
"Pak... gak takut habis apa kuota nya?" Tanya Evan yang rupanya menjadi obat nyamuk dan mendengarkan semua obrolan bos nya dengan istri tercinta
"Ada kamu" Jawab Reyhan, tentu saja asisten nya yang akan membeli kuota nanti
"Cih... dasar manja" Cibir Evan geleng geleng kepala, namun Reyhan tidak menanggapi, lebih baik bekerja agar cepat selesai dari pada menghadapi asisten lawak
*Nyenyak banget tidur nya* Batin Reyhan sembari melirik ponsel nya yang masih terhubung dan memperlihatkan Shinta yang tidur lelap
"Pak... saya mau lihat gimana wajah nya ibuk" Ucap Evan berjalan mendekat karena posisi nya tadi duduk membelakangi ponsel Reyhan
Plak... "Auh... sakit pak!" Ucap Evan mengelus pundak nya berkali kali karena baru saja sang bos mendaratkan pukulan maut nya, panas kali ah!
"Duduk diam, jangan macam macam!" Peringat Reyhan memeluk ponsel nya sendiri dengan satu tangan
"Ya ampun pak... bu bos kan cantik, siapa tahu bisa jadi penyemangat saya dalam bekerja" Ucap Evan nyengir, sengaja ingin menggoda bos nya yang sedang sensi an ini
Reyhan mengeluarkan kaki nya dari bawah meja dan bersiap siap memberi tendangan pada asisten lawak nya, tapi bukan Evan nama nya kalau dia tidak menghindar setelah mengucapkan kata yang sedikit kurang ajar tadi
"Bercanda pak... capek gitu loh serius mulu, ajak saya bercanda kek sekali sekali" Gerutu Evan sambil duduk ke tempat semula
"Kapan kamu nikah Van? biar gak ngarepin istri saya" Tanya Reyhan namun tatapan mata elang itu tetap pada dokumen nya
"Kenapa pak? takut kalah saing sama kegantengan saya ya?" Ucap Evan pede, sebenarnya sama saja memang bos dan asisten nya ini
"No, takut mental kamu gak kuat karena kalah ganteng sama saya dan istri saya tipe wanita setia" Jawab Reyhan tersenyum sinis
"Tau pak, apalagi dari duit malah saya kalah jauh sama bapak" Ucap Evan menekan kata jauh
"Meskipun perusahaan milik papa tapi kalau anak nya gak bisa bisnis, mau jadi apa perusahaan ini?" Tanya Reyhan, dia yang sedari kecil selalu di tuntun untuk menguasai bisnis pun paham karena menjaga perusahaan tidak semudah yang di bayangkan
"Iya sih pak, menjaga perusahaan agar tetap stabil memang gak mudah" Ucap Evan membenarkan, banyak beberapa perusahaan yang bangkrut karena pemimpin adalah anak turun mereka yang kurang ahli dalam bidang bisnis
Reyhan tiba tiba ingat pembicaraan dengan istri nya beberapa waktu yang lalu
"Capek ya?" Tanya Shinta mengelus kepala suami yang berada di paha nya
"Ya... lumayan" Jawab Reyhan mengangguk dam memejamkan mata untuk menikmati pijatan ringan istri nya
"Aku tahu kalau memimpin sebuah perusahaan itu tidak mudah, mungkin kebanyakan orang hanya memandang dari enak nya aja, misal bisa beli ini dan itu, padahal di balik semuanya ada sesuatu yang merasa lelah" Ucap Shinta
"Apa sayang?" Tanya Reyhan
"Ini" Ucap Shinta meneruskan pijatan di kepala suami nya
"Otak?" Tanya Reyhan
"Iya, di perusahaan urusan bukan hanya satu dua, tapi puluhan ratusan bahkan ribuan, apalagi kamu masih muda dan cukup menguji pikiran kamu juga" Jawab Shinta
"Karena jika ingin mendapat atau mempertahankan apa yang kita mau, kita juga wajib berusaha keras di sertai do'a agar yang di atas mengabulkan" Ucap Reyhan
"Aku juga tahu, tapi kalau kamu lelah tolong ingat ini... istirahat sejenak, tenangkan pikiran, baru lanjutkan pekerjaan dengan suasana hati yang baik, karena pekerjaan juga akan lebih cepat selesai apabila kita mengerjakan dengan senang hati, apalagi bisnis memang hal yang kamu suka kan mas?" Ucap Shinta
"Iya, papa yang mendirikan dari nol, sekarang aku yang akan berusaha mempertahankan nya sayang" Ucap Reyhan menenggelamkan wajah nya di perut sang istri
๐ธ๐ธ๐ธ
Pagi menghampiri, seperti biasa bahwa Shinta akan terbangun jam 4 pagi untuk melaksanakan sholat subuh
Baru saja membuka mata dan mengucap do'a bangun tidur, mata nya langsung terfokus pada ponsel yang ternyata masih tersambung dari tadi malam sampai sekarang
"Ya Alloh... ternyata beneran di temenin tidur secara virtual" Ucap Shinta geleng geleng kepala
Namun tetap saja senyum itu mengembang sempurna ketika melihat sang suami pun masih tidur pulas di atas ranjang nya, wajah tegas, kulit bersih, bibir tipis serta hidung mancung dan sangat lelap ketika tidur
"Mas... bangun dulu gih, sholat subuh" Ucap Shinta yang sebenarnya tidak tega untuk membangunkan, tapi mau bagaimana lagi? jarak waktu sholat subuh pun hanya berbeda beberapa menit saja
"Hm... bentar sayang, lima menit lagi" Ucap Reyhan malah menyembunyikan wajah nya di balik bantal
Shinta membiarkan untuk sejenak agar Reyhan dapat mengumpulkan nyawa nya "Udah kan? sholat dulu... nanti kalau ngantuk bisa tidur lagi"
"Mm... pagi sayang" Ucap Reyhan membuka lebar mata nya sambil senyum senyum sendiri
"Pagi... bagun gih, mandi trus siap siap sholat subuh" Ucap Shinta seraya bangun dari posisi tiduran nya menjadi duduk
"Gak enak ya" Ucap Reyhan mengusap wajah nya
"Apa nya yang gak enak mas?" Tanya Shinta bingung
"Gak enak karena gak bisa jadi imam sholat lima waktu kamu" Jawab Reyhan terkekeh
__ADS_1
"Haha... yaudah kerja yang giat biar cepat pulang" Ucap Shinta tertawa
"Iya kan tadi malam begadang yang" Ucap Reyhan
"Giat tapi harus ingat waktu dong, yaudah aku sholat dulu, di sini udah masuk waktu subuh" Ucap Shinta membenahkan rambut nya yang berantakan
"Kamu cantik loh yang" Ucap Reyhan kala melihat rambut panjang istri nya yang di ikat cebol ke atas hingga memperlihatkan leher dan area dada
"Dari dulu kan aku cantik" Ucap Shinta pede
"Kalau aku?" Tanya Reyhan
"Hmm... kamu?" Ucap Shinta seraya mendekatkan ponsel hingga sangat dekat dengan wajah nya "Tampan dari dulu, makanya aku nunggu kamu pulang" Sambung nya genit dengan memberi satu kedipan
"Bisa gombal dari mana kamu yang? haha... " Ucap Reyhan tertawa meskipun mengakui kalau dia memang tampan
"Tapi kamu suka kan?" Tanya Shinta dan Reyhan mengangguk semangat sebagai jawaban nya
"Yaudah aku mau bangunin Lala dulu mas, jangan lupa sholat, makan, istirahat dan jaga mata, assalamualaikum" Ucap Shinta panjang kali lebar sebelum memutuskan panggilan video
"Gak mandi berdua sekalian yang?" Goda Reyhan
"Gak mau, nanti subuh kesiangan, batre handphone ku juga habis nih" Ucap Shinta mengerucutkan bibir nya
"Haha... yaudah waalaikumsalam yang" Ucap Reyhan tersenyum dan tit! panggilan di matikan meskipun agak tidak ikhlas, ia kemudian bangun dan masuk kamar mandi untuk melakukan sesuai perintah istri nya dan kewajiban umat beragama islam
Di sisi lain, Shinta masih berusaha membangunkan sahabat nya yang manis namun kalau tidur kayak kebo ini
"La... sholat, bangun heh" Ucap Shinta mengguncang pundak itu
"Mm... bentar napa Shin, masih mimpi jalan jalan berdua nih" Ucap Laila duduk namun malas membuka mata
"Masuk waktu subuh nih... sholat dulu, nanti lanjut jalan jalan berdua" Ucap Shinta menarik paksa Laila menuju kamar mandi yang ada di kamar tamu
"Ck, iya iya beb... bangun nih gue"
Selepas sholat subuh, mereka membaca al qur'an sebentar atau kadang murojaah beberapa surat yang mereka hafal saat masih SMP dulu
"Adem banget gitu kalau habis sholat" Ucap Laila menutup al qur'an nya
"Iya, tenang kayak gak ada beban" Ucap Shinta membenarkan
"Dulu waktu sekolah kita cuman mikir nilai sama bil ghoib aja, tapi kalau sekarang udah bercabang apa aja yang harus di pikirin" Ucap Laila mengenang masa biru putih mereka dulu
ting tong! bel apartemen berbunyi menunjukkan ada tamu di depan
"Kayak nya ada tamu tuh" Ucap Laila
"Iya, bentar gue pakai hijab dulu" Ucap Shinta melepas mukenah dan memakai hijab nya, kemudian berjalan keluar dari kamar tamu menuju pintu apartemen
Ceklek!
"Assalamualaikum..." Ucap mama Riana tersenyum lebar kala melihat anak mantu nya yang membuka pintu
"Waalaikumsalam... masuk ma" Ucap Shinta mempersilahkan
"Kamu baru selesai sholat?" Tanya mama Riana
"Iya ma, tadi ngaji sebentar" Jawab Shinta mencium punggung tangan ibu mertua nya
"Mama ada makanan buat kalian, panggil Laila sayang, kita makan bareng" Ucap mama Riana
"Iya ma, sebentar" Ucap Shinta ingin melangkah namun Laila lebih dulu keluar dengan hijab nya
"Pagi tante..." Sapa Laila ikut mencium punggung tangan wanita paruh baya itu
"Pagi juga nak... " Ucap mama Riana yang memang ramah pada semua orang
"Pagi pagi banget ma, kesini sama siapa?" Tanya Shinta yang setahu nya sang mama mertua tidak pernah membawa mobil sendiri
"Sama pak Jojo sayang, mama mana berani nyetir sendiri, udah tua gini" Jawab mama Riana terkekeh
"Kok gak di ajak kesini ma? makan bareng gak papa" Tanya Shinta
"Gak mau katanya, dia mau makan di warung depan yang jadi langganan" Jawab mama Riana
"Ooh... gitu ya ma" Ucap Shinta faham dan menganggukkan kepala
"Banyak banget tante lauk nya?" Tanya Laila yang mana mereka sedang berada di meja dapur
__ADS_1
"Iya, kebiasaan suka masak, dan harus empat sehat lima sempurna" jawab mama Riana tersenyum
"Berarti Laila nanti harus bisa masak kalau udah jadi istri orang ya tan?" Tanya Laila
"Ya enggak sayang, tergantung setiap orang itu gimana, suami tante dulu terima aja kalau tante gak bisa masak" Jawab mama Riana mengingat awal awal pernikahan mereka
"Calon nya siapa La? udah bahas suami nih" Goda Shinta menyenggol lengan sahabat nya
"Ya nanti kalau tiba tiba jodoh nya dateng kan setidak nya gue bisa masak" Jawab Laila mantap
"Bisa masak apa?" Tanya mama Riana
"Bisa masak rendang, soto, kari ayam, sambel goreng dan lain lain dalam bentuk mie instan" Jawab Laila nyengir
"Haha.. gak papa, nanti bisa belajar masak kan" Ucap mama Riana
"Iya, belajar aja dulu La" Ucap Shinta membenarkan
"Trus jodoh ku kapan dateng nya?" Tanya Laila yang mana hati dan pikiran nya masih tertaut satu nama, yaitu Andrew
"Insyaalloh dateng, sholat malam dulu minta jodoh yang baik" Jawab Shinta seadanya
"Re udah ngabarin kamu sayang?" Tanya mama Riana
"Alhamdulillah udah ma... kemarin waktu jam isoma rumah sakit sama tadi malam" Jawab Shinta
"Alhamdulillah kalau gitu, takut dia lupa" Ucap mama Riana lega lalu di lanjut dengan sarapan bertiga
๐ธ๐ธ๐ธ
Hari hari terus terlewati, pasangan suami istri yang sedang LDR itu pun lancar lancar saja seperti pasangan mesra pada umum nya
Walaupun kadang Reyhan sedikit mengeluh karena pekerjaan nya yang malah bertambah banyak, namun juga bisa bernafas lega karena masalah sengketa lahan yang ternyata hanya berasal dari orang suruhan pun sudah selesai, itu tanda nya dia bisa pulang besok dan bertemu istri tercinta
Begitu pula Shinta yang ikut tenang karena kemarin sempat khawatir akibat warga yang melakukan aksi demo di lahan pembangunan, sama pula artinya besok dia bisa bertemu suami nya dalam keadaan dia yang tengah berbadan dua
Janji Reyhan yang ingin mempercepat urusan nya pun di tepati, yang mana hanya lima hari dia di sana dan tepat hari minggu dia akan sampai di rumah
Dan paling spesial adalah hari minggu bertepatan dengan pernikahan mereka yang menginjak tiga bulan, namun ada hadiah besar di hari itu, yakni kehamilan istri nya yang belum Reyhan ketahui sama sekali
"Cie... suami mau pulang seneng banget muka nya" Ucap Jannah menggoda sahabat nya
"Ya seneng lah, jauh jauhan tuh gak enak tahu" Ucap Shinta sembari memegang secarik kertas
"Itu apaan? perasaan dari tadi di pegang terus padahal laporan udah selesai" Tanya Jannah menunjuk meja sahabat nya
"Ini... surat pengunduran diri" Jawab Shinta berbisik, dia sudah menyiapkan surat itu beberapa hari yang lalu
"Hah? surat pengunduran diri?" Ucap Jannah spontan karena terkejut dan terdengar oleh seluruh rekan mereka
"Apa? pengunduran diri?" Ucap Adit terkejut dengan langsung menatap Shinta, begitu pula rekan lain yang ikut terpecah perhatian nya
"Aduh Jan... mulut lo pengen gue kuncir" Ucap Shinta memijat kening nya sendiri
"Aduh... maaf maaf, lagian lo kenapa gak bilang gue dulu sih waktu di apartemen?" Ucap Jannah mengingat mereka adalah tetangga
"Siapa yang mau resign? kamu Shin?" Tanya Sela tak kalah terkejut
"Beneran mau resign? kenapa?" Tanya Monik
"Iya Shin, kenapa? kita semua ada salah ya sama kamu?" Tanya Bagas
"Eh... enggak, kalian gak ada salah, cuman emang ada sesuatu yang bikin aku resign" Jawan Shinta tidak enak
"Apa alasan nya?" Tanya Sela
"Alasan nya sedikit pribadi dan aku gak bisa bilang ke kalian semua" Jawab Shinta lalu menyerahkan surat yang sudah di kemas dalam amplop itu pada Sela
"Tolong sampai in surat ini ke pak direk ya, nanti kalau di panggil aku udah siap kok" Ucap Shinta meminta tolong
"Beneran?" Tanya Sela serius
Shinta mengangguk yakin sebagai jawaban, ia sudah memikirkan hal ini matang matang dan ia juga ingat perjanjian dengan Reyhan saat baru menikah yang mana dia harus berhenti bekerja saat hamil nanti dan fokus pada kandungan nya, ia juga ingat ucapan nya sendiri beberapa tahun yang lalu
"Aku ingin jadi wanita biasa yang nanti kalau sudah menikah akan menggabdi pada suami, dan berusaha mendidik anak anak ku dengan baik di masa depan" Ucap Shinta saat dia masih berusia 16 tahun
meskipun agak tidak rela meninggalkan dunia farmasi yang selama ini ia tekuni, tapi dia juga ingin mewujudkan dan menepati ucapan nya sendiri, dia yang dulu masih single dan sekarang sudah bersuami memiliki pemikiran yang berbeda
"Yaudah nanti waktu setor laporan aja, sekalian aku kasih ini" Ucap Sela
__ADS_1
"Iya, makasih"
Bersambung