
Meski semalam tidak terjadi pertemuan Arjuna dan Dara, namun cukup membuat keduanya kepanasan, dan Dika terpaksa menuntaskannya sendiri di kamar mandi setelah diujung penantian panjangnya. Sebagai seorang pria dewasa dan juga sudah menyandang status Duda, tentu Dika sudah memiliki pengalaman dan jam terbangnya juga tidak bisa diragukan lagi. Setahun lebih menyandang status Duda membuat Arjuna seperti mati suri, namun setelah bertemu Dinda seolah Arjuna sudah menemukan jalan pulang, Misi besarnya sekarang adalah ingin Dara menjadikan teman gelut nya.
Sementara Dinda yang masih sangat jauh tertinggal, sampai saat ini dia masih terbayang bayang bagaimana suaminya itu menyentuhnya dan memberi rasa lain dari biasanya yang baru kali itu dia rasakan. Rasanya menggelitik nikmaat dan Dinda ingin mengulangnya lagi.
Pagi setelah adzan berkumandang, saat Dika menjalankan ibadah subuhnya, Dinda sudah turun membantu ART dirumah itu menyiapkan sarapan. Meski sedikit takut jika saja bertemu dengan Dimas tiba tiba.
Setelah Dika menjalankan kewajibannya, dia pun segera turun ke bawah, duduk di ruang tengah sambil menonton TV dan menjaga Dinda dari kejauhan. Dika memastikan Dimas tidak bisa lagi menemui Dinda sendirian seperti semalam.
"Ini bang, Dinda buatkan teh hangat" ucap Dinda saat menghampiri suaminya
"Makasih ya,, " Jawab Dika dan keduanya saling melempar senyum
"Fatih belum bangun ya bang?" tanya Dinda
"Papa dan mama belum keluar, mungkin Fatih belum bangun. Kamu masak apa?" tanya Dika sambil mengusap lembut tangan istrinya, Dika begitu manis memperlakukan Dinda hingga membuat Dinda selalu merasakan kehangatan setiap bersama Dika
"Tadi cuma bantu bibik masak lontong sayur. Tapi udah mateng juga, tinggal nunggu lontongnya dingin bang. Kita pulang jam berapa bang? Dinda ada kuliah pagi ini. Katanya Dosennya agak killer, jadi Dinda gak mau telat" ucap Dinda mengulum senyum
"Setelah sarapan kita pulang. Memangnya mata kuliah apa? dan kamu tau dari mana dosennya killer? kan baru pertama ketemu" tanya Dika pemasaran
"Mata kuliah Bahasa Inggris bang. Dinda sih cuma baca di grup kelas. Katanya sih gitu, Dinda juga gak tau bener nya gimana" Jawab Dinda
"Hemm gitu,,, " Sahut Dika mengulum senyum saat Dosen killer yang di katakan nya tadi tak lain adalah diri nya sendiri.
"Iya bang, makanya Dinda takut telat. Nanti malah disuruh berdiri dikelas kalau sampai telat" kekeh Dinda dan Dika juga itu tertawa kecil.
__ADS_1
Tak lama Papa, mama Dan Fatih keluar dari kamar, Fatih yang melihat Dika dan Dinda pun langsung berhambur menghampiri mereka. Kemudian papa mengajak semuanya untuk sarapan.
"Bik, tolong panggilkan Dimas untuk sarapan" perintah mama
"Baik Nyonya"
Belum bibik melangkah, Dimas sudah sampai dengan pakaian rapi. Dia menyapa papa dan mama saja namun sekilas dia masih juga menatap Dinda yang sibuk menyuapi Fatih. Sementara Dika sudah menikmati makanan yang di ambilkan oleh istrinya.
"Semalam kamu kenapa tidak turun hah?! keluarga pak Hartono mau pulang, kamu malah ke atas!" Sarkas papa
"Kan itu tamu papa, kenapa juga harus menungguku!" jawab Dimas
"Dimas! bisa gak sih kamu bersikap tidak begitu?! mereka itu keluarga terpandang! berpendidikan! dan sederajat dengan keluarga kita! harusnya kamu itu seneng dikenalkan dengan putrinya pak hartono!" Ucap mama meninggi.
Deg!
"Dimas bukan anak kecil lagi ma! Dimas sendiri yang akan menentukan hidup Dimas, bukan mama ataupun papa! sebanyak apapun usaha kalian untuk menjodohkan Dimas dan anak teman teman kalian, Dimas gak akan pernah mau!" Jawab Dimas tegas
"Apa lagi yang kamu harapkan ?! harusnya kamu buka matamu! lihat, dia sudah bahagia bersama abang mu!" Mama sudah tidak tahan lagi dengan sikap Dimas yang masih saja mengharapkan kembali bersama Dinda
Dimas melihat kearah Dinda yang sama sekali tidak beranjak bahkan dia bersikap seperti biasa dan tidak menghentikan kegiatannya menyuapi Fatih hingga makannya selesai.
"Pa, ma, kami sudah selesai sarapan. Kami pamit, pagi ini Dinda ada kuliah pagi" Dika angkat bicara dan memilih untuk membawa Dinda dan Fatih pulang
"Tapi Dinda belum sarapan Dik" jawab papa
__ADS_1
"Nanti sarapan dirumah saja pa, Ayo sayang kita pulang" ucap Dika kepada Dinda dan Fatih
Fatih berpamitan kepada kakek dan neneknya meski kondisi pagi itu sedang memanas.
"Abang cuma mau bilang sama kamu. Dinda sudah menikah dengan abang mu, dan sudah jadi tanggung jawab abang sebagai suaminya. Abang minta sama kamu, berhenti mengejar Dinda lagi, dan hargai dia sebagai kakak ipar mu! meski kamu menolak, Dinda tetaplah kakak ipar mu!" Ucap Dika dengan tegas saat menatap adiknya.
Kemudian Dika membawa Dinda dan Fatih pulang kerumah mereka. Sepanjang perjalanan Dinda tampak murung, dia masih teringat dengan apa yang katakan mama Nadira tadi. Namun ketidaksukaan mama Nadira dulu tidak nampak, malah dia terlihat menyukai Dinda.
Tak lama, sampailah mereka di rumah Dika, ketiganya masuk dan bersiap untuk ke kampus.
"Dinda,, kenapa kamu diam saja dari tadi?" tanya Dika saat melihat Dinda sepertinya sedang melamun
"Gak papa bang, yuk berangkat bang. Nanti kita terlambat" Ucap Dinda
"Ya sudah kalau kamu belum mau cerita. Abang akan tunggu sampai kamu siap untuk bercerita. Satu hal lagi, jangan memasukkan kedalam hati ucapan mama apapun itu" ucap Dika dan Dinda mengangguk lalu tersenyum.
Setelah itu ketiganya pun berangkat menuju ke kampus kedokteran tempat Dinda menimba ilmu.
.
.
.
.
__ADS_1
Gimana yah pertemuan Dinda dan Dika nanti dikelas??😀 Apa Dinda akan semaput?!🤠pendapat kalian tulis di bawah yah🤗