Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Nafkah Batin


__ADS_3

Setelah Dinda pergi dengan taksinya, dan Dimas juga pergi dengan Mobilnya, barulah Dika keluar menuju ke parkiran motornya. Kemudian Dika menaiki motornya pulang kerumah. Sepanjang perjalanan pulang, Dika berfikir bagaimana caranya Dika akan memulai untuk mendapatkan hati istrinya.


"Apa yang dinda suka? aku bahkan tidak tau, aku belum cukup lama mengenalnya, bahkan kesukaan ataupun tidak sukanya dia aku tidak tau. Jadi bingung mau mulai dari mana" batin Dika sendiri


Saat di perjalanan pulang, Dika melihat sebuah toko hijab, dia langsung teringat Dinda. Lalu Dika mampir dan masuk kedalam toko itu. Toko pun mendadak heboh


"Selamat datang kakak,,, silahkan masuk,,, mau cari apa kak? ada yang bisa kami bantu?" seorang pramuniaga dengan cepat menghampiri Dika, sementara yang lain hanya bisa bisik-bisik melihat pria tampan masuk ke toko itu, biasanya kan hanya wanita saja yang sering belanja disana


"Mau cari jilbab phasmina" jawab Dika


"Ohh,,, phasmina ada di sebelah sana, mari saya antar" Dika pun ikut pramuniaga itu menuju ke bagian jilbab phasmina. Lalu Dika memilih warna yang cocok untuk Dinda, sejenak Dika pun membayangkan Dinda


"Ambil ini saja, bisa di bungkus kado?" tanya Dika mengambil jilbab phasmina berwarna hazelnut dan maroon


"Bisa kak,,, Oh untuk kado pacar ya?" tanya pramuniaga itu dengan tersenyum


"Bukan pacar, tapi istri" Jawab Dika balik tersenyum


"Pasti beruntung banget ya kak istrinya "


Dika hanya tersenyum, lalu mereka menuju ke kasir dan setelah Dika membayarnya, mereka pun membungkus jilbab itu menyerupai bentuk kado dan memberikannya kepada Dika.


"Semoga Dinda suka dengan kadonya" ucap Dika saat sudah keluar dari toko itu dan pulang kerumah.


Sementara itu,


Dinda sudah sampai dirumah, dia merasa lelah memikirkan semuanya. Rasa gundah gulana kini menyerangnya. Pikirnya ingin menjauh dari Dika karena takut menjadi beban hidup Dika, tapi hatinya menolak untuk itu. Ntah kenapa kali ini hati dan pikiran dinda tidak sinkron begitu.


Tak lama kemudian terdengar suara motor Dika berhenti didepan rumah. Biasanya Dinda langsung berhambur ke depan, tapi kali ini Dinda memilih untuk diam di kamar saja dan Dika membuka pintu dengan kunci serepnya


"Apa Dinda belum pulang?" batin Dika yang kemudian berjalan menuju ke kamar Fatih


Perlahan Dika menelan handle pintu kamar fatih tapi dikunci , itu artinya Dinda sudah pulang. Dika tidak ingin menggangu, lalu Dika memilih untuk masuk kedalam kamarnya sendiri.


Beberapa jam berlalu,,,,,,

__ADS_1


Setelah mengurung dirinya, akhirnya Dinda keluar dari kamar, Dinda lapar dan ingin ke dapur untuk memasak. Namun begitu kagetnya saat dia sampai di dapur, Dinda melihat Dika yang baru saja selesai memasak


"Abang"


"Eh Dinda,,, sudah bangun? pasti laper,, sini,, ayo kita makan bersama" ucap Dika mengajak Dinda duduk


Dinda hanya bengong melihat makanan yang sudah tersaji di atas meja makan, terlihat sangat menggugah selera


"Abang masak ini semua?" tanya Dinda


"Iya,,," jawab Dika dengan tersenyum


Dinda bingung sendiri dengan sikap Dika yang begitu manis padanya, ingin meninggalkan lelaki seperti itu rasanya sangat berat.


"Kok malah ngelamun, ayo makan,,, apa mau disuapin abang?" tanya Dika menggoda Dinda


"Abanggg,,, dinda bisa makan sendiri. Maaf yaa,, harusnya Dinda yang masak untuk abang, ini malah kebalik" ucap Dinda merasa tidak enak


"Gak papa, sekali-kali suami yang masak untuk istri, itu gak masalah. Abang lumayan bisa masak, meski kayaknya gak seenak masakan kamu" jawab Dika dan membuat Dinda merona dengan ucapan Dika, lalu keduanya pun makan bersama.


"Bohong?! bohong apa?" tanya Dika bingung


"Masakan enak gini, ini bukan lumayan bisa masak, tapi jago masak. Ngalahin masakan di restoran deh " jawab Dinda dan Dika terkekeh


"Cuma kamu yang bilang masakan abang enak, jadi GR deh abang " jawab Dika


"Masak?!" tanya Dinda


"Iya,,," jawab Dika


"Dulu mba sierra gak pernah bilang gitu?" tanya Dinda


"Enggak, makan ya makan aja." jawab Dika


Dinda langsung diam dan tidak ingin melanjutkan obrolan tentang sierra karena melihat wajah dika sedikit berubah.

__ADS_1


Selesai makan, Dinda langsung membereskan meja makan dan juga Dapur nya sementara Dika ke kamar untuk mengambil belanjaan Dinda.


"Dinda"


Dika datang dengan membawa paperbagnya


"Iya bang?" jawab Dinda yang kemudian mendekat pada Dika


"Ini belanjaan kamu tadi" ucap Dika menyerahkan paperbag kepada Dinda.


Dinda melihat isi paperbag itu, dan isinya belanjaan dia saat di toko buku tadi. Lalu Dinda menerimanya.


"Maafin Dinda ya bang" ucap Dinda lagi-lagi merasa tidak enak kepada Dika.


"Kenapa minta maaf terus sih?" tanya Dika


"Dinda,,, jadi gak enak. Abang baik banget sama Dinda, sementara Dinda,, gak bisa bales kebaikan abang, yang ada cuma merepotkan abang terus" jawab Dinda lesu dan menunduk


Dika meraih dagu Dinda dengan lembut dan di angkatnya hingga mereka kembali saling menatap


"Abang gak pernah minta balasan apapun dari kamu. Apa yang abang berikan, abang ikhlas Din. Abang sudah berjanji padamu, abang akan memberikan nafkah lahir untukmu, karena kamu istri abang. Kalau untuk nafkah lahir,,,, abang nunggu Dinda saja" ucap Dika pelan


Deg!


"Nafkah batin?"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Ahhh kapan nih Dika memberikan nafkah batin ke Dinda ya? 🤭


__ADS_2