
"Emang papa setuju?" Tanya Reyhan balik
"Emang kapan papa pernah bilang gak setuju sama apapun keputusan yang kamu buat?" Tanya papa Raka balik karena dia sama sekali tidak pernah menentang keputusan anak nya
"Itu kan urusan bisnis pa, kali ini beda" Ucap Reyhan sedangkan yang lain hanya diam sambil menyimak tentu nya, yakali sambil ghibah... hehe
"Papa gak pernah punya standar memantu yang harus gini lah.. harus gitu lah.. " Ucap papa Raka
"Emang ada yang nyari menantu seribet itu pa?" Sahut mama Riana heran, pasalnya mama Riana sangat jarang mengikuti kegiatan anggota ibu ibu sosialita.. dia lebih suka menghabiskan waktu dengan memasak di rumah dari pada berkumpul dengan ibu ibu yang akan membuatnya khilaf mengghibah ria nanti
"Ada, tuh kolega papa" Jawab papa Raka dan mama Riana pun hanya mengangguk saja
"Dan yang terpenting bagi papa itu hati nya baik... bisa sayang sama keluarga kamu tanpa melupakan dan mengurangi rasa sayang sama keluarga nya sendiri" Ucap papa Raka mengingat dimana Shinta yang membantunya dulu, menolong mama Riana yang hampir kerampokan di jalan, dan... melihat bagaimana Shinta yang sudah sangat dekat dengan istrinya
"Harus sayang sama anak kita juga gak pa?" Tanya mama Riana, siapa lagi anaknya kalau bukan Reyhan
"Gak, itu gak perlu ma" Jawab papa Raka yang membuat Reyhan melotot ke arah papa nya
*Haha.. kocak juga keluarga nya kak Rey* Batin ajudan yang mengira malam ini akan menegangkan
"Kok gak perlu pa?" Tanya Reyhan tidak terima
"Ya kamu sayang gak sama dia?" Tanya papa Raka sengaja ingin menggoda anak nya
Reyhan hanya diam tanpa menjawab, mana mungkin dia yang biasanya kaku terhadap orang lain dan sekarang harus menyatakan perasaan nya sendiri di depan orang tua
"Kamu gak berani jawab kan re?" Tanya papa Raka yang membuat semua nya menatap Reyhan, termasuk Shinta juga sang adik
"Pa... papa lupa ya kalau anak kita itu kaneb-
"Reyhan sayang sama dia, kalau gak ngapain Reyhan bawa dia kesini buat ketemu sama papa dan meminta persetujuan kalian?" Sahut Reyhan nyerocos tanpa henti sebelum sang mama meneruskan ucapan nya
"Wah... pengakuan secepat kilat" Ucap papa Raka terkekeh
"Bak kereta api yang melaju tanpa henti" Sahut mama Riana
"Bak perasaan ku yang cepat mendarat pada nya" Sahut ajudan ikut ikutan
"Secepat peluru pistol yang menembus jantung manuasia" Ucap Shinta, masa' yang lain menyahuti sedangkan dia tidak? ya harus ikutan juga dong
"Kenapa? kamu mau pengakuan lambat?" Tantang Reyhan, oke Shinta merasa salah dengan kata kata yang dia keluarkan justru menjadi senjata yang akan menyerangnya
"Enggak enggak.. gak perlu" Jawab Shinta dengan memalingkan wajah nya yang sudah memerah
"Kakak... ada udang rebus" Ucap ajudan terkekeh karena Shinta memang menghadap ke arah nya agar Reyhan tidak dapat melihat pipi merah itu
"Awas kamu ya... gak akan aku bantuin buat deket sama Sela" Ancam Shinta lirih
__ADS_1
"Aku juga bisa cancel kado yang kakak minta" Ancam ajudan balik yang juga lirih
Oh no! kado yang dia minta itu sangat spesial bagi Shinta, tidak boleh ada acara cancel cancel an karena hanya adik nya lah yang bisa memberikan kado itu
"Udah udah... mama ke dalam dulu mau nyiapin makanan" Ucap mama Riana seraya berdiri dari duduk nya
"Shinta bantuin boleh ya ma?" Tanya Shinta Shinta yang juga ikut berdiri
"Boleh kok sayang, ayo.." Jawab mama Riana mengijinkan dan berjalan berdua menuju ruang makan
Setelah semuanya siap, mereka makan malam bersama seperti keluarga pada umum nya, tapi tetap menggunakan prinsip diam saat makan karena itu termasuk tata krama yang sopan
Perut kenyang, hati pun senang... hehe, tapi sepertinya tidak dengan Shinta yang masih khawatir dengan kado milik nya akan terancam kena cancel
"Kenapa papa bisa langsung setuju?" Tanya Reyhan yang kini semuanya sudah kembali duduk manis di ruang keluarga
"Yang akan menjalani itu kamu re, bukan papa.. jadi papa gak berhak melarang keputusan kamu karena itu hidup mu sendiri!, lagian papa juga udah sering dengar mama cerita tentang anak gadis nya yang punya panggilan Tata" Jawab papa Raka, ya...Tata yang tak lain dan tak bukan adalah Shinta
Reyhan yang mendengarkan penjelasan papa nya pun hanya mengangguk saja
*Aku ingat kalau besok ada perjalanan bisnis dan yang terakhir aku harus singgah beberapa hari di Surabaya, itu kan dekat sama kota J, tempat tinggal orang tua nya Shinta* Batin Reyhan yang mengingat schedule bisnis nya
Sepertinya Reyhan merencanakan sesuatu, tapi entahlah... hanya dia dan author yang tau, eh- enggak deh.. cuman Reyhan aja yang tau
Setelah mengobrol beberapa hal hal ringan, Reyhan memutuskan untuk mengantar kedua kakak beradik itu pulang karena mengingat jam yang sudah lumayan malam
Di dalam perjalanan, Shinta kembali mengajukan pertanyaan untuk Reyhan
"Mau tau apa?" Tanya Reyhan balik
"Ya itu" Ucap Shinta menekan kata 'itu' yang mana Reyhan pun langsung paham
"Aku gak maksa kamu buat cerita, tapi aku rasa lebih pantas aku mengetahui semuanya disaat aku udah sah jadi suami kamu" Jawab Reyhan santai
*Gentleman...* Batin ajudan dengan memainkan ponsel nya dan telinga yang masih aktif mendengar pembicaraan kakak nya
"Kenapa?" Tanya Shinta
"Bukankan baju istri juga baju suami, sedangkan baju suami juga baju istri kan? mereka saling bercerita dan menutupi aib atau kekurangan pasangan dalam ikatan yang udah jelas halal" Jawab Reyhan menjelaskan
"Yakin?" Tanya Shinta memastikan
"Yakin, 100 persen yakin" Jawab Reyhan menganggukkan kepala nya
*Aku penasaran gimana reaksi kak rey kalau tau bahwa kakak ku itu jadi incaran para pembunuh sialan* batin ajudan
"Maksud aku tuh kamu yakin bisa jadi suamiku?" Goda Shinta
__ADS_1
"Eh, maksudnya kamu gak yakin gitu kalau kita jodoh?" Tanya Reyhan
"Ya kan jodoh gak ada yang tau kak" Jawab Shinta dengan mengedikkan bahu nya
"Makanya do'a sama yang di atas, biar keinginan baik kita terlaksana" Tutur Reyhan
"Atas kita? atap mobil?" Tanya Shinta sengaja saja ingin melihat kadar kesabaran Reyhan
"Kamu do'a di depan kayu pun gak papa yang penting do'a nya tembus sama yang mahakuasa" Ucap Reyhan setelah menghela nafas panjang
"Mbok kalau bego itu jangan keterlaluan toh kak... " Setelah mengatakan itu ajudan langsung keluar dari mobil Reyhan karena kebetulan mereka baru saja sampai di depan gerbang
"Jangan mampir dulu kak... bunda jam segini udah tidur" Ucap Shinta memberi tahu
"Iya aku juga gak enak kalau mampir malam malam gini" Ucap Reyhan
"Oh iya makasih udah nganterin" Ucap Shinta dengan senyum tipis di bibir nya
"Kewajibanku... aku yang bawa, aku juga yang harus ngembalikan" Ucap Reyhan kemudian berpamitan dan menjalankan mobil nya untuk kembali ke rumah
Shinta kemudian membuka gerbang dan menutup nya kembali, masih ada sosok adik nya di teras
"Kakak bego ya? mana ada do'a sama atap?" Tanya ajudan
"Aish... sini kamu!" Ucap Shinta setengah berteriak kemudian melepaskan kedua sepatu flatshoes nya dan terjadilah kejar kejaran antara kakak dan adik itu hingga mencapai titik finish
"Stop kak! aku ceburin kakak ke kolam kalau gak berhenti lari" Ancam ajudan saat mereka berdua sampai di kolam belakang rumah
"Kamu mau ngomong apa sih? biasanya kalau mau ngomong pasti kamu main caper dulu" Ucap Shinta yang sedang terengah engah dan duduk di pinggir kolam
"Kakak udah yakin mau menikah?" Tanya ajudan seraya duduk di samping Shinta
"Ini juga lagi meyakinkan diri, berusaha positif thinking kalau semuanya akan baik baik aja" Jawab Shinta
"Oh.. trus kalau tentang si pembunuh sialan itu gimana?" Tanya ajudan
"Gimana apanya?" Tanya Shinta yang mana tidak paham dengan pertanyaan adik nya
"Udah dapet apa aja?" Tanya ajudan
"Ya aku belum dapet info apa apa soal itu, kakak yakin kalau mereka juga punya kekuasaan tinggi" Jawab Shinta
"Trus kakak nanti mau bilang semuanya sama kak rey?" Tanya ajudan
"Aku gak tau, aku hanya takut kalau nasib kak rey nanti sama dengan kak Zean" Jawab Shinta menunduk
"Nanti kita kunjungi dia kak, aku tau kakak pasti rindu dengan kak ze" Ucap ajudan dengan membawa Shinta ke dalam dekapan nya
__ADS_1
*Kau tau kak? hal yang paling aku takuti adalah ketika kepala mu benar benar terpenggal di tangan mereka*
Bersambung