
Ia menelisik pesan itu lebih dalam lagi, tapi bukan keyakian atau percaya pada suami yang ia dapat, melainkan hati nya yang makin remuk hingga enggan menatap itu lagi
"Haha... kamu gak mungkin ngelakuin ini kan?" Ucap Shinta dengan mata berkaca kaca, oh... ayolah, baru saja dia merasakan kebahagiaan atas kehamilan nya
"Bu... ibuk kenapa?" Tanya bibi yang sedang mengepel lantai dan tanpa sengaja mendengar tawa sinis majikan nya dari dalam kamar
"Saya gak papa bi" Sahut Shinta mengusap air mata nya, dia tidak boleh percaya dengan pesan itu sekarang, dia harus menanyakan langsung pada suami nya
Mr. Suami
π© : "Udah sampai mana?" Shinta memgirimkan pesan dengan cepat karena tidak sabar untuk mengetahui kejelasan nya
π© : Masih setengah perjalanan sayang, nanti habis sholat isya' pak Jojo mau jemput kamu
π© : "Kemana?" Shinta memang belum mengetahui tentang hotel tadi
π© : Hotel xxx, ada acara peresmian sebentar dan sekalian aja kita menginap di sana, besok kamu libur kan
Shinta tidak membalas lagi, ia menaruh ponsel nya di atas nakas dan mendongak memandangi langit langit apartemen
*Aku berusaha percaya pada cinta, kalau memang terbukti kamu bermain gila di belakang ku, aku benar benar akan meninggalkan mu, aku akan meninggalkan sesuatu yang membuatku sakit* Batin Shinta dengan memejamkan mata, tanpa sadar air mata nya kembali keluar
Hanya sebuah nomor tidak di kenal yang mengirimkan foto saja sudah membuat hati nya sakit, apalagi jika hal itu benar terjadi dan Reyhan mengakui nya? kata naudzubillah selalu bergumam dari mulut itu
Sekarang yang dia lakukan hanya bisa berdo'a dan menunggu jam menunjuk angka 7, semakin cepat waktu berlalu maka semakin cepat pula dia mengetahui kebenaran nya
πΈπΈπΈ
Malam menghampiri, Shinta mengirim pesan pada pak Jojo agar tidak perlu menjemput nya, dia mau berangkat sendiri dan memastikan semuanya sendiri
"Saya pergi dulu bi, tolong kalau saya tidak ada, pastikan apartemen dalam keadaan bersih" Ucap Shinta membawa kunci mobil dan tas selempang tersampir rapi di pundak nya
"Emang ibuk mau kemana? kok matanya merah?" Tanya bibi khawatir, pasal nya jika menitipkan apartemen dan pergi berhari hari pasti Shinta akan bicara seperti itu
"Hmm? saya cuman mau ketemu suami saya bi" Jawab Shinta menahan agar bibir nya tidak bergetar, padahal mata dan hidung nya pun sama sama berwarna merah, semua orang yang melihat pun pasti tahu kalau dia habis menangis
"Buk... saya khawatir kalau ada apa apa, jangan pergi tanpa pak Jojo ya buk" Ucap bibi itu memohon, perasaan nya benar benar tidak enak sekarang
"Saya hanya sebentar bi, insyaalloh tidak akan ada apa apa" Ucap Shinta berusaha tersenyum lalu melepas tangan bibi yang menggenggam erat tangan nya
Shinta keluar dari apartemen dengan tergesa gesa, bahkan dia ampai menyetir dengan ketepatan tinggi agar cepat sampai di hotel yang di maksud suaminya
"Kenapa kamu lamban sekali? hah?" Ucap Shinta kesal pada mobil nya kali ini, dia sudah menambah kecepatan namun tetap saja lima menit tidak akan mungkin bisa menempuh hotel yang dia tuju
Ingin sekali dia melupakan emosi nya kali ini, namun sebelum mengetahui yang sebenar nya, Shinta harus dapat menahan segala rasa yang ada di dalam dada, meskipun hati nya remuk tapi ia harus dan wajib menahan segala emosi nya
Ibarat mendapat berita abu abu, yang belum mendapat konfirmasi dari pihak tersangkut, hati nya yang masih sayang dan terpaut, tentu saja menahan sakit dan rasa yang tak terbendung
Beberapa menit menjadi pembalap dadakan, sampai lah dia di hotel, lalu masuk ke loby yang ternyata sudah ada Evan berdiri tegak di sana
"Assalamualaikum... malam bu bos" Sapa Evan dengan senyum ramah nya
"Waalaikumsalam" Jawab Shinta singkat sembari menganggukkan kepala nya
"Ini kunci kamar nya bu, pak bos masih di aula dan sebentar lagi juga selesai" Ucap Evan memandangi wajah istri bos nya yang nampak sedih kali ini, bahkan mata nya pun terlihat sembab
*Mau ketemu suami kok malah sedih ya?*
"Iya pak, terimakasih" Ucap Shinta datar sembari menerima kartu kamar itu dan pergi ke lantai yang tertera
"Pak... saya benar benar gak ada niatan jadi pebinor loh, saya do'akan tida ada masalah yang terjadi di antara kalian" Gumam Evan memutuskan kembali masuk ke aula setelah memberikan kunci kamar tadi
Shinta membuka pintu kamar hotel, selalu lengkap dan mewah fasilitas nya, apalagi interior indah yang menyejukkan mata
Tapi bukan itu hal yang Shinta inginkan, dia hanya ingin cepat bertemu suami nya dan menanyakan suatu kebenaran, dia duduk di pinggir ranjang dan menunggu sampai sang suami benar benar ada di hadapan nya
Ia melirik jam yang menunjukkan angka setengah delapan, sebentar lagi suami nya pasti akan masuk karena dia hanya memghadiri sebentar saja
"Aku mohon... tolong bilang kalau ini hanya kebohongan belaka, aku mohon, aku mohon mas" Gumam Shinta memejamkan mata dan tangan nya meremas sprei putih itu dengan kuat
Ceklek!
"Assalamualaikum sayang" Terdengar knop pintu terbuka dan suara Reyhan di sana, sudah jelas kalau ia membawa kunci satu nya
__ADS_1
"Waalaikumsalam" Jawab Shinta datar lalu membalikkan badan untuk menghadap suami nya
Reyhan menutup pintu dan berjalan cepat menuju istri nya, hati nya sangat rindu pada wanita yang sudah lima hari tidak bertemu dengan nya, meskipun sering mengabari tapi itu tidak akan bisa mengobati kecuali bertemu secara langsung
Begitu pula Shinta yang berdiri dari duduk nya dan mengamati sang dari atas sampai bawah, perawakan nya masih sama, tegas dan dingin, ada rasa rindu pula di hati nya, bahkan sangat rindu
Tapi kenapa takdir mempertemukan mereka dalam keadaan seperti ini? ketika ia sudah bahagia akan memberi kejutan pada suami saat selesai bertugas, namun kenapa masalah justru muncul sekarang? hingga menyebabkan rindu yang tertanam pun tertutupi oleh rasa sakit hati nya
Reyhan memeluk erat istri nya, mengecup seluruh wajah itu dan membenamkan kepala sang istri di dada nya
"Gimana kabar kamu sayang? baik baik aja kan selama aku gak ada di rumah?" Tanya Reyhan mengelus kepala yang tertutup hijab itu
"Emm" Hanya itu yang Shinta jawab, bahkan ia masih tidak bisa membalas pelukan suami nya
"Kamu gak kangen sama suami mu yang tampan ini?" Goda Reyhan karena sang istri mendiamkan pelukan nya
"Aku mau nanya sama kamu" Ucap Shinta melepaskan tangan Reyhan dari pinggang nya
"Nanya apa sayang? soal proyek alhamdulillah udah lancar kok"
"Jawab aku dengan jujur, apa kamu selingkuh?" Tanya Shinta to the point
Deg! Reyhan terkejut mendengar nya, kenapa saat dia pulang istri nya justru bertanya hal yang tidak tidak
"Kamu bercanda ya sayang? aku gak selingkuh dan kata itu gak pernah ada di kamus hidup ku" Jawab Reyhan berusaha santai menghadapi istri nya
"Oh iya? kamus hanya lah kata, tapi pembuktian selalu yang terpenting bukan?" Ucap Shinta datar namun mengandung arti yang mendalam
"Kamu kenapa sih? aku baru pulang jangan ngomong yang aneh aneh yang, selingkuh atau apapun itu gak pernah aku laku in" Ucap Reyhan yakin dengan menggenggam tangan yang lebih kecil dari nya
"Kalau gitu ini apa?" Tanya Shinta mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan menunjukkan satu foto pada suami nya
Di situ ada satu foto yang menunjukkan Reyhan sedang tidur satu selimut dengan perempuan lain, bahkan Shinta juga tahu kalau ranjang yang mereka gunakan adalah kamar yang berada di office tell milik suami nya
Meskipun disitu suami nya masih memakai kaos putih yang biasa di kenakan untuk tidur, tapi perempuan di sebelah nya? dia hanya memakai bahthrobe dengan rambut basah seperti baru mandi, bahkan sampai menyenderkan kepala itu di pundak suami nya
"Apa?" Reyhan refleks terkejut dan membelalak kan mata nya, bagaimana bisa? bagaimana bisa foto itu berada di ponsel istri nya?
"Apa? kamu pura pura kaget atau gimana?" Tanya Shinta, mata nya udah berair dan sebentar lagi pasti akan menangis
"Kamu gak tahu? bahkan kalau kamu tidur pasti mudah terbangun, tapi kenapa ini kamu terlihat menikmati sekali? hah? jawab aku!" Ucap Shinta menepis tangan suami nya
"Sayang, aku bersumpah kalau aku gak tahu tentang foto itu sama sekali" Ucap Reyhan berusaha meyakinkan istri nya
Pulang kerja ingin bertemu dan kangen kangenan dengan sang istri, namun justru masalah baru yang mereka dapat kan
"To the point aja, laki laki ini kamu atau bukan?" Tanya Shinta dengan mata memerah dan menunjukkan ponsel nya semakin dekat
Reyhan masih diam, jelas dia tidak bisa menjawab karena terlihat kalau foto itu bukan rekayasa, bahkan sangat jelas kalau dia memang tidur di sana
"Kenapa kamu diam? tolong jawab aku" Kedua kali nya Shinta bertanya namun suami nya masih diam tidak bergeming
"TOLONG JUJUR DAN JAWAB AKU!" Ucap Shinta menaikkan nada bicara nya satu oktaf, baru kali ini ia bicara sekeras itu pada suami nya
"IYA" Jawab Reyhan singkat namun tegas
"Alloh..." Gumam Shinta merasakan kaki nya lemas seketika, ia pasti akan jatuh di lantai kalau Reyhan tidak mendekap tubuh nya
Jawaban kata 'Iya' berputar di kepala nya, hati nya yang sudah remuk pun bertambah hancur kala mendengar jawaban itu, jawaban yang ia inginkan namun juga membuat nya sakit hati, harapan nya tentang kebaikan pun berbalik menjadi sebuah kenyataan yang menyakitkan
Tes! air mata itu keluar, bukan air mata keraguan lagi namun sudah menjadi air mata kesedihan, kecewa karena perkataan suami nya yang membenarkan pertanyaan nya
"Lepas, aku gak mau dekat sama kamu lagi" Ucap Shinta menggelengkan kepala dan memundurkan langkah nya
"Sayang, aku tahu aku salah tapi aku mohon, beri aku kesempatan" Ucap Reyhan mendekat namun membuat istri nya semakin jauh
"Enggak! susah payah aku percaya sama kata cinta, percaya dengan semua yang kamu katakan, tapi ini balasan yang aku dapatkan?" Ucap Shinta di sertai tangis nya yang makin menjadi jadi
"Sayang, aku gak tahu kenapa bisa ada foto itu yang, demi Alloh aku gak tahu" Ucap Reyhan kekeh
"Kamu tahu kalau aku akan meninggalkan sesuatu yang membuatku sakit bukan? dan kamu udah pasti tahu jawaban nya" Ucap Shinta mengambil tas nya yang berada di atas ranjang kemudian ingin berjalan menuju pintu
"Gak, kamu gak boleh pergi" Ucap Reyhan membawa tubuh sang istri ke dalam dekapan nya
__ADS_1
"Hua... lepas! lepasin aku, aku benci sama kamu" Ucap Shinta meronta kan badan nya dengan kuat, tapi tetap saja semakin kuat ia meronta maka semakin kuat pula dekapan suami nya
"Aku mohon jangan pergi sayang, jangan tinggalin aku" Ucap Reyhan di sertai air mata nya yang ikut keluar, bodoh memang, bodoh sekali dia yang sudah menyakiti istri nya
"Kamu melarang ku pergi, tapi kamu sendiri yang membuat aku pergi" Ucap Shinta ketus dan tetap berusaha membebaskan tubuh nya
"Gak sayang, kamu gak boleh pergi, pokok nya gak boleh pergi" Ucap Reyhan menggeleng kepala nya, dia mencintai istri nya, tidak mungkin ia membiarkan wanita itu pergi dari hidup nya
"Jangan egois kamu mas, kamu hanya peduli dengan perasaan mu sendiri, tanpa tahu bagaimana perasaan ku sekarang" Ucap Shinta
Deg! Reyhan tertampar dengan kata kata barusan, ia tahu kalau ia memang bersalah karena telah menyakiti istri nya, tapi tetap saja dia mencintai dan tidak ingin sang istri pergi dari kehidupan nya
"Sayang, aku bersumpah aku juga gak tahu gimana bisa foto itu ada di handphone kamu" Ucap Reyhan lagi lagi berusaha membela diri nya
"Oh... jadi maksud nya kamu berniat menyembunyika hal ini kan? andai aku gak tahu foto ini maka permainan gila kamu tetap terlaksana, iya kan?" Sinis Shinta berkali kali memukul lengan kekar itu agar melepaskan dekapan nya
"Bukan gitu sayang, aku gak ada niatan sama sekali untuk selingkuh dan menghianati kamu" Ucap Reyhan, pukulan itu tidak seberapa di banding rasa sakit hati istri nya sekarang
"Hah? gak ada niatan tapi kamu melakukan nya" Ucap Shinta tersenyum miring, saat Reyhan lengah dan tubuh nya terlepas, Shinta dengan cepat mengambil langkah untuk keluar kamar, namun
"Aaa... lepas! barin aku pergi, kamu jahat" Ucap Shinta semakin meronta kala tubuh nya sudah melayang dan berada di gendongan suami nya
Langkah Reyhan memang lebih besar hingga ia bisa menggapai istri nya terlebih dahulu sebelum keluar kamar
"Gak, aku gak akan pernah biarin kamu pergi sayang" Ucap Reyhan membaringkan tubuh iti di atas ranjang dan mengukung nya
"Mau apa kamu? jangan macam macam!" Ucap Shinta menyilangkan tangan nya di atas dada
Reyhan tidak menjawab, ia melepas hijab yang menutupi mahkota istri nya, mahkota yang selama ini hanya di tunjuk kan pada nya
"Jangan sentuh aku, aku jijik sama kamu" Ucap Shinta sekuat tenaga mendorong dada suami nya, tapi kekuatan laki laki itu jauh lebih besar hingga tenaga nya tidak sebanding dan tidak ada arti nya
"Sayang... aku mohon" Reyhan menangkup wajah cantik itu, menyatukan hidung mereka dengan air mata yang sama sama keluar "Demi Alloh aku gak pernah merasa selingkuh sayang, aku gak pernah menghianati pernikahan kita, bahkan sekedar terlintas di pikiran pun gak ada sama sekali"
"Kamu menyangkal tapi kamu mengaku kalau pria di foto itu memang kamu kan, untuk apa lagi kamu menyangkal?" Ucap Shinta datar
"Aku hanya ingin kamu tahu kalau aku gak pernah selingkuh sama siapapun" Ucap Reyhan
"Dari pengalaman ini hanya satu kenyataan yang dapat aku ambil, kamu dan ayahku ternyata sama saja" Ucap Shinta, pandangan nya sudah kosong dan tidak tahu ingin bicara apa lagi
"Aku berbeda sayang, aku dan ayah kamu sangat berbeda" Ucap Reyhan perlahan menanggalkan pakaian mereka, walau istri nya menolak kuat, namun Shinta sudah tidak bertenaga, terlihat dari tubuh nya yang lesu dengan pandangan entah kemana
Andaikan bela diri di halalkan sekarang, namun tetap saja dia sangat menghindari kekerasan dalam rumah tangga entah apapun situasi nya, dia juga takut dosa apabila melakukan jurus bela diri andalan nya pada suami
"Apapun itu masalah ranjang tidak akan bisa menjadi solusi untuk ku" Gumam Shinta tepat di telinga sang suami saat kegiatan panas itu berlangsung, walaupun Reyhan melakukan nya dengan hati hati dan pelan seperti biasa, tapi ia tidak menikmati, dia hanya diam menahan semua nya sampai menunggu waktu untuk pergi
πΈπΈπΈ
Jam 3 pagi Shinta terbangun, dia melihat Reyhan yang masih tertidur pulas di samping nya
"Ya Alloh... ternyata kemarin bukan lah mimpi" Gumam Shinta memejamkan mata, mengingat pertengkaran yang terjadi tadi malam
Dengan cepat ia bangun dan turun dari ranjang, lalu memungut baju yang Reyhan lempar sembarangan dan segera menggunakan nya kembali
"Aku tahu pergi tanpa izin adalah hal yang salah, tapi aku hanya ingin pergi sebentar, menenangkan diri ampai aku benar benar siap bertemu dengan mu kembali" Gumam Shinta menatap suami nya nanar, hati nya merasa di cubit saat ia harus mengambil langkah untuk pergi
*Hai sayang... tolong temani ibumu ini ya, untuk sekarang memang dia belum mengetahui tentang keberadaan kamu, tapi ibu berjanji nanti kamu juga akan tahu siapa papa kamu sayang* Batin Shinta mengusap perut nya sendiri dengan air mata kembali mengalir, ia mengambil ponsel Reyhan lalu meletakkan itu kembali dan keluar dari kamar setelah mengusap rambut suami nya
Shinta keluar dari loby hotel dan berjalan di tepi jalan raya, sekarang dia bingung ingin pergi kemana
Jika ke rumah mertua itu tidak mungkin dia lakukan, pulang ke rumah nya sendiri pun juga tidak bisa karena ada ajudan di sana, hal yang ia pegang adalah masalah rumah tangga masalah berdua, dia tidak akan mau melibatkan atau tidak akan membiarkan orang lain mengetahui aib rumah tangga mereka
"Bunda, apa ucapan bunda dulu memang terwujud sekarang?" Ucap Shinta bertanya tanya dengan sendu
Dia yang awal nya menatap jalan raya kini mulai pusing, kejadian yang membuat nya trauma mulai bermunculan, kepingan kepingan ingatan buruk menghantui pikiran nya
Di tambah dengan pertengkaran tadi malam, pusing yang di rasakan pun semakin parah sampai sampai dia bingung ingin menghadap kemana, "Ayah selingkuh" "Kamu jahat mas!" "Tolong jangan benci Zefa" "Bunda... tolong percaya sama Zefa" beberapa ucapan itu terus terngiang ngiang di ingatan yang membuat kepala nya merasa seperti ingin pecah
"Alloh... Alloh... sesungguhnya hanya engkau yang tahu semua kehidupan hamba mu ini" Guman Shinta memejamkan mata, kali ini bukan air mata yang mengalir, namun di ganti dengan darah segar keluar dari hidung nya, dada terasa sesak bahkan sangat sakit, pandangan mata pun mulai kabur dan
Brukkk!!!
"Alloh... "
__ADS_1
Bersambung
Konflik baru? yes, dan tujuan nya? untuk menyadarkan salah satu karakter