
Tangan mungil itu mulai bergetar, wajahnya yang putih terlihat semakin putih pucat. Zara tersenyum kaku, Sumpah demi apapun rasanya dia ingin meminjam pintu doraemon untuk menghilang saat itu juga.
Perlahan Zara melepaskan cengkraman tangannya karena merasa tidak enak dan juga malu semalu malunya!
"Ya Ampun!! tamat riwayatku!" Batin Zara
"Permisi,, mau ke,, perpus dulu,," Zara pamit dengan wajah yang sangat tidak mengenakkan. Dia berdoa didalam hati, semoga Angga tidak mendengar apapun, jika dia mendengar Zara berdoa agar Angga tiba tiba lupa!
Kemudian Zara berbalik dan akan kabur karena Angga bergeming saja di tempatnya tanpa ekspresi.
"Aduh aduh aduh aduh!!" Zara mengaduh saat Angga menarik kemejanya dan menjinjing nya seperti anak kucing.
"Ampun kak! ampun!!" Zara memohon agar di lepaskan Angga yang masih menahannya
"Coba ulangi lagi ucapanmu tadi!" cetus Angga
"Hah?! ulangi?! yang mana kak?" Jawab Zara seolah lupa dengan apa yang dia katakan beberapa saat lalu
"Jangan berlagak pikun! cepat ulangi" ucap Angga
"Gak ada kak! Kak Angga salah Denger! gak mungkinlah Zara tuh suka sama kak Angga! upssss!" Zara yang keceplosan pun langsung menutup mulutnya rapat dengan kedua tangannya.
Pletakkkkk
"Uuussss!!! sakittt!" keluh Zara saat Angga menyentil keningnya
"Masih kecil pacar pacaran! belajar yang bener! kuliah yang pinter biar jadi dokter!" ucap Angga menatap lucu Zara yang tengah merem dengan bibir mengerucut, Kemudian Zara membuka mata dan menatap Angga
"Ck! Zara udah besar kali kak! 18tahun! bukan bocil" protes Zara
"Coba berkaca dulu! bahkan kamu hanya seketek ku saja, kalau bukan bocil apa nama nya?? Udah belajar yang bener dulu sana! " ucap Angga
"Jadi,,, aku beneran di tolak yah?" Wajah Zara berubah mendung. Lalu Zara berbalik dan memilih pergi membawa sakit hatinya.
"Benar kan,, aku di tolak,,," gumam Zara sambil berjalan lambat menuju ke perpustakaan. Rasanya hatinya hancur karena penolakan itu.
"Terlalu cepat untuk berkomitmen, bukankan kita baru saja kenal?!" batin Angga menatap gadis polos itu menghilang masuk kedalam perpustakaan.
"Tapi, apaa aku keterlaluan padanya?" Angga begitu penasaran apa yang di lakukan Zara setalah dia tolak. Angga pun menyusul Zara masuk ke perpustakaan.
Dia mencari cari keberadaan gadis polos itu di seluruh penjuru perpustakaan, namum dia tidak menemukan jejaknya. Saat Angga melewati lorong terakhir deretan buku-buku, samar samar dia mendengar suara tangis yang tertahan . Dia pun mengikuti suara itu hingga ke ujung
__ADS_1
"Itu,,, suara manusia apa kuntilanak nangis ya??" gumam Angga terus melangkah
Deg!
Langkah Angga terhenti saat melihat seorang gadis tengah menekuk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya,
"Zara??"
**
Di tempat lain,,
Dinda dan Dika baru saja sampai di sebuah rumah makan padang karena Dika begitu ingin menikmati makanan khas padang terutama rendang. Begitu sampai, keduanya pun mengambil tempat duduk dan pelayan langsung datang menghampiri keduanya. Lalu keduanya pun memesan makanan yang mereka inginkan.
"Abang ke toilet sebentar ya" ucap Dika
"Iya bang" Jawab Dinda
Kemudian Dika beranjak dan akan menuju ke toilet
Dug!
"Ups, maaf" ucap Dika tak sengaja menyenggol seseorang
Dika melihat seseorang yang dia tabrak sepertinya tidak asing bagi Dika. Seperti pernah bertemu tapi ntah dimana...
"Iya pak, maaf sebelumnya, bapak siapa yah? sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, tapi dimana ya?" ucap Dika
Pria paruh baya itu tersenyum kepada Dika
"Boleh kita duduk bersama sebentar?" tanya bapak itu
"Iya pak, silahkan duduk. Perkenalkan ini Dinda istri saya" ucap Dika
Dinda tersenyum ramah saat pria paruh baya itu tersenyum kearahnya.
"Mas Dika masih ingat, bapak tua dengan pakaian lusuh yang Mas belikan nasi 10 bungkus, 2 tahun yang lalu?" tanya pria itu
Dika nampak berfikir dan mengingat ingat kejadian 2 tahun lalu, namun sepertinya dia tidak mengingat. Bagi Dika, jika memberi sedekah kepada orang lain, dia tidak ingin mengingatnya. Ikhlas saja siapapun orang yang dia bantu.
"Maaf pak, saya tidak ingat tepatnya kapan dan dimana. Karena bagi saya, saya tidak mau mengingat ingat atau bahkan mengungkit kebaikan yang sudah pernah saya lakukan kepada siapapun. InsyaaAllah saya ikhlas memberikannya saat itu" Ucap Dika dengan penuh kejujurannya
__ADS_1
Lagi lagi pria paruh baya itu tersenyum
"Mas Dika memang orang yang baik. Saya selalu berdoa kepada Tuhan, saya meminta suatu hari nanti saya ingin di pertemukan dengan mas Dika lagi, dan Tuhan mengabulkan itu sekarang" Ucap Bapak itu
"Perkenalkan, Nama saya Suryo Agung Dewantoro. 10 bungkus nasi yang mas Dika berikan saat itu saya berikan untuk istri saya, dan anak anak saya yang saat itu sedang menunaikan puasa sunnah. Mereka begitu senang saat saya pulang dengan membawa bungkusan nasi itu. Dan setelah hari itu, kami semua sepakat untuk memberikan mobil yang saat ini saya kendarai, Sebenarnya keluarga kami sudah lama mempersiapkan mobil itu untuk mas Dika, namun sepertinya Tuhan belum mempertemukan kita, sehingga mobil itu banyaklah berdiam diri di garasi dan hanya sesekali keluar untuk di panaskan mesin nya. Tuhan maha baik, hingga sekarang sudah waktunya mobil itu di serahkan kepada pemilik yang sesungguhnya" Ucap pak Agung
Bukan hanya Dinda, Dika terkejut seperti baru mendapatkan uang kaget! Tapi ini bukan uang, melainkan mobil.
"Saya ,, masih tidak bisa menerima semuanya pak" Jawab Dika
"Kenapa? ini adalah hadiah dari saya dan keluarga saya untuk membalas kebaikan Mas Dika" Ucap Pak Agung
"Tapi pak, ini berlebihan, saya bahkan tidak pernah berfikir untuk meminta balasan dari apa yang saya berikan dulu" Jawab Dika
"Memberi makan orang yang sedang berpuasa akan mendapatkan pahala yang besar seperti orang yang berpuasa. Kami ingin memberi hadiah ini karena kami ingin membalas kebaikan Mas Dika. Tidak baik jika menolak rejeki kan?" ucap pak Agung
Dika tak bisa berkata kata lagi, hati dan pikirannya masih berusaha mencerna semuanya. Kemudian Pak Agung mengeluarkan kunci mobil dari saku celananya dan memberikan kunci itu kepada Dika.
"Ini kunci mobilnya, surat suratnya masih ada di rumah saya. Besok saya undang mas Dika dan Mba Dinda untuk makan malam bersama keluarga saya di pondok kecil kami. Ini alamatnya" Ucap pak Agung yang mengeluarkan kartu nama dari dompetnya
"Tapi pak,,,"
"Tidak usah tapi tapian, besok datang saja saat makan malam ya. Saya permisi dulu" ucap pak Agung
"Bapak pulang naik apa? saya antar pak" tanya Dika
Pak Agung tersenyum lagi
"Tidak usah, saya bisa naik taksi pulangnya" jawabnya yang kemudian pergi meninggalkan Dika dan Dinda yang masih mematung tidak mengerti.
"Ini, buah manis dari ketulusan, tidak tau rejeki itu datang dari arah mana. Abang memang orang yang baik" Ucap Dinda kagum pada sosok suaminya
Beberapa menit Dika dan Dinda menikmati makanannya, setelah selesai keduanya pun akan pulang kerumah. Sebelumnya Dika sudah menelfon Daru ke rumah makan itu untuk mengambil motor Dika, sementara Dika akan mengendarai mobil baru pemberian pak Agung nantinya. Saat Dika mencoba mencari mobil apa yang di berikan untuknya, Kekagetan Dika masih belum berhenti juga saat melihat mobil apa yang di hadiahkan pak Agung untuknya
"Alphaard?!"
Sebuah mobil Toyoota Alphaard 3.5 Q A/T berwarna hitam sudah siap menunggu pemilik barunya.
.
.
__ADS_1
.
.