
Dinda, Fatih dan Dika sudah bersiap untuk kerumah keluarga Dika malam ini. Mereka pun segera berangkat kesana sebelum turun hujan.
Sementara itu, dirumah keluarga Dika, orang tua Dika sudah bersiap-siap menyambut tamu calon besan mereka, sedangkan Dimas terlihat biasa saja dan sepertinya tidak tau apa-apa soal perjodohan dirinya
"Wah,,, tumben mama masak banyak" ucap Dimas saat menghampiri mama. Dimas mengambil buah anggur dan memakannya
"Iya, malam ini akan ada acara makan malam bersama keluarga pak Hartono" jawab mama
"Pak Hartono? Pak Sekda maksud mama?" tanya Dimas
"Iya. Anak bungsunya cantik, mama pernah ketemu dan ngobrol waktu ketemu di acara arisan ibu-ibu pejabat" Jawab mama
Dimas langsung menghentikan makannya dan menatap mamanya
"Ma! jangan bilang ini semua ada niat terselubung!"
"Kamu kenalan dulu deh sama Tasya, dia itu anaknya cantik, lembut, pinter, kuliah luar negeri" jawab mama
"Aku gak mau ma!" jawab Dimas
"Cuma kenalan aja kok. Dari pada kamu gak bisa move on dari Dinda! Sudah lah, lupakan Dinda, dia itu sudah sama abang mu!" Jawab mama Dimas
"Mama gak suka penolakan! pokoknya kamu harus kenalan sama Tasya! kalau gak, mama gak akan anggep kamu anak mama lagi!" mama terlihat kesal lalu pergi meninggalkan Dimas di dapur. Dimas juga terlihat kesal lalu akan pergi dari dapur.
Tak lama kemudian Dika bersama Dinda, dan Fatin sudah sampai dirumah itu. Ketiganya masuk kedalam dan bertemu dengan papa Dika.
"Mama dimana pa?"
"Didapur tadi" jawab Papa
Samar samar Dimas mendengar suara Dika, dia pun melangkah cepat menuju ke ruang tamu dan benar saja sampainya di sana dia melihat ada Dinda juga bersama mereka. Wajah Dimas berbinar binar saat melihat Dinda terlihat sangat cantik malam itu.
"Dinda" Sapa Dimas menghampiri mereka.
Dinda terlihat takut lalu sedikit merapat kearah Dika dan mencengkram lengan suaminya.
"Kamu kesini juga?" Tanya Dimas dengan senyum senangnya sedang Dinda hanya mengangguk kecil saja.
"Assalamualaikum"
Pak Hartono dan keluarganya sudah berada di depan pintu
"Wa'alaikumsalam, pak Hartono, silahkan masuk pak,,, bu,,, Nak Tasya" ucap papa Dimas menyambut tamunya. Mereka masuk kedalam dan semuanya duduk di ruang tamu. Mereka berbincang bersama dan terlihat Dimas tidak menghiraukan gadis cantik yang duduk malu malu di samping ibunya. Malahan Dimas terus fokus menatap kakak iparnya.
"Ganteng ya nak Dimas" bisik mama Tasya kepada Tasya
"Mama,,," Tasya terlihat senyum senyum saat melihat Dimas.
Sementara Dika dan Dinda hanya mendengar obrolan mereka malam itu.
"Ehh,, tamu kita sudah datang. Mari pak Hartono, ibu Widia, nak Tasya, kita langsung saja makan malam. Mumpung masih hangat makanannya, kalau sudah dingin nanti kurang sedap" Mama Dimas keluar dan menghampiri tamu agungnya.
"Mari pak, langsung saja" ajak papa Dimas
Mereka pun beranjak dan berjalan menuju ke dapur. Begitu juga Dika, Dinda dan Fatih.
Dika menggandeng tangan Dinda sedangkan Fatih sudah berlari lebih dulu menuju ke meja makan. Dimas terlihat kesal karena Dika terus saja memepet Dinda dan seperti tidak memberikan celah untuknya.
Semuanya duduk dan memulai makan malam mereka sambil berbincang. Papa Dimas memperkenalkan semua anggota keluarganya kepada keluarga pak Hartono termasuk Dinda sebagai anggota baru di keluarga mereka. Mereka melihat Dinda biasa saja karena memang penampilannya dan juga Dika terlihat sederhana saja malam itu.
"Jadi Nak Dimas sudah menjadi wakil CEO di perusahaan Jaya Abadi group ya?" tanya pak Hartono
"Iya pak" jawab Dimas singkat
"Wahh hebat ya. Tasya juga baru di promosikan sebagai manager keuangan di kantornya"
"Cocok banget ya pak. Kami berharap Dimas dan nak Tasya bisa menjalin hubungan yang lebih dekat. Jadi besan begitu maksudnya" sahut mama Dimas dan sontak Dimas menoleh pada mamanya namun mama tidak peduli
__ADS_1
"Iya,,, kami juga berharap begitu. Kita beri waktu mereka berdua untuk saling mengenal. Siapa tau jodoh,, Bagaimana Tasya?" jawab pak Hartono
Tasya tersenyum malu malu
"Terserah kak Dimas pa" jawabnya pelan
"Bagaimana nak Dimas?" tanya pak Hartono
Dimas menarik nafas berat dan menghembuskan nya
"Iya belum tentu jodoh juga kan?!" jawab Dimas
"Dimas!" suara mama sedikit meninggi namun Dimas seperti tidak peduli
"Maaf ya pak, Dimas sedikit kaget saja sepertinya" ucap papa Dimas
"Tidak masalah"
Makan malam terus berlangsung sampai selesai, setelah selesai mereka kembali berkumpul di ruang tamu. Dika pamit sebentar untuk beribadah sementara Dinda menemani Fatih di ruang keluarga. Dimas yang melihat Dinda sendiri tanpa Dika, ia langsung beranjak dan akan menghampiri Dinda
"Mau kemana kamu?" tanya mama
"Fatih ma" jawab Dimas menunjuk ke dalam dan berjalan pergi
"Anak itu!!" batin mama sangat kesal dengan sikap Dimas.
"Fatih itu anaknya Dika ya bu?" tanya Mama Tasya
"Iya bu, Anaknya Dika" jawab mama nadira
"Ohh,, mamanya Fatih masih muda banget yah sepertinya" Mama Tasya makin kepo
"Oh,, itu ibu sambungnya Fatih"
"Ohh pantes kelihat muda banget masih"
"Kerjanya apa bu? Dan Dika kerja dimana?" tanya mama Tasya
"Dinda cuma Ibu rumah tangga aja, kalau Dika buka usaha mie ayam dan ngajar " jawab mama Nadira
"Oh"
Perbincangan ibu ibu terus berlanjut, dan Dimas mencoba untuk mendekati Dinda dan fatih
"Dinda"
Dinda terkaget saat Dimas tiba tiba duduk di sampingnya
"Kamu kenapa sih jauhin aku gini Din?!" tanya Dimas
"Apa sih Dim?! tolong jauhin aku! kita udah gak ada hubungan apa apa lagi!" ucap Dinda
Dimas terkaget saat Dinda memanggilnya nama saja tidak seperti biasanya
"Kamu panggil aku apa?" tanya Dimas
"Harusnya aku panggil apa? Tolong sedikit saja hargai aku sebagai kakak ipar mu. Aku sudah menikah dengan bang Dika!" jawab Dinda sedikit meninggi
"Aku gak pernah nganggep itu semua! Kamu hanya pura pura saja dengan hubungan kalian itu! kalian gak saling cinta!" jawab Dimas
"Kamu salah! aku sudah jatuh cinta dengan suamiku!" jawab Dinda
"Aku gak percaya, semudah itu kamu jatuh cinta!" jawab Dimas
"Dimas!" Suara tegas Dika membuat keduanya melihat kearah Dika
Dimas kesal lalu pergi menuju ke kamarnya
__ADS_1
"Kamu gak papa?" tanya Dika kepada Dinda
"Gak papa bang," Jawab Dinda
Mama Dika datang dan menanyakan apa yang terjadi karena terdengar ribut ribut diruang keluarga. Mereka tidak menjawab, lalu terdengar panggilan dari luar keluarga pak Hartono akan pulang.
"Dika, kalian menginap dirumah saja, ini sudah malam, dan diluar juga gerimis" ucap papa
"Iya, besok pagi saja kalian pulang. Biar Fatih menginap disini lagi semalam. Dia sekarang sangat jarang kesini setelah memiliki ibu baru" sindir mama Nadira
"Ya sudah kami menginap disini" jawab Dika menoleh sebentar kearah Dinda.
"Fatih tidur sama kakek lagi ya?" ajak papa Dika
"Oke" Jawab Fatih cepat. Lalu Fatih berpamitan kepada Dinda dan Dika , setelah itu papa, mama dan Fatih meninggalkan Dika dan Dinda yang masih berada di ruang tamu.
"kamu gak keberatan kan kita menginap disini semalam?" tanya Dika kepada Dinda
"Iya bang, asal abang selalu ada di samping Dinda" jawab Dinda
"Iya, yuk kekamar kita" ajak Dika. Lalu keduanya berjalan bersama menuju ke lantai atas, disana hanya ada 2 kamar yaitu kamar Dika berhadapan dengan kamar Dimas.
"Maaf abang ninggalin kamu tadi terlalu lama" Ucap Dika sambil menggandeng tangan Dinda
"Iya bang, gak papa. Dinda cuma gak enak sama mama dan papa abang. Dinda takut dikira menggodanya lagi" jawab Dinda pelan
"Abang janji, tadi terakhir kalinya abang ninggalin kamu sendiri dirumah ini. Maafin abang ya,," Ucap Dika dan mereka sudah berada di depan kamar Dika. Dinda mengangguk dan tersenyum untuk Dika.
Perlahan Dika menyentuh tekuk Dinda dan mendekatkan wajahnya. Dinda memejamkan matanya dan Dika sudah meraih si ranum dan menyesapnya sedikit dalam. Dinda membalasnya dan memberikan akses lebih untuk Dika semakin memperdalamnya.
Ditariknya pinggang ramping Dinda dan mereka semakin merapat, lalu diangkatnya sedikit dan membuat tubuh mereka sedikit sejajar. Dika terus memberikan rasa manis di setiap sapuannya, pelan, dalam dan begitu terasa. Dinda yang sudah terbuai mengalungkan tangannya di leher Dika untuk membuat dika semakin leluasa.
Ceklek
Dika membuka pintu kamarnya dan keduanya masuk kedalam tanpa melepas panggutan mereka, terlepas sesaat untuk bernafas, kemudian kembali menyatu. Dengan sekali gerakan kaki, pintu kamar Dika kembali tertutup.
Blam!
Seiring pintu tertutup, Dimas yang berdiri di depan kamarnya mengeraskan rahangnya saat melihat Dika dan Dinda bermesraan didepan matanya. Hatinya hancur se hancur hancurnya melihat Dinda begitu cepat melupakannya.
"Kenapa kamu cepet banget lupain aku Din?! aku tuh cinta banget sama kamu!" Sarkas Dimas sendiri. Dimas meninju Dinding kamarnya melampiaskan kemarahannya.
Sementara itu, Di kamar Dika, Dinda sudah berada dibawah kungkungan Dika. Masih saling beradu, Dika melepas satu persatu kancing baju Dinda dengan terus membuai Dinda
"Eemmm,,,," Dinda menahan suaranya saat merasakan geli geli aneh saat Dika turun menyusuri lekuuk neck dan memberikan satu tanda disana.
Dinda semakin dibuat meremang saat tangan besar itu sudah menyelusup masuk kedalam dan mengusap lembut bagian tak rata dan kadang memberikan tekanan
"Bang,,,, Dinda,,, belum bersih bang" ucap Dinda yang kesadarannya mulai kembali
"Iya,, abang tau,,, tapi abang boleh kan mainin ini?" tanya Dika saat kedua tangannya sudah menemukan mainan baru, bulat bulat empuk yang masih didalam pagar hitam.
Dinda mengangguk malu malu dengan wajah sudah sangat memerah
"Ahhh abang,,,,,,,,,"
.
.
.
.
.
Wahhhhhhh 😀
__ADS_1