Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
162. Wanita itu


__ADS_3

"Van, jawab saya!" Ucap Reyhan heran dengan asisten nya yang tiba tiba ke kantor di malam hari


"Sebaik nya bapak lihat berita di portal bisnis sekarang" Ucap Evan memberikan tablet nya yang langsung di terima oleh Reyhan


Berita portal bisnis yang baru saja di liris beberapa menit yang lalu, baru sebentar namun berita itu sudah dapat menggemparkan dunia bisnis


Artikel mengatakan bahwa Reyhan Putra Wijaya, anak semata wayang Raka Wijaya tidur di kamar hotel dengan seorang wanita, seperti yang publik ketahui bahwa Reyhan belum menikah dan belum memiliki pasangan, lantas siapa wanita itu? dan apakah ini pantas di sebut sifat pebisnis yang biasa dermawan?


Setelah membaca itu, Rahang Reyhan mengeras, bahkan wajah nya sampai memerah akibat geram dan menahan amarah "Siapa yang nulis artikel bodoh ini?" Ucap nya hampir membanting tablet yang tidak bersalah, namun dengan cepat asisten lawak mengambil barang kotak itu agar tidak menjadi hancur lebur


"Saya belum mengetahui hal itu pak, apalagi perusahaan berita itu tidak terlalu terkenal, tapi perusahaan nya pasti akan di kenal karena berita ini" Jawab Evan sedikit takut, bos nya itu sekarang sudah menjelma seperti iblis


"Hubungi pihak IT perusahaan, hapus berita tidak berguna itu sekarang juga!" Ucap Reyhan memberikan perintah


"Baik pak, untuk hal itu sudah saya lakukan waktu perjalanan kesini, tapi.... " Ucap Evan menggantung


"Tapi apa?" Ketus Reyhan


"Pak, apa ini sebuah jebakan? saya rasa gak mungkin bapak melakukan zina, saya ingat betul kalau bapak posesif dan cinta mati sama bu bos" Ucap Evan harap harap cemas, ogah sekali kalau sampai punya bos kelakuan nya kayak setan gini


"Masih nanya? jelas jelas foto di artikel ini muka pelac*r itu di blur, mata kamu gak bisa lihat?" Ucap Reyhan kesal, udah tahu jawaban nya juga masih aja nanya


"Ya kan saya cuman nanya aja loh pak, untuk memastikan kebenaran nya dari mulut bapak" Ucap Evan mengerucutkan bibir nya


"Saya punya foto asli nya tanpa blur, temukan pelac*r itu dengan cara apapun, termasuk jalur hitam" Ucap Reyhan dengan tatapan tajam nya, ingin sekali dia mencincang hidup hidup wanita itu


"Hah? kenapa bapak gak bilang dari awal sih? kan bisa di atasi sebelum berita bodoh ini keluar pak" Ucap Evan tepok jidat sendiri


"Saya baru dapat foto nya" Ucap Reyhan mengotak atik ponsel, dia saja punya foto menjijikkan itu dari email yang Shinta kirim kan tadi


Dia memotong foto itu dan mengirimkan pada Evan hanya bagian wajah si wanita yang berniat menghancurkan perusahaan dan rumah tangga nya


"Lah... ck ck ck, masih cantik an bu bos pak, jauh banget malah" Ucap Evan geleng geleng kepala setelah melihat wajah wanita itu


"Tau, makanya cepat seret dia kesini atau angkat kaki dari perusahaan!" Ucap Reyhan memberikan ancaman


"Pak bos udah periksa CCTV di office tell?" Tanya Evan karena melihat bantal yang di pakai wanita itu juga milik kamar office tell


"Saya bisa memenggal wanita itu sekarang juga kalau rekaman nya masih ada" Jawab Reyhan yang membuat Evan bergidik ngeri, sekarang dia tahu kalau memang ada yang ingin menjatuhkan Reyhan


"Yaudah jalur hitam aja lah pak, cepet... tapi kalau pak Raka sampai lihat berita ini gimana pak?" Tanya Evan khawatir, pasal nya papa Raka pasti akan marah besar jika mengetahui nya


"Seperti nya tidak, kalau mereka tahu nanti akan saya jelaskan" Jawab Reyhan karena orang tua nya jarang membuka handphone kecuali hal penting atau bahkan menyalahkan televisi, mereka tipe orang yang lebih suka quality time dengan keluarga dari pada bermain gadget


"Kalau orang tua bapak sih mungkin lebih percaya anak nya, kalau kolega? ada beberapa yang langsung menghubungi saya agar bapak segera mengadakan pertemuan antar kolega" Ucap Evan menjelaskan


Hal ini yang menambah beban pikiran Reyhan, sudah pasti akan berdampak pada beberapa perusahaan yang menjalin kerja sama dengan nya, bahkan dia sudah menebak akan ada tarik menarik saham setelah ini


Dan semua kolega itu tidak bisa menghubungi nya secara langsung karena nomor pribadi nya tidak pernah di sebarkan meskipun untuk kerja sama, apapun itu Evan adalah tangan kanan nya, dia yang akan memberi kabar tentang kolega


"Untuk itu... saya tidak bisa mengadakan pertemuan sebelum masalah ini selesai, mereka tidak mungkin percaya tanpa adanya bukti" Ucap Reyhan memijit pelipis nya


"Baik pak, saya akan usaha untuk meredam keadaan, tapi bapak harus hati hati karena jika tim IT tidak berhasil menghapus berita bodoh itu, sudah pasti anda akan menjadi incaran para wartawan" Ucap Evan mewanti wanti


Kasihan juga dia dengan Reyhan yang baru saja pulang setelah urusan kerja, ingin bertemu dan kangen kangenan dengan istri cantik nya, namun apalah daya? manusia tidak akan bisa menghindari yang nama nya takdir dan cobaan


*Kembali lah bu bos, suami mu lagi pusing sekarang* Batin Evan berharap


"Tutup bandara di sekitar office tell tempat kita menginap, adakan pemeriksaan dan jangan sampai melewati satu calon penumpang pun" Ucap Reyhan lagi lagi memiliki ide yang membuat nya berharap segera menemukan wanita itu


"Untuk perizinan bagaimana pak?" Tanya Evan, yang benar saja itu kan perusahaan maskapai milik orang lain, mereka tidak bisa melakukan pemeriksaan begitu saja


"Saya akan koordinasi pada pemilik maskapai, untuk tim lebih baik arahkan jalur hitam" Jawab Reyhan, bodo amat lah jalur hitam juga dia tetap membayar jasa mereka, yang penting masalah ini segera selesai


"Baik, apa pak bos gak pulang? sekarang udah malam loh pak" Tanya Evan melirik jam dinding


Reyhan menggeleng, dia akan begadang dan berusaha mencari jalan keluar nya, bukan hanya itu saja namun dia juga memikirkan bagaimana keadaan Shinta? email terakhir dari nya pun tidak di balas, bagaimana keadaan wanita yang kini sedang hamil anak nya? apalagi kebanyakan wanita yang sedang hamil muda itu ingin di temani suami nya


*Apa aku harus minta izin untuk mengaktifkan tim white blood?* Batin Reyhan bertanya tanya, sampai sekarang dia masih belum tahu siapa pemilik selanjut nya dari tim white blood


🌸🌸🌸


Pagi hari, Shinta bangun lalu melaksanakan sholat subuh, entah kenapa dia yang tidak pernah mual justru muntah sekarang

__ADS_1


"Tante.. tante gak papa kan?" Tanya Han yang menunggu di depan pintu kamar mandi


Ceklek! Shinta membuka pintu lalu menatap bocah yang selalu perhatian dengan nya "Tante gak papa" senyum itu berusaha menunjukkan diri walau dalam keadaan tidak baik


"Kok tante muntah?" Tanya Han bingung


"Mungkin masuk angin, udah yuk kita sarapan bareng sama temen temen lain nya, trus Han berangkat sekolah" Ajak Shinta menggandeng tangan bocah itu untuk turun ke bawah


Kegiatan makan sama seperti biasa, banyak anak anak yang bersikap baik pada nya, mungkin karena Shinta tipe suka anak anak, dan menurut nya mengakrabkan diri dengan anak anak jauh lebih mudah dari pada orang dewasa


"Assalamualaikum..." Ucap anak anak serentak saat mereka berangkat sekolah menggunakan kendaraan panti


"Waalaikumsalam... dadah" Jawab Shinta melambaikan tangan nya, bahagia sekali dia bisa menginap dan menyaksikan kegiatan anak panti secara langsung


Mobil yang membawa anak anak keluar dari gerbang, hal itu bertepatan pula dengan ajudan yang datang ke panti pagi ini setelah semalam ia pulang


"Pagi..." Sapa pak Amat ramah


"Pagi juga pak"


Ajudan memarkir mobil Sabhara yang akan dia kembali kan hari ini, lalu berjalan tergesa gesa ke arah kakak nya


"Kamu ngapain sih? kayak di kejar setan" Tanya Shinta menggelengkan kepala


"Buka portal bisnis kak" Perintah ajudan


"Emang ada apanya?" Tanya Shinta mengeluarkan ponsel yang selalu dalam keadaan mati, lalu menyalakan nya dan terlihat ada banyak notifikasi, termasuk panggilan dari Reyhan juga Bian yang menumpuk di layar nya


"Udah lihat?" Tanya ajudan


"Belum, ini baru mau buka" Jawab Shinta mengotak atik ponsel nya dan melihat kabar di portal bisnis


Ia membaca artikel itu dengan seksama, berita yang membuat nya sakit hati dan campur aduk menjadi satu


"Hah? gimana bisa?" Tanya Shinta terkejut, dia langsung teringat pada mama Riana dan papa Raka, entah bagaimana keadaan mertua nya, apakah mereka sudah melihat berita itu atau belum


"Aku juga gak tahu kak, tapi-"


"Ya Alloh... mama sama papa dek, kasihan kalau mereka sampai tahu" Ucap Shinta berusaha menghubungi mama Riana, namun tidak ada jawaban bahkan panggilan nya pun tidak masuk


"Gimana aku bisa tenang? papa Raka punya penyakit riwayat jantung, aku gak mau hal buruk terjadi sama mereka" Potong Shinta kembali menghubungi mama Riana, namun tetap saja nihil tidak berhasil satu kali pun


Ajudan menangkup kedua sisi wajah Shinta, lalu menatap nya dalam dalam "Aku mohon tenang lah... aku yakin ini hanya akal akalan seseorang untuk menjatuhkan kalian"


"Tapi, kalau sampai ada apa apa kakak benar benar ngerasa bersalah karena gak bisa jadi menantu yang baik" Ucap Shinta balij menatap sendu


"Kak... insyaalloh gak akan ada hal buruk yang terjadi, kemungkinan ini hanya jebakan, aku yakin kakak gak bodoh dan bisa mengartikan foto blur itu" Ucap ajudan berusaha meyakinkan, bagian wajah wanita laknat itu blur dan sudah pasti ini trik untuk menjatuhkan seseorang


"Kamu yakin?" Tanya Shinta ragu meskipun hati nya membenarkan bahwa ada seseorang yang berniat jahat pada mereka


"Iya, kak Rey kemarin ke polres dan jelasin ini semua" Jawab ajudan jujur, tidak ada yang bisa di tutupi lagi sekarang


"Kenapa kamu gak bilang kemarin?" Tanya Shinta


"Aku gak bilang karena kondisi kakak belum stabil, kesehatan mu lebih utama kak" Jawab ajudan yang sedikit merasa bersalah gitu


"Aku harus pulang, aku mau pulang, aku harus tanya ini sama mas Rey" Ucap Shinta ingin berlari namun ajudan mencegah nya, ia menarik tangan itu dan mengatakan


"Masih ada hal yang perlu kakak selidiki, mas Bian menelfon mu karena ada hal penting yang harus kita bicarakan" Ucap ajudan


"Urusan apa? zeze grup? masalah ku lebih penting sekarang, biarkan Bian yang menangani perusahaan" Ucap Shinta kesal dengan menepis tangan adik nya, dia mau pulang dan bertemu Reyhan sekarang, dia mau pulang!


"KAK!" Ajudan menekan kata kata nya, dia tahu kalau Shinta pasti panik dan khawatir sekarang "Masalah ini akan selesai, hal yang akan mas Bian bahas juga berhubungan dengan wanita itu, dia menghubungimu karena ini" Ucap nya mengelus pundak sang kakak berkali kali


"Tapi, tapi mas Rey gimana? kasihan dia" Ucap Shinta sendu


"Tolong bersabar lah... percaya padaku bahwa suami mu akan baik baik saja, do'a kan pada yang di atas supaya Alloh selalu melindungi hamba nya" Ucap ajudan yang harus extra meluluhkan hati itu


Tiga puluh menit berlalu, sedari tadi Shinta tidak bisa diam dan terus bergerak kesana kemari, dia tidak tahan karena Bian yang tak kunjung datang


Tapi rasa gundah itu beralih setelah mendengar suara deru mobil di luar, itu pasti Bian karena dia lumayan hafal dengan suara mobil nya


"Assalamualaikum" Ucap Bian

__ADS_1


"Waalaikumsalam... lama banget astagfirullah, keburu pulang gue nunggu in lo Bi" Ucap Shinta saat membuka pintu panti


"Ya maaf, lokasi agak jauh" Jawab Bian yang nyelonong masuk di ikuti Tiara di belakang nya


"Pagi nona" Sapa Tiara


"Pagi"


"Bu panti, apa kabar?" Tanya Bian menyalami tangan wanita paruh baya itu


"Alhamdulillah saya baik, tuan sendiri?" Tanya bu panti balik


"Saya juga baik kok bu, oh iya... saya mau pinjam ruangan boleh? ada hal penting yang harus saya dan Shinta bicarakan" Ucap Bian meminta izin


Setelah mendapatkan izin untuk meminjam ruangan kepala panti, baru lah Shinta dan ajudan yang habis dari kamar mandi langsung naik ke atas, masalah ini tidak bisa di bicarakan di sembarangan tempat


"Ehem..." Bian justru berdehem sedari tadi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun


"Ehem... gue bakal pergi kalau lo gak ngomong sekarang" Ancam Shinta dengan deheman yang lebih keras, dia sudah ingin tahu hal apa yang akan di bahas, namun justru ehem ehem an yang terjadi


"Sabar kali Zef, astaga... bumil ini sensitif banget" Cibir bian geleng geleng kepala


"Biii" Pekik Shinta melayangkan bantal sofa ke arah pria jomblo abadi tersebut


"Udah lah mas, kasih tahu aja sebelum tambah ngamuk nanti" Ucap ajudan, udah tahu kakak nya gampang marah tapi masih aja di goda


"Oke oke, gue mulai dari suami lo yang sekarang ramai di portal bisnis tapi u artikel itu di hapus sepuluh menit yang lalu" Ucap Bian, Shinta agak lega mendengar hal itu karena setidak nya orang tua Reyhan tidak akan bersedih, suami nya mungkin sudah berhasil menghilangkan berita bodoh tersebut


"Dan dia juga mengajukan permintaan sama gue, dia mau minta izin untuk mengaktifkan tim white blood yang dia pegang, kemungkinan untuk menyelidiki siapa wanita laknat itu" Sambung Bian karena Reyhan juga belum tahu jika pemimpin utama atau pusat white blood adalah istri nya


"Maksud nya? dia akan mengaktifkan white blood untuk menemukan penjahat?" Tanya Shinta karena ketua white blood di perbolehkan meminta bantuan pada anak tim yang mereka pegang


"Iya lah, yakali mau nangkap penjahit" Jawab Bian


"Bi... gue lagi serius" Ucap Shinta kesal, sudah berusaha mendengarkan dengan baik malah ada aja godaan nya


"Oke gue juga serius" Bian mengubah mimik wajah nya dan terlihat benar benar serius "Apa lo gak tahu siapa wanita laknat itu?"


"Ha? gue gak tahu Bi, mana mungkin gue kenal sama dia?" Jawab Shinta mengerutkan alis nya, sungguh dia lupa siapa wanita itu


"Kau yakin kak?" Tanya ajudan


"Aku gak kenal dia loh, nama nya aja gak tahu" Jawab Shinta yakin


"Oke mungkin lo lupa karena pengobatan yang selama ini lo jalani, tapi lo gak lupa peristiwa satu tahun lalu kan?" Tanya Bian yang justru terlalu berputar putar bagi Shinta


"Pembunuhan itu? aku ingat tapi detail nya aku gak ingat" Jawab Shinta menggelengkan kepala


"Ya... pembunuhan itu, dia salah satu orang yang terlibat dalam kematian Zean"


Deg! Shinta membulatkan mata nya setelah mendengar penuturan Bian, omong kosong macam apa ini? tidak mungkin seperti ini kan?


"Haha... jangan bercanda Bi, mereka bahkan gak tahu tentang kehidupan gue" Ucap Shinta ragu, berusaha tidak percaya dengan apa yang ia dengar


Bian memberi kode agar Tiara yang ganti menjelaskan


"Nona, coba lihat kedua foto ini" Ucap Tiara menjajarkan dua foto, satu foto wajah wanita yang di kirim ajudan dari ponsel kakak nya, dan satu lagu foto wanita yang terlibat satu tahun lalu


"Apa nona lupa? ada dua wanita yang mencoba membunuh tuan Zean waktu itu" Ucap Tiara mulai menjelaskan dari awal


"Tapi dia ini rekan, dalam artian orang yang membantu wanita satu nya untuk membunuh tuan Zean, tolong ingat ingat lagi nona" Ucap Tiara


Shinta mencoba mengingat hari itu, hari dimana Zean tertembak dan meninggal di depan mata nya, dia menyaksikan pembunuhan itu secara langsung


"Apa nona ingat?" Tanya Tiara sekali lagi


"Ya, saya ingat kalau ada dua wanita memegang senjata api, salah satu dari mereka berhasil membunuh kak Zean" Jawab Shinta lirih, ia harus menggali kenangan buruk itu untuk menyelidiki sesuatu


"Benar, dan wanita yang suami anda cari adalah rekan pembunuh itu, dia orang nya, dia yang membuat masalah dengan anda" Ucap Tiara


Shinta mulai paham sekarang, setelah sekian lama akhirnya pembunuh itu kembali tapi menyerang dari belakang tanpa aba aba


"Dia kembali Zef, dia benar benar kembali" Ucap Bian memejamkan mata, kemungkinan mereka harus bersiap diri di kemudian hari

__ADS_1


"Aku harus pulang" Ucap Shinta berdiri, menahan agar kaki nya tidak roboh setelah mengetahui kenyataan barusan, masalah apalagi ini? hal apa yang akan terjadi kedepan nya?


Bersambung


__ADS_2