
Shinta merasa rumah nya sangat sepi kali ini, karena bunda sudah kembali ke kota J kemarin yang mana juga membawa Sisil kesana, begitu juga Harun... yang ikut pulang ke kota J dengan Istrinya setelah mengembalikan mobil Shinta yang dia pinjam
"Assalamualaikum..." Ucap Shinta saat masuk rumah dan hanya pandangan pak Didi yang sedang memotong rumput halaman, dan bi Asti yang membersihkan rumah
Ahh... baru saja kemarin di tinggal, tapi Shinta sudah sangat rindu dengan bocah cantik namun cerewet yang akan menyambut nya dengan riang saat diri nya pulang dari rumah sakit
"Waalaikumsalam..." jawab bi Asti dengan senyum merekah di wajah nya
"Kok sendirian non?" Tanya bi Asti kala tidak melihat adanya Jannah
"Tadi pakai mobil sendiri sendiri bi... katanya Jannah ada keperluan pribadi" Jawab Shinta dengan mendaratkan badan nya di sofa ruang keluarga
"Oh... mau dibuatin minum non?" Tanya bi asti
"Nggak perlu bi, Shinta belum haus.. nanti kalau haus Shinta bisa bikin sendiri kok" Jawab Shinta yang tidak ingin merepotkan orang lain hanya karena hal hal kecil seperti minuman
Ia kemudian membuka ponsel nya karena ada pesan masuk yang tertera di sana
Ajudan❤
📩: Kak... nanti aku bakal pulang larut karena ada razia, kakak langsung makan malam aja..jangan nungguin aku dan jangan tidur terlalu malam
📩: "Iya"
Shinta menoleh ke arah bi Asti yang sedang menyimpan makanan di meja dapur
"Bi... nanti kalau pulang sekalian bilangin pak Didi buat kunci gerbang ya bi.. " Ucap Shinta karena dia tau kalau ajudan pasti akan pulang sekitar jam dua belas atau jam satu malam
"Non Jannah nya gimana?" Tanya bi Asti
"Bentar lagi dia juga pulang kok bi... jadi nanti pulang nya tunggu Jannah sebentar ya" Ucap Shinta yang tentu saja dilaksanakan bi Asti
Benar saja, tak berselang lama suara deru mobil Jannah terdengar memasuki pelataran rumah
"Assalamualaikum" Ucap Jannah saat memasuki rumah
"Ya ahli kubur" Sahut Shinta
"Sembarangan lo kalau ngomong!" Ucap Jannah menoyor lengan sahabat nya itu
"Kan bener yang gue bilang, tempat peristirahatan terakhir kita semua itu di tanah kan?" Ucap Shinta membela diri
"Ya gue juga tau, setidaknya ahli surga kek" Ucap Jannah
"Gue aminin" Ucap Shinta, siapa yang akan menolak untuk tinggal di surga saat di akhirat kelak? pasti semua orang juga pasti menginginkan hal itu kan
Jannah kemudian mencomot keripik kentang yang Shinta pegang dan memasukkan ke dalam mulut nya
"Eh jan itu kan-"
"Apa? jangan pelit ya... emang lo mau kalau mati dikubur sama keripik kentang?" Tanya Jannah yang masih lihai mengunyah kerikipik kentang tersebut
"Bukan... itu keripik udah gue campur sama obat yang gue ancurin jadi bubuk" Ucap Shinta menjelaskan
__ADS_1
Sontak Jannah langsung memuntahkan keripik kentang yang sudah hancur melebur dengan memakai tisu yang ada di tangan nya
"Kok lo gak ngomong sih?" Tanya Jannah
"Ya lo main comot gimana mau ngomong coba?" Ucap Shinta kemudian kembali menikmati keripik kentang nya
"Emang enak keripik di cambur obat?" Tanya Jannah melihat Shinta sangat menikmati makanan nya
"Menurut lo gimana?" Tanya Shinta balik karena Jannah kan tadi udah sempat ngunyah juga
"Ya enak sih... gak kerasa pahit, tapi darimana lo dapet ide ini?" Tanya Jannah
"Minimalis mode... nyemil sambil minum obat" Jawab Shinta terkekeh
"Udah bilang Elin?" Tanya Jannah
"Udah, kata dia gak papa lah daripada gue gak minum obat" Jawab Shinta
Selepas sholat isya' dan makan malam, mereka berdua kembali ke kamar masing masing karena gerbang udah di kunci, pintu dan jendela juga udah di kunci, jadi mau ngapain lagi kalau tidak bobok cantik?
Jam dua belas malam, Shinta yang memakai piyama serba panjang berwarna biru kini pun tidur dengan nyenyak di atas kasur nya
Ceklek!
pintu kamar Shinta terbuka dari luar karena dia lupa tidak mengunci pintu sebelum tidur tadi
*Kak... kau teduh saat tidur, tapi kekhawatiran mu kembali saat kau tersadar* Batin ajudan yang baru pulang dengan membawa sebuah kotak di tangan nya
"Jangan menyentuhku atau kupatahkan tanganmu!" Ancam Shinta dengan mata terpejam, sang adik hanya terkekeh mendengar ancaman orang ngigo itu
*Sifat judes, jutek, songong.. itu bukan sifatmu yang sebenarnya kak.. sifat itu muncul disaat kamu muak dengan semuanya* Batin ajudan tetap memandangi wajah kakak nya
"Kak... bangun" Ucap ajudan mengguncang pelan pundak Shinta
"Hmm"
"Kak... bangun atau kusiram air" Ucap ajudan yang membuat Shinta mau tak mau harus membuka mata nya
"Hmm... kenapa sih?" Tanya Shinta malas dengan merubah posisi tiduran nya menjadi duduk
"Kau benar benar gak menanti hari ini kak?" Tanya ajudan
"Tentu saja aku menanti nya" Jawab Shinta
"Menanti apa?" Tanya ajudan
"Menanti hadiah darimu lah" Jawab Shinta dengan mengedip ngedipkan mata nya
Ajudan hanya menggelengkan kepala kemudian mengeluarkan kotak yang ada di samping nya
"Selamat ulang tahun yang ke dua puluh empat kakak ku... " Ucap ajudan memegang satu kotak hitam dengan kedua tangan nya
"Aaa... yess, makasih" Ucap Shinta girang sambil mengepalkan kedua tangan nya ke atas dengan tersenyum lebar
__ADS_1
"Give me a hug" Ucap ajudan merentangkan tangan nya yang sudah pasti Shinta membalas rentangan tangan itu dengan pelukan nya
"Maafin aku karena gak bisa jadi kakak yang baik buat kamu, seharus nya aku yang ngelindungin kamu... bukan kamu yang ngelindungin aku" Ucap Shinta dengan mata berkaca kaca dan makin mempererat pelukan nya
"Kakak ngapain ngomong gitu?" Tanya ajudan
"Hari ini milikku... jadi biarin aku ngomong sepuasku" Ucap Shinta enggan dibantah
"Oke silahkan!" Ucap ajudan mempersilahkan
"Kamu Adib Putra Askara, putra ke empat ayah bunda.. kamu adik ku, kamu yang paling peduli sama aku, hikss aku sayang banget sama kamu.. adek aku, yang sering aku gendong dulu..meskipun kita hanya tinggal bareng selama sembilan tahun.. karena kamu harus masuk ponpes sampai umur kamu delapan belas tahun"
"Ketika kamu pulang total, bukan kabar bahagia yang kamu dapatkan... tapi justru hal tidak menyenangkan yang kamu lihat, kamu ngeliat kakak yang lagi jelasin sama bunda tentang trauma kakak, tapi bunda sama sekali gak percaya sama kakak"
"Waktu bunda gak percaya, hati kakak sangat sakit dek... ternyata orang yang melahirkan kakak tidak mempercayai apa yang kakak katakan, tapi... meskipun bunda gak percaya, ada kamu yang percaya dan kasih semangat, dukungan buat kakak yang bisa buat kakak bertahan sampai sekarang, dan...ada satu penyesalan di hati kakak"
"Kamu tau kan? kamu masih muda.. dua tahun lebih muda dariku, harusnya kamu menikmati hari hari mu, bekerja.. menabung.. merancang masa depanmu"
"Bukan mengurus ku yang justru akan menjadi bebanmu... kamu memang tau kalau ada orang yang ingin membunuhku, hiks kamu juga tau tentang trauma ku.. hiks kamu tau segala nya tentang ku, hiks aku menyesal kamu mengetahui hal itu"
"Aku merasa kalau aku telah merenggut hari hari mu dan membuat khawatir yang selalu ada di benakmu.. maafkan aku, hiks.. aku kakak yang buruk, hiks rasa sayang kamu sama bunda dan ayah jadi berkurang juga gara gara kakak, hiks maafin kakak..." Ucap Shinta dengan air mata yang terus mengalir dan jatuh di pundak adik nya hingga membasahi seragam berwarna coklat itu
Ajudan melepaskan pelukan mereka dengan sedikit memaksa karena Shinta masih enggan melepaskan nya
"Kak... dengerin aku" Ucap ajudan menangkup wajah kakak nya dan menatap mata sembab itu
"Jangan pernah berpikiran seperti itu, kakak gak merenggut hari hari ku kok.. tiap hari aku kerja, aku nabung, aku juga nata masa depan" Ucap ajudan
"Dan aku bukan mengurangi kasih sayangku sama orang tuaku kak... tapi aku ingin mereka sadar kalau selama ini mereka membuat kesalahan, apalagi ayah yang meninggalkan bekas luka di hati kakak.. aku juga sakit kalau kakak disakiti kayak gitu"
"Ini semua aku lakukan karena aku mau... aku yang mau melindungi kakak perempuan ku, saudara perempuan ku satu satu nya... anak ketiga ayah bunda, aku gak pernah menganggap kakak seperti beban, karena aku ngelakuin ini atas dasar sayang sama kakak ku.. kakak kandungku, jadi tolong jangan salahkan dirimu sendiri kak!" Ucap ajudan menjelaskan panjang lebar
"Aku juga punya satu penyesalan.. aku menyesal karena baru tau alasan kakak ninggalin rumah setelah dua tahun kakak tinggal di korea, aku menyesal karena gak bisa lindungin kakak dari awal" Ucap nya lagi dengan mengusap pelan pipi Shinta yang basah
"Tapi-" Ucap Shinta terhenti
"Udah ya kak... kita hadapin ini sama sama, aku ada buat kakak dan kakak juga ada buat aku" Ucap ajudan dengan senyum merekah dan mata berkaca kaca, Shinta hanya mengangguk sebagai jawaban
"Kakak yang sabar... kakak yang tabah... insyalloh semua akan indah pada waktu nya" Sambung ajudan yang lagi lagi hanya dibalas anggukan kepala
"Hapus air mata nya kak, jelek tau gak?" Ucap ajudan yang berusaha mengubah suasana
"Baru aja adegan melow, eh... udah balik nyibir lagi" Ucap Shinta seraya mengusap wajah nya dengan tisu
"Turun ke bawah yuk!" Ajak ajudan
"Ha? ngapain?" Tanya Shinta heran pasal nya sekarang masih jam dini hari
"Udahlah turun aja" Ucap ajudan dengan menarik paksa tangan Shinta dan menggandeng nya untuk turun ke bawah
"HAPPY BIRTHDAY!"
Bersambung
__ADS_1