
Sore hari Dika baru pulang kerumah dengan wajah sedikit kusut. Rencana akan pulang siang tapi di kampus ada rapat dosen sampai sore, terpaksa Dika tetap tinggal hingga rapat dosen selesai.
Saat Dika turun dari mobil barunya, Dia melihat warung mie ayamnya lumayan ramai pengunjung, dan pandangannya langsung tertuju pada meja kasir dimana ada wanita yang paling di cintainya bersama putra mereka. Langkah kaki dengan penuh keyakinan mengayun cepat menuju meja kasir yang saat itu sedang ada orang yang sedang membayar
"Assalamualaikum" ucap Dika saat menghampiri mereka
"Wa'alaikumsalam" jawab Dinda dengan nada datar
"Terima ya bu,, besok datang lagi" Ucap Dinda dengan ramah
Glek!
Dika diam sesaat, ketika mendengar perbedaan cara menjawab Dinda padanya dengan pembeli. Dika menghela nafas berat dan sangat yakin jika istrinya sedang kesal.
"Ayah cudah pulang?" ucap Fatih memeluk sang ayah
"Iya, Tadi ada rapat dosen, jadi ayah pulangnya telat. Anak ayah sudah mandi ya? wangi banget" ucap Dika
"Cudah, tadi mandi cama bunda" jawab Fatih
"Abang, mandi dulu ya yang" ucap Dika saat melihat istrinya tampak diam
"Hem" sahut Dinda
Dika mengusap rambutnya sebentar karena rasanya tidak enak sekali saat di cuekin istrinya. Lalu Dika masuk kedalam dan segera membersihkan dirinya.
Setelah memastikan Dika sudah masuk kedalam kamar, Dinda beranjak untuk menyiapkan pakaian Dika, dan membuatkan minuman untuknya seperti biasa. Meski sedang merajuk, tapi kewajibannya sebagai seorang istri tetap ia tunaikan. Setelah semuanya selesai, Dinda kembali ke meja kasir.
Dika yang baru keluar dari kamar mandi melihat pakaiannya sudah siap, dia tersenyum lalu mengambil pakaian dan memakainya. Setelah berganti pakaian, Dika keluar dan dilihatnya sudah ada segelas es teh lemon yang ada di atas meja. Dika tersenyum lagi kemudian duduk dan meminum minuman yang disiapkan istrinya
"Meskipun dia marah, tapi dia tetap perhatian" ucap Dika yang kemudian dengan cepat menghabiskan esnya. Setelah itu Dika keluar dan menyapa istrinya
"Yang, pengunjungnya rame ya" tanya Dika membuka pembicaraan
"Mayan" jawab Dinda sambil fokus pada tap yang berisikan mesin kasir online
__ADS_1
"Hem,, jawabnya kok gitu" sahut Dika
"Bisa dilihat sendiri" jawab Dinda
Dika menghela nafas berat
"Yang,, Sini gantian abang yang jagain kasir. Kamu istirahat saja" ucap Dika
Tanpa membantah, Dinda berdiri kemudian mengajak Fatih masuk kedalam rumah
"Ayo sayang, kita masuk" ucap Dinda menggandeng tangan mungil putranya
"Oke unda,, Atih mau makan Ayam goyeng" ucap Fatih
"Oke, bunda buatkan" jawab Dinda terdengar samar samar di telinga Dika
"Beneran marah deh,,!" gumam Dika.
Kemudian Dika duduk menggantikan istrinya di meja kasir hingga waktu menjelang maghrib, sementara warung ditutup karena Dika, Santo dan Daru pergi ke musholah.
"Ayah ayo kita makan belcama, bunda macak ayam goyeng" ucap Fatih
"Emm,,, pasti enak" Ucap Dika yang kemudian ikut bergabung bersama istri dan anaknya.
Dinda melirik sedikit, sementara Dika menunggu istrinya melayaninya seperti biasa
"Mau makan apa?" pertanyaan itu bagai tusukan mendalam padahal Dinda hanya bertanya datar saja
"Terserah sayang mau kasih abang makan apa" jawab Dika pasrah dengan tersenyum dan tatapannya lembut
Dinda tidak berkata lagi, lalu dia mengambilkan nasi 3 centong, sayur kangkung 2 sendok, dan ayam goreng pahaa atas. Dika melongo saat di beri porsi rasa kuli oleh istrinya.
"Ya Allah,, istriku kalau ngambek malah mau bikin abang gendut kayaknya. Banyak bangettt nasinya melebihi porsi kuli" ucap Dika
Dinda tidak menjawab, kemudian dia duduk di samping Dika dan Fatih dan akan mengambil makanannya sendiri
__ADS_1
"Kalau ngambek gitu nanti hilang loh cantiknya, senyum dong bundaa" ucap Dika merayu Dinda
Dinda tersenyum dengan terpaksa hingga terlihat tidak enak di pandang mata.
"Itu bunda cudah cenyum yah" ucap Fatih dan lagi lagi Dika harus puas mendapat senyuman tidak mengenakkan dari istrinya.
Selesai makan malam, Dika membantu Dinda membereskan meja makan, sementara Fatih sudah berlari ke depan untuk menonton kartun upil ipil kesukaannya. Melihat Dinda tengah mencuci piring, Dika pun menghampiri ibu hamil yang sedang merajuk itu dan melingkarkan tangan kekar itu di perut istrinya yang masih terasa rata. Kemudian Dika menjatuhkan dagunya di bahu istrinya
"Sayang marah yah sama abang?" tanya Dika dengan nada sedih
"Hem" sahut Dinda dengan terus mencuci piring meski suaminya sudah seperti ulat bulu
"Gara gara di kampus tadi yah,,?" tanya Dika dengan pelan
"Sudah tau nanya" ketus sekali jawaban Dinda
"Maaf yah,, abang kan sudah pernah bilang waktu di awal, abang akan ngadain ujian setelah beberapa kali pertemuan. Itu juga semua demi kalian" ucap Dika dengan pelan namun penuh pembelaan diri.
Dinda mencuci tangannya, dan menarik nafas dalam sesaat
"Dinda tau! tapi harusnya kalau abang tau besok mau kasih ujian, abang jangan buat Dinda lelah! Dinda sama sekali gak belajar bang, kalau nilai Dinda jelek gimana?!, kemarin malam malah abang ajakin Dinda lembur! Dinda kesel sama abang! abang egois!" Dinda melepas tangan Dinda yang melingkar di perutnya kemudian berlalu meninggalkan Dika.
Dika mematung menatap kepergian Dinda yang membawa rasa kesalnya.
"Aku memang salah, harusnya aku tidak membuatnya lelah kemarin" gumam Dika merutuki kesalahannya, sementara Dinda memilih untuk masuk kedalam kamar Fatih.
"Abang nyebelin!"
.
.
.
.
__ADS_1
.