Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
101.Bunda


__ADS_3

"tante kok bisa tau di bandara mana kalau turun pas kesini?" tanya jannah pada shinta yang sedang fokus dengan jalan raya


"ya pas nanya kapan gue ada waktu kosong itu" jawab shinta


"trus kalau... " ucap jannah menggantung karena dia ragu untuk mengatakan nya


"kalau apa?" tanya shinta


"kalau gue nanti di tanya tanya lagi soal jodoh?" sambung shinta yang sudah tahu pemikiran sahabat nya itu


"i-iya" jawab jannah ragu


"yaudah, jawab kayak biasanya" ucap shinta enteng


"trus kalau tante gak terima jawaban lo?" tanya jannah


"tinggal cari jawaban lain, ibarat hidup kan gak cuman satu jalan, tapi banyak jalan lain dan tergantung kita mau milih yang mana" jawab shinta


"banyak alibi dong" ucap jannah mengerutkan dahi nya


"ya mau gimana lagi? gak papa kali buat alibi demi kebaikan" ucap shinta dengan cengiran khas nya yang membuat jannah geleng geleng kepala


cukup lama waktu tempuh menuju bandara karena dari lokasi mereka juga lumayan jauh, mungkin sekitar 40 menit waktu yang dibutuhkan, di dalam perjalanan jannah seringkali mengomel karena shinta yang menambah kecepatan nya dan menyalip beberapa kendaraaan, bukan tanpa alasan.. tapi jannah takut nanti akan terjadi kecelakaan, sedangkan shinta? dia ngebut karena khawatir dengan bunda nya yang sudah menunggu terlalu lama


"gila lo bukan pembalap ya!" kesal jannah saat mobil yang mereka tumpangi sampai lebih cepat di bandara, tentu saja dengan kecepatan mobil di atas rata rata yang dikemudikan shinta, dari mana dia bisa lihai mengendara dengan kecepatan tinggi? tentu nya hanya dia yang tahu


"kasian kalau bunda nunggu lama" ucap shinta seraya keluar dari mobil nya


"lo gak turun?" tanya shinta melihat jannah masih duduk manis


"tungguin bentar, kepala gue masih pusing" ucap jannah memijat pelipis nya, sedangkan shinta hanya terkekeh melihat jannah yang pusing karena cara menyetir nya tadi


"udah kan?" tanya shinta


"udah, ayo!" jawab jannah yang ikut keluar dari mobil yang mereka parkirkan di area parkir bandara, kemudian masuk di bagian pintu kedatangan


namun saat mereka berdua sampai disana, hanya ada beberapa orang yang tidak mereka kenali, dalam artian tidak ada bunda nya disitu


mereka kebingungan dan celingukan kesana kemari sampai akhirnya memilih untuk berkeliling bandara


*kok ponsel nya gak aktif sih?* batin shinta yang sedang berusaha menghubungi bunda nya


"shin.. gue haus" ucap jannah karena sedari tadi mereka jalan kaki muter muter


"yaudah.. beli minum dulu yuk!" ajak shinta yang diangguki jannah, mereka butuh minuman dingin sekarang


saat mereka sedang ada di restoran yang ada di bandara dan menikmati minuman masing masing, mata jannah menangkap sesuatu yang sangat dia kenal


"shin.. " panggil jannah sambil menyenggol lengan shinta


"hmm?" jawab shinta yang sedang buru buru untuk menghabiskan minuman nya karena dia harus mencari bunda nya lagi setelah ini

__ADS_1


"itu..bukan nya tante?" tanya jannah sambil menujuk wanita paruh baya berusia kepala 50 dan berada di restoran yang sama dengan mereka


"lah.. iya, itu bunda" jawab shinta dengan cepat berdiri dari duduk nya dan menghampiri wanita paruh baya itu


"assalamualaikum" ucap shinta membuat wanita itu menoleh


"eh waalaikumsalam..udah dateng nduk?" jawab wanita itu saat melihat putri satu satu nya ada di depan nya


"udah bun.. maaf shinta lama ya?" ucap shinta kemudian terjadilah drama peluk per pelukan antara dua manusia beda usia itu


"jannah mana?" tanya nya saat melihat shinta hanya sendirian, mendengar nama nya dipanggil, jannah pun ikut menghampiri ibu dan anak yang baru bertemu itu


"apa kabar tan?" tanya jannah dengan menyalimi punggung tangan bunda


"alhamdulillah..sehat wal afiat" jawab bunda tersenyum, mereka akhirnya duduk bertiga disitu tentu nya diiringi dengan perbincangan hangat


"pulang yuk bun, udah selesai kan makan nya?" tanya shinta mengingat diri nya belum menjalankan sholat ashar juga takut kalau bocah yang ada di rumah akan mencari nya


"udah kok" jawab bunda menganggukkan kepala


"tapi kita mampir ke musholla bandara dulu ya?" tanya jannah memastikan dan hanya jawaban anggukan yang dia terima


mereka pun memulai perjalanan pulang, tentu nya setelah membayar makanan juga sholat di musholla..dalam perjalanan, seringkali bunda bertanya apa saja kegiatan mereka berdua, apa lingkungan baru membuat mereka nyaman atau tidak, dan yang bersangkutan pun hanya bisa menjawab dengan baik, apalagi shinta.. dia suka dengan tempat yang ia tinggali sekarang, walaupun belum genap dua bulan tinggal disana


mereka sampai rumah setelah maghrib karena memang perjalanan kembali ke 40 menit yang mana shinta tidak berani ngebut jika sedang membawa orang tua


"ini rumah kamu?" tanya bunda saat mobil yang mereka tumpangi masuk ke halaman depan yang lumayan luas dan rumah yang berbentuk minimalis modern


"masyaalloh..bagus nduk" ucap bunda dengan mata yang berkaca kaca mengingat dulu ayah nya shinta yang melarang keras putri nya untuk keluar negeri, bukan hanya putri nya saja.. namun itu berlaku untuk semua anak nya


"baru pulang non?" tanya pak didi yang baru selesai menutup gerbang


"iya pak, maaf ya pak saya telat.. bapak kan jadi ikut pulang telat" ucap shinta merasa bersalah


"haduh non.. gak papa kok, lagian saya kan gak kerja sendiri, tapi istri saya juga ada disini" ucap pak didi tersenyum


"kalau kangen mah bisa ketemu ya pak?" goda jannah


"betul non" jawab pak didi terkekeh dengan mengacungkan dua jempol nya


saat shinta ingin melangkahkan kaki nya, ada suara melengking yang memanggil nya dan dia sudah tau suara siapa itu


"tante..." teriak bocah berusia lima tahun itu dengan berlari ke arah shinta dan diikuti bi asti yang ikut lari di belakang bocah itu


"tante kok lama pulang nya sih?" tanya sisil dengan nada marah nya, bahkan kedua tangan nya sudah bersedekap di dada


"maaf ya, tadi jemput bunda nya tante dulu di bandara" ucap shinta berusaha menghentikan kegiatan ngambek mengambek yang sedang dilakukan bocah kesayangan nya


"mbah uti?" tanya sisil dengan ekspresi terkejut nya yang lucu bagi shinta, bocah itu tau jika bunda nya shinta itu juga mbah uti nya sendiri


"assalamualaikum cici.. " ucap bunda yang membuat sisil menoleh ke arah nya

__ADS_1


"waalaikumsalam mbah uti... " jawab bocah itu dengan berlari ke arah mbah uti nya


"kangen gak sama mbah uti?" tanya bunda yang mana dia sendiri juga sudah lama tidak bertemu dengan cucu nya


"kangen dong" jawab sisil yang bergelayut manja di gendongan nenek nya dan mulai melupakan shinta


semua hanya tersenyum ketika menyaksikan pertemuan cucu dan nenek itu


"pak, bi.. ini bunda nya shinta" ucap shinta mengenalkan sang bunda pada bi asti juga pak didi


"nyonya-" sapa mereka berdua terhenti saat bunda mengangkat tangan nya


"panggil ibuk aja, jangan nyonya" ucap bunda yang merasa panggilan itu terlalu berlebihan


"baik buk.. " ucap keduanya kemudian mengenalkan nama masing masing, setelah itu mereka masuk dan membereskan barang barang milik bunda yang tentu nya dibantu oleh bi asti juga pak didi yang bertugas mengangkat koper


"non.. kami pulang dulu ya" pamit bi asti saat pekerjaan keduanya sudah selesai


"gak mau nginap aja bi? udah malam loh" tanya jannah yang mana saat ini mereka sedang ada di kamar bawah yang akan menjadi kamar bunda nya


"nanti anak saya nyariin non, dia baru pulang habis ngerjain tugas sekolah" jawab bi asti menolak


"ohh.. yaudah bi, hati hati di jalan ya.. " ucap shinta yang diangguki bi asti


"assalamualaikum.." pamit bi asti yang dijawab semuanya kemudian bergegas untuk pulang ke rumah nya bersama sang suami


"sholat maghrib yuk" ajak jannah yang diangguki semuanya, setelah melaksanakan sholat maghrib berjamaah dengan sisil yang tidak mau ketinggalan


mereka berganti baju dengan baju rumahan masing masing kemudian bersantai di ruang keluarga dengan perbincangan hangat layak nya keluarga pada umum nya, apalagi sisil yang banyak bercerita pada mbah uti nya, tapi kemudian..


"itu siapa ci?" tanya bunda pada bocah berusia lima tahun itu saat melihat sebuah pigora kecil yang berada di meja ruang keluarga


"ini mbah uti?" tanya sisil balik dengan mengambil pigora itu


"iya sayang" jawab bunda membenarkan dan melihat foto yang ada di pigora pegangan sisil dengan seksama


"hati hati.. nanti pecah sayang" ucap jannah mengingatkan yang diangguki bocah itu


"ini sisil..ini tante, ini tante jannah, om adib.. om ren..sama ini om ganteng" ucap sisil mengenalkan orang yang ada di foto itu satu persatu, ya.. foto itu adalah foto saat mereka makan di warung tenda kemarin, siapa yang membingkai foto itu? tentu saja sisil yang memintanya..bocah itu merengek agar shinta mau membingkai foto itu


"om ganteng?" ucap bunda nya shinta heran dengan panggilan sisil pada orang yang ada di foto itu yang tak lain dan tak bukan adalah panggilan untuk reyhan


"iya.. om ganteng" ucap sisil membenarkan


"om ganteng siapa sih nduk?" tanya bunda binging


"ha? apa bun?" tanya shinta balik karena sedari tadi dia tidak fokus dengan pembicaraan antara cucu dan nenek itu


"om ganteng kata sisil itu loh siapa?" tanya bunda lagi, kemudian shinta mulai menyadari bahwa mereka sedang membahas foto malam itu


lalu shinta melirik ke arah jannah untuk meminta pendapat tentang apa yang harus dia jawab sekarang?, sedangkan yang dilirik pun juga ikutan bingung harus menjawab apa

__ADS_1


bersambung


__ADS_2