
"Kita bisa berangkat besok kalau mau" Ucap Tiara
"Tidak, kita berangkat sekarang" Ucap Shinta menolak saran barusan, tujuan nya hanya satu yaitu mengusut masalah ini secepat mungkin
"Apa nona yakin? gudang cukup jauh dari sini" Ucap Tiara sekali lagi
"Yakin, tapi saya harus periksa kandungan dulu karena tadi perut saya sakit sekali" Ucap Shinta
"Masih jam praktek?" Tanya Tiara
"Harus nya buka karena sekarang masih jam tujuh malam, setelah periksa saya mau pulang sebentar untuk mandi, lalu berangkat ke gudang" Ucap Shinta yang membuat Tiara berpikir
Memang benar sih sepertinya Shinta perlu periksa kandungan dan mandi karena baju yang dia pakai sedikit kotor akibat terkena tanah tadi, juga hijab itu agak lusuh, sangat tidak nyaman bila di pakai
"Kalau kamu lelah lebih baik istirahat di rumah, saya bisa pergi sendiri kok" Ucap Shinta mengerti bahwa Tiara itu manusia, bokan robot
"Tidak, saya tidak lelah nona, saya tidak mau anda di jaga oleh orang lain, lagi pun saya juga masih muda dan tidak gampang lelah" Ucap Tiara terkekeh
Kedua wanita itu kemudian turun ke lantai tiga, di mana dokter kandungan yang memeriksa Shinta dulu berada.
Sedangkan di dalam ruangan pasien VVIP itu, terdapat kedua pria yang tengah diam diaman tanpa ada pembicaraan sedikit pun
Flashback masa lalu
Setelah kejadian orang tua dan kakak nya bertengkar, Shinta alias Zefa si anak berambut pendek itu menjadi lebih pendiam bahkan enggan bersenda gurau dengan teman nya yang lain
"Shinta, kenapa kamu diam? sini cerita sama ibu" Ucap guru wanita yang mengajar di kelas
"Saya tidak apa apa bu" Setiap ada guru sekolah yang bertanya, maka hal itu pula yang akan Shinta jawab
Tringgg!!!!
Bel salah satu sekolah madrasah berbunyi, semua anak dengan cekatan mengambil tas mereka, lalu berhamburan menuju orang tua masing masing yang sudah menunggu di depan pagar sekolah
"Anak anak, hati hati pulang nya" Ucap guru melambaikan tangan
"Baik bu" Jawab mereka serentak
Semua anak anak atau bahkan rata rata sudah melihat atau mendapati orang tua yang menjemput, hanya Shinta yang belum karena rumah nya cukup jauh dari area sekolah
"Dada... " Ucap salah satu murid yang menjadi teman Shinta
Yang di sapa hanya mengangguk sembari tersenyum samar, wajah polos itu selalu diam dan berekspresi datar di depan semua orang
Tapi saat sendiri? dia pasti lebih sering menangis untuk mengungkapkan rasa sesak nya, mengungkapkan rasa sakit nya di banding menceritakan pada orang lain
*Ayo Zefa, kamu harus kuat* Batin nya melirik ke seluruh sudut sekolah, hanya ada bapak ibu guru karena semua siswa sudah pulang, hanya dia yang belum
"Shinta, kamu belum pulang? nunggu jemputan di kantor aja yuk sama ibu" Ajak salah seorang guru
"Makasih bu, maaf saya mau di sini aja" Ucap Shinta menolak dengan sopan
Semua guru memanggil nya Shinta karena nama Zefa hanya nama kecil dan yang tahu nama itu pun hanya anggota keluarga nya saja
"Yaudah kalau gitu ibu masuk dulu ya, nunggu di sekolah aja supaya orang tua nya gak bingung nyari" Ucap bu guru sembari mengusap kedua kepala murid nya
Biasanya Shinta pasti akan menunggu di depan pagar sekolah dengan sabar seberapa lama orang tua nya datang
Tapi kali ini dia ingin jalan jalan, sendirian menghirup dan menikmati udara panas di perkota an waktu siang hari
Bukan tanpa alasan, melainkan selama ini dia sering duduk diam di rumah, kali ini saja dia ingin melangkahkan kaki nya lebih jauh, sesuai tujuan dan menikmati alur yang hati nya katakan
Kaki kecil, badan mungil dan memakai seragam sekolah juga hijab rapi, dia Shinta yang perlahan melangkah menuju taman yang jarak nya dari sekolah hanya 200 meter saja
Sepi, tidak ada orang karena hari ini masih siang, matahai yang sangat terik itu membuat semua orang ogah untuk mengunjungi taman kota
Huft... haffftt.. huftt
Shinta menghembuskan nafas secara teratur, dia duduk di salah satu bangku kayu dan menikmati udara kali ini
Tidak ada kegiatan yang di lakukan, hanya diam sembari melirik jalan raya yang banyak kendaraan lalu lalang di sana
Mungkin beberapa anak akan takut di tempat umum sendirian, tapi berbeda dengan Shinta yang memang menginginkan, dia hanya ingin mencari ketenganan tanpa menyalahi aturan agama yang di ajarkan sejak dini
"Hiks... ahh.. hiks" Pelan tapi pasti, Shinta yang masih belia dan unyu unyu itu mendengar suara tangisan seorang pria, entah siapa dia belum tahu
"Siapa?" Ucap Shinta tapi tidak ada jawaban yang membuat nya menoleh ke arah kanan dan kiri
"Ku tanya siapa? nangis mulu" Ucap nya lagi, namun kali ini di sertai jawaban
"Aku" Jawab suara pria dengan nada serak nya
Shinta mengerutkan alis nya, lalu menoleh ke belakang yang ternyata ada seorang pria dewasa sedang menangis di balik bangku yang dia gunakan untuk duduk sekarang
"Kau kenapa?" Tanya Shinta turun dari bangku, lalu memghampiri pria itu, meskipun perempuan tapi tidak ada takut takut nya sama sekali dengan orang lain
"Aku tanya kau kenapa? suaramu berisik" Ucap Shinta memajukan bibir nya, pria yang menenggelamkan wajah nya di lutut seketika mendongak ke atas
Dia melihat bahwa ada gadis kecil yang sedang protes di hadapan nya
"Ini tempat umum kan? hiks lalu apa masalah mu gadis kecil?" Tanya pria itu di sertai isak tangis nya
"Justru karena ini tempat umum dan kau mengganggu pengunjung umum" Ucap Shinta
"Aku tidak menganggu mu, aku hanya ingin sendirian di sini" Ucap nya membela diri
"Lalu kenapa kau menangis? udah dewasa juga masih aja nangis" Cibir Shinta menggelengkan kepala, walau jarang berbicara tapi selalu berucap maka gadis kecil itu akan mengeluarkan kata yang sedikit pedas
"Apa hanya anak anak yang boleh menangis dan aku tidak boleh?" Ucap nya bertanya
"Bukan, aku tidak ingin orang lain menangis apalagi dia sudah dewasa" Jawab Shinta
"Kenapa? hiks alasan nya?" Tanya pria itu
"Orang orang menangis ketika dia merasa sedih, orang tua ku juga bilang aku tidak boleh menangis karena sudah dewasa, berbeda dengan adik ku yang masih bayi" Jawab Shinta
"Kau masih kecil dan kau juga boleh menangis kalau mau" Ucap pria itu
"Aku hanya menangis ketika sendirian, dan lagian kenapa kamu nangis di sini? nanti di kira penculik gimana?" Ucap Shinta melirik pria itu dari atas sampai bawah
"Jangan bilang kau putus cinta? cih... cemen" Cibir Shinta
"Hei bocah, dari mana kau tahu cinta cinta? kau masih bocah dan lebih baik sekolah belajar yang rajin" Ucap pria itu
"Bocah bocah gini aku juga tahu cinta taukk!!! trus kenapa kamu nangis dan merusak gendang telinga ku?" Tanya Shinta dengan nada jutek nya
"Aku gagal mendapatkan beasiswa, kau tidak akan tahu apa itu" Ucap sang pria meremehkan wonder kids di hadapan nya
"Menyuruh ku belajar tapi kau sendiri gagal dalam belajar" Ucap Shinta yang pandai sekali mencibir seseorang
"Maksud mu?"
"Beasiswa hanya bisa di dapatkan oleh calon mahasiswa yang pandai bukan? itu artinya kau bodoh!" Ucap Shinta lagi lagi nylekit tapi masuk akal
Pria itu tergelak, berani sekali bocah yang mungkin masih ingusan ini mengatai dirinya bodoh
"Kau tau beasiswa?" Tanya nya terkejut karena bocah itu masih berusia sepuluh tahun, terlihat dari bet seragam yang menunjukkan kelas 3 madrasah
"Peringanan biaya studi untuk anak yang pandai dan memenuhi kriteria universitas" Jawab Shinta enteng, kecil kecil gini dia juga tahu dunia orang dewasa
"Apa memang aku bodoh ya? oh iya siapa nama mu?" Tanya pria itu mengulurkan tangan nya
Shinta membalas uluran itu "Aku Zefa, menangis tidak ada guna nya dan lebih baik kau belajar yang rajin untuk mendapatkan apa yang kau ingin kan"
Tidak bisanya ia mau bersosialisasi pada orang asing, tapi kali ini berbeda, bocah sepuluh tahun itu bisa melihat bahwa ada gurat kesedihan di mata orang dewasa
"Kenalkan, aku Zean" Ucap nya
__ADS_1
"Untuk apa aku tahu nama mu?" Tanya Shinta ketus lalu berniat melepas uluran tangan mereka
"Bukankah beruntung gadis kecil seperti mu mengetahui nama ku Zean, remaja delapan belas tahun yang tampan" Ucap nya pede
"Remaja? kau sudah om om tau" Ucap Shinta
Bukan nya menjawab ejekan si wonder kids, pria yang bernama Zean itu justru mengenggam kedua tangan kecil Shinta untuk menutupi mata nya, lalu menangis dalam diam di sana
Shinta juga bisa merasakan kalau telapak tangan nya basah, mungkin pria di depan nya ini masih belum bisa menerima keputusan gagal nya mendapat beasiswa
Huft...
"Menangis saja kalau itu membuat mu tenang, menangis lah sekencang mungkin walau suara mu tidak merdu tapi aku akan mendenga-"
"Huaaa... hiks, hiks huaaaa..." Belum selesai Shinta berbicara tapi tangis Zean langsung menyeruak bak toa masjid
Begitulah Shinta, di balik sifat dingin nya selalu terselip rasa kasihan di sana, ikut sedih ketika melihat ternyata banyak orang lain yang bersedih bahkan jauh lebih sedih dari nya
Sangat tidak tega
"Hiks...huaaa"
Perlahan ia melepaskan tangan kanan dari pegangan Zean, lalu menepuk pundak laki laki itu perlahan dan berkali kali, seolah menyuruh nya untuk tenang, ada aku di sini
"Tenanglah, jika beasiswa itu sangat penting bagi mu maka belajar lah dengan giat, jangan mudah menyerah hanya karena satu kali merasakan kegagalan"
"Aku pernah mendengar orang dewasa berbicara jika kunci kesuksesan adalah merasakan gagal terlebih dahulu, jika baru pertama kali mencoba namun ia sudah berhasil, maka sifat sombong akan menyelimuti tubuh nya" Sambung Shinta tanpa menghentikan tangan nya
"Hiks... hiks" Entah kenapa Zean si remaja delapan belas tahun itu mulai merasa tenang setelah mendengar penuturan bocah sepuluh tahun, bahkan usia mereka beda delapan tahun
"Ikhlaskan saja apa yang sudah menjadi takdir nya tanpa mengeluh, orang tua mu saja sudah ikhlas merawat tanpa mengadu pada yang di atas" Ucap Shinta
"Aku tidak punya orang tua, aku tinggal di panti asuhan dekat sini" Ucap Zean mendongak lalu membersihkan tangan mungil yang basah itu akibat air mata nya
Deg!
Hati Shinta merasa di tekan di sini, lihatlah bahkan laki laki di hadapan nya ini jauh mengalami ujian yang lebih sulit dari pada dia
"Ibu panti sudah ikhlas merawat mu tanpa meminta imbalan, lalu kenapa kau tidak bisa ikhlas?" Ucap Shinta walau dia sendiri pun sebenarnya masih sering menangis ketika mengingat hari hari buruk kemarin
"Aku tidak bisa ikhlas karena beasiswa itu sangat penting bagi ku" Jawab Zean sesegukan
"Kalau begitu gunakan waktu mu untuk belajar, beasiswa di adakan saat tahun sekali bukan? masih ada waktu selama itu untuk mu belajar dengan giat dan menjadi mahasiswa baru" Ucap Shinta menunjuk kan Senyum tulus nya yang selama ini jarang ia keluarkan
"Hei bocah, kenapa kau bisa lebih bijak dari ku? apa ada hal yang kau alami dan itu jauh lebih buruk dari ku?" Tanya Zean tahu jika kebanyakan anak anak yang dewasa sebelum umur adalah anak yang mengalami suatu tekanan mental
"Ya, ada yang ku alami bahkan sangat teringat di kepala ku" Ingin sekali Shinta menjawab seperti itu, tapi tidak bisa, dia tidak bisa mengatakan hal itu pada orang lain hingga hanya gumaman dalam hati yang menjawab
"Bocah, jika memang ada maka kau bisa menceritakan nya pada ku" Ucap Zean lagi
Shinta menggeleng lalu menarik tangan nya "Tidak ada, aku mau pulang dulu"
"Kau mau pulang? di mana? aku antar kalau kau mau" Ucap Zean berdiri dari rumput rumput
Shinta mendongak, terlihat sekali pria itu seperti tiang listrik yang tinggi nya jauh sekali dengan tubuh mungil umur sepuluh tahun
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri dan lebih baik kau belajar yang giat" Ucap Shinta menolak
"Kau yakin? bocah seperti mu mau pulang sendiri?" Tanya Zean tidak yakin
"Lagi lagi kau meremehkan ku ya?" Kesal Shinta
"Haha tidak, terimakasih untuk tausiyah mu yang panjang lebar tadi dan hati hati kalau pulang" Ucap Zean melambaikan tangan nya
"Sama sama, ingat!!! jangan sampai tausiyah panjang lebar dari ku tadi hanya kau anggap angin lewat saja, jika iya sudah maka pasti aku akan memukul mu" Ancam Shinta lalu berbalik dan melangkahkan kaki nya meninggalkan Zean
"Bocah... entah apa yang sudah kau alami, tapi kenapa kau berbeda dari anak lain nya? kau bahkan sangat dewasa dan imut" Gumam nya memperhatikan Shinta yang semakin jauh dari pandangan
Keesokan hari nya, seperti biasa setelah pulang sekolah Shinta akan menunggu bunda nya di depan pagar
Tapi ada yang aneh kali ini, pemandangan pria tampan yang sebenarnya masih remaja, tapi bagi Shinta dia sudah om om, pertanyaan nya kenapa pria itu di sini?
"Kau kecil kecil tapi mulut mu pedas juga ya" Ucap Zean heran lalu menunduk untuk menyetarakan tinggi mereka, dan mengambil satu permen lolipop dari dalam tas nya
"Ucapan pedas kadang penting untuk menyadarkan seseorang" Ucap Shinta dengan gaya santai nya
"Terserah kau lah bocah, ini untuk mu" Ucap Zean memberikan lolipop warna warni berbentuk hati
"Buat apa om? aku tidak ingin gigi ku rusak" Ucap Shinta
"Sekali saja tidak akan membuat mu ompong, dan jangan panggil aku om lagi, aku ini masih remaja Zef" Ucap Zean pertama kali menyebut nama Shinta
"Tumben kau menyebut nama ku? biasanya kan hanya memanggil bocah bocah dan bocah" Ucap Shinta
"Aku sedang berbaik hati, jadi panggil aku kakak" Ucap Zean bersemangat
"Kakak ku udah ada dua" Ucap Shinta datar
"Ck, panggil kakak tidak harus kakak kandung Zef, aku yakin bocah seperti mu akan paham" Kesal Zean
"Baik kakak... untuk menyenangkan hati mu, dan kabar baik apa yang membuat mu datang ke sini dengan raut wajah berbunga bunga?" Tanya Shinta
"Kau tahu-"
"Tidak" Jawab Shinta singkat, padat dan jelas
"Aku belum bicara loh Zef" Kesal Zean mengacak rambut nya, frustrasi juga bicara dengan bocah savage itu
"Ohh belum, yaudah silahkan" Ucap Shinta disertai gestur tangan nya
"Kau tahu? aku memutuskan untuk belajar dan ikut ujian beasiswa dua bulan lagi, ada yang membuka tes itu untuk yang gagal kemarin dan aku salah satu nya" Ucap Zean
"Lalu?" Tanya Shinta
"Aku akan melakukan sesuai kata kata mu, belajar giat dan berhasil menjadi mahasiswa baru" Jawab Zean menceritakan dengan semangat, seperti nya tekad laki laki itu sudah kembali
"Kalau begitu semangat!!! aku akan mendukungmu dan jangan mudah menyerah" Ucap Shinta mengepalkan kedua tangan dan menganggukkan kepala nya
"Jika aku menyerah?" Tanya Zean
Shinta melotot lalu berkata "Jika kau menyerah aku akan memukulmu menggunakan sapu punya bunda"
"Haha... baiklah bocah, terima ini sebagai permintaan terimakasih ku dan untuk pertemanan kita" Ucap Zean memberikan lolipop itu
"Sejak kapan kita berteman?" Tanya Shinta mengerutkan alis nya, sejak kapan dia berteman dengan om om yang usia nya bahkan sama seperti Harun
"Pokok nya kita berteman sejak sekarang, maaf aku hanya bisa memberimu permen ini" Ucap Zean, sekarang dia sedang tidak punya uang untuk memberi barang barang yang lebih mahal
"Tidak apa, aku suka dan jika kau sukses nanti, kau harus membelikan satu judul buku baru untuk ku" Ucap Shinta memberi persyaratan
"Hanya buku?" Tanya Zean memastikan, kecil sekali permintaan itu
"Hanya? meskipun harga nya tidak semahal berlian tapi ilmu di dalam buku itu sangat mahal tau, jangan meremehkan buku" Ucap Shinta mencebikkan bibir nya
"Iya iya, nanti kalau aku punya uang buku itu akan mendarat di kepala mu" Ucap Zean menyanggupi
"Kalau begitu sekarang belajar yang rajin" Ucap Shinta sembari berusaha mematahkan lolipop itu menjadi dua
"Buat apa? kenapa kau mematahkan nya?" Tanya Zean
"Yang berteman dua orang, maka yang makan lolipop juga harus dua orang, tidak adil jika hanya aku yang makan" Ucap Shinta memberikan potongan lolipop berbentuk setengah hati itu pada Zean
"Kau saja, aku sudah dewasa dan sangat menjaga kesehatan gigi" Ucap nya tersenyum
"Kalau begitu mari kita merusak gigi sama sama" Ucap Shinta memberikan permen itu secara paksa
"Rumah mu di mana?" Tanya Zean
__ADS_1
"Beberapa kilometer dari sini, belajar lah yang rajin karena aku juga menunggu buku itu, aku harus pulang" Ucap Shinta kala melihat bunda nya sudah datang dari kejauhan untuk menjemput nya
"Baiklah, hati hati di jalan dan jangan lupa berdo'a" Ucap Zean
"Kau juga kak" Ucap Shinta tersenyum lalu menghampiri sang bunda
"Permen dari siapa?" Tanya nya
"Dari teman bund" Jawab Shinta, semenjak kejadian itu dia memang hanya bicara seperlu nya saja, misal jika di tanya sesuatu
Detik berlalu, jam berubah di ikuti dengan hari, tahun dan perputaran bumi yang masih sama
Zean akhirnya di terima oleh salah satu universitas negeri setelah belajar lebih rajin lagi, semenjak itu pun menfokuskan menjadi mahasiswa lebih penting dari yang lain
Hal itu pula yang menyebabkan keduanya jarang bertemu, karena Zean sibuk dengan materi kuliah nya dan Shinta pun masih kelas enam madrasah
Gadis kecil itu juga harus belajar untuk mendapat nilai yang baik dan masuk ke SMP Islam yang menjadi jenjang berikut nya untuk mencari ilmu
Suatu hari Shinta masuk ke sekolah SMP tempat dia, Jannah, dan Laila yang menimba ilmu di sana
Kebetulan orang tua Laila mempunyai proyek bisnis selama bertahun tahun, maka dari itu Laila pun di sekolahkan di kota J yang memang berbasis pesantren di sana
"Hai para kawan ku" Ucap Laila yang sedari dulu memang heboh
"Hai La.. " Ucap Jannah melambaikan tangan nya, mereka bertiga sedang berada di lapangan di mana pedagang kaki lima berkumpul di sana
"Shin" Panggil Laila menyenggol lengan itu
"Hmm" Jawab Shinta hanya deheman dengan pandangan fokus ke beberapa makanan
"Gak beli es atau minuman apa gitu?" Tanya Laila
"Gak, tadi bawa air minum" Jawab Shinta sembari membeli beberapa makanan saja
Tringgg!!! bel sekolah berbunyi dan itu menjadi kebahagiaan sendiri bagi anak anak
"Aku duluan guys, babay" Ucap Laila di jemput dengan asisten orang tua nya yang biasa memggunakan mobil
"Bay..."
Meskipun keadaan ekonomi mereka bertiga sangat berbeda, tapi hal itu tidak akan bisa membuat pertemanan tulus mereka hancur begitu saja
"Aku juga pulang duluan Shin, deket juga mau jalan kaki aja" Pamit Jannah yang di angguki teman nya
Shinta menunggu Zean yang sebenarnya mau kesini, biasa mereka hanya berbicara sebentar di depan sekolah saja karena kesibukan masing masing
"Zef" Panggil Zean dari kejauhan, pria itu sudah menjadi mahasiswa semester delapan, karena giat belajar dan otak nya cerdas maka ia memangkas waktu belajar selama satu tahun
"Assalamualaikum kak" Sapa Shinta, mereka duduk di bangku namun ada jarak di antara keduanya
"Waalaikumsalam, aku kesini untuk mengunjungi mu, sudah lama bukan?" Tanya Zean
"Iya, dan itu wajar karena belajar lebih penting menurut ku" Jawab Shinta mengerti
"Oh iya, beberapa bulan lagi aku lulus tapi... " Ucap Zean menggantung
"Tapi apa? tapi kau akan pergi jauh keluar kota untuk mencari pekerjaan dan mencoba pengalaman baru di sana?" Tanya Shinta, gadis berhijab putih dan memakai rok panjang berwarna biru itu sudah tahu apa yang akan di katakan kakak nya
"Iya, tebakan mu benar karena ada perusahaan yang menarik ku untuk bekerja di sana, tepat nya di kota Bandung" Ucap Zean membenarkan
Tidak mudah sebenarnya untuk meninggalkan kota J, tapi kesempatan tidak datang dua kali, jika di lakukan dengan serius maka peluang sukses itu akan semakin besar
"Alhamdulillah dong, masih banyak orang yang membutuhkan seperti itu tapi kamu bisa menggapai nya" Ucap Shinta turut bahagia walaupun hati nya merasa sedih
Bukan karena suka atau kehilangan orang yang di cintau, melainkan Zean adalah orang yang mendukung nya, dia sudah tahu soal trauma itu ketika Shinta keceplosan mengungkap semuanya
"Kau tidak sedih?" Tanya Zean mengerutkan kening nya
"Selagi hal itu baik untuk apa aku sedih?" Ucap Shinta mengedikkan kedua bahu nya
"Ada yang kau sembunyikan dari ku?" Tanya Zean dapat melihat raut wajah gadis yang sudah dia anggap sebagai adik
"Orang tua ku akan bercerai" Jawab Shinta
"Hah? kau serius?" Tanya Zean terkejut karena setahu nya ayah Shinta adalah orang yang mumpuni dalam hal agama tapi melakukan perceraian yang jelas di langgar
"Untuk apa aku bercanda? lagian lebih baik seperti ini dari pada bunda ku akan terus tersakiti, aku hanya ingin bunda bahagia" Ucap Shinta sadar jika kedua orang tuanya sudah dewasa dan sudah mengerti mana yang baik mana yang buruk
"Aku berdo'a semoga semuanya baik baik saja" Ucap Zean tersenyum
"Hmm, dan kau juga harus bersyukur dengan apapun yang kamu dapatkan kak, banyak orang yang ingin berada di posisi mu, maka gunakam kesempatan itu dengan baik, tetap rendah hati dan abaikan iblis yang mengajak mu sombong" Ucap Shinta
"Amin... oh iya ini buat kamu Zef, beberapa materi menggambar saat awal awal kuliah dulu, aku harap kamu mau mempelajari nya" Ucap Zean karena dia memgambil jurusan arsitek dan ia memberikan buku itu karena ingin Shinta mengalihkan kesedihan nya dengan membuat karya atau gambar
"Terimakasih, aku akan mempelajari nya dan jangan lupa cari kakak ipar untuk ku ketika kamu di sana kak" Ucap Shint tergelak, dia trauma dengan laki laki tapi hanya dengan Zean lah dia tidak takut dan mampu bercanda bersama pria itu
Flashback end
Begitu lah masa kecil istri nya yang menceritakan dari awal kedekatan dengan Zean yang sudah seperti kakak adik, Reyhan masih ingat bagaimana Shinta bercerita tentang kakak yang selalu mendukung nya
"Kak Rey, jangan bengong dong malah kayak orang kesambet" Ucap ajudan menepuk lengan kiri kakak ipar nya
"Dib, tolong ambilkan aku kertas" Ucap Reyhan
"Oke" Ucap ajudan menyanggupi lalu berjalan di sudut ruangan yang terdapat meja di sana
"Sama pena sekalian, harus yang lancip ya" Ucap Reyhan
"Ck, kau ini timbang bolpoin aja cerewet ya kak" Ucap ajudan geleng geleng kepala tapi juga menuruti perintah sang kakak ipar
"Udah sini" Ucap Reyhan menerima kertas dan pena itu
"Mau nulis apa? ahli waris?" Goda ajudan menaik turunkan alis nya
"Kepo" Jawab Reyhan singkat namun tatapan nya sangat fokus pada secarik kertas itu
Ting!
Handphone Reyhan yang berada di atas nakas berbunyi, entah dari siapa dia juga tidak tahu
"Ada pesan masuk di ponsel mu, kau tidak ingin melihat nya kak?" Tanya ajudan
"Lihat saja" Jawab Reyhan karena dia sekarang sedang fokus dengan catatan kertas itu
"Sandi nya?" Tanya Ajudan
Reyhan mengambil handphone nya, lalu mengetik sandi yang merupakan tanggal pernikahan nya dengan Shinta
Setelah terbuka baru lah dia memberikan handphone itu kembali pada ajudan dan fokus pada tulisan nya
"Wah... ada pesan dari Evan si asisten mu yang melaporkan kalau mereka berhasil menangkap Alina Lee di salah satu apartemen di Osaka, bahkan di sertai foto wanita laknat itu kak" Ucap ajudan membaca pesan dari Evan
Mendengar hal itu Reyhan kembali merebut handphone nya dan membaca pesan dari Evan secara teliti
"Bagus sekali kinerja tim yang kamu pakai kak, oh iya tolong kirim kan foto wanita itu ke nomor ku" Ucap ajudan
"Iya" Reyhan hanya menuruti saja
Ting!
"Bagus, foto nya masuk ke WA ku dan udah ku kirim ke kak Shinta" Ucap ajudan tersenyum
"Shinta punya rencana?" Tanya Reyhan
"Tentu saja, ah... kali ini pasti akan seru kak" Ucap ajudan lagi lagi tersenyum tanpa mengungkapkan alasan nya
"Emang dia mau ngapain?" Tanya Reyhan bingung
__ADS_1
"Kakak lagi menuju gudang, dan tenang saja dia tidak akan pernah membunuh seseorang" Ucap ajudan menenangkan ketika melihat raut khawatir di wajah kakak ipar nya.
Bersambung