Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
108.Memanggang


__ADS_3

"Sialan lo rey kesini duluan gak ngajak gue" Setelah berbicara seperti itu, Rendra terdiam karena melihat ada banyak orang di ruang tamu termasuk bunda nya Shinta, bisa bisa nya dia mengumpat di depan orang tua


"Waalaikumsalam" Jawab semua orang yang ada di ruang tamu karena Rendra memang sempat mengucapkan salam sebelum mengumpat tadi


"Eh tante" Ucap Rendra dengan menunduk sopan


"Dia Rendra bun" Ucap Shinta memberi tahu sang bunda


"Oh nak Rendra ya? sini masuk aja" Ucap bunda menyuruh Rendra untuk bergabung bersama mereka


"Rendra tante..." Ucap Rendra sambil mencium punggung tangan bunda yang dibalas senyuman kemudian dia duduk di samping Reyhan


"Sialan banget lu ninggalin gue" Kesal Rendra dengan suara lirih nya agar tidak terdengar oleh yang lain nya


"Bodo" hanya itu yang keluar dari mulut Reyhan dengan tampang datar nya


"Bun, adib ke atas dulu" Ucap ajudan yang ingin mengambil alat yang akan mereka gunakan barbeque nanti


Adzan sholat isya' berkumandang, mereka kembali melaksanakan sholat berjamaah di musholla komplek


"Huh... capek juga ya jalan dari sini ke musholla" Ucap Jannah saat mereka semua baru sanpai di rumah dan berkumpul di taman yang ada di halaman rumah


"Lo kira" Ucap Shinta terkekeh


"Tante" Teriak Sisil, ya... bocah itu baru saja selesai sholat isya' di rumah dengan bi Asti, pak Didi juga bunda


"Sini sayang" Ucap Shinta melambaikan tangan nya dan dibalas Sisil dengan duduk di pangkuan Shinta


"Hai om... " Sapa Sisil melambaikan tangan ke arah ketiga om nya, siapa lagi kalau bukan Reyhan, Rendra, dan ajudan yang dibalas senyum kompak oleh mereka bertiga


Di depan mereka sudah ada alat pemanggang, beberapa daging, beberapa macam sayuran, dan roti burger lengkap dengan keju slice yang sebelumnya sudah di tata bi Asti tadi


"Tante mau ke dalam dulu... Sisil disini aja ya" Ucap Shinta yang diangguki bocah itu kemudian dia juga Jannah masuk ke dalam karena ingin mengambil bumbu yang akan mereka gunakan nanti


Sesampainya dapur, Shinta juga Jannah melihat adanya bunda dan bi Asti disana yang sedang menyiapkan beberapa camilan


"Shinta bantuin ya" Ucap Shinta mengambil nampan di meja dapur yang penuh dengan macam macam camilan

__ADS_1


"Loh... udah pulang?" Tanya bunda heran pasalnya dia belum tahu kalau para anak muda sudah kembali dari musholla


"Udah kok bun" Jawab Shinta dengan menyunggingkan senyum tipis nya


"Tinggal ini aja tan?" Tanya Jannah dengan menunjuk nampan satu nya lagi


"Iya, tadi udah dibawa kesana semua" Jawab bunda


"Yaudah biar Jannah aja yang bawa" Ucap Jannah mengambil nampan yang satu nya lagi


"Biar bibi aja loh non" Ucap bi Asti yang merasa tidak enak karena itu juga merupakan tugas nya


"Gak papa bi, biar kita aja" Ucap Shinta kemudian mengajak mereka semua untuk keluar dan menikmati malam ini bersama


Disinilah mereka semua berada, di taman halaman rumah Shinta yang sudah ada beberapa kursi dan meja juga sebuah tikar yang membentang


Para laki laki, Reyhan, Rendra, ajudan, dan pak Didi yang bertugas untuk menyiapkan api dan memanggang


Sedangkan para perempuan bertugas untuk menyiapkan bumbu, memotong daging, udang dan menyusun daging dan sayuran dengan tusukan yang sudah disiapkan


Sisil? bocah itu sibuk memakan camilan dengan duduk di tikar yang sudah digelar, memang Shinta yang menyuruh nya seperti itu karena jika Siail berkeliaran, Shinta takut bocah itu akan terkena api nanti


"Hahaha" tiba tiba saja terdengar ledakan tertawa dari Rendra di sela sela mereka memanggang


"Itu kenapa sih pak?" Tanya Shinta heran, para perempuan saat ini sudah duduk di tikar menemani Sisil karena tugas mereka sudah selesai dan tempat pemanggangan agak jauh dari mereka


"Biasa non... kelakuan anak muda ada ada aja" Jawab pak Didi terkekeh


"Hahaha" Kali ini ganti suara tawa dari ajudan yang menyahuti


Karena penasaran dengan para lelaki yang sedang membelakangi mereka, alhasil Shinta dan Jannah mendekat karena penasaran dengan apa yang terjadi


"Pfft.. gila muka lo udah kayak sawah kekeringan rey" ledek Rendra dengan menahan tawa nya


Karena Reyhan yang membolak balikkan daging, maka dari itu muka nya pun langsung terkena asap dari alat pemanggang


"Muka lo kena asap gak kena asap juga tetep aja jelek" Ucap Reyhan membalas perkataan Rendra barusan

__ADS_1


"Ye... tampan gini dibilang jelek, katarak apa gimana lo?" Ucap Rendra tidak terima


"Dua duanya jelek, aku doang yang ganteng" Ucap ajudan yang menyela perdebatan dua orang itu


Reyhan hanya pasrah ketika dikatai jelek karena dia masih berusaha mengambil hati ajudan


"kalian itu ngapain?" Tanya Shinta heran dengan menggelengkan kepala nya, sedangkan Jannah masih berusaha menahan tawa karena mereka berdua mendengar pembicaraan para laki laki tadi


"Ini loh shin, Reyhan katarak" Jawab Rendra dan plak.... satu pukulan mendarat di lengan Rendra, siapa lagi kalau bukan dari Reyhan


"Kamu cuci muka dulu gih kak" Ucap Shinta yang sebenarnya ingin tertawa karena melihat muka Reyhan, tapi dia pun tidak tega karena muka Reyhan memang seperti sawah kekeringan juga karena membantu dirinya


"Trus ini?" Tanya Reyhan dengan menunjuk daging yang belum matang


"Kan ada ajudan" Ucap Shinta yang membuat adik nya melotot seketika, oh ayolah dia benar benar ingin melihat kesabaran seorang Reyhan


"Biar aku aja, dikit lagi juga selesai, aku bisa cuci muka nanti" Ucap Reyhan menolak walaupun dia merasa tidak nyaman dengan muka yang terkena asap


Beberapa saat kemdian daging dan sayuran yang mereka panggang pun sudah matang semua dan ditata rapi di atas meja



"Ayo adek pimpin do'a nya" Ucap bunda menyuruh ajudan saat mereka semua sudah duduk manis di atas tikar


Karena mendapat perintah, alhasil dia lah yang memimpin do'a kali ini, bukan hanya do'a makan saja namun do'a memanjatkan rasa syukur atas kenikmatan yang diberikan Alloh juga berdo'a supaya yang mereka lakukan hari ini dapat bermanfaat dan memperoleh pahala juga ridho nya


Yang lain pun mengadahkan tangan nya dan mengaminkan dengan hikmat, apalagi Reyhan cukup kagum dengan ajudan yang memimpin do'a mereka fasih dengan berbahasa arab dan di akhiri dengan alfatihah


"Masih ingat juga ternyata" Ucap bunda menggoda anak laki laki nya itu


"Ingatan adek kan kuat bun" Ucap ajudan terkekeh


"Ayo makan... Sisil udah ngiler" Ucap bocah itu dengan polos nya yang membuat semua orang tertawa


Mereka pun makan dengan bercanda ria dan hangat layak nya keluarga sungguhan, namun lagi lagi hanya Shinta dan Reyhan yang diam karena prinsip keduanya sama saat makan


Sesekali Reyhan juga melirik ke arah Shinta yang duduk berhadapan dengan nya, sedangkan yang dilirik pun hanya terdiam sambil menikmati makanan nya

__ADS_1


"Ehem... matanya" Sindir ajudan yang dapat melihat hal itu


Bersambung


__ADS_2