Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
70.Janji


__ADS_3

"tunggu, maksud mama gimana sih?" tanya reyhan bingung


"ya mama nggak setuju re" jawab mama riana tetap dengan senyum ala seorang ibu yang meneduhkan


"mama jangan bikin re pusing, jelasin ma! maksud mama apa?" tanya reyhan lagi, sedangkan shinta hanya diam sambil menyimak obrolan ibu dan anak itu


"mama setuju kalau shinta jadi pasangan kamu" jawab mama riana


hufttt


mereka berdua yang mendengarnya tentu saja menghela nafas lega


"trus maksud mama gak setuju?" tanya reyhan


"mama belum setuju kalau kamu jadi pasangannya shinta re" jawab mama riana


"ha?" pekik reyhan kaget


"jadi maksudnya mama setuju kalau shinta jadi pasangannya re, tapi mama gak setuju kalau re jadi pasangannya shinta?" tanya reyhan yang mulai mengerti


"iya, bukan mama gak setuju, tapi masih belum setuju" jawab mama riana membuat shinta terkekeh geli


"jadi mama meragukan anak mama sendiri?" tanya reyhan heran


"ya iya lah, mama masih ragu sama kamu" jawab mama riana


huftt


helaan nafas pelan dari reyhan terdengar jelas


"trus re harus gimana?" tanya reyhan


"yakinin mama kalau kamu memang serius sama shinta, buktikan semuanya dengan tindakan, jangan hanya dengan ucapan" jawab mama riana


"dia itu sudah mama anggap seperti anak gadis mama sendiri, sebelum dia jadi istri kamu, mama sendiri yang akan memastikan kalau kamu memang pasangan yang tepat untuk anak gadis mama" sambung nya


*mama ada ada aja* batin shinta terkekeh


"mama sayang banget ya sama shinta?" tanya reyhan


"iya dong" jawab mama riana


"yaudah, re akan buktikan semuanya sama mama, demi mendapat restu mama" ucap reyhan lembut


*biasanya laki laki harus meyakinkan hati calon mertua, tapi aku malah harus meyakinkan hati mama ku sendiri* batin reyhan menggelengkan kepala


"mama akan tunggu pembuktian dari ucapan kamu" ucap mama riana


"kalau sampai kamu melukai nya sekali saja, mama sendiri yang akan mencincang dan menggantung tubuh kamu di atas menara tower listrik" sambung nya


"kenapa gak di menara eiffel aja ma?" tanya shinta terkekeh

__ADS_1


"terlalu elegan, mending di tower listrik yang ada di sawah itu" jawab mama riana enteng


reyhan yang mendengar obrolan keduanya hanya mencebik kesal, namun tidak dapat dipungkiri kalau hati nya juga senang melihat interaksi mama nya dengan gadis pujaan hati nya yang sudah seperti mama dengan anak kandung nya sendiri


"tapi re, kemarin muka kamu ada luka lebam itu kenapa?" tanya mama riana mengingat kejadian kemarin malam sewaktu reyhan pulang dari rumah shinta


"habis baku hantam ma" bukan reyhan yang menjawab, melainkan shinta dengan nada pelan nya, takut sisil mendengar semuanya


"astaghfirullah, baku hantam sama siapa?" tanya mama riana heran


"sama ajudannya shinta" jawab reyhan malu karena mengingat dia yang sembarangan menghantam orang


"maksdunya adik kamu itu?" tanya mama riana


"iya ma" jawab shinta terkekeh


"kok bisa?" tanya mama riana


"jadi ajudan itu meluk shinta ma, eh dia langsung di tonjok sama kak rey" jawab shinta


"pasti waktu itu re kemakan cemburu, trus langsung nonjok aja karena gak tau kalau dia itu adik kamu, iya kan?" selidik mama riana


"pfft.. bener banget ma" jawab shinta menahan tawa


"re.. re, kamu itu apa apa di pastikan dulu, pasti makin susuah buat kamu supaya dapetin restu dari adik nya" ucap mama riana sambil menatap reyhan yang tengah menahan malu


"dapet restu dari mama sendiri aja susah, apalagi dari adik nya shinta" ucap reyhan berniat menyindir mama nya


"iya mama ku.." ucap reyhan yang juga tau akan hal itu


*tunggu, kalau shinta itu anak gadis yang selalu mama ceritakan selama ini, itu artinya mama tau dong semuanya tentang shinta termasuk trauma dia?* batin reyhan bertanya tanya


"kamu ngelamunin apa kak?" tanya shinta melihat ekspresi reyhan


"gak papa kok" jawab reyhan dengan senyum nya


"kok manggil kakak?" tanya mama riana


"lebih tua kak rey ma" jawab shinta


"tuh re, lebih tua kamu, sekarang mama jadi lebih ragu" ucap mama riana bercanda


"ma.. " pekik reyhan


"hahaha" semua hanya tertawa melihat reyhan yang seperti nya sudah kesal setengah mati


"sisil kok ikut ketawa? emang sisil ngerti?" tanya shinta saat melihat sisil yang ikut tertawa barusan


"eggak tante, semua orang ketawa, yaudah sisil ikut aja" jawab sisil dengan polos nya yang membuat semua orang tersenyum mendengar jawaban nya


selesai makan juga berbincang, mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah semakin malam, dan dalam perjalanan reyhan menanyakan beberapa hal pada shinta

__ADS_1


"mama cerita apa aja tentang aku?" tanya reyhan dengan pandangan lurus ke depan


"banyak kak" jawab shinta ambigu


"apa aja?" tanya reyhan penasaran


"katanya kamu itu tampan, humoris, ramah, murah senyum, dan... " jawab shinta menggantung


"dan apa?" tanya reyhan


"dan gampang berteman" sambung shinta dengan senyum mengembang


"kenapa yang kamu katakan itu kebohongan semua?" tanya reyhan karena apa yang diucapkan shinta tadi beda 180 derajat dengan sifat aslinya


"hahaha, maaf, tapi ada satu yang gak bohong" ucap shinta di iringi gelak tawa nya


"apa coba?" tanya reyhan karena dia sendiri sudah tau jawaban nya


"tampan kan?" ucap shinta menaik turunkan alis nya


"akhirnya.. kamu mengakui kalau aku tampan" ucap reyhan tersenyum


"mata ku masih normal kali kak" ucap shinta terkekeh


"hubungan kita ini disebut apa ya?" tanya reyhan bingung


ntahlah hubungan mereka ini dsebut apa, tidak pernah menyatakan pacaran, tidak pernah sepakat untuk komitmen, hanya saling jujur dan mengungkapkan perasaan masing masing, author pun bingung mau nyebut mereka apa


"aku gak membutuhkan ikatan atau komitmen apapun, yang penting perkataan dan perlakuan harus sama, dengan kita saling jujur atas perasaan masing masing, itu sudah cukup bagiku" ucap shinta sambil mengelus kepala sisil yang tidur di pangkuan nya


"kenapa seperti itu?" tanya reyhan karena setau nya, wanita itu butuh ikatan


"pacaran ataupun komitmen tidak bisa membuktikan apapun, jika menjalani pacaran maupun komitmen, tapi salah satu di antara mereka melanggar hal itu, maka sama saja dengan berhianat bukan? jika sudah seperti itu artinya perjanjian dalam komitmen maupun pacaran juga tidak ada gunanya" ucap shinta yang memang ada benar nya


"iya juga sih" ucap reyhan membenarkan


"kamu tau kenapa menurutku hal seperti itu gak membuktikan sesuatu?" tanya shinta


"enggak, kenapa memangnya?" tanya reyhan balik dengan tangan yang masih memegang kemudi


"karena janji di atas pacaran maupun komitmen itu tak seindah sama janji di buku nikah mu yang sah di mata agama juga negara" jawab shinta tersenyum


deg


reyhan merasakan hatinya yang bergetar ketika mendengar penuturan shinta


_________


benar kan apa kata shinta?


~janji terbaik adalah janji buku nikah yang sah secara agama juga negara, bukan janji yang mengatasnamakan sebuah pacaran atau komitmen an:v

__ADS_1


__ADS_2