
Semua anggota keluarga sudah dalam perjalanan pulang sesudah acara selesai di laksanakan, namun Reyhan masih berada di panti asuhan karena istri nya sedang menidurkan Hani, bayi perempuan berusia 3 bulan yang tinggal di panti asuhan
"Adik Hani udah mau bobok ya tante?" Ucap Han ikut berbaring di atas kasur, bocah itu mengantuk tapi juga ingin lebih lama dengan tante nya
"Bentar lagi bobok, Han juga bobok ya... baca do'a dulu" Ucap Shinta menyuruh Han untuk berbaring di samping nya
Satu tangan menimang Hani, dan tangan kiri mengelus kepala Han secara perlahan serta halus agar bocah laki laki tersebut bisa segera tidur
Reyhan yang duduk di tepi ranjang kamar tamu tersebut seketika tersenyum, apa seperti ini pemandangan yang akan terjadi di rumah mereka dalam waktu 5 bulan lagi?
"Tante gak papa kan? Tante gak sakit kan?" Ucap Han tiba tiba dengan mata berkaca kaca mengingat kejadian tembakan di area panti asuhan 3 bulan lalu
Shinta jadi merasa bersalah, dia tahu kalau ingatan Han memang cukup kuat dan tidak seharusnya bocah itu melihat kejadian yang sangat tidak pantas di lihat
"Em... alhamdulillah tante baik baik aja kok, Maafin tante ya... dan Han juga harus baik baik aja" Ucap Shinta
Han ganti menatap Reyhan, dia juga ingat betul bahwa om om tersebut lah yang melindungi tante nya
"Om baik baik aja?" Tanya Han
"Alhamdulillah om sangat baik, Han juga harus baik dan jadi orang yang sukses nanti" Jawab Reyhan tersenyum
"Makasih ya om udah lindungi tante, cinta i tante selamanya telus... kalena yang Han punya cuma tante, nanti Han bantu lindungi tante kalo Han udah besal" Ucap Han tersenyum benar benar sangat tulus dari dalam hati nya
"Han juga harus semangat terus walau tante sama om gak bisa setiap hari kesini, harus bisa jadi anak sholeha dan berbakti ya" Ucap Reyhan mengelus kepala bocah tersebut
"Aamiin" Ucap Han lalu berdo'a dan mulai memejamkan mata, berusaha untuk tidur dan besok menemui dunia yang nyata ini
Setelah beberapa saat dan kedua anak tersebut sudah tidur, Shinta meletakkan Hani ke dalam box bayi dan memberi guling pada sisi kanan kiri Han agar bocah itu tidak terjatuh
"Udah?" Tanya Reyhan yang di jawab anggukan kepala oleh istri nya
Pasutri tersebut keluar dari kamar lalu berpamitan dengan ibu panti dan pengurus lain nya karena sudah mengizinkan untuk acara malam ini
"Kamu laper?" Tanya Reyhan sambil memegang kemudi dan mobil nya melenggang keluar dari gerbang panti asuhan
"Enggak" Jawab Shinta menggelengkan kepala, dia benar benar tidak ingin makan karena pikiran nya masih tertuju pada pembicaraan suami nya dengan Evan tadi
Ia memandang sang suami terus menerus, wajah tegas dingin serta berwibawa tersebut sangat berbeda jika berhadapan dengan nya, menjadi wajah yang hangat penuh kasih sayang serta perhatian
"Kenapa?" Tanya Reyhan sadar jika diri nya terus menjadi pandangan sang istri
"Apa ada sesuatu yang terjadi mas?" Tanya Shinta yang membuat dahi suami nya mengernyit
"Sesuatu yang terjadi apa yang?" Tanya Reyhan balik
"Ada yang kamu sembunyikan dari aku?" Tanya Shinta yang membuat suami nya gugup seketika, menyembunyikan sesuatu memang tidak mudah dan sebagai istri ia bisa melihat hal itu dengan jelas
"Menyembunyikan apa sih haha? Gak ada yang" Jawab Reyhan tertawa sambil tangan kiri nya menggenggam erat bumil tersebut
"Aku cuman nanya aja kok" Ucap Shinta tersenyum lalu menyenderkan kepala nya di lengan Reyhan
Meskipun sekarang Reyhan belum mengatakan yang sejujurnya, tapi dia yakin bahwa tidak lama lagi sang suami pasti akan bilang yang sejujurnya padanya, pasti dan harus!!!
Beberapa menit sampai di rumah, mereka membersihkan diri lalu langsung beranjak untuk merebahkan badan di atas tempat tidur
"HM" Ucap Shinta dalam artian 'Hug Me' karena dia tidak akan bisa tidur sebelum sang suami memeluk nya
Ya Reyhan sudah terbiasa dengan hal tersebut, maka dengan senyum dan senang hati ia memeluk wanita pujaan hati nya sampai tidur dan terbawa ke alam mimpi
"Malam" Ucap Reyhan sambil mengecup dahi istri nya
"Malam juga" Ucap Shinta membalas dengan mengecup sekilas pipi suami nya
Kegiatan malam? Oh... karena rasa lelah setelah acara tadi, mereka memutuskan untuk langsung tidur tanpa kegiatan panas seperti yang readers pikirkan, ehem..
πΈπΈπΈ
Keesokan hari nya, seperti biasa bahwa Reyhan akan berangkat kerja dan meninggalkan istri nya di rumah dengan bibi
"Mas, aku hari ini izin keluar sebentar ya" Ucap Shinta sambil memasang dasi suami nya setelah mereka sarapan bersama
"Mau kemana yang?" Tanya Reyhan memandangi wajah istri nya
"Ketemu sama sahabat aku lah, di apartmen nya Rendra kok" Ucap Shinta yang memiliki janji dengan duo somplak
__ADS_1
"Sama siapa? Aku gak mau kalau kamu sampai nyetir sendiri ya!" Ucap Reyhan karena ia tidak bisa mengambil libur kerja hari ini dan tidak mengizinkan istri nya menyetir mobil sendiri
"Sama siapa aja boleh, keluarga ku juga masih di sini loh" Ucap Shinta mengingat keluarga nya yang sedang bersantai dan olahraga kecil di halaman rumah yang cukup luas
"Jangan hari ini deh yang, gak ada yang nganterin kamu" Ucap Reyhan
"Nanti aku bisa berangkat sama Adib mas, kan sekalian dia berangkat agak siang ke polres" Ucap Shinta harus tawar menawar dulu dengan suami nya
Okee tidak ada pilihan lain selain mengizinkan "Oke, tapi harus hati hati... jangan lari atau lompat lompat lah dan lain lain" Ucap Reyhan mengingatkan
"Aku cuman mau ke rumah bestie mas, bukan ke kebun binatang buat ketemu kembaran" Ucap Shinta menggelengkan kepala
Reyhan terkekeh, ia mendekatkan wajah nya ke arah sang istri, wajah cantik tanpa riasan yang selalu membuat nya jatuh cinta
"Mau ngapain coba?" Tanya Shinta tersenyum lebar walau dia sudah tahu jawaban nya tanpa bertanya
"Mau ngapain lagi? Semalam aku gak ngapa ngapain loh yang" Jawab Reyhan
"Trus mau nya ngapain emang?" Tanya Shinta dengan mata nya yang perlahan beralih fokus pada bibir tipis dan sexy sang suami
"Mau nya..." Reyhan tidak meneruskan ucapan nya tapi langsung melakukan pembuktian, ia mencium bibir sang istri yang selalu membuat nya candu dan rasa nya sangat manis
Shinta memejamkan mata serta mengalungkan tangan nya di leher Reyhan ketika benda kenyal itu menabrak bibir nya, apalagi sang suami yang ******* dan melakukan nya dengan sangat lembut tanpa buru buru
"Udah ya... suami kamu harus kerja jadi kita lanjut dan puas puasin nanti malam" Ucap Reyhan mengedipkan mata nya, paham jika istri nya sudah terpancing hanya karena sebuah ciuman yang membuat hormon ibu hamil itu naik
"Iya" Jawab Shinta berusaha untuk tidak malu lagi, toh Reyhan juga sudah melihat semuanya tanpa terkecuali
Mereka berdua keluar dari kamar dan turun menuju mobil suami nya yang sudah terlihat rapi serta kinclong di halaman rumah
"Yah... bund, Rey berangkat dulu" Ucap nya menyalami sang mertua dan mendapat balasan do'a yang baik agar semua pekerjaan dan kegiatan nya hari ini mendapat kelancaran
"Om ganteng mau kerja ya?" Tanya Sisil yang memakai celana training dengan rambut kuncir dua
"Iya, nanti om bawain es cream kalau pulang ya" Ucap Reyhan mengusap kepala bocah tersebut
"Oke om"
"Eh.. iya, aku hampir aja lupa" Ucap Reyhan mendekati sang istri kembali, lalu membungkuk dan mencium perut buncit berlapis kain itu
"Iya sayang" Ucap Reyhan ganti mencium dahi tersebut sebelum ia benar benar masuk ke dalam mobil
Tin
Mobil Reyhan keluar dari pekarangan rumah dan melaju dengan tujuan kantor seperti biasa
"Pak, jangan tutup gerbang nya soalnya saya mau keluar sekalian" Ucap Shinta pada pak Agus yang merupakan security rumah mereka
"Oh.. baik buk" Ucap pak Agus tersenyum karena selama 3 bulan ia bekerja pun memiliki atasan yang baik
Beberapa saat kemudian tampak mobil Adib yang masuk ke pekarangan rumah karena kemarin ia tidak menginap di rumah Reyhan, melainkan tidur di rumah Shinta yang lama
Shinta lantas berpamitan dengan anggota keluarga nya dan masuk ke dalam mobil sang adik
"Pagi kak" Ucap Adib
"Pagi, kita ke apartmen nya Jannah ya... nanti masalah pulang gampang lah aku bisa minta jemput" Ucap Shinta
"Iya kak, santuy aja kalau sama aku mah" Ucap Adib menepuk dada nya sendiri dengan pandangan fokus ke jalan raya
πΈπΈπΈ
20 menit perjalanan mereka sampai di gedung yang menjulang tinggi, tempat dimana orang orang tinggal di sana termasuk Shinta dan Reyhan ketika awal awal menikah
"Makasih ya... kerja yang rajin biar bisa mengucap qobiltu nikaha" Ucap Shinta tergelak karena adik nya justru manyun mendengar hal tersebut
"Nanti aja lah kak umur tiga puluh tahun ke atas" Ucap Adib belum yakin dengan yang nama nya cinta dan kehidupan rumah tangga
"Terserah kamu sih, lagian nikah itu siap lahir batin jadi gak perlu di paksa in juga" Ucap Shinta menepuk pundak Adib lalu keluar dari mobil dan langsung menuju unit lantai yang Jannah gunakan
Shinta hafal karena mereka dulu sempat menjadi tetangga selama 2 bulan, yaitu ketika Jannah menikah dan tinggal satu lantai dengan nya
"Assalamualaikum" Ucap Shinta setelah menekan bel
Ceklek
__ADS_1
"Waalaikumsalam bebeb" Tampak lah Jannah dengan raut wajah bahagia nya
Ia mempersilahkan Shinta untuk masuk dan duduk di ruang tamu, dan ternyata sudah ada Laila di sana yang entah sampai jam berapa
"Hai bumil" Ucap Laila
"Hai juga mbak jom" Ucap Shinta terkekeh karena maksud mbak jom adalah mbak jomblo
"Haha... kapan sih La punya calon? Gak mungkin selama enam bulan ini gak ada orang yang bikin lo terpikat" Ucap Jannah ikut duduk bersama dua sahabat nya
"Gimana ya... gue tuh emang gak lagi jatuh cinta sama siapa siapa, jujur deh di jodohin pun gapapa asal sama zhong chenle atau lucas" Ucap Laila menyebut salah satu anggota boyband NCT
Shinta dan Jannah hanya menggelengkan kepala, kenapa Laila ini halu nya sangat tinggi sampai melampaui gedung apartemen?
"Gue ke kamar mandi bentar ya" Ucap Laila sambil memberi pesan pada bibi yang bekerja di apartmen nya untuk membuat minuman
"Santai aja gpp" Ucap Laila
Rendra memang sudah berangkat kerja dan di apartmen hanya tinggal bibi dan Jannah yang mengambil izin kerja hari ini
"La... lo ada kabar?" Tanya Shinta mendapat kesempatan bertanya ketika Jannah belum kembali
"Kabar apa?" Tanya Laila balik
"Ah jangan pura pura gak tahu deh, Alina sama Alena kan ada di tangan kita... gak mungkin gak ada yang terjadi kan?" Tebak Shinta dengan raut muka misterius nya
"Ya mereka memang udah jadi tahanan kita selama tiga bulan ini, belum terjadi apa apa kecuali..." Ucap Laila menggantung
"Kecuali apa?" Tanya Shinta penasaran
"Sebenarnya sih ada yang terjadi, tapi ya... Bian tuh gak mau kasih tahu gue bahkan gue nanya aja gak di jawab" Ucap Laila frustasi sendiri
"Trus gue harus gimana dong?" Ucap Shinta meminta solusi
"Em... telfon Bian, tanya aja" Ucap Laila memberi saran
Shinta mengangguk lalu mengeluarkan ponsel nya dan segera menelfon Bian
π : Waalaikumsalam, ya Zef kenapa?
π : "Apa yang terjadi?" Tanya Shinta to the point karena rasa penasaran nya yang semakin tinggi
π : Zef....gue tahu lo pasti udah penasaran dan curiga kan? Tapi maaf kali ini gue gak bisa ngomong apa apa
π : "Apanya yang gak bisa? Dan kenapa gue gak boleh tahu?" Ucap Shinta bingung, perasaan dia pemimpin perusahaan dan white blood tapi kenapa dia tidak boleh tahu kejadian yang menyangkut masalah nya sendiri?
π : Maaf ya Zef, gue gak bisa karena udah janji sama Reyhan dan sebaik nya lo diskusi sama suami lo sendiri
π : "Apasih? Seberapa bahaya nya sampai mas Rey belum bilang tentang ini sama gue?" Tanya Shinta karena tidak mungkin suami nya menyembunyikan sesuatu tanpa alasan
π : Ya karena dari awal hal ini emang udah bahaya, lo tanya dan diskusi berdua sama suami lo aja... gue minta maaf ya, bayy Zezef cantik
Tit, Bian memutuskan telfon secara sepihak yang membuat Shinta kesal sampai ubun ubun, ada apa sih?
Tanpa berkata panjang lebar, Shinta langsung menelfon Reyhan karena ingin bertanya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kenapa dia tidak tahu sama sekali?
Panggilan tersambung, namun sebelum Shinta mengucapkan sesuatu, terdengar suara Reyhan yang seperti nya sedang dalam keadaan marah
π : Gimana bisa sih Van? Gimana bisa orang itu menjebak saya? Dan kenapa dia menyakiti istri saya? Saya benci hal itu!!! Perusahaan itu harus mempertanggung jawabkan perbuatan nya
Suara sang suami terdengar menggelegar di sana, mungkin memang sangat emosi sampai sampai dahi Shinta mengernyit, apa memang pelaku sebenarnya sudah di temukan? Kalau iya maka siapa orang itu? Dan kenapa Reyhan belum menberitahu nya sama sekali?
π : "Assalamualaikum mas... kamu gak papa kan?" Ucap Shinta namun tidak ada balasan dari sana dan hanya hening seketika
Sedangkan di waktu yang sama namun berbeda tempat, Reyhan melirik meja lalu melotot karena baru tahu jika handphone nya tadi sempat tersenggol lengan nya sendiri hingga menerima panggilan telfon dari istri nya
"Bukan salah saya pak" Ucap Evan menggeleng serta memundurkan langkah nya secara perlahan, takut jika tiba tiba ada benda keras yang melayang mengenai kepala nya
π : Mas kamu baik baik aja kan?
Reyhan menarik rambut nya, sekarang apa yang harus dia katakan? Sudah pasti sang istri mendengar suara nya yang sudah seperti banteng ngamok tadi
π : "Wa-waalaikumsalam, i-ya sayang kenapa?" Ucap Reyhan mengubah suara nya menjadi lembut lagi.
Bersambung
__ADS_1