Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
119.Hotel


__ADS_3

Dua jam kendaraan yang mereka tumpangi terbang di udara, setelah itu baru landing di bandara juanda Surabaya


Shinta yang melihat adik nya masih tertidur di dalam kabin pesawat pun segera membangunkan nya karena tidak mungkin dia menggotong badan yang lebih besar dari diri nya


"Hmm... apa kak?" Tanya ajudan yang masih setengah sadar dan tidak tahu kalau pesawat yang mereka tumpangi sudah berhenti


"Pesawat nya udah berhenti" Jawab Shinta dengan membereskan charger milik nya


"Apa? pesawat nya kehabisan bensin?" Pekik ajudan kaget dengan suara yang sedikit keras hingga menjadi perhatian orang orang yang sedang mengantri untuk turun


"Ishh.. apa nya yang kehabisan bensin? kan kita udah sampek" Ucap Shinta kesal dengan menggelengkan kepala nya


Ajudan pun segera meminta maaf pada orang orang yang terganggu dengan suara nya setelah mendengar penjelasan dari sang kakak


"Kalau gak mau turun yaudah, aku langsung balik ke bandung hari ini juga" Ancam Shinta karena melihat adiknya justru masih santai duduk di kursi penumpang


"Iya kak astagfirullah... jangan galak galak napa nanti suami nya syok" Cibir ajudan seraya berdiri dari duduk nya


Shinta hanya memutar bola matanya jengah dan ekspresi nya seolah bilang 'bodo amat'


Setelah perdebatan dan antrian yang cukup panjang akibat kebanyakan penumpang yang susah tidak sabar untuk turun dari pesawat, akhirnya Shinta juga sang adik keluar dari pesawat dan menuju pintu kedatangan


"Tante..." Teriak Sisil, ya... bocah lima tahun itu memang berniat ikut menjemput Shinta di bandara


"Assalamualaikum..." Ucap Shinta kemudian memeluk bocah yang saat ini tengah bersandar di kaki nya


"Waalaikumsalam..." Jawab Harun juga istrinya


"Gimana kabar kak?" Tanya ajudan dengan nada cuek nya, dia hanya masih kesal sekaligus heran pada semua saudara nya yang dari dulu tidak menyadari atau peka sedikitpun pada keadaan Shinta


"Kalem bro... jangan dingin kayak kutub gitu" Ucap Harun yang hanya ditanggapi muka datar si ajudan


"Shin... " Sapa seli


"Kak.. " Balas Shinta dengan menganggukkan kepala nya, dia memang tidak terlalu dekat dengan istri kakak nya karena terbiasa membagi semua nya dengan diri nya sendiri


"Pulang yukk!" Ajak Sisil


"Kita ke hotek xxx dulu" Ucap Harun yang membuat kening Shinta berkerut


"Ngapain ke hotel?" Tanya Shinta heran karena rumah orang taunya pun hanya butuh waktu perjalanan beberapa jam dari bandara


"Refreshing aja, lagian kamu juga gak pernah ada waktu buat kumpul keluarga" Jawab Harun kemudian membantu mereka untuk membawa koper dan melaju menuju hotel yang akan mereka gunakan untuk menginap


*Kak... bukan nya aku gak mau, tapi apa kakak tau? hanya dengan melihat ayah saja bayangan hari itu kembali menghantuiku* Batin Shinta yang hanya kecewa saja karena sang kakak selalu menyalahkan nya karena tidak punya waktu untuk keluarga

__ADS_1


Ajudan yang dapat membaca ekspresi kakak nya pun hanya bisa mengelus perlahan punggung Shinta agar perasaan kakak nya kembali lebih baik lagi


Dia tau kalau Shinta selama ini bekerja keras karena tidak mau di anggap anak yang hanya bisa menyusahkan orang tua sebagai beban keluarga, maka dari itu selama di korea ajudan juga tau jika sang kakak kebanyakan memfordsir tenaga nya untuk bekerja dan menggapai semua hal yang dia inginkan


Shinta hanya diam sambil membiarkan ajudan yang berusaha menenangkan nya


Lima belas menit perjalanan, mereka sampai di hotel dan masuk ke dalam kamar mereka masing masing yang memang kebetulan semuanya satu lantai


"Aku tidur dulu" Pamit Shinta dengan membuka pintu kamar nya, semua hanya membiarkan saja karena berpikir bahwa Shinta lelah setelah perjalanan, padahal bukan badan nya yang lelah... tapi hati dan juga batin nya yang sudah amat kelelahan


"Kak, aku kasih tau ya... kalau kakak gak tau apa apa, lebih baik kakak diam dari pada perkataan dari mulut kakak itu akan menyakiti orang lain" Ucap ajudan ketus saat mereka masih di koridor hotel kemudian dia juga memilih untuk masuk ke kamar nya sendiri


*Heran, punya kakak kok mulut nya kayak ibu ibu jamaah al ghibahiyah* Batin ajudan kemudian lebih memilih untuk mengistirahatkan badan nya


Sedangkan Harun masih terpaku karena dia tidak tahu apa yang membuat adib bisa semarah itu pada nya


Jarum jam terus bergerak hingga sampai di angka dua belas siang, Shinta yang baru bangun pun memutuskan untuk mandi dan sholat dzuhur sebelum makan siang


Ting tong!


Bel kamar milik Shinta berbunyi saat dia sedang asik melihat pemandangan kota dari kamar hotel nya


"Ada apa?" Tanya Shinta saat dia sudah memakai hijab dan membuka pintu kamar nya


"Turun kak, kita makan!" Ajak ajudan yang membuat Shinta terpaksa menyetujui nya karena tadi dia ingin makan di kamar nya saja


"Kalau waktu makan siang itu buruan turun, gak baik bikin orang nunggu lama lama" Kata kata itu terlontar dari mulut Harun


"Iya kak, maaf" Ucap Shinta yang juga malas membalas perkataan sang kakak dan lebih memilih fokus pada makan siang nya


"Udahlah kak, kalau laper ya tinggal makan duluan aja kok repot, lagian gak ada yang nyuruh kakak nunggu kita juga" Sewot ajudan kemudian fokus dengan makanan nya


Setiap Shinta mendapat teguran atau perkataan yang tidak mengenakkan, pasti ajudan yang akan pasang badan untuk membela kakak perempuan nya


"Kamu harus sopan sama orang yang lebih tua" Geram Harun pada adik laki laki nya


"Kenapa? kakak sendiri aja kalau ngomong suka asal njeplak tanpa tau kebenaran nya" Ucap ajudan sinis dengan menusuk daging ayam yang ada di piring nya


"Udah udah, ayo makan siang" Lerai Seli yang sedang menyuapi Sisil


Saat selesai makan, Seli mengajak Shinta untuk pergi ke salon yang ada di jalan seberang, dan Shinta pun hanya manut saja dari pada nanti kena semprot oleh kakak sulung nya lagi


"Ngapain kesini kak?" Tanya Shinta heran


"Gak papa, kan aku gak pernah ke salon bareng kamu" Jawab Seli

__ADS_1


Mereka berdua memulai perawatan dari ujung kepala sampai ujung kaki, memang butuh waktu yang lumayan lama sih... tapi efek nya juga bagus untuk tubuh agar bisa lebih rileks


Sore hari mereka berdua baru keluar dari ruangan masing masing dan menuju tempat pembayaran, tak tanggung tanggung mereka dapat menghabiskan puluhan juta hanya dalam satu kali perawatan


Terlihat Seli agak terkejut dengan nominal yang tertera dan itu terlihat jelas dari raut wajah nya, tapi tidak bagi Shinta yang sudah biasa dengan seluk beluk perbayaran salon


"Ini mbak" Ucap Shinta dengan memberikan salah satu kartu milik nya


"Loh udah ada yang bayar kok" Ucap Seli mencegah karena tidak enak jika Shinta yang membayar semua nya


"Aku gak mau pakai uang orang lain dan aku juga masih mampu kok bayar ini" Ucap Shinta yang enggan menggunakan uang orang lain, lagian dia juga masih punya uang jika hanya untuk membayar biaya salon barusan


Seli hanya terdiam dengan memperhatikan Shinta, dari mana adik iparnya memiliki uang sebanyak itu? hal itu lah yang terus berputar di kepala nya


Karena keluarga selama ini tidak pernah tahu bisnis apa saja yang dijalani Shinta karena dia sendiri pun masih enggan memberi tahu mengingat kerabat nya pasti akan berubah drastis jika mengetahui hal itu


Saat kembali ke hotel, Shinta mengernyitkan dahi nya karena sang kakak tiba tiba memberi nya tas yang berisi sebuah baju


"Buat apa?" Tanya Shinta heran


"Di pakai lah, nanti kita ada acara di aula hotel ini dan kamu harus pakai itu" Jawab Harun yang dibalas Shinta dengan anggukan kepala saja, dia tau kalau kakak nya tidak akan bisa dibantah kali ini


"Buat apa coba aku pakai baju ini? udah kayak mau ijab qabul" Gumam Shinta yang sudah kembali ke kamar nya dan memperhatikan dress itu dengan seksama


Bimsalabim abrakadabrak, setelah sholat maghrib baru lah Shinta memakai dress tertutup itu dengan hijab di kepala nya dan memakai polesan make up tipis di wajah nya


Shinta kemudian keluar dari kamar karena ajudan sudah memencet bel kamar nya


"Iya iya, ini aku keluar" Ucap Shinta dengan memegang ponsel yang memang tak lepas dari tangan nya


"Eh...cakep bener, mau kemana neng?" Goda ajudan yang melihat penampilan kakak nya


"Ini nih, mau ijab qabul" Jawab Shinta terkekeh, ajudan kemudian memberikan lengan nya agar Shinta dapat berpegangan pada diri nya dan sang kakak pun tidak menolak


"Ekhem.. cantik nih" Goda Seli yang baru keluar dari kamar beserta anak beserta suaminya dan melihat penampilan Shinta dari ujung kepala sampai ujung kaki


"Kakak bisa aja, tapi apa baju ini gak terlalu berlebihan?" Tanya Shinta karena baju yang ia kenakan terlihat elegan untuk menghadiri sebuah acara


"Gak kok, kamu cantik" Jawab Seli dengan senyum mengembang di bibir nya


"Iya, tante cantik" Timpal Sisil menyahuti dengan senyum menggembung di pipi gembul nya


"Iya, Sisil juga cantik kok" Ucap Shinta


Harun kemudian mengajak semuanya untuk turun kebawah dimana aula berada, tapi saat Shinta masuk, semuanya malah dalam kondisi gelap gulita dan tidak ada satu penerangpun, kenapa bisa? karena Shinta orang terakhir yang masuk ke dalam aula

__ADS_1


"Hello... ini ada apa sih?" Tanya Shinta heran dengan sedikit mengeraskan suara nya


Bersambung


__ADS_2