
Dika masuk keruang kerjanya, dia mendesaah berat karena Dinda masih kesal padanya. Daripada tidak ada kerjaan, Dika mengambil kertas ujian mahasiswanya dan memeriksa jawaban para mahasiswanya. Dika terlihat begitu serius saat sedang mengoreksi lembar ujian itu.
Satu persatu lembar jawaban sudah dia periksa, kini giliran kertas ujian milik Dinda Asmarani. Dika mengoreksi jawaban Dinda dengan teliti. Bibirnya mengembang sempurna saat membaca jawaban di nomer 15 (Jawaban no 15 : Pak dosen ganteng, maaf yahh Dinda gak tau jawabannya yang ini apa. Jadi Dinda gak jawab deh. Semoga pak Dosen gak marah ;)).
"Jawaban apa ini? hehehe" Dika terkekeh sediri ketika membaca jawaban istrinya
"Dia gemesin banget sih! andai dia gak ngambek, pasti sudah ku uyel uyel pipinya yang makin tembem itu!" gumam Dika dengan terus memeriksa jawaban Dinda.
"Tidak terlalu buruk nilainya meski dia tidak belajar" Ucap Dika setelah selesai mengoreksi lembar jawaban Dinda.
Di tempat lain,,,
Angga dan Zara sudah selesai makan malam. Keduanya tidak banyak bicara saat makan hanya saja sesekali saling lirik melirik mencuri pandang. Saat Zara melirik ke arah Angga, Angga pura pura tidak melihat dan hanya fokus makan saja, namun saat Zara tidak melihat Angga, diam diam lelaki calon dokter itu melirik gadis polos di sampingnya. Malam itu, Angga juga yang membayar semua yang mereka berdua makan.
"Pulang gih, sudah malam" ucap Angga
"Iyahh ini juga mau balik ke kosan. Kak Angga mau langsung pulang? apa nongkrong di Cafe itu?" tanya Zara
Deg!
Angga baru ingat jika dia meninggalkan Candra dan Budi di Cafe itu sejak tadi.
"Kesana dulu, kan masih ada temenku" jawab Angga dan dia mengantarkan Zara sampai di depan gerbang kosannya
"Ohh iya yah,,, ya sudah,, Zara masuk ya. Terima kasih udah di bayarin tadi" Zara tersenyum sumringah
"Hem" Sahut Angga
"Emm,, Zara masuk yah,, " Zara membuka gerbang perlahan
"Iya" Jawab Angga menatap Zara yang masih menatapnya juga
"Makasih sudah ngajakin Zara Dinner, meski cuma makan nasi goreng sama es jeruk, Zara seneng" ucap Zara yang sudah masuk setengah badan kedalam gerbang
"Iya,, sudah sana masuk!" perintah Angga
"Gak ada ucapan selamat malam gitu kak??" Zara menyengir kuda
Pletakkkk!
__ADS_1
"Uusshh sakit akak! kening Zara kok di sentil sih?!" ucap Zara mengusap keningnya dengan bibir mengerucut
"Habis gak cepet masuk, ngoceh aja terus!" sahut Angga
"Ck! apa susahnya sih bilang 'Selamat malam Zara' gitu kak,,?!" ucap Zara
Angga menghela nafas sesaat
"Selamat malam" ucapnya lirih
"Apa kak? Zara gak denger, coba ulangi lagi" pinta Zara dengan antusias
"Cepet masuk Zaraaa!!" ucap Angga yang malu jika harus mengulang ucapannya lagi.
"Hehee iya iyaaahh,, selamat malam juga,, calim,,, calon imam" Zara nyengir kuda kemudian menghilang dibalik gerbang kosan.
"Gadis itu benar benar,,,!"
Angga tersenyum kecil sebentar, lalu dia pergi menyebrang ke Cafe tempat teman temannya menunggu. Sampai di Cafe itu, Angga di suguhi wajah masam kedua temannya.
"Sorry aku,,"
"Ngedate tuh dia jadi lama!" sindir Budi
"Ck! dasar! dia mah modus aja ngajakin kita nongkrong! taunya nyamperin gadis" Cetus Candra
"Kalian tau?!" tanya Angga
"Ya tau lah! kalian berdiri didepan gerbang kosan depan itu kan tadi?!" tanya Budi
Glek!
Angga ketahuan modusnya sekarang di depan teman teman
"Ah itu,, tadi gak sengaja ketemu adik tingkat. Oh iya sudah selesai makannya? " Tanya Angga mengalihkan pembicaraan
"Sudah habis! untung Candra gak makan piringnya sekalian karena lama nungguin kamu Hahahaahah" Ucap Budi
"Asem lu Bud!" sahut Candra
__ADS_1
Ketiga lelaki itu pun larut dalam obrolan mereka, namun tidak lama, Angga sudah mendapat telfon dari sang mama dan mereka harus berpisah malam itu. Dan semua tagihan makan di cafe itu, semua Angga yang membayarnya.
Lain di Cafe, lain di pasar malam....
Setelah selesai makan, Dimas pun tak kunjung pulang. Dia masih betah duduk di tempatnya meski makanannya sudah habis sejak tadi. Bahkan pengunjung pun sudah silih berganti namun Dimas masih saja tidak mau pergi. Sampai mengundang tanya pegawai Sekar
"Mba, itu kok Mas yang baru biru muda itu gak pulang pulang yah? ini loh sudah malam. Sebentar lagi pasar malam juga akan tutup"
"Biarkan saja, aku sudah menegurnya tapi dia masih mau disini. Mungkin dia mau bekerja di pasar malam ini, mau bersihin sampah" Jawab Sekar
"Eh mbak Sekar malah ngelawak"
Sekar hanya tersenyum namun pandangannya sekilas menuju kepada Dimas yang asyik dengan ponselnya.
Warung tenda Sekar akan tutup, Sekar pun menghampiri Dimas dan menyuruhnya pulang
"Pulanglah, kami sudah mau tutup" ucap Sekar
"Oh iya? oke, ayo kit pulang. Aku akan mengantarmu" ucap Dimas mematikan ponselnya dan memasukkan kedalam saku celananya
"Kita?!"
"Iya kita"
"Ogah! aku bisa pulang sendiri! lagian aku bawa motor kok! sana pulang!" jawab Sekar yang sempat merasa deg degan
Sekar berjalan meninggalkan Dimas dan membereskan barang barangnya, sementara Para pegawai Sekar juga mulai beringkas barang barang jualan mereka. Setelah selesai Sekar berjalan menuju ke gerobak mie ayam Dika untuk mengambil hasil jualan malam itu.
"Loh, itu kok ada gerobak mie ayam bang Dika?" Ucap Dimas kaget bukan hanya Dimas, Sekar pun kaget saat berbalik dan ternyata Dimas belum pulang.
"Hah?! belum pulang juga?!" Sekar menganga kaget karena ternyata Dimas belum pulang juga meski sudah di usirnya.
"Belum"
.
.
.
__ADS_1
.