Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Langit Dan Bumi


__ADS_3

Dinda menatap lurus kedepan, menatap punggung Dika yang tengah menghadap me papan tulis dan sedang menuliskan materi perkuliahan mereka pagi itu. Satu tangan Dinda menopang dagu dan satu tangannya memegang pena namun belum juga bergerak untuk memulai mencatat. Senyumnya terus mengembang saat melihat jari jari Dika yang lincah bergerak membuat coretan coretan di papan tulis putih.


"Ayah ganteng banget ya nak kalau lagi ngajar gini, gantengnya naik drastis!" Dinda seolah tengah berbicara dengan calon bayinya


"Nanti kalau kamu udah gede, kamu harus contoh Ayah, Ayah itu udah ganteng, hatinya sangat baik. Ibu saja merasa sangat beruntung mendapatkan ayahmu" batin Dinda yang sudah meletakkan tangannya di atas perutnya yang masih terlihat rata. Dinda tersenyum lagi dengan masih menatap ke depan sana.


Dika mengakhiri catatannya dan berbalik badan kebelakang sambil menjelaskan apa yang sudah dia tulis, namun tatapannya terhenti pada sosok mahasiswi sekaligus istrinya yang saat itu sedang menatapnya dengan tersenyum. Dika masih terus mengoceh, namun tatapannya sesekali diarahkan pada istrinya yang dia yakini sedang memikirkannya bukannya belajar


"Pasti dia sedang memikirkan ku! bisa bisanya disaat sedang belajar dia malah asyik melamun! Awas nanti kalau sudah di rumah! benar benar minta di hukum!" batin Dika tersenyum.


"Ehem,," Dika berdehem sedikit keras seperti tenggorokannya terasa gatal dan hal itu sukses membuyarkan lamunan Dinda. Dika tersenyum tipis saat melihat Dinda jadi salah tingkah dan menutup wajahnya dengan buku catatannya.


"Ya ampunnn malu banget!" gumam Dinda


Setelah sempat membuyarkan lamunan istrinya, Dika kembali fokus pada materi kuliahnya meski sebenarnya ia ingin sekali berteriak senang karena diperhatikan istrinya. Rasanya seperti jatuh cinta setiap saat, ketika menatap matanya.


2 jam berlalu, kelas bahasa Inggris telah selesai. Dika menutup perkuliahannya dengan memberikan tugas kepada mereka. Setelah itu Dika keluar dari kelas itu lebih dulu.


"Kapan sih, Kita gak ada tugas dari pak Dika" ucap Shela


"Memangnya pak Dika pernah gak kasih tugas? dikasih tugas biar kita pinter" jawab Zara


"Halah kalau Dinda pasti tenang aja dia! kan Pak Dika suami dia. Soal nilai bisa lah di nego di,,,,,,!" ucap Shela terpotong

__ADS_1


"Eh Shela! jaga ucapan mu!" sarkas Zara


"Lah kan emang gitu! Pernah Dinda tidur di kelas! tapi pak Dika cuma nyuruh dia keluar buat cuci muka! kita lihat saja nanti saat nilai bahasa inggris keluar! pasti nilainya masih A!" ucap Shela


"Kamu ya!" Zara sudah akan menjambak mulut Shela padahal Dinda yang tengah di bicarakan


"Udah lah Ra, capek ngeladeni orang kayak gitu!!! Dijelasin juga gak akan ngerti!" ucap Dinda


"Aku laporin ke pak Dika baru tau rasa kamu!" ancam Zara


Shela diam dengan mulut mencibik mendengar ancaman Zara. Kemudian Dinda mengajak Zara keluar daripada ngeladeni Shela.


Saat keduanya keluar, mereka bertemu dengan Angga


"Nungguin siapa kak?" tanya Zara berharap Angga menjawab 'Nungguin kamu' hihihi...


"Gak nunggu siapa siapa, aku,,, gak sengaja lewat mau ke kantin. Kalian baru keluar kelas ya?" Sangat konyol padahal Angga sudah melihat jika mereka keluar kelas berarti kelas sudah selesai. Ingin mengajak Zara makan siang bersama saja rasanya keluh.


"Ohh,, kirain nunggui kami. Ayo kak kita ke kantin" ucap Zara mengajak Dinda


"Ayo, aku juga haus" jawab Dinda


"Ikut" sahut Angga yang ikut berjalan mengekor di belakang Zara dan Dinda.

__ADS_1


Dinda dan Zara pun terkekeh kecil saat melihat Angga akhirnya malah mengikuti mereka.


**


Di tempat lain,,,,


Sekar baru saja sampai di restoran keluarga Dimas. Karena Dia mengantarkan ikan gurame ke restoran itu bersama pak Iwan. Saat sampai di tempat itu Sekar berpapasan dengan ibu Nadira


"Selamat siang bu" sapa Sekar dengan ramah


"Siang,, kamu sekar kan?!" ucap mama Dimas


"Iya bu, saya kemari untuk mengantarkan ikan Gurame" ucap Sekar


"Oh. Oh iya saya mau bilang, tolong jauhi Dimas ya! Ingat, kita hanya bekerja sama dalam urusan perdagangan. Saya tidak suka kamu mendekati anak saya. Terlebih lagi kalau sampai kamu berharap untuk mendapatkannya! saya tidak akan setuju. Cukup berkaca saja, kalian ibarat langit dan bumi" ucap Ibu Nadira


Tubuh Sekar bergetar saat mendengar ucapan ibu Nadira.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2