus pada kuliahnya, dia percaya jika ibunya akan menjaga Fatih dengan baik.
"Fatih kok gak di titip disini lagi sih? aku kan sepi,, kepalaku rasanya sakit teru terusan mendengar mama dan Dimas bertengkar. Oh ya ampun,, apa aku pindah saja tinggal dirumah Dika?" Pak Dirja yang tengah duduk termenung . Sepagi tadi Pak Dirdja kembali mendengar keributan Mama dan Dimas karena Dimas ketahuan diam diam menemui Sekar lagi.
"Ngelamunin apa sih pa?" mama Nadira menghampiri papa
" Papa kangen sama Fatih" jawab papa
"Biasanya Dika nitip Fatih kesini, kok sudah beberapa ini dia gak nitipin lagi? mungkin Fatih di ajak ke kampus terus" jawab mama
"Mungkin saja. Papa mau nginep dirumah Dika" ucap papa
"Hah?! kenapa papa harus nginap? papa bisa menelfon Dika dan memintanya untuk mengantar Fatih kerumah. Atau kita bisa jemput Fatih untuk menginap beberapa hari disini" ucap mama
"Papa pusing jika terus mendengar mama dan Dimas bertengkar setiap hari. Ma,, Dimas itu sudah besar, dia sudah Dewasa. Biarkan dia memilih jalannya sendiri" ucap papa
"Papa apa gak belajar dari masa lalu, Dimas itu kan anaknya grusa grusu pa. Dia sudah bikin malu keluarga kita karena membatalkan pernikahan mereka di hari akad! mama gak mau terjadi lagi. Lagian mama gak suka sama gadis itu karena,,,"
"Karena dia dari keluarga biasa saja?" sambung papa dengan melempar pertanyaan
"Bukan begitu pa. Papa tau gak sih, gadis itu lebih tua dari Dimas. Orangnya terlihat urakan dan gak punya sopan santun. Mama gak mau punya mantu dia pa" sambung mama
"Mama ini lucu! Menurut papa wajar saja Sekar itu terlihat lusuh, biasa saja, la kalau pake pakaian dan gaya seperti mama terus kesana kemari nganterin pesenan ikan kok ya malah gak pantes?! Papa malah salut sama Sekar, Dia itu terlihat gadis mandiri, pekerja keras dan sayang keluarga, meski dia lebih tua dari Dimas tapi Sekar lebih dewasa pemikiran nya. Papa rasa mereka berdua jika disatukan bisa saling melengkapi" jawab papa
"Papa tau dari mana?! Papa kan belum pernah tau gimana gadis itu" ucap mama
"Papa tau, Dia kan temannya Dika. Papa sudah pernah bertemu beberapa kali" jawab papa
"Dimas masih terlalu muda untuk menikah!" ucap mama yang kemudian berlalu pergi.
**
Sepulang dari kampus, Dika dan Dinda tidak pulang kerumah mereka melainkan mereka akan menginap dirumah keluarga Dinda. Dinda terlihat begitu antusias, setelah hampir 3 bulan menikah, mereka baru bisa menginap dirumah keluarga Dinda. Besok hari libur jadi mereka tidak ada jadwal ke kampus.
Saat mereka sampai, keduanya sudah di sambut Fatih dengan riang gembira
__ADS_1
"Anak bunda sudah mandi yah? ganteng banget sih" ucap Dinda menciumi pipi Fatih dengan gemas
"Cudah, tadi mandiin Nenek" jawab Fatih
"Okeh deh, yuk masuk kedalam" ajak Dinda
"Nenek, Bunda dan Ayah datang" ucap Fatih dengan sedikit berteriak
Keduanya masuk kedalam dan menyalami ibu
"Kalian istirahat dulu saja, pasti capek kan" ucap Ibu
"Bapak sudah pulang bu?" tanya Dinda
"Sudah, tapi keluar tadi kerumah pak Bambang" jawab ibu
"Ya sudah, Kami bersih bersih dulu ya bu," ucap Dinda mengajak Dika ke kamarnya, Dika pun pamit pada ibu mertua dan mengikuti Dinda, sementara ibu menemani Fatih menonton TV sambil menunggu bapak kembali kerumah.
Setelah keduanya masuk kedalam kamar, Dika meletakkan tas kerjanya dan memeluk istrinya dengan begitu erat
"Abang rindu, seharian tadi abang gak ketemu kamu" ucap Dika, memang mereka tidak bertemu karena Dika mengajar di kampus lain
" Dinda juga rindu,," jawab Dinda tersenyum lalu mengusap tangannya ke pipi suaminya
"Perutnya mulai terasa perbedaannya yah,," Ucap Dika sambil mengusap lembut perut Dinda
"Iya bang, mulai terlihat buncit" Jawab Dinda
"Kayaknya dia kangen deh sama ayahnya" bisik Dika
"Apa iya? jangan jangan ini Ayahnya yang modus aja" kekeh Dinda
"Beneran,, udah berapa hari kan libur. Abang juga kangen pengen nengokin. Mandi bareng yuk?" ucap Dika
"Tapi kamar mandinya sempit kurang enak bang" jawab Dinda
__ADS_1
"Gak papa, kan bisa makin mepet" jawab Dika
"Tapi ini kan dirumah ibu ba,,,"
Cup!
Dinda sudah terdiam saat Dika sudah menyesap benda kenyal yang sedari tadi memberi alasan. Dika yang di buat gemas pun tidak tahan untuk tidak menyesap dan mengulumnya lembut.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka Dika pun mengeratkan rengkuhan tangannya pada pinggang istrinya agar tidak terjatuh
"Dinda? Dika?!"
Dinda dan Dika terkaget langsung memisahkan diri saat melihat Irfan berada di kamar mandi Dinda
"Kak Irfan?!" ucap Dinda menganga
"Maaf,, kamar mandi kak Irfan rusak, jadi numpang disini" Jawab Irfan merasa tidak enak mengganggu momen adik dan adik iparnya
Jangan di tanya bagaimana wajah Dinda dan Dika sekarang, tentu sudah mirip kepiting rebus. Bagaimana tidak, keduanya tertangkap basah oleh kak Irfan yang sedari tadi bingung bagaimana akan keluar saat mendengar suara Dinda dan Dika berada di kamar itu.
"Kakak keluar dulu ya..." Irfan mengambil jalan tengah dan segera pergi
"Kalian lanjutkan saja,, anggap kakak tidak ada" ucap Irfan yang sudah menghilang, sedang Dika dan Dinda masih diam dan melihat kearah pintu kamar yang sudah tertutup.
Blam!
.
.
.
.
__ADS_1