
Sejak Dinda pindah kekamar Dika, Fatih terlihat diam saja tidak seceria biasanya. Sierra tidak memperbolehkan Fatih untuk berdekatan dengan Dinda. Meski begitu, Dinda terus mencari kesempatan untuk bertemu dengan Fatih.
Seperti semalam, saat setelah makan malam, Dinda menemani Fatih menonton Film kesukaannya, sementara Dika berada di ruang kerjanya sedangkan sierra sibuk dengan ponselnya sendiri di kamar Fatih.
Namun saat Fatih akan tidur malam, Sierra segera menarik Fatih dan mengajaknya ke kamar mereka.
"Jangan dekat-dekat dengan anak saya!" sarkas Sierra sebelum pergi meninggalkan Dinda
Dinda hanya diam dan melihat Fatih yang di bawa pergi. Tak lama setelah Fatih masuk kedalam kamar, Dinda berjalan masuk ke kamar Dika dengan wajah murungnya.
"Kamu kenapa murung gitu Din?" tanya Dika saat sudah masuk kedalam kamar mereka dan melihat Dinda yang tengah duduk murung di tempat tidur
"Fatih gak jadi tidur disini bang, tadi mbak sierra bawa dia ke kamar" jawab Dinda
"Kamu yang sabar ya,,, omongan sierra gak usah di masukkan dalam hati" ucap Dika
"Iya bang," jawab Dinda
"Yuk kita tidur, sudah malam" ucap Dika
Lalu Dinda meletakkan guling di tengah-tengah mereka sebagai pembatas
"Ini untuk apa Din?" tanya Dika
"Pembatas bang hehe" jawab Dinda
"Hem,,, yakin ini akan bertahan sampai pagi?" tanya Dika
"Harusnya bertahan" jawab Dinda
"Kita lihat saja nanti!" Dika mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur di kamar itu. Setelah itu keduanya pun tidur bersama.
****
Dinda terbangun dari tidurnya, meski masih sangat mengantuk, Dinda memaksa untuk membuka matanya
__ADS_1
Deg!
Dinda kaget saat sadar dirinya berada di dalam dekapan hangat seorang . Pantas saja sepanjang malam Dinda merasakan kehangatan dan kenyamanan saat tidur, ternyata ini jawabannya, sepanjang malam Dinda berada didalam pelukan Dika. Namun Dinda kembali teringat saat mereka sebelum tidur terdapat guling di tengah-tengah antara dirinya dan Dika , Jadi kemana larinya guling itu sekarang?!
Dinda POV
Dia,,,,
Begitu tampan, baik dan terlihat sangat penyayang. Berada di dekatnya, aku merasa sangat bahagia. Ya Allah,,, kenapa jantungku berdebar seperti ini?!! apa aku sudah mulai mencintai dia?
"Sudah puas lihatin nya?" Dika masih memejamkan mata namun mulutnya bisa bicara
Deg!
Dinda terlihat kaget dan langsung salah tingkah. Dia langsung bergerak akan menjauh namun di tahan oleh Dika dan semakin dirapatkannya. Dinda menggeliat berusaha melepaskan diri namun begitu sulit
"Abang,,,, lepasinn" ucap Dinda yang masih terus bergerak
Dika membuka mata dan pandangan keduanya saling bertemu.
Deg
Deg
Deg
"Abang,, jangan lihatin Dinda gitu, Dinda malu bang" ucap Dinda namun tidak bisa berbuat apa-apa
"Kamu tadi mikir apa?! abang tau loh kalau kamu lagi perhatiin abang tidur" Ucap Dika
"Gak ada bang, Dinda cuma kaget, kenapa Dinda bisa dipeluk abang, padahal sebelum kita tidur ada guling di tengah-tengah" ucap Dinda
"Beneran cuma itu?!" Dika memastikan
"Iyah,,, beneran" jawab Dinda
__ADS_1
"Abang enakan meluk kamu daripada guling. Jadi gulingnya abang singkirin" jawab Dika
"Abang nakal! " ucap Dinda memukul ringan dadaa Dika
"Udah lepasin Dinda, Dinda mau masak. Sebentar lagi adzan subuh, abang gak siap-siap ke musholah?" tanya Dinda
"Masih ada waktu 15 menit lagi. Abang masih mau peluk kamu " Dika semakin mengeratkan pelukannya
Dinda menolak juga tidak bisa karena Dika memeluknya dengan erat, yang bisa Dinda lakukan saat ini hanyalah menikmati hangatnya pelukan Dika.
"Bang,,, udah mau adzan" Dinda bergerak lagi
"Jangan sembarangan bergerak Din, Arjuna nanti bangun" bisik Dika membuat Dinda kegelian
"Arjuna? Arjuna siapa bang?" tanya Dinda bingung pasalnya hanya ada mereka berdua saja
"Adik kecil abang" jawab Dika dengan tersenyum nakal
"Adik kecil? Dimas?" tanya dinda masih bingung
"Kok Dimas sih?! namanya Arjuna, bukan Dimas" Jawab Dika dengan menggerakkan kakinya yang berada di balik selimut mereka
Deg!
"Besar sekali"
Dinda terkejut
.
.
.
.
__ADS_1
.
Arjunaaa🤭