
"Assalamualaikum wahai kakak ku yang cantik, baik hati dan tidak sombong" Teriak ajudan yang baru datang dan tiba tiba masuk ke dalam rumah
"Waalaikumsalam" Jawab semua orang yang ada di ruang keluarga
"Kak...tadi aku beliin ma..." Ucap ajudan terhenti saat dia sampai di ruang keluarga dan melihat ada bunda nya disana
"Gak sopan kamu ya...teriak teriak!" Tegur bunda pada anak nya yang satu itu
"Loh...kok bunda ada disini? ngapain?" Tanya ajudan bingung sambil mendekati bunda nya dan mencium punggung tangan wanita itu
"Emang gak boleh?" Tanya bunda memicingkan mata nya karena mendengar pertanyaan anak laki laki nya
"Bukan gak boleh bun, tapi kaget aja" Jawab ajudan dengan cengiran khas nya
"Bunda sengaja kesini mau ngasih kejutan" Ucap bunda nya menjelaskan sedangkan anak laki laki nya itu hanya ber'oh'ria saja
"Itu apa?" Tanya Shinta dengan menunjuk bungkusan yang diletakkan ajudan nya di meja
"kwetiau kak, makan bareng yuk... aku udah laper" Ajak ajudan yang diangguki semuanya
Shinta juga Jannah kemudian menyiapkan kwetiau di meja makan dan ditata rapi berjejer dengan masakan bi asti tadi
"Untung ajudan lo dateng" Ucap Jannah lega di sela sela mereka menata piring
"Iya... untuk sekarang masih aman" Ucap Shinta yang juga sedang memikirkan jawaban apa yang harus dia keluarkan ketika mendengar pertanyaan dari bunda nya yang tak jauh jauh dari perihal pernikahan
"Lo panggil mereka semua jan, ini udah siap, gue mau ngambil vitamin di kamar dulu" Ucap Shinta yang diangguki Jannah
Beberapa saat kemudian, semua sudah berkumpul di meja makan dan duduk di kursi masing masing untuk makan malam bersama
"Baru turun nduk?" Tanya bunda saat melihat shinta baru turun dari atas dan ingin bergabung bersama mereka
"Iya bun" Jawab Shinta seraya duduk di samping Jannah
"Habis ngapain kak?" Tanya ajudan
"Ngambil ini" Jawab Shinta menunjukkan kotak kecil berisi vitamin nya
"Kamu sakit?" Tanya bunda yang mana tidak tahu kalau itu vitamin
"Enggak kok bun, ini cuman vitamin aja" Jawab shinta yang diangguki bunda nya
__ADS_1
Sedangkan sang ajudan hanya tersenyum getir...dia ingat bagaimana dulu Shinta yang menjelaskan tentang rasa sakit nya selama ini, tentang trauma yang dia miliki, namun bunda nya pun memilih tidak percaya... dan memang hanya dia yang dapat mengerti kondisi kakak nya sendiri yang sedang dalam keadaan rapuh
"Ayo Sisil pimpin do'a makan" Ucap Jannah yang diangguki bocah berusia lima tahun itu
"Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannar"
Artinya: ya alloh, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka
"Aminn" Semua mengaminkan dengan tangan mengadah, berharap keberkahan akan selalu menyertai mereka
Mereka makan dengan hikmat tanpa adanya pembicaraan karena prinsip mereka sama...yaitu tidak boleh ada pembicaraan jika sedang makan, begitupun Sisil yang selalu menurut dengan peraturan yang Shinta buat
"Kamu gak ada niatan balik ke rumah dek?" Tanya bunda pada ajudan saat mereka sudah selesai makan dan kembali bersantai di ruang keluarga
"Nggak bun, adib mau disini aja" Jawab ajudan tanpa mengalihkan perhatian nya yang saat ini tengah fokus dengan siail yang duduk di pangkuan nya
"Kenapa emangnya? di rumah sepi banget loh" Tanya bunda heran
"Kan dinas nya disini bun, adib juga gak mau jauh jauh dari kakak" Jawab ajudan kekeh, dia tidak ingin meninggalkan kakak nya
"Hmm... bunda jadi ingat dulu kalian tuh berantem terus... kayak kucing sama tikus, eh sekarang malah kamu nempel kayak perangko" Ucap bunda terkekeh
"Ya.. itu kan dulu bun, sekarang mah enggak ya kak ya?" Ucap ajudan meminta pendapat Shinta dengan mengdipkan sebelah mata nya
"Sama gimana sayang?" Tanya jannah mengerutkan dahi nya
"Sana sama genit tan" Jawab Sisil, bocah itu memang jujur sekali jika mengeluarkan pendapat
Sontak semua pun tertawa melihat jawaban bocah itu, kecuali bunda yang tidak paham tentang apa yang mereka tertawakan
"Om ren siapa sih?" Tanya bunda bingung
"Kak rendra bun" Jawab ajudan karena Jannah pun tidak berani menjawab pertanyaan dari bunda nya Shinta
"Rendra? siapa nya kamu?" Tanya bunda
"Pawang nya kak Jannah" Jawab ajudan terkekeh dan melirik Jannah yang terdiam dengan pipi merona
"Wah.. anak gadis ini udah jatuh cinta ternyata" Ucap bunda yang sengaja ingin menggoda Jannah
"Ah tante bisa aja" Ucap Jannah dengan ekspresi malu malu kucing, dia tidak mengelak karena memang tidak bisa berbohong
__ADS_1
"Kalau kamu dek?" Tanya bunda menggoda anak laki laki nya
"Adib apa bun?" Tanya ajudan balik seolah olah tidak mengerti kemana arah pembicaraan bunda nya
"Ya kamu gimana? udah punya calon belum?" Tanya bunda
"Siapa juga yang mau sama adib sih bun? cuman polisi biasa, gaji gak seberapa, beda jauh sama pengusaha" Ucap ajudan terkekeh
"Yang penting kerjaan nya halal dek" Ucap Shinta kemudian berdiri menuju dapur, ia ingat kalau tadi piring bekas makan malam mereka belum dicuci
"Gak masalah berapa gaji nya, yang penting halal dan cukup dek" Ucap bunda menasihati anak nya
"Iya bun, belum saatnya adib mikirin itu" Ucap ajudan karena yang terpenting bagi nya adalah Shinta, jika kakak nya sudah menemukan pasangan, maka ia pun baru bisa mencari pasangan
"Apanya yang belum saatnya? trus waktu itu natap sela sampai gak kedip itu ngapain?" Tanya Jannah sengaja menggoda ajudan
"Kagum kan wajar kak" Elak ajudan kemudian meletakkan Sisil untuk duduk sendiri di sofa karena dia berniat untuk menyusul Shinta yang ada di dapur
"Trus kakak kamu gimana?" Tanya bunda yang menghentikan langkah ajudan
"Kakak udah jatuh cinta bun, hanya saja dia lagi meyakinkan perasaan nya sendiri" Jawab ajudan singkat, kemudian meneruskan langkah nya menuju dapur
*Andai dulu bunda percaya sama kakak, mungkin keadaan kakak akan lebih baik dan gak memburuk kayak sekarang* Batin ajudan dengan menatap kakak nya dari belakang yang sedang mencuci piring dengan rambut terurai... Shinta memang tidak memakai hijab nya jika di dalam rumah, kecuali jika di rumah nya ada seseorang yang bukan makhrom nya, baru lah ia akan memakai hijab
"Sini kak, biar aku aja" Ucap ajudan sambil merebut piring dari tangan Shinta
"Eh...kakak aja gak papa kok" Ucap Shinta yang berusaha merebut piring itu kembali, namun apalah daya ajudan nya itu lebih tinggi dari diri nya sehingga tidak memungkinkan untuk merebut piring yang sudah di pegang ke atas oleh adik nya
"Yaudah aku duduk aja deh" Ucap Shinta duduk di kursi meja dapur dan mengeluarkan ponsel nya yang mana belum sempat ia buka sama sekali, ia tersenyum tipis ketika mendapati ada pesan dari reyhan disana
Direktur Ganteng
π©: gimana? udah ketemu sama bunda kamu?
π©: jawab pesanku kalau kamu udah gak sibuk, have fun sama bunda ya!
π©: "udah kak, maaf baru bisa bales, tadi lagi beres beres dulu, kamu juga have fun!β" balas Shinta tak lupa dengan senyum yang menghiasi wajah nya
Ajudan sempat melirik kakak nya yang sedang bermain ponsel dengan senyum senyum sendiri, dia tahu kalau itu pasti pesan dari reyhan
*Aku bersyukur kak, setidaknya dengan kehadiran kak rey kakak jadi sering tersenyum* Batin ajudan mengingat bagaimana dulu Shinta yang selalu menunjukkan muka datar dari pada senyum nya
__ADS_1
Bersambung