
Setelah mendapat informasi tentang istri nya, Reyhan langsung menuju ruangan direktur rumah sakit yang dia utus untuk mengurus rumah sakit ini
Ada yang harus dia tanyakan mengenai istri nya yang di sebut menjadi mantan apoteker tadi, dia ingin memastikan hal itu memang benar atau tidak
Ceklek!
Pintu terbuka dan memperlihatkan laki laki tengah fokus dengan komputer nya
"Pak presdir?" Ia terlonjak dan cepat cepat berdiri lalu membungkuk untuk memberi hormat
"Ada yang ingin saya bicarakan" Ucap Reyhan mendekat ke arah laki laki itu
"Ingin membicarakan apa pak? sampai anda repot repot datang langsung untuk menemui saya" Tanya orang itu
"Apa istri saya masih bekerja di sini?" Tanya Reyhan to the point, dia ingin secepat mungkin mengetahui semuanya
"Tidak pak, istri anda sudah resign kemarin dan itu hari terakhir beliau bekerja" Jelas direk rumah sakit
"Alasan nya?" Tanya Reyhan karena Shinta sangat menyukai profesi nya sebagai apoteker, pasti tidak mudah melepas pekerjaan nya
"Beliau hanya bilang kalau ingin menjadi wanita rumah tangga yang baik, mengabdikan diri pada suami nya, dan mungkin anda lebih tau secara jelas maksud dari hal itu" Jawab nya
Reyhan mengernyitkan dahi nya, lalu detik kemudian dia ingat kalau dia dan Shinta memiliki perjanjian, bahwa jika istri nya hamil maka ia harus berhenti bekerja dan fokus pada perkembangan kehamilan nya
"Ya, saya tahu" Ucap Reyhan mengusap wajah nya, bagaimana bisa dia baru ingat tentang perjanjian itu sekarang
Bahkan istri nya rela melepas profesi apoteker yang menjadi kesukaan nya, dan mendapat gelar farmasi apoteker pun tidak mudah, perlu waktu cukup lama untuk mendapatkan hal itu
Rasa menyesal iku semakin dalam, di sertai pula rindu yang ikut menjadi jadi, ia tahu ia bersalah, maka dari itu dia harus menyelesaikan semua nya
"Saya pinjam komputer kamu" Ucap Reyhan menunjuk meja kerja itu
"Silahkan pak" Ucap direk ramah, rumah sakit ini milik Reyhan, tidak seharus nya orang itu meminta izin pada nya
Reyhan duduk di kursi yang dulu ia tempati, ia mengotak atik komputer itu sampai layar monitor menunjukkan rekaman CCTV rumah sakit hari ini
"Semua kamera sudah menyambung kesini?" Tanya Reyhan
"Iya pak, sejak dua bulan yang lalu sudah saya atur agar semua kamera bisa menyambung ke komputer ini" Jawab nya
Reyhan mengangguk, dan benar saja... layar monitor menunjukkan sekitar jam 3 pagi terlihat istri nya yang sedang tidak sadarkan diri tengah di bopong oleh seorang polisi yang tidak dia kenal
Lalu lanjut di pindahkan ke ruang rawat, terlihat polisi itu menghubungi seseorang melalui telfon nya, dan tak lama kemudian ajudan datang dengan tergesa gesa
Reyhan beranggapan mungkin orang yang menolong istri nya adalah teman ajudan, mereka memiliki profesi yang sama, jadi sangat memungkinkan untuk relasi pertemanan
Sekitar jam 5 pagi, baru lah Shinta keluar dari rumah sakit dengan adik nya dengan memakai masker dan kursi roda, Reyhan ganti memeriksa CCTV parkiran rumah sakit
Mata nya membulat, dia baru tahu jika mobil nya tadi berpapasan dengan ajudan, saking panik nya sampai dia juga tidak menyadari hal itu
*Udah deket lima langkah Rey... lo bodoh banget* Batin nya merutuki diri sendiri, jika saja ia tidak panik sudah pasti sekarang wajah Shinta benar benar ada di hadapan nya
"Saya sudah selesai, terimakasih" Ucap Reyhan berdiri dan keluar dari ruangan itu, fiks jalan terkahir adalah menemui adik iparnya walaupun dia akan mendapat bogeman nanti
🌸🌸🌸
Ajudan kini masih fokus dengan pekerjaan nya, ia membolak balik kan berkas masalah atau perkara tentang narapidana yang ada di polres tempat ia bekerja
"Dib.. ada yang nyariin tuh" Ucap polwan wanita berambut pendek dan mempunyai name tag Alifa
"Siapa Fa?" Tanya ajudan, ia cukup akrab dengan polwan bernama Alfa yang sering menjadi rekan ketika penggrebekan
"Gak tahu, laki laki tapi dia pakai mobil kakak kamu" Jawab Alifa, ia hafal dengan mobil Shinta yang beberapa kali pernah membawakan makanan untuk adik nya
Ajudan tersenyum mendengar nya, ia sudah menduga bahwa kakak ipar nya yang memiliki koneksi itu pasti sudah tahu jika Shinta ada bersama nya
"Hi... senyum mu kayak psikopat" Ucap Alifa bergidik ngeri
"Yang penting bukan psikopat beneran Fa" Ucap ajudan menyerahkan berkas itu pada Alifa
"Loh loh... kok di kasih ke aku?" Tanya nya
"Pelajari kasus ini, sementara ganti kan aku sebentar Fa" Jawab ajudan lalu melesat keluar begitu saja tanpa mempedulikan ekspresi polisi yang lain nya
"Kebisaan" Kesal Alifa menghentakkan kaki nya
Ajudan melangkah keluar, dia melihat ada Reyhan yang jalan mondar mandir di halaman polres seperti memikirkan sesuatu
Penampilan nya yang selalu rapi pun kini agak acak acakan, baru pertama kali dia melihat kakak ipar nya se gila itu
"Ada apa?" Tanya ajudan datar, entahlah dia malas saja bertemu kakak ipar nya
"Dimana Shinta?" Tanya Reyhan menatap sang adik ipar, ia tidak berani bersikap dingin karena hal ini memang salah nya
"Kenapa nanya aku? dia istri mu kan? harus nya kau tahu di mana keberadaan nya" Ucap ajudan di sertai senyum ejekan nya
"Aku mohon kembalikan istri ku, aku tahu dia pasti ada sama mu kan?" Ucap Reyhan
Bugh~ ajudan yang menahan untuk tidak main tangan pun akhirnya runtuh juga, dia marah dengan Reyhan yang sudah menyakiti kakak nya, namun dengan seenak jidat pria itu bicara untuk memgembalikan istri nya dan berakhir dengan tinjuan bogem yang ia keluarkan
Reyhan diam, dia tidak membalas, lebih baik menerima pukulan dari pada tidak akan pernah bertemu dengan istri nya kembali
"Kenapa kau menyakiti nya?" Tanya ajudan, tangan nya menarik kerah kemeja itu dan menatap wajah yang kini sudut bibir nya terluka
"Aku tidak pernah berniat menyakiti nya" Ucap Reyhan membalas tatapan itu meski tangan nya hanya diam
__ADS_1
"Kau belum tahu sepenuh nya tentang penderitaan kakak ku, tapi jika kau tahu mungkin kau pasti akan membunuh nya sekalian" Ucap ajudan, sorot mata yang biasa ramah kini terlibat tajam
"Apa maksud mu? aku benar benar tidak berniat untuk menyakiti nya, tolong katakan padaku di mana keberadaan nya, aku akan menjelaskan semuanya" Ucap Reyhan memohon
"Untuk apa? semua sudah jelas bukan? kau menyakiti kakak ku, kau mengulangi kesalahan masa lalu, kau sama badjingan nya dengan ayahku" Ucap ajudan menghentakkan kerah itu hingga Reyhan dedikit terhuyung, ini pertama kali dia kurang ajar pada kakak ipar nya dengan memanggil sebutan badjingan
Meskipun dia tidak tahu masalah yang sebenar nya, tapi dia juga sempat melihat foto di office tell lewat ponsel kakak nya waktu Shinta tidak sadarkan
"Aku bersumpah tidak pernah selingkuh, meskipun kau tidak percaya tapi aku tidak menghianati kakak mu" Ucap Reyhan berusaha meyakinkan adik ipar nya
"Punya bukti apa?" Tanya ajudan, dia tetap tidak percaya karena dulu ayah nya pun berkata seperti itu, tapi nyata nya? semua hanya omong kosong belaka dan bodoh nya dia pernah percaya dengan hal itu
"Untuk sekarang aku memang tidak punya bukti, tapi aku mohon... percaya pada ku sekali saja, demi Alloh aku tidak pernah selingkuh" Ucap Reyhan kekeh tapi sang adik ipar tetap menatap nya datar
"Jangan bawa bawa tuhan atas dasar kesalahan mu" Ucap ajudan ingin balik badan namun Reyhan justru menghalangi nya
Bugh~ pukulan itu kembali mendarat, meskipun wajah Reyhan sudah terlihat lebam, tapi rasa sakit hati kakak nya jauh lebih penting dari pada luka fisik yang tidak seberapa itu
"Pukul aku sepuas mu, asalkan beri tahu di mana istri ku" Ucap Reyhan tanpa menyeka bibir nya yang berdarah
"Kau yang sendiri yang membuat nya pergi, maka biarkan saja dia bahagia tanpa mu" Ucap ajudan ketus dan ingin melangkah kan kaki nya, namun lagi lagi Reyhan menghalangi
"Aku kan sudah bilang, aku-" Ucap ajudan terhenti kala melihat kakak ipar memohon dengan bersimpuh memegang kaki nya
"Aku mohon... aku mohon kembali kan istri ku, dia wanita ku dan aku sangat mencintai nya" Ucap Reyhan menunduk
"Apa yang kau lakukan? lepas!" Bentak ajudan, namun tetap kakak ipar nya itu justru menggeleng kuat
"Tidak! aku tidak akan pernah pergi sebelum aku tahu di mana keberadaan nya" Ucap Reyhan tetap dengan pendirian nya
"Atas dasar apa? ku bilang berdiri!" Ucap ajudan menaik pundak Reyhan dengan sedikit kasar, sekarang jam makan siang dan ada beberapa polisi yang keluar dari polres menuju halaman untuk mencari makan, tentu saja dia yang akan malu karena menjadi pusat perhatian
"Atas dasar aku mencintai nya, aku sangat mencintai istri ku Dib, jadi tolong jawab di mana dia sekarang" Ucap Reyhan
"Aku tidak akan pernah memberi tahu dimana keberadaan kakak ku, kau tidak pantas untuk mengetahui nya setelah perbuatan mu itu" Ucap ajudan sinis
"Aku bersumpah Dib, aku tidak pernah selingkuh, bahkan mengenal wanita yang ada di foto itu saja tidak" Ucap Reyhan
Ada tersirat kejujuran di mata itu, namun lagi lagi ajudan masih ragu, kesalahan orang tua nya di masa lalu membuat hati itu sulit percaya pada orang lain
"Bohong, kau bisa saja bersumpah palsu kan? mungkin wanita itu sudah berhubungan lama dengan mu" Ucap ajudan
"Aku tidak pernah main main dengan sumpah ku apalagi sampai membawa tuhan, aku mengatakan yang sejujur nya, aku tidak mengenal pelac*ur yang ada di office tell ku" Ucap Reyhan, gondok sekali dia dengan wanita yang bisa diam diam masuk ke office tell nya
"Sungguh? logika nya mana ada orang asing bisa masuk ke office tell orang lain? aneh" Ucap ajudan menggelengkan kepala nya
"Aku mengatakan yang sebenar nya, setidak nya kali ini tolong percaya dan beri aku kesempatan untuk melihat istri ku, memperbaiki semuanya" Ucap Reyhan mengeluarkan air mata nya, seumur umur baru kali ini dia menangis di hadapan orang lain kecuali Shinta
Ajudan melihat itu sedikit menggerakkan hati nya, dia tahu sifat Reyhan yang tidak akan menangis di depan orang lain, tapi kali ini? dia seperti melihat ketulusan yang belum pernah ia temui sebelum nya
"Apa kau di jebak?" Tanya ajudan ragu, mengingat di dunia bisnis banyak orang yang berlomba lomba untuk saling menjatuhkan
Reyhan mendongak, dia memang terbesit pikiran itu, tapi siapa yang melakukan nya? apalagi office tell lantai 4 nomor 12 itu memang bukan milik nya "Ya, ada yang menjebak ku" Jawab nya yakin
"Heh... jangan pede dulu, aku tanya doang tapi bukan berarti percaya sama kamu" Ucap ajudan kembali sinis
"aku yakin kalau memang ada yang menjebak ku, terakhir pintu office tell tidak terkunci" Ucap Reyhan yakin dengan pemikiran nya
"Apa kau bisa di percaya? kalau tidak pasti kakak ku akan lebih dulu menembak kepala mu" Ucap ajudan, dia hanya menakuti saja karena kakak nya tidak akan sekejam itu
"Kali ini tolong percaya, tapi beri tahu dulu di mana istri ku" Ucap Reyhan kembali memohon
Yaelah... baru juga tegas mikirin jebak menjebak yang mengenai nya, tapi kenapa sekarang kembali lembek dan merengek lagi? ajudan saja sampai dongkol menghadapi nya, bawaan mau jadi bapak mungkin
"Enak aja, cari dulu kebenaran tentang bukti itu, kalau berhasil baru aku kasih tahu di mna istri mu" Ucap ajudan melarang
"Tapi aku harus menjelaskan nya bukan? agar dia tidak salah paham lebih jauh" Ucap Reyhan
"Menjelaskan apa? mau bicara apapun sampai mulut berbusa pun kakak tetap sakit hati, apalagi kau tidak membawa bukti sama sekali" Ucap ajudan
"Ya... setidak nya beri tahu aku tentang keadaan nya sekarang, foto nya juga kalau bisa" Ucap Reyhan
"Hih... ngelunjak" Kesal ajudan lalu membuka ponsel nya dan mengirim foto Shinta yang ia ambil tadi pagi saat kakak nya menggendong bayi
"Terimakasih" Ucap Reyhan tulus
"Cari bukti tentang masalah mu dulu, kalau sudah selesai baru kau boleh temui kakak ku dan calon anak mu" Ucap ajudan lalu masuk ke kantor polsek begitu saja tanpa mengucapkan salam pada Reyhan, ia hanya masih kesal dan ingin memberi sedikit pelajaran
*Kalau ucapan mu hanya omong kosong, lihat saja... aku akan membawa kakak ku pergi jauh sampai kau pun tidak akan bisa menemukan batang hidung nya* Batin ajudan dengan senyum misterius nya
Reyhan masuk ke mobil, ia membuka ponsel dan melihat foto Shinta tengah memangku seorang bayi, hati itu spechles melihat nya
"Aku mencintaimu, maafkan aku yang tidak bisa menemui mu sekarang, tapi aku janji masalah ini akan secepat nya ku atasi, tunggu aku di sana" Gumam Reyhan, untuk sekarang dia hanya bisa mengusap foto istri nya lewat ponsel
Dalam hati Reyhan bergumam mungkin istri nya akan terlihat seperti itu jika menggendong bayi mereka nanti
🌸🌸🌸
Shinta masih betah menemani Han main kesana kesini, bahkan keringat pun sampai mengucur di dahi karena cahaya matahari
"Han... masuk dulu yuk, kita makan siang" Ajak Shinta yang dari tadi sudah meletakkan baby Hani kembali ke dalam dan lanjut menemani Han
"Yah... tante udah capek?" Tanya Han
"Iya, kita makan dulu trus tidur siang, nanti main lagi Han" Ucap Shinta memberi pengertian dan untung nya bocah itu menurut, dia juga tidak ingin kalau tante nya kecepek an
__ADS_1
"Ayo anak anak, bismillah dulu sebelum makan" Ucap pengurus panti yang membantu anak anak di ruang makan
"Bismillahirrohmanirrohim" Ucap mereka kompak, namun berbeda dengan Han yang masih cadel jika melafalkan huruf r
"Tante gak makan?" Tanya Han di sela sela aktivitas sendok garpu nya
"Nanti aja, Han makan duluan" Ucap Shinta menolak secara halus
"Gak boleh, nanti tante sakit kan Han ikut sedih" Ucap bocah itu menunjukkan mimik muka sedih nya
"Haha... tante bisa makan nanti sayang, beneran" Ucap Shinta yang terhibur dengan ada nya Han di sisi nya
"Han suapin ya..." Ucap bocah itu bersemangat mengambil nasi beserta lauk di atas sendok nya
"Aaa... " Ucap Han memberi arahan pada tante nya
Shinta menurut, ia membuka mulut dan menerima suapan Han, bocah itu membuat nya sangat terharu bahkan di usia nya yang masih dini tapi dia memiliki pribadi yang lebih dewasa dari anak anak lain nya
"Enak kan tan?" Tanya Han
"Enak banget malah, jadi Han makan sekarang, biar tante makan sendiri, oke?" Ucap Shinta yang di angguki bocah itu
Saat ia berdiri, ada seseorang yang menepuk pundak nya dari belakang "Gimana kabar nya neng?" Tanya orang itu
Shinta berbalik, ternyata itu bu Rati, ibu nya Dara yang ia pekerjakan sebagai koki panti asuhan di sini
"Alhamdulillah... saya baik, bu Rati sendiri?" Jawab Shunta sekaligus bertanya
"Alhamdulillah... saya juga baik neng" Jawab bu Rati tersenyum
"Oh iya, bagaimana kabar Dara?" Tanya Shinta, meskipun orang itu telah membuat masalah dengan nya, tapi rasa kasihan tetap ada di dalam hati nya
"Dia baik kok neng, lagi kerja di cafe" Jawab bu Rati, meskipun sedikit malu karena anak gadis nya telah menyakiti orang sebaik Shinta
"Alhamdulillah... saya ikut senang" Ucap Shinta tulus, dia bersyukur setidak nya tuhan masih menyayangi hamba nya
Selesai makan siang, Shinta di persilahkan intuk istirahat di salah satu kamar, dia menurut karena memang badan nya masih lemas dan lelah, apalagi lelah batin itu berkali kali ia rasakan
Dia yang tidak membawa satu stel pun pakaian sekarang memakai baju pinjaman dari bu panti, baju milik nya kemarin pun pasti sudah mau asam
Tok tok tok
Pintu kamar nya di ketuk saat Shinta berusaha memejamkan mata nya sehabis sholat dhuhur
"Masuk" Ucap Shinta memakai kembali hijab itu
Ceklek
"Tante... ini Han, aku boleh tidul sama tante kan?" Ucap Han mendekati ranjang yang Shinta gunakan
"Boleh dong, sini tidur sama tante" Ucap Shinta membawa bocah itu rebahan di sebelah nya
"Makasih, tante baik deh" Ucap Han menelusupkan wajah nya di lengan Shinta
"Sama sama, udah sholat belum?" Tanya Shinta
"Udah dong, tadi pak Amal jadi imam" Jawab Han menyebutkan nama pak Amar alias satpam panti asuhan
"Oh... yaudah sekarang baca do'a trus tidur ya, nanti sore biar gak ngantuk" Ucap Shinta mengelus punggung bocah itu sampai tertidur pulas
Saat Han sudah terlelap, Shinta meraih ponsel nya yanh berada di atas nakas, ponsel itu sudah mati dari tadi pagi
Hal pertama yang dia temukan saat mengaktifkan ponsel adalah ratusan panggilan dan pesan dari suami nya, isi nya yang tak lain minta maaf, menanyakan di mana keberadaan nya, dan masih banyak lagi
Ia mengabaikan pesan itu, untuk apa Reyhan menghubungi nya kembali? sudah jelas Shinta masih enggan membahas masalah mereka, hati nya masih sakit dan sekarang ia hanya ingin menenangkan pikiran nya
Tapi ada satu pesan di aplikasi hijau yang tidak bisa dia abaikan, yaitu pesan dari mama Riana, ibu mertua nya
Mama Riana❤
📩 : Sayang, mama barusan ke apartemen kalian tapi gak ada orang, cuman ada bibi yang lagi masak di sini
📩 : "Iya ma, maaf Shinta dan mas Rey sama sama ada urusan" Balas Shinta berbohong atas dasar demi kebaikan
Tak lama kemudian muncul balasan dari mama Riana
📩 : Iya gak papa, tapi ini ada susu hamil di meja makan, kamu hamil nak?
Shinta sudah menduga kalau susu dan vitamin milik nya pasti sudah Reyhan temukan, karena tidak mungkin bibi berani masuk ke kamar mereka
📩 : "Alhamdulillah... Alloh ngasih kepercayaan sama Shinta untuk jadi ibu ma, semua juga berkat dari do'a mama❤" Balas Shinta mengirim foto dua garis dan USG milik nya
Tidak ada guna nya lagi menyembunyikan kehamilan nya, toh kejutan yang dia buat untuk suami juga gagal, untuk saat ini biarkan saja ia berbagi kebahagiaan dengan mama Riana
Padahal tanpa Shinta ketahui kalau rencana kejutan nya berhasil, orang pertama yang mengetahui tentang kehamilan nya adalah Reyhan, hanya saja ada sesuatu yang membentengi mereka sekarang
📩 : Ya Alloh... alhamdulillah sayang, kamu di mana sekarang? biar mama jemput kamu ya, kita me time lagi kayak biasa nya
Shinta lagi lagi terharu dengan perhatian yang mama Riana berikan, bahkan sebelum dia menjadi menantu pun perhatian itu sangat berkesan, selalu mengerti perasaan nya, selalu memberi perhatian bak anak kandung satu satu nya
*Aku bersyukur, bunda yang sangat aku cintai, aku hormati, walaupun belau tidak bisa mengerti perasaan ku, tapi ada mama Riana yang mendukung ku, menenangkan ku, mereka sama sama ibu ku dan aku mencintai mereka berdua* Batin Shinta, bunda yang melahirkan nya tapi mama Riana yang memberikan perhatian untuk nya.
Bersambung
__ADS_1
Mungkin ada yang sudah faham dengan teka teki kali ini :)