Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Palang Merah


__ADS_3

Dinda sudah lelah menangis didalam pelukan Dika, hingga dia pun tertidur begitu saja. Dika pun merebahkan istrinya dengan sangat pelan agar Dinda tidak terganggu tidurnya.


"Tidurlah,,,, Maaf abang belum bisa menjadi penawar sakit hatimu. Tapi,, abang akan terus berusaha agar kamu tetap tersenyum bahagia bersama abang" Ucap Dika dengan sangat tulus,


Cup!


Dikecupnya kening Dinda dengan penuh kelembutan. Dika sudah terlanjur cinta, Dika sudah terlanjur sayang. Apapun akan dia lakukan demi wanita yang dia sayang.


Setelah menidurkan istrinya, Dika ikut membaringkan dirinya di samping Dinda. Sekilas dia tatap lagi wajah cantik yang tadi sempat menangis, kini sudah tidur damai di sampingnya.


"Aku harus lebih sabar lagi menghadapi emosinya yang tidak stabil" Ucap Dika yang kemudian memejamkan matanya


**


Sepanjang perjalanan pulang, Sekar hanya berani berpegang pada jaket yang dikenakan Dimas malam itu. Rasanya masih canggung, dan rasanya masih tidak percaya jika mereka sudah menikah tadi pagi.


"Pegangan bu,, nanti jatuh. Dingin loh udara malam nya" ucap Dimas


"Kamu panggil ibu? kenapa begitu?" tanya Sekar


"Gak papa, aku seneng aja panggil kamu ibu, calon ibu dari anak anakku" kekeh Dimas


"Ck!" Sekar membuang muka dengan wajah merona


"Kamu harus biasain panggil bapak ya, jangan nama aja. Aku seneng di panggil bapak" kekeh Dimas lagi


"Udah fokus nyetir aja!" sahut Sekar


"Iya iya,,, ayo dong bu, pegangan,," ucap Dimas lagi


"Ini udah pegangan pak,,," sahut Sekar


"Pegangan yang bener, pegang pinggang bapak lah bu, masak pegang jaket?!"


"Sama aja" Jawab Sekar menahan senyum yang akan mengembang di bibirnya


Beberapa menit berlalu, mereka pun sampai di pondok. Keduanya turun dan berjalan masuk kedalam pondok.


"Bu Sekar,," Ucap Dimas saat Sekar sudah bersiap untuk tidur


"Ada apa pak?" tanya Sekar yang mulai membiasakan diri memanggil Dimas sesuai keinginannya


"Mau langsung tidur?" tanya Dimas


"Iya,,, sudah malam juga. Besok pagi sudah harus kerja kan?" jawab Sekar


"Biasa tidur mati lampu apa hidup lampu?" tanya Dimas

__ADS_1


"Terserah,," jawab Sekar yang sudah merebahkan dirinya diatas tempat tidur dengan memberi guling sebagai pembatas antara dirinya dan Dimas


Dimas tidak menjawab, lalu dia mematikan lampu utama dan memanfaatkan sorot lampu dari depan pondok yang masuk kedalam. Sekar membuka mata dan langsung membulat saat Dimas membuka kaosnya


"Pak! Bapak mau apa?!" Tanya Sekar yang langsung menarik selimut menutupi dirinya hampir keseluruhan


Dimas terkekeh dan ingin sekali mengerjai istrinya yang terlihat ketakutan


" Kok nanya sih bu? ibu lupa,, ini kan,, malam pertama kita,, ya jelas lah bapak Dimas ini mau,,,, ehem,, mau kenalan sama ibu Sekar biar lebih dekattt" jawab Dimas dengan seringai genitnya


"Bapak,,, jangan,,, macem macem ya pak! Aku nikah karena kepaksa pak, aku belum cinta sama bapak! aku,,, gak mau lakuin itu sekarang!" jawab Sekar dengan menggelengkan kepala


"Beneran gak mau?? belum di coba loh bu, katanya sekali coba bikin nagih" kekeh Dimas semakin bersemangat menggoda Sekar. Tak tanggung tanggung, Dimas melepas celana panjang dan menyisakan celana pendek selututnya. Sekar di buat menganga saat Dimas meelpaskan pakaiannya itu


"Ayo bu,, bapak Dimas udah siap nih,,," Ucap Dimas merangkak ke tempat tidur dan mendekati Sekar


"Pak! jangan macem macem kamu, atau gak aku teriak loh!" Jawab Sekar, dia benar benar belum siap, bahkan menatap hati setelah gagal nikah pun juga belum sepenuhnya berhasil.


Nafas Sekar semakin terasa sesak saat wajah tampan bak oppa korea itu semakin mendekat pada wajahnya. Sekar pun tak lepas sedikitpun pada selimut yang terus di pegang nya dengan erat.


"Hehehe,,, pucet banget bu Sekar wajahnya" Kekeh Dimas saat wajah mereka tinggal beberapa cm lagi


Sekar yang awalnya memejamkan mata dan mengatup bibirnya dengan erat pun sontak membuka mata


"Pa,,,hmph!" Sekar tak bisa berkutik ketika mulutnya yang sudah akan protes di bungkam dengan kontan oleh suaminya. Lama semakin dalam dan semakin membuat gila. Belitan belitan hangat pun terus berlanjut hingga tanpa sadar Dimas sudah semakin turun membasahi jalanan mulus dan akan mencapai puncak pegunungan kembar ibu Sekar. Namun


Tok


Tok


Dimas dan sekar begitu kaget dan Sekar mendorong Dimas untuk menjauh. Setelah itu keduanya segera duduk


"Siapa?!" tanya Dimas pada Sekar


"Kayak suara kang Bowo" jawab Sekar


Dimas mengambil kaos dan segera memakainya sedang Sekar segera memperbaiki pakaiannya.


"Ibu disini saja, bapak yang keluar"


Dimas beranjak dan membuka pintu


Ceklek


"Kang Bowo?" ucap Dimas


"Maaf, ini disuruh bapak nganter senter. Biasanya di sini sering mati lampu" Ucap Bowo

__ADS_1


"Ohh,, iya, makasih" Jawab Dimas mengambil senter yang di berikan Bowo


"Kalau begitu, akang pulang dulu. Kalian hati hati ya" Ucapnya


"Iya,,," Jawab Dimas


"Assalamualaikum" Ucap kang bowo


"Wa'alaikumsalam" Jawab Dimas


Kemudian Bowo pergi dari area empang dan Dimas kembali masuk kedalam


"Ada apa?" tanya Sekar


"Senter dari bapak, katanya disini sering mati lampu" jawab Dimas


"Ohhh,,, " Sahut Sekar


"Bu,, lanjut lagi yukk" Ajak Dimas yang langsung membuka kaosnya lagi


"Gak bisa pak!" jawab Sekar


"Kenapa bu?" tanya Dimas


"Palang merah pak" kekeh Sekar dan wajah Dimas langsung kusut


"Benerannn?!" Tanya Dimas


"Iya! gak percaya?! mau lihat?!" tanya Sekar


"Gak bu,,, bapak percaya,, ayo tidur saja kalau gitu,," Ajak Dimas


"Pake pak, bajunya" ucap Sekar yang tidak tahan jika melihat tubuh kekar dan bersih milik Dimas, rasanya air lieeurnya akan keluar.


"Aku biasanya tidur gak pake baju bu, kolooran aja gini biasanya" Kekeh Dimas


"Ibu juga mau kayak gini aja?" tanya Dimas


"Ish! ogah!" Sekar memilih langsung merebahkan dirinya lebih dulu


Dimas melompat ke kasur dan mengagetkan Sekar


"Ciuuman lagi yuk bu?!"


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2