
"kalian berdua, duduk sini!" ucap shinta tegas sambil menujuk kursi taman
"baik" ucap reyhan juga ajudan shinta yang langsung menurut
setelah kedua orang itu duduk bersandingan, shinta kemudian berdiri di depan mereka, tepat di bagian tengah
"sakit gak?" tanya shinta dengan menatap mereka secara intens
"gak" jawab dua orang itu kompak sambil menunduk
plak... satu pukulan kecil mendarat di sudut bibir ajudan yang terluka
"awhh sshhh" ringis nya saat tangan shinta mengenai sudut bibir nya
"katanya gak sakit?" tanya shinta
"sakit kak" jawab ajudan lirih
"kamu mau juga?" tanya shinta
reyhan yang mendengarnya langsung menggelengkan kepala dengan cepat
meskipun reyhan mau juga shinta tidak akan memukul nya, karena dia sendiri tidak berani menyentuh wajah lawan jenis yang bukan mukhrim
"makanya rey, apa tuh di pastikan dulu, bukan malah langsung tonjok" cibir rendra yang juga duduk di kursi samping jannah
"obatin dulu luka nya shin" ucap jannah yang duduk sambil memangku sisil
"gue ambil kotak obat dulu" ucap shinta kemudian beranjak untuk mengambil kotak obat
saat kakak nya sudah masuk ke dalam rumah, ajudan langsung membuka mulut nya
"kak jan, kata nya tadi dia itu calon kakak iparku? emang iya?" tanya ajudan pada jannah sambil menunjuk reyhan
"iya, dia tuh yang bikin es di hati shinta mencair" jawab jannah terkekeh
"masa' sih?" tanya ajudan tidak percaya
"emang kenapa sih? kok gak percaya?" tanya rendra heran
"kok bisa ya kakak ku suka sama orang kayak dia? temenku yang suka sama kakak aja lebih ganteng" ucap ajudan heran sambil menatap reyhan
*rey..rey, pertemuan pertama malah baku hantam* batin reyhan menyesal
"hahaha, tuh denger rey, saingan lo lebih ganteng" cibir rendra dengan gelak tawa nya
"ganteng nomor dua, yang penting itu serius" ucap reyhan pada rendra
"serius sih serius, tapi jangan adik nya juga dong yang di tonjok" cibir ajudan
"kalian dua dua nya salah, sekarang malah debat" ucap shinta yang baru keluar dari rumah
mendengar suara shinta, mereka berdua langsung kicep tidak berani membantah
"debat lagi gih, aku tungguin sampai selesai" ucap shinta seraya duduk di depan mereka berdua
"kenapa? gak mau lanjut debat nya?" tanya shinta saat keduanya hanya diam tidak menjawab
"ampun deh.. kalian udah kayak murid pas kena razia" ucap jannah terkekeh geli
"iya, andai semua orang tau kejadian ini, pasti hilang sudah kewibawaan seorang reyhan" cibir rendra
"sini, deketin muka kamu" ucap shinta sambil memegang handuk kecil di tangan nya
"siapa dulu sih yang mau di obatin? kok dua dua nya monyongin muka?" tanya jannah saat melihat dua orang itu sama sama mendekatkan wajah nya
"aku" jawab dua orang itu barengan yang membuat shinta mengernyitkan dahi nya
"aku dulu" ucap ajudan
"aku dulu" ucap reyhan
"aku" ucap ajudan
"aku" ucap reyhan
"aku" ucap ajudan
"aku" ucap reyhan
"udah kubilang aku duluan" ucap ajudan
"aku" ucap reyhan
"aku dulu, aku adik nya, kamu siapa nya?" tanya ajudan
__ADS_1
"aku.. " ucap reyhan terhenti karena dia juga shinta tidak memiliki ikatan apapun
"kok malah rebutan sih, tante itu bukan mainan ya" ucap sisil heran saat menyaksikan dua om om itu rebutan
"tau tuh, tangan nya shinta cuman dua, yakali ada sepuluh" timpal jannah
"loh, kak mau kemana?" tanya ajudan saat melihat shinta beranjak dari duduk nya
"pusing dengerin kalian rebutan, dah biar di obatin sama bibi aja" jawab shinta yang memutuskan untuk memanggil bi asti yang memang menginap malam ini
beberapa saat kemudian
"bi, saya minta tolong buat obatin muka mereka bi" ucap shinta yang datang dengan bi asti
"baik non" jawab bi asti yang mengobati ajudan dulu, setelah itu baru reyhan
"sisil sama tante aja, tante kan punya sisil" ucap sisil seraya turun dari pangkuan jannah, dan duduk di pangkuan shinta
"iya, tante punya nya sisil" ucap shinta membenarkan sambil mengelus kepala sisil
"maaf non, tumben non minta tolong saya buat ngobatin luka? biasanya kan selalu non yang ngobatin den ini" tanya bi asti saat dirinya sudah selesai mengobati dua anak manusia itu
"berdenging telinga saya dengerin mereka rebutan minta di obatin duluan bi" jawab shinta
"ooh.. gitu" ucap bi asti terkekeh sambil menganggukkan kepala
kemudian shinta mengajukan tangannya seperti meminta sesuatu
"apa kak? uang?" tanya ajudan yang tidak mengerti
"ck, kunci mobil, kakak laper" jawab shinta
"nih" ucap ajudan memberikan kunci mobil nya
kemudian shinta membuka mobil adik nya, lalu mengeluarkan beberapa makanan yang jumlah nya lumayan banyak
"bibi makan bareng kita sini" ajak shinta
"saya makan di belakang aja non" tolak bi asti
"bibi di sini aja ya..ini banyak loh bi makanan nya" ucap jannah
"yaudah non" ucap bi asti yang ikut duduk di samping shinta
makan berjalan dengan hikmat, sesekali ada candaan yang dikeluarkan walau shinta tidak menanggapi sama sekali
"udah kenyang?" tanya shinta pada sisil
"udah tante" jawab sisil yang tetap duduk di pangkuan shinta
"baca do'a sehabis makan dong" ucap shinta
"Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahilladzi ath-amanaa wa saqoona wa ja'alanaa minal muslimiin" ucap sisil yang memang sudah hafal do'a nya
(segala puji bagi Allah yang telah memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami termasuk dari kaum muslimin)
"good girl" ucap shinta sambil tersenyum
"sisil pinter ya, jangan lupa belajar lagi ya sayang" ucap ajudan
"siap om" ucap sisil sambil hormat seperti polisi
"wahh tiru in om nya ya sil?" tanya rendra
"iya om, polisi kan keren kayak om adib" jawab sisil seraya tersenyum
*ohh, jadi dia ini polisi, pantes pukulannya tadi kuat banget* batin reyhan
"hahaha, yaudah sisil bobok gih" ucap ajudan
"iya, ini udah malem, masuk ke dalem sama bibi dulu ya, nanti tante susulin ke atas" ucap shinta yang diangguki sisil
setelah sisil dan bi asti masuk, ajudan mulai membuka percakapan
"kak" panggil nya
"hmm" jawab shinta
"masih marah kak?" tanya ajudan
"gak, untung kamu beliin makanan kesukaan kakak tadi" jawab shinta
hufttt
__ADS_1
"aman" gumam ajudan sambil mengelus dada nya
"emang kenapa kalau gak bawa makanan kesukaan dia?" tanya reyhan berbisik
"bisa bisa ngambek nya berhari hari" jawab ajudan yang tanpa sadar menjawab pertanyaan reyhan
"kalau marah serem?" tanya reyhan lagi
"serem sih, tapi kakak kalau marah juga selalu demi kebaikan ku sendiri" jawab ajudan
"trus kenapa pas makan tadi dia diem aja?" tanya reyhan
"kakak gak suka kalau makan sambil ngobrol, makan ya makan, ngobrol ya ngobrol" jawab ajudan yang tanpa sadar memberi tau semua tentang kakak nya sendiri
*sama kayak gue dong* batin reyhan, lalu reyhan juga menanyakan beberapa hal tentang shinta yang membuat mereka berdua asik ngobrol berbisik sendiri
kemudian shinta menyadari kalau dua orang yang duduk di depannya sedang berbisik bisik dan dia mendengar namanya disebut beberapa kali
"kalian ngapain bisik bisik tetangga?" tanya shinta
saat dua orang itu tersadar dengan perbuatannya, keduanya langsung membuang muka masing masing dengan berlawanan arah
"udah akrab kali shin" ucap rendra terkekeh
"ya harus akrab dong" timpal jannah
"gak ya kak" sanggah ajudan
"ya ya terserah" ucap jannah
"sekarang kalian saling minta maaf, kak rey salah karna mukul orang sembarangan" ucap shinta membuat rey menunduk
ajudan yang mendengar hal itu langsung tersenyum penuh kemenangan
"kamu juga salah, udah tau banyak orang, ngapain peluk peluk kakak? kalau mau bales pukulan orang harus liat liat tempat dulu, gimana kalau tadi ditiru sama sisil?" omel shinta panjang lebar yang membuat senyum di wajah ajudannya sirna seketika
"maaf" ucap keduanya kompak
"ngapain minta maaf ke aku? kalian yang harus minta maaf satu sama lain" ucap shinta jengah
"maaf, tadi aku gak sengaja karna salah paham, aku gak terima kalau dia di peluk laki laki" ucap reyhan sambil menjabat tangan ajudan
"aku juga minta maaf" ucap ajudan sambil menerima jabatan tangan reyhan
"pelukan" suruh rendra
kemudian mereka berpelukan sebagai pelengkap kata maaf
"hahaha, mau rekam deh rasanya" ucap jannah di iringi gelak tawa nya
"aku juga" timpal rendra
"gerbang kenapa di buka terus kak?" tanya ajudan saat melepas pelukan nya
"ada laki laki di rumah, biar gak menimbulkan fitnah aja" jawab shinta
"ini kita gak jadi keluar?" tanya reyhan pada shinta
"keluar kemana? gak gak, ini udah malem" jawab ajudan tidak terima
"iya rey, muka lo masih luka gitu" timpal rendra
"besok aja" ucap shinta memberi penawaran
"yaudah" ucap reyhan
"ini udah malem, aku mau nyusulin sisil, kalian mau begadang disini?" tanya shinta
"boleh" jawab reyhan
"yaudah silahkan, jangan salahin aku ya kalau nanti kalian di grebek trus di amuk masa sama warga komplek sini" ucap shinta seraya berdiri dari kursi nya
"gak usah nawarin kalau gitu shin" cibir rendra
"udah ini udah malem, kalian pulang gih" ucap jannah
"yaudah deh kita pamit" ucap rendra
"assalamu'alaikum" pamit reyhan juga rendra
"waalaikumsalam" jawab semua orang
_________
jangan lupa like + komen❤🙆
__ADS_1
sampai ketemu di episode selanjutnya nya ya, salam hangat☺
maaf karna author kemarin gk bisa up, ada urgent di real life 🙏