Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
167. Apa yang kamu sembunyikan dari ku?


__ADS_3

Flashback sebelum sore hari, Shinta yang sedang asik bermain dengan Han pun sampai melupakan masalah nya sejenak


Entah kenapa bagi nya melihat anak anak tersenyum itu dapat menyejukkan hati, tidak peduli itu anak siapa karena yang dia rasakan hanya senyum tulus dari anak anak


"Hoam... Han ngantuk tante" Ucap bocah itu mengadu di kala semua teman teman nya sedang bermain bersama Tiara


"Yaudah ayo tidur sama tante" Ajak Shinta berdiri dan menggandeng tangan mungil itu


"Tapi nyanyi sholawat lagi ya tante? Han suka banget" Ucap Han dengan ekspresi gemas nya, kemarin malam sebelum tidur memang mereka sempat melafalkan sholawat sebagai pengiring kantuk


"Oke, nanti kita ganti melafalkan sholawat jibril" Ucap Shinta menyanggupi, walaupun suara nya tidak enak enak amat, tapi yang penting bocah itu menyukai nya


Setelah menidurkan Han di kamar atas, baru Shinta kembali turun ke bawah karena ada hal yang harus dia bicarakan dengan Tiara


"Tiara, boleh saya minta waktu kamu sebentar?" Ucap Shinta walau gadis itu anak buah nya, tapi sopan santun tetap di utamakan dengan siapapun


"Tentu saja boleh nona" Ucap Tiara ramah lalu berpamitan dengan meninggalkan anak anak yang tadi bermain bersama nya


Mereka keluar dan memilih berbicara di taman, karena area itu luas maka mereka lebih memilih duduk di posisi yang jauh dari jangkauan anak anak, agar para bocah bocah itu tidak akan mendengar pembicaraan kali ini


"Kenapa sendirian di sini Tir? bukannya tadi kamu sama Bian ya?" Tanya Shinta


"Tadi pak Bian kembali ke kantor sebentar nona, karena ada hal yang perlu di lakukan" Jawab Tiara sopan sedangkan yang memberi pertanyaan pun hanya mengangguk faham


"Tiara, dia memang Alina Lee. Tapi apa mungkin ini ada hubungannya dengan Alena?" Ucap Shinta menghela nafas


"Maksud nona? Alena Lee sekretaris pak Bian itu?" Tanya Tiara memastikan


"Iya, kamu masih ingat hasil rencana yang kita lakukan setelah kecelakaan di bandara Seoul?" Tanya Shinta menerawang ke belakang


"Ingat nona, hasil perkiraan memang Alena yang membocorkan jadwal pribadi pak Bian" Jawab Tiara


"Mereka memiliki nama keluarga yang sama Tir, Alena Lee asisten Bian, dan Alina Lee orang yang memfitnah suami saya" Ucap Shinta, walaupun berat dia harus mengusut hal itu


"Memang cukup mencurigakan nona, tapi yang saya tahu Alena tidak mempunyai keluarga" Ucap Tiara


"Saya tidak yakin, kamu tahu kan kalau memalsukan identitas atau menghapus tanpa jejak itu sangat mudah apabila kita memiliki koneksi" Ucap Shinta


"Dan Alina Lee ternyata memiliki adik yang tinggal di Indonesia" Lanjut nya


"Maksud nya jika Alena menang benar adik dari Alina, maka yang membocorkan identitas anda adalah Alena?" Ucap Tiara faham


"Iya, kalau itu benar maka sudah pasti sasaran mereka yang sebenarnya adalah saya, tapi mereka lebih dulu menyerang suami saya" Ucap Shinta memejamkan mata, suami nya harus menderita karena dia


"Oh iya nona, saya baru ingat kalau Alena Lee mengundurkan diri beberapa hari sebelum berita tentang suami anda keluar" Ucap Tiara


"Apa? kenapa dia mengundurkan diri dan alasan nya?" Tanya Shinta yang memang terkejut dengan hal itu


"Saya tidak tahu karena pak Bian sendiri menyembunyikan alasan pemberhentian sekretaris nya" Jawab Tiara jujur karena dia sendiri tidak mengetahui urusan Bian dan sekretaris nya


"Tidak mungkin Bian membiarkan Alena pergi begitu saja kan? harus nya dia bisa berpikir logis" Ucap Shinta mengusap wajah nya, apa benar orang yang di buta kan dengan cinta memang biasa kehilangan pikiran nya seperti itu?


"Saya tidak bisa menjawab karena mungkin nona sudah tahu sendiri jawaban nya" Ucap Tiara yang kasihan juga dengan nona nya


"Kamu pasti pernah melihat atau mempunyai foto Alena, kamu perhatikan baik baik atau kalau perlu sangat baik, mereka akan terlihat seiras bahkan kembar" Ucap Shinta memberikan perintah


"Baik nona, saya perhatikan terlebih dahulu" Ucap Tiara membuka ponsel nya dan mencari foto Alena Lee juga Alina Lee


Cukup lama dia memperhatikan foto itu dan menit menit kemudian baru sadar jika Alina memiliki tanda lahir di leher sebelah kanan, jika Alena memiliki tanda lahir di leher sebelah kiri, oh ayolah... apalagi ini? tanda yang sama dan nama keluarga pun sama?


"Kamu bisa menebak nya? sekarang lebih baik beri perintah anak buah kamu untuk mencari identitas Alena" Ucap Shinta


"Baik, tapi apa kita juga harus mencari dari sisi Alina?" Tanya Tiara mulai mengotak atik ponsel nya untuk memberi tugas ada tim yang ia pegang


"Mereka menghapus informasi tentang anggota keluarga, susah untuk menemukan hal itu" Jawab nya


Tanpa pikir panjang lebih baik Shinta menanyakan hal ini langsung pada Bian, menebak nebak tanpa mengetahui kenyataan pun juga tidak akan ada guna nya


Tidak lama telepon itu tersambung dan muncul suara Bian dari sana


πŸ“ž : Halo Zefa cantik, kenapa nelfon gue?


πŸ“ž : "Bi, apa benar Alena resign dari perusahaan?" Tanya Shinta to the point


πŸ“ž : Dari mana lo tahu? iya dia resign karena capek katanya kerja


πŸ“ž : "Lo nyadar gak sih? kalau orang sebatang kara mana mungkin berhenti kerja Bi?" Ucap Shinta menghela nafas


πŸ“ž : Gue sadar Zef, dan mungkin dia menemukan tempat kerja yang lebih baik makanya gue izinin aja toh gak ada hak untuk ngelarang dia tetap di sini


Shinta melengos, enteng sekali jawaban pria jomblo itu seolah tidak curiga pada siapapun


πŸ“ž : "Lo tau gak? Alina Lee itu mengincar gue dan kenapa hal itu bisa terjadi? jelas ada yang membocorkan identitas gue kan?" Ucap Shinta


πŸ“ž : Trus? lo mau mengusut siapa yang bocorin gitu?

__ADS_1


πŸ“ž : "Ya jelas gue akan mengusut dong, korban di sini bukan hanya gue tapi mas Rey juga" Ucap Shinta emosi sendiri jadi nya


πŸ“ž : Lo yakin suami lo gak selingkuh? di dunia ini laki laki yang tulus itu cuman gue Zef


πŸ“ž : "Gue yakin dan jika suami gue selingkuh harus nya perempuan itu gak menyebar foto ke portal bisnis yang bisa menyebabkan perusahaan mas Rey menurun atau bahkan bangkrut, mau di kasih makan gragal tu perempuan?" Ucap Shinta berapi api, mana ada perempuan susah payah jadi orang ketiga demi laki laki tanpa harta? sangat minim


πŸ“ž : Zef gue tahu lo sangat percaya dengan suami itu, tapi apa lo mau nuduh gue sebagai orang yang menyebar identitas lo?


πŸ“ž : "Tolong berpikir logis dong Bi, identitas gue yang menyangkut zeze grup hanya ada di perusahaan, maka orang yang membocorkan informasi itu adalah orang perusahaan" Ucap Shinta


πŸ“ž : Kenapa lo mikir gitu? identitas lo tersimpan di ruang rahasia Zean, bahkan yang tahu kunci nya hanya gue sama lo kan?


πŸ“ž : "Gue juga tahu, dan coba lo ingat ingat siapa yang masuk ke ruang rahasia itu? gak mungkin mereka bisa mendapat identitas gue dengan mudah bahkan nomor telefon gue" Ucap Shinta mengingat foto berita kemarin yang masuk ke pesan ponsel nya


πŸ“ž : Gue yakin gak ada siapapun yang masuk ruangan itu kecuali gue Zef, tapi...


πŸ“ž : "Tapi apa?" Tanya Shinta


Bian terdiam sejenak, mungkin dia sedang mengingat sesuatu di sana


πŸ“ž : Gue pernah ngeluarin berkas identitas lo dari ruangan itu


πŸ“ž : "Buat apaan?" Tanya Shinta heran


πŸ“ž : Karena ada satu dokumen yang membutuhkan persetujuan pemilik perusahaan, maka dari itu gue mau meniru tanda tangan lo


πŸ“ž : "Hubungan nya sama ini apaan Bi?" Ucap Shinta frustrasi


πŸ“ž : Setelah tanda tangan gue ada meeting di luar kantor tanpa bawa sekretaris dan lupa balikin berkas lo ke tem-pat semula


Shinta tepok jidat, bisa bisa nya identitas penting itu terletak di sembarang tempat


πŸ“ž : "Siapa yang bebas masuk ruangan lo?" Tanya Shinta


πŸ“ž : Hanya A... lena


Bian menjawab dengan lesu di sana karena baru menyadari sesuatu


Shinta bertambah pusing sekarang, Tiara yang juga mendengar percakapan itu pun sama terkejut nya, kenapa ada hal ceroboh seperti ini?


πŸ“ž : "Gue gak mau tahu ya... sekarang suntik dana ke perusahaan WY gimanapun cara nya, dan tangkap Alena di manapun dia berada" Ucap Shinta memberi keputusan yang cukup ekstrem karena dia sama sekali belum pernah mengurus perusahaan


πŸ“ž : Hah? gimana caranya Zef karena perusahaan Reyhan sama gue udah kerja sama semenjak Zean masih hidup


πŸ“ž : Lo mau suntik dana karena perusahaan itu milik suami lo?


πŸ“ž : "Bukan hanya itu, perusahaan mas Rey dalam masalah juga karena siapa Bi? karena elo yang ceroboh dan Alena pun dengan mudah masuk ke ruangan lo, siapa lagi kalau bukan dia yang baca berkas kepemilikan itu? JAWAB GUE!" Ucap Shinta, ingin menangis juga tidak ada guna nya karena laki laki jomblo itu jika sudah jatuh cinta malah kehilangan logika nya


πŸ“ž : Zef untuk dana itu bisa gue lakuin, tapi menangkap Alena gue rasa...


πŸ“ž : "Gue rasa apa? gue mohon Bi... kali ini aja hilangin perasaan cinta lo dulu, gue tahu itu susah tapi kalau Alena udah menghianati lo juga apa gunanya?" Ucap Shinta


πŸ“ž : Oke, gue akan cari keberadaan nya


Bian menjawab dengan datar karena pasti laki laki itu sedang kecewa, tapi lebih baik mengetahui dari awal seperti ini


Shinta juga mematikan telepon, ia memejamkan mata karena bingung dengan apa yang harus ia lakukan di kedepan nya? kali ini membuat nya lebih pusing dari pada masa lalu


"Apa nona masih memikirkan alasan kenapa mereka mengincar anda?" Tanya Tiara


"Iya" Jawab Shinta menganggukkan kepala


"Jawaban saya sama seperti tahun lalu, mereka mengincar nona karena mengira anda sudah merebut perusahaan zeze grup dari tuan Bian" Jawab Tiara berdasarkan pemikiran nya


"Saya tidak pernah merebut karena dari dulu saya sama sekali tidak pernah menginginkan perusahaan itu" Ucap Shinta, dia bertahan hanya karena permintaan Zean yang menyuruh nya untuk menjaga perusahaan


"Saya tahu nona, dan tuan Zean juga membuat tim white blood untuk melindungi anda" Ucap Tiara membenarkan


"Saya juga tidak bisa menyembunyika hal ini terlalu lama, saya akan menceritakan semuanya bahkan seluruh nya pada suami saya" Ucap Shinta yang merasa tidak bisa sembunyi terlalu lama, dia harus menceritakan hal ini pada Reyhan bagaimanapun cara nya


*Aku akan mengunkap semuanya waktu mas Rey jemput nanti* Batin nya mengingat sang suami yang akan ke panti di sore hari


Mereka melanjutkan obrolan untuk menangkap Alena, cukup mudah sebenar nya karena gadis itu masih berada di dalam negara.


🌸🌸🌸


Sampai waktu menjelang sore, Han terbangun dan melihat Shinta tidak ada di sana. Bocah itu langsung berdiri namun tatapan nya beralih pada jendela kamar yang menunjukkan Shinta ada di taman sana bersama Tiara


*Oh... telnyata tante di sana* Batin nya mengangguk faham, tapi ada hal lain yang membuat nya tertarik untuk memperhatikan


Di sisi hutan yang berada di dekat kebun teh, ada satu laki laki berpakaian serba hitam dan membawa pistol seperti yang biasa dia mainkan


Han punya pemikiran lebih dewasa dari anak anak lain, dia paham bahwa orang itu tidak sedang bermain, mana ada orang dewasa main pistol pistol an?


Mata polos dan penuh kekaguman itu membulat kala melihat arah bidik yang tertuju pada Shinta, tapi kenapa tante nya justru tidak sadar dan masih sibuk bicara?

__ADS_1


"TANTE... AWAS!!" Teriak Han berusaha untuk memanggil Shinta, namun yang di sebut nama nya tidak mendengar


Wajar karena jarak dari kamar lantai dua ke taman pun jauh, tidak mungkin suara Han yang kecil bisa terdengar di bawah sana


"TANTE... MINGGIL TANTE!!!" Teriak Han lagi dengan sekuat tenaga, bocah itu semakin panik apalagi keringat dingin sudah muncul di dahi nya


"TANTE... PELGI!"


Dor!


Bersamaan dengan itu Han melihat ada seorang laki laki yang berlari dan memeluk tante nya di bawah sana


Melihat ada orang yang tertembak, bocah itu berlari keluar kamar dan turun ke bawah.


Badan Shinta ikut goyah karena tembakan yang mengenai lengan suami nya, dia dan Tiara sama sama terkejut karena tidak menyadari ada nya musuh di sisi mereka


"Mas Rey? ka-kamu..." Ucap Shinta di sertai isakan nya dan menopang tubuh yang lebih besar dari nya


"Nona awass!!!" Ucap Tiara mendorong tubuh pasangan itu hingga tersungkur ke tanah, bukan berniat menyakiti tapi ia terpaksa karena senjata api itu lagi lagi menuju ke arah Shinta


Pak satpam yang mendengar suara itu langsung berlari menuju taman dan melihat ada satu laki laki tertembak di sana


"Astagfirullah neng, ada apa ini?" Tanya pak Arman panik


"Pak, jangan kesini dan sekarang bapak masuk ke dalam, jaga anak anak jangan sampai ada yang keluar" Ucap Tiara menunjuk pintu panti dengan senjata api yang dia bawa


"Telfon ambulans juga pak" Tambah Tiara mengingat ada yang terluka sekarang


Pak Arman mengangguk dan masuk ke dalam panti, untuk sekarang keselamatan anak anak dan menelfon ambulans sangat penting


Saat masuk terlihat kegaduhan di dalam, yakni anak anak yang menangis dan terkejut karena suara tembakan barusan


"Pak, di taman ada apa?" Tanya bu panti yang menggendong satu bayi


"Ada orang jahat buk, saya mau telfon ambulans dulu" Ucap pak Arman mengambil telfon umum yang ada di panti


Tiba tiba Han yang dari atas turun di sertai tangisan histeris nya, dia takut kalau Shinta sampai terluka


"Hua... ibuk, Han mau kelual" Ucap Han menunjuk pintu yang di hadang oleh pengurus lain nya


"Han di sini dulu ya, jangan keluar sayang" Ucap bu panti berusaha meredam tangisan bocah itu


"Han mau ketemu tante, Han gak mau di sini" Uvap nya memberontak, baru kali ini bocah imut yang biasa selalu menurut itu sekarang menolak perintah orang tua nya.


Di sisi lain, Shinta yang takut dengan darah semakin panik ketika melihat cairan merah itu mengucur dari lengan suami nya


"Mas, akh.... kamu, kamu gak papa kan? janggan tidur ya, jangan tidur hiks" Ucap Shinta menggelengkan kepala berkali kali


Posisi nya tengkurap dan menahan sakit akibat keram yang muncul karna perut nya menghantam tanah, sedangkan Reyhan telentang sembari menahan rasa yang kian bertambah sakit setelah peluru itu mengenai lengan nya


Dor!


Sesakit apapun perut nya, Shinta berusaha untuk duduk dan meletakkan kepala itu di paha nya, dia membiarkan Tiara melawan penjahat itu karena ia yakin kalau Tiara pasti bisa


"Aku mohon, hiks... jangan tidur ya, jangan tidur mas, jangan tidur huaaa" Ucap Shinta di sertai tangisan nya, dia berusaha agar suami nya tidak kehilangan kesadaran sebelum ambulans datang


Reyhan tidak menjawab, pikiran nya masih menerawang kenapa Tiara memanggil istri nya nona? mereka berdua memiliki hubungan apa?


"Nona, bertahan sebentar" Ucap Tiara yang tahu jika kedua manusia itu sedang kesakitan


"Jangan tidur ya... lihat aku mas, lihat aku" Ucap Shinta menepuk pipi suami nya berkali kali


"Aku baik baik saja, jangan khawatir" Ucap Reyhan lirih dan tetap tersenyum meskipun rasa sakit itu semakin menjadi, dia tahu kalau Shinta sangat khawatir pada nya


Beberapa menit keadaan menegangkan itu berakhir, Tiara menembak pria serba hitam itu tepat di kaki nya dan sekarang pasti dia sedang kesusahan untuk berjalan


Niu niu niu... akhirnya ambulans sampai, petugas pun langsung mengangkat Reyhan dan membaringkan di ranjang gawat darurat


Sepanjang perjalanan, Shinta duduk di kursi samping suami nya, menggenggam tangan itu erat erat agar suami nya tahu bahwa dia akan selalu ada di sisi pria itu


"Aku mohon... jangan tidur mas, bertahan demi aku atau anak kamu" Ucap Shinta berkali kali walau air mata itu tidak berhenti menetes, sakit rasanya melihat suami nya memakai alat alat darurat di dalam mobil ambulans, dia tidak pernah melihat Reyhan dalam kondisi seperti ini sebelum nya


"Nyonya, ajak ngobrol terus suami nya agar kesadaran nya tidak hilang" Ucap salah seorang perawat saat mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit


Shinta mengangguk, sudah pasti dia akan melakukan hal itu " Bertahan ya... aku di sini, aku dan calon anak kita di sini" Ucap nya berusaha lagi


"Apa yang kamu sembunyikan dari ku?" Tanya Reyhan lemah tapi Shinta masih bisa mendengar hal itu karena ia mendekat ke wajah suami nya


"Jangan memikirkan hal itu, hiks aku akan menceritakan semuanya nanti mas, sekarang tolong bertahan ya... aku mohon" Ucap Shinta yang sadar jika suami nya pasti bingung dengan Tiara, tapi jelas dia tidak bisa memberikan penjelasan sekarang karena yang paling penting adalah suami nya.


Tiara membawa mobil dan mengikuti ambulans dari belakang, dalam perjalanan beberapa kali dia mengumpat karena tidak berhasil melindungi nona nya


"Saya berdo'a semoga suami anda baik baik saja nona, saya tidak mau anda menjadi janda di usia muda" Ucap Tiara mengusap kasar wajah nya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2