Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Masih Ada Hari Esok


__ADS_3

"Ini semua karena kamu menikah dengan Dinda. Lihat saja, sebelum kamu menikahi dia, semua baik baik saja! sekarang hidup kamu makin blangsak!"


"Ini semua karena kamu menikah dengan Dinda. Lihat saja, sebelum kamu menikahi dia, semua baik baik saja! sekarang hidup kamu makin blangsak!"


Dinda mengusap air matanya saat terus mengingat ucapan mama mertuanya tadi. Rasanya sangat sakit mendengar dan mengingatnya. Dinda meratapi dirinya yang hanya menjadi biang masalah untuk kehidupan Dika. Seperti kata mama mertuanya kini hidup Dika menjadi susah karena kehadirannya didalam hidup Dika. Dia di pecat dari pekerjaan dan warungnya yang sudah ramai harus gulung tikar di waktu yang tidak lama.


"Dinda,,"


Suara Dika terdengar lembut itu saja membuat Dinda terjingkat kaget dan membuyarkan lamunannya


"Abang?" Dinda cepat cepat menghapus air matanya dan berbalik badan ternyata Dika sudah ada di belakangnya, hanya sendiri karena Dika menyuruh Fatih tidur di kamarnya.


"Kamu nangis? kenapa?" tanya Dika saat melihat mata istrinya merah


"Gak papa bang,,," Dinda langsung menunduk karena air matanya sudah akan jatuh lagi


Lalu Dika mengangkat dagu Dinda dan membuat keduanya saling menatap


"Kamu gak bisa bohongin abang, abang tau kamu habis nangis. Ada apa? apa,, kamu mendengar ucapan mama tadi?" tanya Dika dengan serius


Dinda membalas tatapan Dika dan benar saja, dia tidak mampu berbohong bahkan menutupi apa yang kini dia rasakan, Dinda mengangguk dan kembali mengusap air matanya yang jatuh tanpa di minta


"Ucapan mama Nadira jangan dimasukkan kedalam hati" ucap Dika


"Tapi bang, mungkin benar kata mama setelah abang nikahin Dinda, hidup abang jadi makin susah. Lihat saja bang nyatanya, abang di berhentikan ngajar, dan usaha abang di tutup . Dinda hanya menjadi beban abang dan,,,"


"Ssttt,, tidak ada yang membenarkan seperti itu. Nikah itu ikatan suci, nikah melipatkan rejeki bukan mengurangi rejeki. Kalau hari ini abang di keluarkan dari pekerjaan abang, usaha abang juga gulung tikar, itu semua ujian untuk abang, Dinda. Itu sudah takdir dari Allah, bukan karena abang nikahin kamu. Abang bahagia bisa hidup bersama kamu dan Fatih, meski sekarang abang kehilangan pekerjaan abang, tapi abang akan tetap berusaha untuk menghidupi keluarga kita. Jika hari ini kita gagal, masih ada hari esok untuk mencoba lagi. Kalau masih gagal lagi, terus mencoba jangan pernah berhenti. Kegagalan mengajarkan kita untuk sukses kedepannya nanti. Cukup abang minta sangatttt, kamu doain abang supaya usaha yang baru kita rintis ini tetep lancar dan makin rame" Ucap Dika saat menyentuh wajah istrinya.


"Iya bang,,, Dinda percaya, dan Dinda akan doain abang terus" jawab Dinda dengan sungguh sungguh


"Terima kasih ya" Jawab Dika dengan satu kecupan mendarat di kening Dinda


"Maaf belum bisa membuat kamu bahagia" Ucap Dika saat menyatukan kening mereka.


Dika memiringkan wajahnya dengan niatan ingin menjangkau bibir manis merah jambu istrinya, namun baru saja menempel keduanya di kejutkan dengan suara pembeli dari luar


"Pakkkkkk,,, Mau beli mie ayam"


Dika terlihat kikuk lalu melepaskan Dinda karena adegan romantis mereka harus gagal. Sementara si Dinda terlihat salah tingkah dengan wajah yang sudah memerah.


"Yah,, gagal lagi,,," kekeh Dika


"Nanti malam kan bisa bang" sahut Dinda yang kemudian segera berlalu karena malu


"Ah iya, nanti malam yah!" Jawab Dika dengan penuh kegirangan.

__ADS_1


Saat mereka keluar ternyata pembeli itu adalah sekar.


"Sekar?!" Dika dan Dinda berdiri sejajar didepan pintu rumah mereka


" Hehehe,,, Hay,, aku datang. Mau makan mie ayam yah 1 pake sayur dan bakso juga. Minumnya Es teh gak terlalu manis" Ucap Sekar dengan cengir kuda


"Kirain siapa yang beli, ternyata kamu!" Ucap Dika dengan terkekeh, lalu Dika akan membuatkan pesanan Sekar, sementara Dinda akan membuat pesanan es teh


"Hehe,, aku tadi ke warung mu Dik, tapi kamu nya gak ada dan pemilik warungnya ganti" Jawab Sekar


"Iya, aku udah gak di sana. Biasalah, masalah sewa" jawab Dika


"Ohh gitu, makanya aku coba kesini, ternyata kamu buka dirumah. Oh iya aku mau kasih tau kamu, kalau di lapak pasar malam ada 1 tempat kosong. Kemarin yang pakai lapak itu gak lanjut kontraknya. Lumayan loh Dik buka di pasar malam itu, mana lagi belum ada yang jual mie ayam" ucap sekar


"Oh iya? sewanya berapa?" tanya Dika saat mengantarkan pesanan Sekar


"Sebulan cuma 500ribu, uang keamanan dan kebersihan 50ribu. Kalau kamu mau, aku sampaikan ke pak Doni yang kelola tempat itu" ucap Sekar


"Tapi aku belum ada persiapan" jawab Dika


"Hem,, kan gak harus sekarang Dik, di persiapankan dulu juga gak papa" jawab sekar


"Gimana bundanya Fatih?" tanya Dika saat Dinda mengantarkan minuman ke meja Sekar


"Ya sudah kalau kamu setuju, abang juga setuju. Aku akan persiapkan semuanya dulu , 2 atau 3 hari kedepan mungkin baru bisa buka di sana" Ucap Dika menatap Dinda dan sekar bergantian


"Oke, nanti aku bilang sama pengurus lapak disana. Ini aku makan ya,,, gratis apa bayar?" Sekar dengan cengir kudanya


"Gratisss, tapi lain kali bayar ya" kekeh Dika


" Hahaha,,,, iya iya,,," Kemudian Sekar menikmati mie ayam yang dibuatkan untuknya. GERATISSS


**


Malam menjelang,,,,


Dinda baru saja masuk kedalam kamar setelah menidurkan Fatih di kamarnya. Setelah drama yang cukup panjang, akhirnya Fatih mau tidur sendiri di kamarnya. Sebetulnya Dinda dan Dika merasa kasihan, tapi mereka ingin mengajarkan kepada Fatih untuk mandiri.


"Sini sayang,,," ucap Dika dengan menepuk kasur di sampingnya saat melihat Dinda masuk kedalam kamar mereka. Dinda pun melangkahkan kaki mendekat kearah suaminya


"Fatih sudah tidur?" tanya Dika saat Dinda sudah duduk di sampingnya


"Sudah bang" jawab Dinda


"Sini abang pijitin kakinya" Dika mengambil minyak urut dan hendak memijit kaki Dinda

__ADS_1


"Eh, gak usah bang, capeknya udah ilang kok. kita tidur saja yuk, sudah malam" jawab Dinda tidak ingin merepotkan suaminya


"Beneran gak mau di pijit?" tanya Dika


"Iya,, gak usah bang. Kita tidur saja yah, abang capek juga kan? besok sudah harus belanja lagi. Lebih baik kita tidur" ucap Dinda yang kemudian mematikan lampu utama dan menyisakan lampu tidur. Lalu Dinda berbaring dan diikuti oleh Dika


"Yakin sudah mau tidur?" tanya Dika


"Iyah, memangnya mau apa lagi bang?" tanya Dinda


"Arjuna kangen sama Dara, boleh ngajak main gak?" ucap Dika sembari mencium pundak istrinya untuk untuk merayunya


"Boleh, tapi sekali putaran aja ya" kekeh Dinda


"Emm oke deh! yang penting Arjuna dapet jatah malam ini! asik asik!" Dika begitu bersemangat, dia pun langsung membuka kaos dengan cepat dan membuangnya sembarang. Saat Dika akan melepas celana pendeknya


"Undaa,,," panggilan Fatih dari luar kamar membuat niat kedua orang tuanya mengudara.


krik


krik


krik


Dengan cepat Dika memakai kembali kaosnya dan segera turun dari tempat tidurnya .


Ceklek


"Fatih"


"Atih mimpi buluk! mau tidul cama unda!" Fatih berlari masuk ke kamar sang ayah dan langsung melompat ke atas ranjang orang tuanya. Tak lupa dia pun sudah memposisikan dirinya di tengah tengah antara kedua orang tuanya.


"Kita tidul cama cama yah" lalu Fatih menenggelamkan wajahnya di pelukan sang bunda.


"Yang sabar ya bang,,,," Dinda merasa kasihan saat melihat wajah kusut suaminya.


Kemudian Dika manggut manggut


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2