
setelah melaksanakan sholat dhuhur, shinta langsung bergegas mencari jannah karena sahabat nya yang menghilang itu belum muncul juga dari tadi, kemudian ia teringat kalau tadi pagi jannah menanyakan tentang kedatangan obat, apa mungkin jannah ada di gudang instalasi farmasi / tempat penyimpanan semua obat yang ada di rumah sakit
setelah menuju ruangan yang bersebelahan dengan ruang apoteker itu, ternyata benar dugaan shinta kalau jannah berada di depan lemari pendingin tempat penyimpanan obat yang ada di gudang instalasi farmasi
just info:
Ada berbagai bentuk sediaan obat disimpan dengan cara yang sesuai. Cara penyimpanan umumnya dicantumkan pada kemasan obat. Berikut berbagai cara menyimpan obat yang benar, yaitu jangan menyimpan kapsul atau tablet di tempat panas. Tablet dan kapsul disimpan di tempat kering dan sejuk pada suhu 15º – 25ºC. Obat dalam bentuk cair jangan disimpan dalam lemari pendingin, kecuali disebutkan pada etiket atau kemasan obat. Hindari agar obat cair menjadi beku. Larutan atau sirup disimpan di tempat kering dan sejuk pada suhu 15º – 25º C. Sediaan suppositoria harus disimpan di lemari pendingin (2o–8o C) supaya tidak meleleh.
Sediaan aerosol/spray/semprot harus dijauhkan dari panas/suhu tinggi karena dapat meledak. Simpan di tempat kering dan sejuk pada suhu 15º – 25º C. Tetes Mata / Tetes Hidung / Tetes Telinga disimpan di tempat kering dan sejuk pada suhu 15º – 25o C.b Salep Mata / Salep Hidung / Salep Telinga disimpan di tempat kering dan sejuk pada suhu 15º – 25o C. Insulin disimpan di lemari pendingin dengan suhu 2o – 8o C.
"lo ngapain disini?" tanya shinta seraya menepuk pundak jannah dari belakang
"ngapain lagi kalau bukan nata obat yang dateng hari ini" jawab jannah tanpa melepas pandangan nya dari isi lemari pendingin itu
"lo ngehindarin rendra kan?" tanya shinta, sedangkan yang ditanya hanya diam saja tanpa menjawab
huft..
shinta menghela nafas pelan kemudian memilih duduk ndlosor di lantai
"nih ya.. kalau lo emang mencoba percaya sama rendra, kenapa lo ragu sekarang?" tanya shinta lembut
"gue bukan ragu sama rendra, tapi ragu sama diri sendiri, apa gue pantas buat rendra? apa orang tua nya bisa nerima gue?" jawab jannah
"kalau lo percaya sama rendra, lo juga harus mencoba percaya sama orang tua nya rendra" jawab shinta
"orang tua nya kan belum ngasih pendapat, gimana bisa gue coba percaya?" tanya jannah bingung
"lo gak akan tau jawaban nya selagi belum mencoba, makanya nanti entah kapan.. lo harus ketemu sama mereka, lihat pendapat mereka.. kalau lo udah tau, lo harus mencoba percaya sama mereka, dan gue rasa orang tua nya rendra gak memandang seseorang dari tahta nya" jawab shinta
"dari mana lo tau?" tanya jannah
"ini firasat seorang cenayang" jawab shinta asal, tapi dalam hati ia berdo'a semoga apa yang dia katakan memang benar ada nya
"nanti gue pikirin" ucap jannah
"hmm.. udah lupa in sejenak, lo katanya mau bbq an bareng kan?" tanya shinta
"trus?" tanya jannah meminta penjelasan
"gimana kalau besok?" tanya shinta meminta pendapat
"boleh juga, berarti besok kita belanja daging sama kebutuhan lain nya" ucap jannah yang diangguki shinta
"yaudah gue balik ke sebelah dulu" ucap shinta beranjak dari duduk dlosoran nya
"lo gak mau bantuin gue?" tanya jannah menghentikan langkah shinta
"bantuin apa? tinggal satu kardus doang nanggung jan" jawab shinta
__ADS_1
"hehe.. yaudah kesana aja, bentar lagi gue nyusul" ucap jannah
"gak, ayo kita selesai in satu kardus ini berdua" ucap shinta dengan mengangkat satu kardus obat yang tersisa dan memasukkan nya satu persatu ke dalam lemari pendingin
bukankah jam pulang kerja adalah hal yang dinantikan semua orang dewasa? begitu juga dengan shinta dan jannah yang tentu saja senang ketika jam kerja mereka berakhir, mereka langsung ke parkiran untuk mengambil mobil dan pulang ke rumah
"gue yang nyetir ya?" tanya shinta dengan menunjukkan sim milik nya yang baru saja kembali tadi siang
"oke" jawab jannah kemudian duduk di kursi penumpang yang ada di sebelah kemudi
shinta menyetir dengan kecepatan normal karena ingin menikmati pemandangan jalan raya yang ramai di sore hari karena kebanyakan orang yang baru pulang kerja, namun jannah langsung mengernyitkan dahi nya ketika menyadari sesuatu
"mau kemana? ini kan bukan jalan pulang ke rumah" tanya jannah
"ya emang bukan" jawab shinta enteng
"trus mau kemana?" tanya jannah
"kemana mana hatiku senang" jawab shinta enteng yang semakin membuat jannah kesal, ia ingat kalau dulu dia juga pernah dibawa shinta juga laila hanya untuk bertemu rendra yang ingin meyakinkan nya di taman
"cafe?" ucap jannah saat mobil yang mereka tumpangi sampai di kedai kopi
"yuk!" ajak shinta seraya keluar dari mobil nya dan diikuti jannah dari belakang
jannah masih bingung kenapa mereka berhenti di cafe sekarang? ia ingin bertanya namun juga sudah jelas shinta pasti enggan menjawab dan mengabaikan pertanyaan nya
"what?" pekik jannah melihat ada rendra yang melambaikan tangan ke arah nya, dia kemudian memutar badan berniat untuk keluar dari cafe, namun sayang nya shinta lebih dulu menarik tangan gadis itu agar tidak bisa kabur
"kalau gue ngomong juga lo pasti gak akan mau kesini" jawab shinta santai kemudian duduk di depan reyhan dan jannah duduk di depan rendra
"jan" sapa rendra
"iya ren" jawab jannah yang kembali dengan mdoe ramah, dia berpikir kalau apa yang dikatakan shinta tadi siang mungkin ada benarnya juga
"syukurlah.." ucap rendra menghela nafas lega
"syukur kenapa?" tanya jannah heran
"syukur kamu udah gak diem lagi" jawab rendra sedangkan jannah hanya terkekeh, dalam hati ia juga meminta maaf karena sempat bernegatif thinking kemarin
"ekhem.. aku mau ngomong sesuatu" ucap reyhan melihat gadis yang ada di hadapan nya
"pesen minum dulu lah rey.. miskin amat lo gak beliin minum" cibir rendra yang sengaja menggoda reyhan
"ck" reyhan hanya berdecak kesal saat rendra tidak sengaja menghentikan nya untuk berbicara sesuatu
mereka kemudian memesan minuman masing masing dan kembali mengobrol seperti biasa, namun hanya reyhan yang tampak serius kali ini
"mau ngomong apa kak?" tanya shinta mengingat reyhan tadi yang ingin berbicara dan laki laki di depan nya itu juga hanya diam sedari tadi
__ADS_1
"lusa, aku akan keluar dari rumah sakit" ucap reyhan membuat shinta berhenti meneguk minuman nya seketika, begitu juga dengan jannah yang ikutan kaget tapi tidak dengan rendra
"maksud nya?" tanya shinta dengan menaruh gelas nya di atas meja
"perjanjian dengan papa awal nya kurang dua bulan lagi, tapi ternyata proyek nya selesai lebih cepat dari perkiraan dan papa ku ingin pensiun sekarang juga" ucap reyhan menjelaskan dengan memberi jeda
"sebagai anak..aku harus menghargai keputusan nya dan menggantikan posisi papa sekarang, jadi aku akan keluar dan gak akan mengurus rumah sakit lagi" sambung reyhan lembut karena takut gadis yang di depan nya ini akan merasa sedih, tapi justru reaksi nya yang membuat reyhan kaget sekarang
"baiklah.. semangat! aku akan mendukungmu kak" ucap shinta tersenyum dengan mengepalkan kedua tangan nya
"kamu gak sedih?" tanya reyhan menautkan alis nya
"kenapa harus sedih?" ucap shinta yang justru bertanya balik dan hal itu membuat reyhan memasang muka masam seketika
"aku sedih kak.. " ucap shinta membuat reyhan kembali menatap nya
"sedih karena kita gak bisa kerja satu tempat lagi, tapi aku juga senang karena tanggung jawab kamu sekarang semakin besar..itu artinya kamu juga semakin dewasa..kamu punya amanah dari orang tua.. banggakan mereka dengan membuktikan bahwa kamu bisa menggantikan posisi papa kamu dengan baik" sambung shinta yang membuat reyhan tersenyum walaupun tipis, dia tidak ingin tersenyum lebar karena masih ada orang lain disini
reyhan kagum dengan pemikiran shinta yang lebih dewasa dari yang ia kira, kebanyakan orang yang saling menyukai dan kerja di satu tempat akan ada ngambek ngambekan jika salah satu dari mereka keluar dari tempat kerja yang menyebabkan mereka terpisah, namun tidak dengan shinta..ia dari awal sudah tahu kalau reyhan akan memikul tanggung jawab yang besar karena mengingat dia anak laki laki tunggal di keluarga nya
"makasih" ucap reyhan yang diangguki shinta
"kalian pisah dong?" tanya jannah
"yang penting hati nya enggak jan" jawab rendra yang tiba tiba menyahuti jannah
shinta kemudian membuka ponsel nya karena ada pesan masuk yang tertera
Bunda💗
📩: nak.. bunda sekarang ada di bandara husein sastranegara, kamu udah pulang kerja kan? jemput bunda ya..
shinta langsung membelalak kan mata nya ketika membaca pesan itu, ia teringat beberapa hari yang lalu kalau bunda nya sempat menanyakan ia harus landing di bandara mana jika ingin ke rumah anak perempuan nya, dan shinta pun menjawab jika ingin kesini lebih baik landing di bandara husein sastranegara, dia hanya asal menjawab tanpa menaruh curiga akan bunda nya, ia juga tidak mengira bahwa bunda nya akan datang secepat ini
📩: "ini shinta mau kesana, jangan pergi kemana mana sebelum shinta sampai disana ya bun.." balas shinta cepat
"lo kenapa?" tanya jannah heran
"bunda udah sampek di bandung" jawab shinta cepat dengan mencari kunci mobil di dalam tas selempang nya
"haa? kapan?" pekik jannah kaget
"barusan, udah yuk ikut gue jemput ke bandara" ajak shinta seraya berdiri dari duduk nya dengan cepat
"iya iya" jawab jannah ikut berdiri
mereka berdua kemudian berpamitan dengan reyhan juga rendra, dan yang dipamiti pun hanya mengangguk, setelah dua gadis itu pergi.. rendra dengan segera menyenggol lengan reyhan yang memang duduk di sebelah nya
"calmer lo kesini" ucap rendra terkekeh
__ADS_1
bersambung