
Setelah sepakat untuk memulai membuka cerita nya, mereka berganti piyama dan bersiap siap untuk tidur
Reyhan lebih dulu mengganti dan membersihkan badan nya di kamar mandi, baru setelah itu bergantian dengan istri nya, wajar guys... masih malu malu kocheng:)
Shinta yang baru selesai ganti baju pun kemudian membuka pintu kamar mandi dan menghampiri Reyhan yang duduk bersandaran di ranjang
"Kamu dapat baju ini dari mana mas?" Tanya Shinta memandangi piyama yang sedang dia pakai, baju lengan pendek dan celana panjang, sama dengan milik Reyhan, ya lebih tepat nya piyama kembar berwarna abu abu
"Di beliin mama sayang, kemarin di selipin ke koper" Jawab Reyhan menoleh ke arah istri nya karena memang mama Riana yang membelikan piyama itu
"Ah... mama baik deh" Ucap Shinta tersenyum, tapi sesaat kemudian ia mulai terdiam dan memandangi ranjang milik nya
Dia mulai canggung lagi sekarang, perempuan yang biasa tidur sendiri kemudian sekarang harus berbagi ranjang dan tidur bersama laki laki, meskipun itu suami nya sendiri namun tetap saja canggung langsung menghampiri nya
"Kamu kenapa? sini..." Ucap Reyhan menepuk sebelah nya, Shinta masih diam dan itu membuat Reyhan gemas sendiri jadinya
"Sini" Ucap Reyhan menarik tangan istri nya hingga posisi Shinta terjatuh di atas nya
"Aduh... " Ucap Shinta refleks saat tubuh nya jatuh di atas tubuh suami nya dengan kening menabrak perut Reyhan
*Perut tupperware* Batin Shinta dapat merasakan roti di balik baju suami nya
"Maaf, ada yang sakit?" Tanya Reyhan dengan memegang kedua pipi istri nya
"Pelan pelan dong, kan aku canggung tidur satu ranjang sama kamu" Ucap Shinta mengerucutkan bibir nya dan Reyhan langsung memberi kecupan singkat
"Kebiasaan deh" Ucap Shinta berusaha bangun dari tubuh kekar itu, namun Reyhan justru mempererat dengan memegang pinggang istri nya
"Mas, aku mau duduk loh ini" Ucap Shinta menghela nafas lelah saat usaha nya bangun tidak berhasil
"Katanya mau cerita kan?" Ucap Reyhan mengingatkan dengan tetap memegang pinggang itu
"Ya gak gini juga posisi nya mas" Ucap Shinta protes dengan tangan kanan dan kiri nya berada di dada Reyhan
"Gak mau, aku mau nya kamu cerita tetap dengan posisi ini biar aku bisa liat muka kamu" Ucap Reyhan memberi persyaratan
"Gak sakit apa?" Tanya Shinta dengan melirik ke bawah
"Apanya?" Tanya Reyhan pura pura tidak mengerti padahal dia tau kalau yang dimaksud istri nya itu adalah pusat tubuh nya bagian bawah yang tertindihi badan Shinta
"Gak tau ah, kamu tuh pasti faham" Ucap Shinta enggan menjelaskan
"Iya iya, gak sakit kok... udah sekarang mau cerita atau gak? kalau gak mending kita MP" Ucap Reyhan mengedipkan mata nya dan mendapat balasan cubitan gemas di perut nya dari Shinta
"Aduh... jangan di cubit, nanti kotak nya hilang sayang" Ucap Reyhan terkekeh karena cubitan itu benar benar tidak sakit
"Makanya jangan bahas kesana kesana, kamu mau denger gak sih?" Kesal Shinta
"Aku mau dengerin, serius sayang... kan biar kamu gak tegang cerita nya" Ucap Reyhan ganti mencubit pipi istri nya, Shinta kemudian mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskan nya secara perlahan
"Kamu tau namaku?" Tanya Shinta
"Shinta Putri Askara" Jawab Reyhan enteng
"Ih... bukan itu, berarti bunda belum cerita ya sama kamu?" Ucap Shinta sekaligus bertanya
"Cerita apa sayang?" Tanya Reyhan mengerutkan alis juga kening nya
"Aku punya nama kecil, namaku Azefa Calisya di panggil Zefa" Ucap Shinta mulai menceritakan masa lalu dan Reyhan pun mendengar kan nya dengan serius
Flashback
Jam dua siang, Shinta kecil berambut se pundak yang masih berusia sembilan tahun itu baru saja pulang setelah bermain di rumah teman nya
"Assalamualaikum ayah bunda, Zefa pulang" Ucap Shinta saat membuka pintu utama rumah nya
Krik krik... sepi, tidak ada yang menjawab salam dari nya pun membuat Shinta bingung
"Ayah... bunda... Zefa udah pulang loh, kalian di mana?" Ucap Shinta mencari kedua orang tua nya dengan masuk menyusuri ruang keluarga
"Dimana sih? Zefa tau kok kalau kalian gak suka main petak umpet" Ucap Shinta kesal, kemudian ia melangkahkan kaki nya untuk mencari kedua orang tua nya
Namun, baru saja ia ingin melangkah lebih jauh lagi, telinga nya mendengar suara gaduh di balik lemari yang tidak jauh dari ruang keluarga
Bruakkk!
Shinta sampai terperanjat ketika mendengar seperti ada barang yang sengaja di banting
*Ya Alloh bunda, Zefa takut* Batin Shinta yang takut jika ada penjahat yang masuk ke dalam rumah
Karena rasa penasaran nya yang tinggi, Shinta yang masih kecil pun memutuskan untuk melihat ada hal apa di balik lemari itu
Bugh...bugh...
Kali ini terdengar suara pukulan berkali kali dan itu semakin membuat Shinta penasaran, dengan yakin ia melangkahkan kaki nya untuk mendekat
__ADS_1
"KENAPA KAMU SELINGKUH?" Terdengar teriakan bunda yang seperti sedang marah
"AYAH KENAPA SELINGKUH?" Kali ini ganti teriakan Harun yang menggelengar di dalam rumah
"BUNDA PUNYA SALAH APA SAMA AYAH?" Ganti lagi dengan teriakan Egi yang tak kalah menggelengar
Bugh... bugh...
Karena rasa takut yang melanda, Shinta kecil pun langsung memberanikan diri untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan saat ia sudah benad benar sampai
Tes... air mata gadis kecil sembilan tahun itu langsung runtuh ketika melihat sang ayah yang tengah di hadang oleh kedua kakak juga ibu nya
"Kenapa kamu selingkuh? hmm?" Tanya bunda dengan mata yang merah menujukkan kalau amarah sedang menguasai nya
Bugh... air mata Shinta semakin deras ketika melihat ayah dan kedua kakak nya sedang sama sama melayangkan pukulan
"Udah, jangan di pukul... dia ayah kalian" Ucap bunda berusaha meredakan emosi kedua putra nya
"DIA JAHAT, DIA BUKAN AYAH EGI" Teriak Egi emosi dengan tangan yang mengepal ingin melayangkan tinjuan pada sang ayah
"AYAH SELINGKUH HAH? LEBIH BAIK AYAH PERGI... BIAR HARUN YANG KASIH NAFKAH BUNDA" Bentak Harun juga emosi setelah mengetahui perbuatan ayah nya
"hentikan... Zefa mohon hentikan" Ucap Shinta lirih karena suara nya benar benar hilang akibat air mata yang terus mengalir deras
"APA? AYAH SIBUK NYEMBUNYIIN APA?" Teriak Egi berusaha merebut suatu benda yang di pegang ayah nya dan dia berusaha melindungi benda itu
"BUKTI SELINGKUH? IYA?" Bentak Harun yang masih berusaha merebut benda itu namun tetap saja sang ayah masih saja menyembunyikan nya
"Hiks... Zefa mohon hentikan" Ucap Shinta berdiri dengan air mata yang terus mengalir, bunda dan kedua kakak nya pun sibuk bertengkar sampai tidak menyadari kehadiran nya
Sadar jika kehadiran nya benar benar tidak terlihat, Shinta langsung berlari keluar rumah untuk mencari bantuan agar pertengkaran itu bisa dilerai
"Zefa harus gimana?" Ucap Shinta kebingingan saat dia sudah keluar dari gerbang rumah nya
Tiba tiba Shinta melihat nenek nya yang kebetulan lewat di samping rumah
"EYANG... " Teriak Shinta memanggil nenek nya, ketika yang di panggil sudah menoleh, Shinta langsung berlari menghampiri nenek nya
"Eyang... tolongin eyang" Ucap Shinta menangis dengan memegang kedua tangan nenek nya
"Ngapain kamu nangis?" Tanya nenek nya terkejut ketika wajah cucu nya itu sudah basah dengan air mata
"A-ayah sama bunda be-berantem, tolongin mereka eyang" Ucap Shinta memohon dengan terus menggenggam kedua tangan nenek nya
Setelah mendengar jawaban cucu nya, sang nenek justru melepas kasar tangan Shinta yang menggenggam tangan nya
"Zefa mohon kali ini... aja" Ucap Shinta sampai bersimpuh di depan sang nenek yang menghiraukan nya
"Zefa benar benar memohon eyang... kasihan orang tua Zefa eyang"
"Zefa mohon kali ini tolong jangan benci Zefa dan bantuin Zefa eyang..." Ucap Shinta terus memohon berharap sang nenek akan luluh dan mau membantu nya untuk melerai kedua orang tua nya
"Biarin, mereka udah dewasa buat nyelesain masalah nya sendiri" Ucap nenek nya kemudian berlalu meninggalkan Shinta yang masih menangis begitu saja
"Eyang... hiks"
"Ya Alloh... Zefa harus gimana?" Ucap Shinta lirih bertanya tanya dengan air mata yang mulai deras lagi
Takut jika bunda nya akan terluka, Shinta kemudian menghapus air mata beserta ingus nya dan berdiri kembali masuk ke dalam rumah
Ia melihat barang barang rumah yang sudah berantakan seperti kapal pecah, kemudian dia langsung berlari untuk melihat keadaan di balik lemari
Dan... hal yang sama seperti yang ia lihat tadi, bahkan lebih parah ketika melihat muka ayah dan kedua kakak nya sudah di dapati beberapa luka lebam
"HENTIKAN... ZEFA MOHON HENTIKAN" Teriak Shinta dengan badan yang bergetar, namun tetap saja teriakan nya tidak berpengaruh bagi orang orang dewasa yang sedang di kuasai oleh amarah, tapi tidak dengan Harun yang mendengar teriakan adik nya
"ZEFA KELUAR!" Teriak Harun mendekati adik nya yang justru semakin membuat Shinta takut karena ia tidak pernah mendengar sang kakak berteriak pada nya
"Tapi kakak... ayah sama bun-
"KAKAK BILANG KELUAR!" Bentak harun yang tidak ingin adik nya kenapa napa dan... bentakan nya barusan sukses membuat Shinta berlari dengan menangis kemudian jongkok di depan lemari
"Zefa takut" Ucap Shinta menyandarkan punggung nya di lemari, ia masih mendengar suara pukulan dan teriakan yang semakin menjadi
"Zefa mohon hentikan" Ucap Shinta lirih sambil menutup telinga erat erat dengan kedua tangan nya
"APA AYAH SELINGKUH ITU TINDAKAN BENAR?"
"AYAH BERKALI KALI MELAKUKAN NYA TAPI BUNDA TETAP MEMAAFKAN"
"DAN SEKARANG? AYAH MELAKUKAN NYA LAGI DENGAN ALASAN KHILAF!"
"AKU BENAR BENAR MEMBENCI AYAH"
Bugh...Bugh
__ADS_1
"Hiks, tolong hentikan... Zefa mohon hentikan" Ucap Shinta lirih di sertai tangisan histeris dan badan yang bergetar hebat
"Ya Alloh... hiks, tolongin orang tua Zefa" Ucap Shinta lirih berharap ada keajaiban yang datang dan menghentikan semua nya
Cukup lama Shinta berdiam diri dengan terus menutup telinga nya karena suara teriakan dan pukulan begitu menggema dan membuat kepala nya pusing, hingga...
Bugh... ada satu tonjokan yang mengenai lemari dan, Praaanggg!
"Akhhhh... " Teriak Shinta spontan saat vas kaca yang ada di atas lemari jatuh mengenai telinga nya dan langsung keluar darah segar yang mengalir akibat daun telinga dan pipi yang tertusuk oleh pecahan kaca
"Akhh... sakit, ayah bunda... sakit, tolongin Zefa" Ucap Shinta kesakitan dan badan nya pun ambruk ke samping karena tidak kuat menahan sakit yang dia rasakan sekarang
"Sakit... Zefa mohon tolongin Zefa kakak, abang... "
"Sakit... tolongin Zefa, Zefa mohon jangan benci Zefa" Ucap Shinta lirih dengan pandangan yang mulai buram dan... brukkk! Shinta benar benar menutup mata dengan kondisi pingsan tergeletak tak berdaya disertai darah yang terus mengalir dari pipi nya
Flashback end
Reyhan menggeser tubuh istri nya ke atas agar kepala Shinta tepat berada di dada nya
"Sayang... kalau gak kuat jangan di terusin ya... mas gak tega" Ucap Reyhan yang mengeluarkan buliran bening, kemudian menenggelamkan wajah Shinta di dada nya
Dia tidak menyangka jika masa kecil istri nya benar benar menyeramkan, bahkan dia belum mendengar kisah lanjutan nya pun sampai menangis
"Enggak, aku mau cerita hari ini juga" Ucap Shinta walau dia juga menangis mengingat kejadian saat dia masih berusia sembilan tahun
Shinta mengangkat kepala nya dan menghapus air mata Reyhan, begitu juga Reyhan yang menghapus air mata istri nya
"Yang kuat ya... aku mohon jangan nangis, kamu bikin aku sedih tau gak" Ucap Shinta pada Reyhan yang ada di bawah nya
"Kamu juga jangan nangis" Ucap Reyhan karena dia menangis juga karena masa lalu istri nya
"Gak janji" Ucap Shinta nyengir menunjukkan barisan gigir nya
Shinta kembali mengambil nafas dalam dalam untuk melanjutkan kisah masa lalu nya
"Setelah pingsan, aku tiba tiba tersadar di kamar ku sendiri dengan pipi dan telinga yang penuh balutan perban, kakak dan abang yang juga nemenin di kamar"
"Tapi saat itu pandangan ku benar benar kosong, aku tidak mempedulikan abang maksa aku supaya mau makan, tapi tetap aku tidak mau dan hal pertama yang ku tanyakan itu mana bundaku, kamu tau mereka berdua jawab apa?"
"Mereka bilang bunda lagi pingin sendiri, aku gak boleh ganggu bunda sama sekali, dan... aku kembali menangis ketika tau kalau ayah pergi dari rumah setelah pertengkaran hebat"
"Zefa... seorang gadis kecil yang awal nya ceria pun berubah jadi lebih pendiam, apalagi dengan ayah nya karena meskipun umur nya masih terlalu dini, tapi dia sudah faham apa itu selingkuh"
"Kamu tau dari mana?" Tanya Reyhan karena memang usia Shinta waktu itu masih terlalu kecil
"Aku sering mendengar orang tuaku berdebat tentang selingkuh saat aku tidur, lebih tepat nya aku terbangun karena perdebatan mereka" Jawab Shinta yang diangguki Reyhan, ia tak henti henti nya mengelus rambut sang istri yang berderai air mata dan berbaring nyaman di atas tubuh nya
"Seiring berjalan nya waktu, semua kembali normal walau selalu di iringi dengan pertengkaran kecil, dan... " Ucap Shinta menggantung serta memejamkan mata nya
"Saat umur ku tiga belas tahun, kembali terjadi pertengkaran hebat sampai berujung perceraian antar kedua orang tua ku" Sambung Shinta benar benar membuat Reyhan terkejut, ia tidak menyangka jika mertua nya sempat bercerai dulu
"Ayah bilang, jika secara negara anak anak akan ikut dia karena dia yang akan membiaya i semua kebutuhan anak anak, tapi jika ikut bunda maka bunda lah yang harus menanggung sendiri biaya hidup anak nya"
"Bunda hanya guru honorer yang gaji nya tidak seberapa, dan itu tidak mungkin cukup untuk kehidupan anak anak, akhirnya bunda pasrah bahwa secara tertulis anak anak akan ikut pada ayah tapi aku dan abang akan tetap tinggal sama bunda"
"Ayah yang menyuruh bunda untuk mengajukan gugatan pada pengadilan agama, dan... saat proses perceraian berlangsung, ayah tidak pernah memberi nafkah pada aku juga abang yang masih bersekolah"
"Kamu tau berapa sisa uang yang bunda punya?" Tanya Shinta dan Reyhan menggeleng sebagai jawaban nya
"Seribu lima ratus rupiah, waktu itu aku sampai tidak bisa berangkat sekolah karena sepeda motor hanya satu dan itu sudah dibawa ayah pulang ke rumah orang tua nya sejak gugatan masuk, bunda menyuruh ku menggunakan uang itu jika aku membutuhkan nya, namun aku menolak... aku tidak tega menggunakan uang seribu lima ratus rupiah walaupun aku sebenar nya membutuhkan uang, dan alhamdulillah... aku masih punya uang penghasilan ku sendiri dengan menjual barang barang yang lumayan menguntungkan" Shinta tersenyum ketika dia berhasil membantu ekonomi keluarga nya yang sedang berantakan
"Setelah ketuk palu benar benar terjadi, bunda menjual rumah kami karena harus melunasi hutang yang ada di bank, aku sangat terkejut ketika mendengar kenyataan bahwa keluarga ku memiliki hutang" Reyhan kembali terenyuh ketika mendengar pernyataan dari mulut istri nya
"Aku ingin membantu mencicil hutang di bank agar kami tetap mempunyai rumah, tapi bunda melarang ku... dia benar benar menolak menggunakan uang ku hingga lebih memilih untuk mengorban kan rumah nya sendiri"
"Kami akhirnya mengontrak di sebuah rumah kecil yang mungkin tidak layak huni, lusuh, banyak tikus, tapi tidak apa... aku bisa menerima hal itu selama bunda tinggal bersama ku"
"Meskipun awal nya aku benar benar hancur dan sangat kecewa dengan keputusan orang tua yang bercerai, tapi lama kelamaan aku mampu menerima dengan baik karena aku bisa membayangkan berada di posisi bunda yang di hianati ayah sejak ajudan lahir, ya... ayah berselingkuh ketika adik ku hadir di dunia ini, tentu saja bunda sakit hati karena sudah lama ayah melakukan perbuatan itu, bunda benar benar sakit hati hingga bercerai mungkin menjadi keputusan yang terbaik"
"Dan aku bisa hidup sederhana bersama bunda juga abang, aku bersyukur setidaknya kedua adik ku tidak akan sakit hati karena mereka berdua sudah tinggal di ponpes waktu itu"
Shinta lagi lagi menghela nafas dalam dalam sebelum melanjutkan semua nya
"Dua tahun bunda menyandang status janda... dan apa kamu suatu hari aku kembali sakit hati karena keputusan yang bunda buat" Ucap Shinta
"Kenapa? ungkapkan semuanya jika itu membuat mu lega sayang" Ucap Reyhan dengan air mata mengalir karena kehidupan istri nya yang berlika liku
"Bunda pulang ke rumah dengan kondisi sakit, dan bunda terus bergumam jika ayah yang akan mengantar nya ke rumah sakit, aku menangis... yang bisa aku lakukan hanya membuatkan bubur untuk bunda makan, tapi... apa kamu tau kenapa bunda pulang dalam keadaan sakit waktu itu?"
"Bunda ternyata sudah rujuk dengan ayah tanpa sepengetahuan siapapun, bahkan kami berlima tidak tau sama sekali tentang hal itu" Reyhan sedikit tersentak ketika mendengar hal itu, kenapa bunda nya tiba tiba rujuk tanpa sepengetahuan siapapun
"Karena kondisi bunda yang makin memburuk, aku terpaksa menghubungi ayah dan meminta nya untuk datang ke rumah kontrakan kami, namun ayah justru menolak sampai sampai aku tidak punya pilihan lagi selain meminta bantuan pada tetangga karena abang sedang pergi, dan kakak pun bekerja di luar kota"
Bersambung
__ADS_1
Lama banget review bab ini karena sistem aplikasi sedang eror😌