Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda

Dilamar Perjaka, Dinikahi Duda
Mamaaaaaaaaa


__ADS_3

Dinda melotot saat mulutnya sudah di sumpali nasi dengan lauk ikan asin yang di gorengnya, sementara Dika terkekeh saja melihat istrinya yang kesal namun masih terus mengunyah hingga makanan habis di telan nya.


"Makanya jangan teriak teriak! masih pagi udah teriak aja, gak dapet jatah bu semalem?!" goda Dika


"Ck! pikiran abang tuh yah,,, gak jauh jauh dari urusan ranjang! lupa pesan dokter?! Diusia kandungan Dinda yang masih muda , gak boleh sering sering di tengokin! MASIH RENTAN" ucap Dinda penuh penekanan


"Baiklah,,, sepertinya drama masih akan terus berlangsung" Dika bangkit dari tempat duduknya dan memilih pergi meninggalkan Dinda


"Abang mau kemana?" tanya Dinda


"Siap siap ke kampus! dirumah di omelin aja sama istri, abang pusing!" jawab Dika ganti berpura pura kesal


"Ck! tungguin bang!" Dinda membereskan meja makan dengan cepat kemudian menyusul suaminya


Dika mengganti pakaiannya dan akan bersiap ke kampus, begitu juga dengan Dinda yang pagi itu juga ada kelas. Keduanya terlihat seperti perang dingin karena tidak ada yang bicara lagi. Tak lama Fatih bangun dan mencari kedua orang tuanya


Tok


Tok


"Bunda,,"


Dinda baru tersadar jika dia meninggalkan Fatih


"Fatih!" Dengan cepat Dinda berjalan menuju pintu dan membukanya


"Ohh ya Ampunn,,, maaf ya nak, bunda lagi siap siap ke kampus. Ayo bunda mandikan" ucap Dinda begitu lembut kepada Fatih. Kemudian Dinda mengajak Fatih kembali ke kamarnya


"Sama Fatih bisa lembut, sama suami di ketusin! Dasar bumil!" gumam Dika melihat istrinya pergi


"Apa semua ibu hamil begitu?! perasaan dulu Sierra tidak begitu, tapi dia lebih parah bahkan aku tidak boleh menyentuhnya sama sekali! Ck! mungkin Allah menguji kesabaran ku lagi" Dika sudah selesai bersiap, lalu dia keluar dan memanaskan mobil barunya. Diluar, Dika juga berbincang dengan Santo dan Daru yang sudah bersiap untuk membuka warung mie ayam Dika.


"Pak,, ayamnya sudah di masak kan? kok tumben bapak sudah rapi sepagi ini?" tanya Santo


"Kayaknya tadi sudah di masak sama ibu Dinda, tadi aku lihat di panci biasanya itu sudah di atas kompor. Mie nya nanti di antar jam 7, mudah mudahan kita bisa beli mesin yang bisa produksi banyak, jadi kita gak ngupah terus" jawab Dika


"Aamiin pak,, mudah mudahan segera punya mesin sendiri" jawab Santo


Tak lama Dinda keluar bersama Fatih dengan sudah menenteng tas dan kotak makanan


"Papa, mau antel Atih ke lumah kakek? atih kangen sama kakek" tanya Fatih


"Emm boleh, kita kerumah kakek dulu" Jawab Dika yang kemudian berjalan masuk kedalam rumah tanpa menatap istrinya


Dinda semakin cemberut karena sama sekali tidak di pandang, bahkan senyum pun tidak


"Abang ngeselin banget sih! aku kan ngambek! harusnya abang rayu aku biar maafin dia! harusnya dia itu berudaha keras supaya aku maafin. iiihhhh ini malah ikutan kesel,,,! aku kan gak suka di cuekin!" batin Dinda begitu kesal sendiri.


Dika yang mengintip istrinya dari balik jendela ruang kerjanya pun tersenyum sendiri saat melihat raut wajah kesal tercetak jelas pada wajah istrinya. Apalagi bibirnya yang sudah manyun seperti bebek.

__ADS_1


"Memangnya bumil aja yang boleh ngambek?! hehe,,, aku keterlaluan gak sih?!" ucap Dika yang kemudian mengambil tasnya dan keluar dari ruangan kerjanya


"Ayo masuk kedalam mobil" Ucap Dika dengan lembut saat merangkul bahu Dinda


Dinda terkejut lalu menoleh dan dilihatnya Dika sudah tersenyum manis saat menatapnya, seketika jantung Dinda berdebar debar tak karuan karena melihat suaminya kembali manis seperti biasa. Tanpa dia sadar, mobil sudah terbuka dan Dinda masih tidak lemas menatap Dika


"Bunda,, ayo naik" ucap Fatih yang sudah berada di dalam mobil


"Ah iya,," Dinda tersadar dan terlihat malu karena terpesona dengan senyuman manis tulus dan ikhlas Dika saat itu, sementara Dika masih saja menampilkan sampai mereka masuk kedalam mobil


"Jadi masih marah sama abang?" tanya Dika


"Tergantungg,," Jawab Dinda pelan


"Kok tergantung?" tanya Dika sambil menjalankan mobilnya


"Yah,, kalau abang ngeselin lagi,, Dinda pasti marah" jawab Dinda


"Hem,,, iya iyaaa abang gak akan bikin kesel lagi" jawab Dika


Dinda membalas senyum yang artinya dia sudah tidak marah lagi. Bahkan dia sudah lupa jika kemarin sempat bilang akan pulang kerumah orang tuanya.


Kini mobil Alphard hitam itu terus melaju menuju kerumah keluarga Dika.


**


Dikediaman keluarga Dika,,,


"Dimas,, jam berapa kamu pulang semalam?!" Tanya mama begitu Dimas sampai di meja makan dan baru saja akan duduk


" Jam setengah 12 ma, Dimas lembur" Jawab Dimas berbohong


"Tumben kamu lembur" ucap mama melunak


"Namanya akhir bulan ma, banyak kerjaan yang harus di selesaikan" jawab Dimas


"Kan mama sudah bilang, kamu itu kerjanya di kantor papa saja, jadi kamu gak sampai lemburan hampir tengah malam. Lagian papa kan juga sibuk dengan tugas negara. Harusnya kamu ngerti. Belum lagi restoran kita itu, siapa lagi yang akan mengurus kalau bukan kamu?!" ucap mama


"Papa gak setuju kalau mama membebankan semuanya pada Dimas. Apa mama lupa pesan alm Papa, perusahaan itu di serahkan untuk Dika dan Dimas diserahkan restoran ?!" sahut papa


"Tapi pa, Dika itu sibuk dengan pilihannya sendiri, papa lihat, bukannya dia mengurus perusahaan malah dia jadi dosen honor dan jualan mie ayam. Terus kalau papa sudah pensiun dia baru akan belajar gitu maksud papa?" cetus mama


"Papa yakin Dika bisa menjalankan perusahaan itu, nanti papa akan bicarakan hal ini kepada dia. Selama ini Dika tidak pernah tau jika perusahaan Jaya Group itu diwariskan padanya" ucap papa


"Dan papa yakin Dimas juga akan bisa mengelola dan membesarkan restoran itu nanti ketika dia sudah siap" ucap papa


Dimas sama sekali tidak memikirkan sampai kesana, dia juga belum siap jika harus mengurus perusahaan ataupun restoran sendiri , dia masih ingin mencari pengalaman kerja di perusahaan lain sebelum dia memegang perusahaan milik keluarganya nanti.


"Setelah jabatan papa selesai, papa akan pensiun dan papa ingin menghabiskan banyak waktu dirumah bersama cucu papa" ucap pak Dirdja

__ADS_1


"Kalau menurut mama, Dimas lebih tepat untuk mengurus perusahaan ketimbang Dika. Dia kan gak ada basic bekerja di perusahaan" ucap mama


"Dimas gak mempermasalahkan warisan ma pa , yang terpenting untuk Dimas sekarang adalah, Dimas masih pengen kerja di perusahaan itu sampai Dimas lulus kuliah. Setelah itu baru Dimas akan pikirkan lagi kedepannya" jawab Dimas


"Permisi tuan,, didepan ada pak Dika bersama ibu dan den Fatih" ucap pelayan


"Papa sudah selesai sarapan" ucap pak Dirdja yang kemudian beranjak dan berjalan keluar untuk menemui Dika. Kepalanya terasa pusing jika terus terusan mendengar perdebatan Dimas dan mamanya.


Mama Nadira tidak tinggal diam, dia pun menyusul pak Dirdja keluar karena berfikir suaminya itu akan membicarakan soal perusahaan yang akan diberikan pada Dika.


"Dika,,"


"Assalamualaikum pa,," ucap Dika menyalami papanya begitu juga Dinda


"Wa'alaikumsalam,," jawab papa


"Pa, Dika nitip Fatih ya pa, soalnya Dika ada rapat dosen lanjutan sampe sore dan Dinda juga ada kuliah sampe sore. Setelah pulang nanti Dika langsung jemput Fatih. Maaf merepotkan papa, Dika kasihan kalau Fatih seharian di kampus" ucap Dika


"Iya gak papa nanti papa jagain dia. Hari ini papa cuma sebentar ke kantor. Setelah itu pulang. Lagian mamamu juga ada dirumah. Papa jadi gak pusing lagi kalau ada Fatih" ucap Papa


Mama Nadira keluar dan disapa ramah oleh Dika dan Dinda


" Kalau begitu kami pamit ya pa, ma,,, Fatih jangan bikin kakek dan nenek pusing ya" ucap Dika


"Iya yah" jawab Fatih


Kemudian Dika mengajak Dinda keluar rumah dan diikuti oleh papa dan mama Nadira juga Fatih


"Loh itu mobil siapa?" ucap pak Dirdja kaget melihat ada mobil Alphard hitam parkir di depan rumah. Mama penasaran dan melihat sendiri mobil mewah itu berada di depan


"Apa ada tamu?" sahut mama


"Itu mobil Dika pa, ma,," ucap Dika


"Hah?!" ucap papa kaget


Bruuuuukkkkkkkk


Mama Nadira langsung jatuh pingsan setelah tau mobil mewah itu milik Dika


"Mamaaaaaaaaa!" teriak Pak Dirdja dan Dika bersamaan


Kedua pria itu pun langsung mengangkat ibu Nadira dan merebahkan di atas sofa


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2