Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
126.SAH


__ADS_3

Hari kian silih berganti, begitu pula dengan Reyhan yang mengganti pakaian nya setelah mandi dan sholat subuh


Tok tok tok


"Rey... ini papa" Ucap papa Raka mengetuk pintu kamar anak nya


"Masuk aja pa" Sahut Reyhan dari dalam yang sedang sibuk menyeret koper milik nya setelah menyiapkan beberapa pakaian nya tadi


"Kamu udah selesai Rey?" Tanya papa Raka kala melihat koper yang berdiri manis di samping sofa


"Udah pa" Jawab Reyhan menganggukkan kepala nya


"Udah hafal ijab qabul kan?" Tanya papa Raka


"Dari kemarin kemarin udah hafal kalau itu pah" Jawab Reyhan yang memang sudah menghafalkan sejak persiapan pernikahan mereka


"Ya kali aja kamu lupa, nanti salah sebut nama jadi nikah salah alamat" Goda papa Raka, ia kemudian mendekati Reyhan dan memegang kedua bahu putra nya


"Kamu udah dewasa Rey, papa harap kamu bisa membimbing keluarga mu nanti, menjadi keluarga yang bahagia dan taat pada agama nya" Ucap papa Raka menatap putra semata wayang nya dan Reyhan hanya mengangguk sembari tersenyum sebagai jawaban nya


"PAPA, RE... AYO BERANGKAT!" Teriak mama Riana dari lantai bawah yang menggema sampai atas


Kedua laki laki itu hanya menggelengkan kepala nya karena sang mama memang sudah berumur 50 tahun lebih, namun tetap saja kekuatan berteriak masih tertanam di dalam diri nya


Disisi lain, Shinta baru saja selesai mandi karena sehabis sholat subuh tadi dia tidur sebentar akibat kemarin tidur terlalu malam, selesai memakai hijab instan, Shinta kemudian keluar kamar dan... ruang tamu yang biasa penuh perabotan pun sekarang berubah menjadi penuh dekorasi yang ramai karena akad akan dilaksanakan di rumah nya nanti siang yang mana sekarang Reyhan sedang dalam perjalanan


Kruyuk kruyuk... bunyi kelaparan terdengar jelas dari perut nya


Oke saat nya sarapan, Shinta menuju dapur dan disana sudah ada bi Asti bersama putri nya juga bunda dan duo sahabat nya yang duduk bercengkerama di meja makan, sedangkan ayah dan pak Didi? mereka sedang bersantai meminum kopi di teras rumah


"Bagun duluan pada gak ngebangunin gue" Ucap Shinta menghampiri kedua sahabat nya


"Gimana mau bangunin, orang lo pules banget" Ucap Jannah yang tengah minum kopi susu di meja makan


"Tau, tidur banyak tingkah sampek muter seratus delapan puluh derajat" Sahut Laila yang mana Shinta tidak percaya dengan hal itu


"Bo'ong, gue kalau tidur tuh anteng kayak putri malu" Ucap Shinta dengan menarik kursi meja makan dan duduk di sana


"Putri gak tau malu kali" Sahut Jannah tergelak


"Hai cantik" Sapa Shinta pada anak berusia 12 tahun yang duduk di samping nya


"Hai juga kak" Balas Lita tersenyum, dia anak dari pasangan bi Asti juga pak Didi


"Mau saya ambilin sarapan non?" Tanya bi Asti


"Saya bisa sendiri kok bi" Jawab Shinta kemudian mengambil roti dan mengolesi nya dengan selai


"Kamu gak makan nasi?" Tanya bunda heran


"kebiasaan toast dan toast tan, makanya kalau pagi jarang makan nasi" Ucap Jannah mewakili sahabat nya yang sedang mengunyah makanan


"Emang kuat buat acara nanti siang?" Tanya bunda


"Ya nanti sebelum di make up makan dulu bun, biar enggak pingsan" Jawab Shinta enteng


"Baju kebaya kamu udah bunda taruh di lemari kamar dari tiga hari yang lalu" Ucap bunda


"Iya bunda, tadi Shinta sempat liat kok, tapi emang enggak kelihatan ketat kalau pakai kebaya bun?" Tanya Shinta yang sangat enggan menggunakan baju ketat ketat dan akan memperlihatkan lekuk tubuh nya


"Baju nya gak ketat kok, agak longgar dari ukuran baju kamu" Jawab bunda yang dijawab anggukan kepala


"Trus baju nya pak Rey gimana Shin?" Tanya Jannah


"Itu udah tante Riana ambil ke butik gue tiga hari yang lalu" Jawab Laila mengingat tiga hari yang lalu saat di butik nya yang ada di Bogor


"Trus gaun sama tuxedo itu?" Tanya Jannah


"Barusan mereka ngabarin gue kalau udah sampai di Surabaya, jadi ya.. persiapan aman lah" Jawab Laila yang mengurus persoalan pakaian


"Iya, barusan pihak MUA udah ngabarin gue kalau mereka udah jalan kesini" Sahut Shinta mengotak atik ponsel nya yang baru dia pegang hari ini dan terkekeh karena mendapati puluhan miscall dari Reyhan


"Lo mau nikah bawaan nya santai bener ye" Ucap Laila heran, sedangkan Shinta hanya tersenyum saja


Perasaan nya sekarang antara senang dan gerogi tentu nya, senang karena persiapan berjalan lancar, undangan juga sudah disebar hari hari kemarin tanpa kendala meskipun sedikit ada drama dari Reyhan yang cemburu dengan Adit


Gerogi karena sebentar lagi dia akan melepas masa lajang nya di usia yang terbilang muda, namun dia bisa menutupi hal itu dengan bersikap santai di depan semua orang


"Rendra kesini gak jan?" Tanya Laila


"Kesini, tadi ngabarin gue kalau dia mau landing bareng keluarga nya kak Rey" Jawab Jannah

__ADS_1


"Sahabat karib ya mereka" Ucap Laila


"Ya sama kayak kita bertiga dong" Sahut Shinta


"Trus itu Andrew gimana?" Tanya Jannah


"Dia besok dateng ke resepsi mereka" Jawab Laila, dia memang masih berhubungan dengan Andrew untuk sebatas teman dan seperti adik kakak saja, tidak lebih


Menit terus berlalu, begitupun masa lalu yang terkenang di dalam sanubari dan tak akan berubah lagi


"Mba tolong tutup mata ya" Ucap seorang MUA yang tengah menggambar eh merias wajah Shinta, sang empu pun menurut saja dan semua itu tak luput dari pandangan dua sahabat yang sudah berganti pakaian senada dan hijab yang menutup rapi kepala nya


"Haha, gue baru nyadar kalau gue cantik" Ucap Laila yang tengah duduk di kasur dan bercanda ria meramaikan kamar nya


"Lo selama ini kemana aja? baru nyadar kalau cantik?" Tanya Jannah heran dengan ke absurd an sahabat nya


"Selama ini ya ndekem skincare an biar cantik" Jawab Laila disertai gelak tawa nya karena selama ini Laila menghabiskan waktu nya untuk mengurus butik dan menggambar desain desain baju


Asisten perias pun beberapa kali menggelengkan kepala dan menahan tawa mendengar candaan kedua nya


"Cantik biar apa coba sebutkan?" Tanya Shinta dengan menggunakan nada seperti guru TK


"Cantik biar suami masa depan gue gak kecantol sama walimmi" Jawab Laila


"Paan tuh walimmi?" Tanya Jannah


"Wanita maling suami" Jawab Laila tergelak


"Oh... julukan pelakor udah gak berlaku lagi?" Tanya Shinta


"Gak deh, udah famijinak" Jawab Laila


"Familiar kali" Sahut Jannah dengan meoyor pelan lengan Laila


"Emang siapa suami masa depan lo?" Tanya Shinta


"Bentar lagi otw jadi kok" Jawab Laila


"Apanya yang jadi?" Tanya Jannah


"Ya orang nya, tar malem Shinta mau bikin adonan suami masa depan gue" Jawab Laila sontak membuat semua orang tertawa karena mereka sudah dewasa dan faham dengan ucapan Laila barusan, kecuali Shinta yang wajah nya sudah malu bercampur kesal


Ingin sekali menimpuk sahabat nya itu, namun apalah daya dia yang sedang duduk manis di depan kaca dan tak diperbolehkan bergerak


"Dih... kalau lo faham berarti lo juga piktor maemunah" Ucap Laila tidak terima jika dirinya saja yang disebut piktor


"Kok bisa faham ya? padahal udah kelamaan menjomblo" Ucap Jannah


"Jomblo gak jomblo juga tetep faham karena ada di pelajaran masa SMP" Sahut Laila


"Inget banget lu masalah gitu an, coba sebutin rumus matematika masa SMP?" Ucap Jannah yang tentu saja tidak ada yang bisa menjawab karena masa biru putih mereka sudah lama terlewati


Tiga kata untuk pembahasan mereka, yaitu unfaedah tapi menyenangkan


Setelah selesai dengan riasan masing masing, ketiga gadis itu langsung berselfie ria untuk mengabadikan momen mereka


"Lo cantik" Ucap Laila mengomentari penampilan Shinta dari atas sampai bawah yang memakai baju kebaya adat jawa tak lupa hijab yang senada dengan pakaian nya


"Cewek ya pasti cantik lah" Ucap Shinta


"Cantik nya beda, ini aura aura pengantin nya keluar" Sahut Jannah terkekeh


"Wah... cantik nya anak bunda" Ucap bunda yang tiba tiba masuk kamar putri nya


"Cantik toh bunda, kan perempuan" Ucap Shinta dengan cengiran nya


"Keluarga nak Rey udah dateng loh, kamu jangan keluar sebelum dengar kata sah ya... " Ucap bunda mengingatkan


"Iya bunda" Jawab Shinta menganggukkan kepala nya, sedangkan duo sahabat mereka justru langsung berebutan untuk melihat kedatangan Reyhan dari jendela kamar karena kebetulan kamar Shinta memang dekat dengan teras rumah


"Yaudah bunda keluar dulu" Pamit bunda seraya melangkah keluar dari kamar putri nya


"Ganteng banget ya calon mertua gue" Ucap Laila yang tengah berdesakan dengan Jannah dan mengomentari Reyhan


"Ganteng juga calon imam gue amin..." Ucap Jannah kala melihat Rendra ada disana juga


"Kalian sekalian nikah aja loh" Goda Shinta saat melihat kehenbohan sahabat nya


"Gak bisa lah, suami gue belum di buat" Jawab Laila nyeleneh


Disisi lain, keluarga Reyhan yang baru turun dari mobil langsung disambut oleh ayah Ari, Bunda, Wildan, juga Harun beserta anak istri nya yang memang ada di teras rumah

__ADS_1


Bunda kemudian mempersilahkan mereka masuk yang mana di ruang tamu sudah penuh dekorasi serba putih gold dengan meja yang ada di tengah, dan pak penghulu duduk manis di sana


Reyhan yang sedari tadi di apit oleh kedua orang tua nya pun celingukan mencari gadis yang sudah seminggu tidak bertemu bahkan bertukar kabar dengan nya


"Anak bunda masih di umpetin dulu, kamu sabar ya" Ucap bunda yang dapat melihat reaksi Reyhan


Tak ingin membuang waktu lebih lama karena semua juga sudah siap, Reyhan duduk di depan ayah Ari yang terbentang meja di antara mereka, juga keluarga dari pihak masing masing yang sudah duduk mengelilingi nya


"Sudah siap?" Tanya pak penghulu yang dijawab anggukan kepala oleh Reyhan


Reyhan pun di persilakan menjabat tangan ayah Ari selaku wali pihak pengantin perempuan, kemudian ayah Ari membimbing perlahan kata ijab qabul yang harus Reyhan ucapkan


Tak dapat di pungkiri bahwa hati nya sekarang campur aduk, antara senang juga gugup karena takut salah mengucapkan, memang berlatih itu gampang tapi ketika hari H justru persiapan itu akan buyar karena tertutup dengan kegugupan yang melanda,


Reyhan menarik nafas nya dalam dalam sebelum ia mengucap ikrar suci di depan semua orang


Begitu juga dengan Shinta yang menunggu di dalam kamar bersama duo sahabat nya dengan detak jantung yang semakin cepat


"Jangan tegang napa beb" Ucap Laila menepuk pundak Shinta


"Iya, Insyaalloh gak Rey gak akan salah sebut nama" Sahut Jannah


"Masa lajang gue bentar lagi hilang" Ucap Shinta berusaha menghilangkan kegugupan nya


Beberapa menit terus seperti itu, hanya deru nafas gugup yang beradu, perasaan tak menentu, hingga...


"SAH... " Kata kata itu benar benar menggema di rumah nya hingga terdengar sampai di kamar Shinta


Dan Shinta yang mendengar nya pun lantas tak henti henti mengucap hamdalah dari bibir mungil nya


"Alhamdulillah...bebeb gue udah sah jadi istri orang" Ucap Laila


"Iya, selamat ya beb" Sahut Jannah, mereka sebagai sahabat tentu nya senang dengan pernikahan sahabat nya yang selalu menghindari laki laki ini


"Iya, makasih" Hanya itu yang mampu Shinta ucapkan karena bibir nya masih kalu


Tiba tiba saja, pintu kamar Shinta terbuka dan memperlihatkan Egi yang masuk beserta istri nya


"Abang... " Ucap Shinta terkejut mengira Egi tidak datang hari ini


"Adek abang udah gede, udah jadi istri orang, dikurangi ya sifat manja nya" Ucap Egi mengelus kepala adik nya


"Selamat ya..." Ucap Lexa, istri kakak nya


"Tante... " Ucap Sisil yang berlari masuk ke kamar Shinta


"Hai sayang" Ucap Shinta mengusap pipi gembul itu


"Ayo keluar tante, udah ada om ganteng dari tadi" Ajak Sisil dengan imut nya


🌸🌸🌸


Reyhan yang baru selesai mengucap ikrar juga langsung mengusap hamdala dengan perasaan lega yang menyeruak di dada nya


Begitu juga anggota keluarga yang menjadi saksi hari ini


Detik berikutnya...semua mata beralih dan tertuju pada wanita yang keluar dari kamar nya, penampilan nya cantik, anggun dengan baju putih yang melekat di tubuh nya, di belakang Shinta ada kakak juga dua sahabat nya, lengkap dengan gadis kecil yang selalu menggandeng tangan nya


Shinta tersenyum pada semua orang dan duduk di samping Reyhan yang kini menjadi suami nya


Reyhan menatap lekat wajah wanita yang sudah sah menjadi istri nya, ia tersenyum lebar kemudian meletakkan tangan kanan nya pada ubun ubun Shinta yang sedikit menunduk dan mengucap do'a dengan khidmat seraya memejamkan mata nya


"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."


(Ya Alloh, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya)


Setelah itu ia mengecup lembut dahi istri nya, meresapi hari bahagia bagi keduanya, begitu juga Shinta yang membalas dengan mencium punggung tangan suami nya


"Mohon bimbang aku mas" Kata pertama yang terucap dari bibir Shinta, Reyhan pun tersenyum ketika mendengar panggilan baru untuk nya


Kedua nya di persilakan untuk menandatangani buku kecil berwarna merah dan hijau itu, kemudian menukar cincin yang awal nya di tangan kiri kini menjadi melingkar manis di tangan kanan


Shinta menatap satu per satu orang yang ada di rumah nya, anggota keluarga dari pihak diri nya yang hadir semua hari ini termasuk ke 4 saudara laki laki nya, begitu juga keluarga dari pihak Reyhan yang datang beserta kakek nenek nya


Mereka berdua memang sepakat agar akad hari ini hanya di hadiri keluarga inti dan sahabat dekat mereka saja


Ayah Ari kemudian memimpin do'a dengan memejamkan mata seraya air mata yang beberapa kali menetes, meskipun sikap nya belum terlalu baik, namun bagaimanapun juga Shinta adalah putri nya, putri semata wayang di keluarga nya


Begitu juga semua orang yang mengaminkan dengan mengadahkan tangan nya, apalagi para orang tua kedua nya yang terus meneteskan air mata, namun bukan air mata kesedihan tapi air mata kebahagiaan, berdo'a agar putra putri mereka yang telah disatukan dalam ikatan suci ini dapat mengayuh kapal rumah tangga mereka bersama sampai maut memisahkan


Bersambung

__ADS_1


maaf baru up karena lama banget bikin bab ini, author belum pernah ngeliat akad nikah secara langsung soal nya


bab ini juga panjang guys😅


__ADS_2