
"Gak gerogi kok, palingan juga pingsan" Ucap Shinta dengan menyunggingkan senyum mengejek nya
"Pada ngawur semua nih anak cewek kalau ngomong" Ucap ajudan menggelengkan kepala nya
"Haha, yaudah lah gue pulang dulu shin" Ucap Laila berpamitan dengan membereskan barang barang nya
"Udah di jemput?" Tanya Shinta
"Udah, orang nya di depan" Jawab Laila menenteng tas bawaan nya
"Yaudah babay... besok ketemu lagi kan?" Ucap Shinta melambaikan tangan nya
"Tanya aja sama ajudan lo... gue pulang dulu, assalamualaikum" Pamit Laila kemudian berjalan menuju dimana supir nya sudah menunggu
"Waalaikumsalam..."
"Ayo kak" Ajak ajudan dengan berjalan perlahan meninggalkan Shinta di belakang nya
"Hei... kok di tinggal sih?" Tanya Shinta heran dengan mengerutkan bibir nya dan terpaksa mau tak mau dia harus mengikuti langkah adik nya
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan memulai perjalanan pulang yang lumayan jauh, tapi entahlah... Shinta merasa adik nya sedikit pendiam hari ini
"Mampir ke masjid sholat isya' dulu kak" Ucap ajudan dengan menepikan mobil nya di salah satu masjid, setiap mereka ingin pulang selalu seperti ini agar tenang dan tidak memiliki tanggungan sholat nanti nya
"Hmm..." Jawab Shinta yang hanya deheman saja, oke adik nya pendiam dia juga ikut mendiamkan hari ini
Setelah sholat barulah mereka melanjutkan perjalanan pulang
Saat sampai di rumah pun Shinta hanya diam saja dan langsung keluar dari mobil berniat untuk makan malam
"Kak" Panggil ajudan saat merasa di abaikan dan Shinta hanya diam saja dengan terus melangkahkan kaki nya menuju pintu utama
"Kak, dengerin aku dulu..." Ucap ajudan segera turun setelah memarkirkan mobil nya
"Kak... " Ucap ajudan dengan memegang lengan Shinta
"Ck, lepas!" Ucap Shinta berusaha melepaskan tangan nya
"Oke tapi aku mau nanya dulu deh" Ucap ajudan setelah melepaskan tangan kakak nya
"Hmm" Jawab Shinta pertanda 'apa?'
"Kakak siap gak kalau di khitbah sama orang?" Tanya ajudan, Shinta yang mendengar hal itu langsung membelalakkan mata nya, dia tidak bodoh dan dia masih tau apa itu khitbah
__ADS_1
"Gila apa? jangan ngaco kamu!" Ucap Shinta yang terkejut bukan main
"Aku gak ngaco kak, aku itu nanya" Ucap ajudan dengan berusaha menggenggam tangan kakak nya namun langsung ditepis oleh Shinta
"Emang siapa yang mau khitbah in aku?" Tanya Shinta ganti, dia tidak bisa menjawab jika belum tau siapa orang nya
"Ya aku cuman nanya loh kak... bukan berarti kakak mau di khitbah in beneran" Ucap ajudan berusaha meyakinkan kakak nya
"Udahlah kakak gak mau jawab pertanyaan kamu!" Ucap Shinta kemudian langsung masuk ke dalam rumah nya
"Nah kan... ngambek ini pasti" Ucap ajudan kemudian menyusul Shinta masuk
"Baru pulang shin?" Tanya Jannah yang sedang santai di ruang keluarga
"Iya" Jawab Shinta singkat kemudian mendaratkan pantat nya di samping Jannah
"Lo kenapa sih? bengis banget muka lo kayak induk ayam" Tanya Jannah heran
Belum sempat Shinta menjawab, ajudan lebih dulu masuk dan memotong percakapan mereka
"Kak... aku beneran nanya loh, setidaknya dijawab kek" Ucap ajudan
"Gak ada jawaban nya, sekarang silahkan kamu mandi, kalau gak mandi mending kamu pulang ke rumah dinas sana!" Ucap Shinta yang enggan melirik sama sekali
"Lo belum jawab pertanyaan gue, kenapa muka lo bengis banget?" Tanya Jannah mengulangi pertanyaan nya yang tadi
"Ajudan tadi nanya gue siap gak kalau di khitbah sama orang" Jawab Shinta dengan pandangan lurus ke depan
"Trus jawaban lo?" Tanya Jannah
"Ya gak gue jawab lah... lagian gue juga gak tau siapa yang mau khitbah in gue, masa' gue langsung jawab aja tanpa tau siapa orang nya?" Jawab Shinta dengan nada kesal nya
"Gue rasa lo bakalan mau sama orang yang khitbah lo kali ini" Ucap Jannah senyam senyum sendiri yang justru menambah kadar kekesalan sahabat nya
"Ah bodo amat lah, gue gak peduli mau khitbah atau gak" Kesal Shinta kemudian naik ke kamar dengan menghentakkan kaki nya
"Gue ramal lo gak akan nolak sama orang yang ngelamar lo kali ini" Ucap Jannah dengan menyinggingkan senyum nya
Saat makan malam pun Shinta masih mendiamkan ajudan dan menikmati makanan nya sendiri, tanpa bicara sepatah kata pun karena itu memang kebiasaan mereka
"Kak.. " Panggil ajudan di sela sela makan malam mereka
Bukan nya menjawab, Shinta justru berdiri kemudian mencuci piring bekas makan nya dan kembali naik ke atas untuk menuju kamar nya
__ADS_1
"Kamu juga keterlaluan!" Ucap Jannah menyalahkan ajudan
"Kok aku?" Tanya ajudan tanpa merasa bersalah sedikitpun
"Ya lagian kamu... udah tau Shinta punya trauma, gak mungkin dia mau nerima gitu aja lamaran orang lain, apalagi dia gak tau siapa orang nya" Ucap Jannah yang memulai kultum panjang kali lebar
"Aku kan dilarang ngasih tau sama bunda kak jan.. kamu juga tau lah" Ucap ajudan membela diri
"Ngasih tau nya itu pelan pelan dong, jangan kayak gitu" Ucap Jannah menasihati
"Iya, maaf deh" Ucap ajudan kemudian mencuci bekas piring nya dan menyusul Shinta ke atas
Tok tok tok!
"Kak... ini aku" Ucap ajudan setelah mengetuk pintu
"Mau apa?" Jawab Shinta dengan sedikit mengeraskan suara nya tanpa membuka pintu karena memang pintu nya tidak dikunci
"Aku masuk ya..." Ucap ajudan dengan membuka pintu kamar Shinta secara perlahan, kemudian menghampiri kakak nya ketika pintu itu benar benar terbuka lebar
"Kak... lusa kamu disuruh pulang ke kota J" Ucap ajudan dengan berdiri di samping Shinta
"Gak mau" Jawab Shinta ketus mengingat dia yang malas meminta izin libur dari rumah sakit
"Kalau gak mau yaudah, silahkan terima konsekuensi nya" Ucap ajudan cuek dengan mengedikkan bahu nya
"Konsekuensi apa sih?" Tanya Shinta heran, pasal nya meskipun dia menolak untuk pulang pun tidak akan ada hukuman untuk nya
"Kalau lusa kakak gak pulang, nama kakak bakal dicoret dari daftar keluarga" Jawab Ajudan yang membuat Shinta refleks melotot, tidak mungkin bunda tega melakukan hal itu padanya bukan?
"Gak mungkin, senakal apapun kakak dari dulu gak pernah tuh di ancam hapus nama dari KK" Ucap Shinta tidak percaya
"Terserah kakak aja percaya atau gak, tanya aja sama bunda sendiri kalau gak yakin" Ucap ajudan kemudian melangkahkan kaki nya untuk keluar dari kamar Shinta
"Aku pamit mau tidur di rumah dinas, besok kakak harus ambil izin dari rumah sakit" Ucap ajudan kemudian keluar dari kamar Shinta
"Akhh.. kenapa jadi gini sih?" Ucap Shinta frustrasi dengan mebenturkan kepala nya pada ujung ponsel
"Kalau emang beneran ada orang khitbah yaudah, gak kenal tinggal tolak secara baik baik, yang penting nama ku gak hilang dari KK" Ucap Shinta, yang penting dia pulang dan tidak jadi membuat KK sendiri an
Jannah yang mendengar ucapan Shinta pun hanya terkekeh geli, dia tadi berniat menemui sahabat nya itu...tapi justru gumaman frustrasi dari Shinta yang ia dengar
*Gue yakin lo gak akan nolak deh* Batin Jannah
__ADS_1
Bersambung