
"Kapan ya aku bisa pulang?" Tanya Reyhan bosan sekali ada di ruangan serba putih ini
"Kenapa? gak tahan ya kalau tangan nya gak pegang berkas?" Tanya Shinta balik
Reyhan menghela nafas, rindu berkas? tidak sama sekali "Enggak, kalau gak ngapa ngapain mending di rumah" Jawab nya
"Emang di rumah ngapain?" Tanya Shinta ragu, merasakan akan adanya gejolak jawaban yang aneh dari suaminya
"Masih nanya yang? ya... apalagi kalau bukan itu?" Jawab Reyhan mengedipkan mata nya
Tuh kan, benar perasaan yang Shinta rasakan "Nunggu waktu pemeriksaan dulu, kalau gak ada yang serius ataupun infeksi ya bisa pulang" Ucap nya mengalihkan pembicaraan
"Kapan biasanya waktu periksa?" Tanya Reyhan karena bidang kesehatan bukan keahlian nya
"Harus nya tadi malam waktu kamu bangun mas, tapi katanya gak sakit berarti seharusnya bentar lagi pemeriksaan" Ucap Shinta melirik arloji nya
Dan benar saja, lima menit kemudian dokter laki laki yang melakukan operasi beserta satu perawat masuk ke ruangan Reyhan
"Selamat pagi, saya mau melakukan pemeriksaan dulu" Ucap dokter bedah yang mengoperasi Reyhan kemarin
Shinta tersenyum dan mempersilahkan dokter untuk melakukan pemeriksaan
"Oh iya... untuk peluru sudah saya berikan ke adik ipar anda" Ucap dokter sambil tersenyum juga
"Baik, terimakasih" Ucap Reyhan menganggukkan kepala
"Sama sama pak"
"Permisi, saya ganti perban nya dulu ya" Ucap seorang asdok perempuan yang sedari tadi diam dan menyimak
"Eit... biar saya aja" Ucap Shinta mencegah dengan mengadahkan tangan nya, bermaksud untuk meminta alat alat yang di gunakan tersebut
Reyhan melirik istri nya, dia mencium ada bau bau cemburu di sini "Izinkan saja"
Asdok itu pun tersenyum dan menganggukkan kepala, dia tahu kalau ada seorang istri yang enggan suami nya di sentuh siapapun
"Pelan pelan yang, jangan di tekan" Ucap Reyhan terkekeh
Baru kali ini dia melihat Shinta yang memakai sarung tangan dan menghadapi luka, biasanya istrinya itu hanya memegang berbagai macam obat obatan saja
"Kenapa liatin terus? aku cantik ya?" Ucap Shinta pede dengan tangan memegang pinset di sertai alat pembersih
"Iya lah, masa' istriku gak cantik?" Jawab Reyhan, mata yang biasa menyorot tajam namun selalu hangat jika menatap orang yang dia cintai
"Cantikan mana aku sama-
"Cantikan kamu sayang, kamu sama mama paling cantik" Sahut Reyhan sebelum istrinya membahas si Alina
Dokter spesialis bedah dan asisten nya itu hanya bisa tersenyum dan menyimak kala melihat pasangan suami istri yang saling lirik
Shinta membersihkan area lengan yang di operasi kemarin dan mengganti perban, ia melakukan itu dengan sangat telaten tanpa keraguan sedikit pun
Meskipun beberapa kali ia harus memejamkan mata ketika melihat ada bercak darah di lengan kokoh itu, rasa takut dengan darah masih ada tapi dia dia juga harus merawat suami nya dengan baik
"Alhamdulillah" Ucap Shinta merasa lega setelah mengganti perban tersebut
Berkali kali Reyhan hanya bisa tersenyum, dia juga tahu kalau istri nya takut darah namun memaksakan untuk mengganti perban nya sendiri
*Sholeha nya istriku, semoga Alloh selalu memberi mu kebahagiaan, memberkahi rumah tangga kita yang insyaalloh sakinah* Batin Reyhan berdo'a untuk mereka berdua
"Terimakasih" Ucap Shinta menyerahkan kembali alat alat yang barusan dia pakai
"Sama sama"
"Dan catatan untuk pak direk, karena jahitan belum sepenuh nya kering maka dari itu anda baru di perbolehkan pulang besok" Ucap dokter
"Tidak bisa rawat jalan di rumah saja?" Tanya Reyhan
"Maaf pak, tidak bisa karena anda juga masih membutuhkan infus beberapa botol" Jawab nya
"Hmm...." Deheman saja yang keluar dari mulut itu, jujur dia sudah malas sekali berada di rumah sakit
"Gak papa mas, bersyukur luka kamu gak infeksi dan bisa pulang besok" Ucap Shinta karena jika infeksi pasti akan lebih lama lagi
Selesai dengan urusan bersama pasien, dokter dan asisten nya keluar meninggalkan pasangan itu
"Maaf ya" Ucap Shinta
"Maaf kenapa?" Tanya Reyhan mengernyitkan dahi nya
"Ya katanya kamu bosan di rumah sakit, kamu di rawat juga karena aku kan? karena ngelindungi aku dari mereka" Jawab Shinta
Reyhan menghela nafas, ternyata dia sudah salah bicara "Jangan merasa bersalah, lagian aku gak papa yang, hanya bosan sama ruangan ini" Ucap nya
"Gimana kalau kita ke taman rooftop? masih pagi kan seger" Ucap Shinta menawarkan
"Panas, lebih enak malam hari" Jawab Reyhan
"Kamu itu vampir ya? takut sama matahari" Ucap Shinta menggelengkan kepala
"Iya, aku vampir yang jatuh cinta sama kamu" Ucap Reyhan sembari menarik kepala istrinya dan memberi kecupan di dahi
"Makan aja yuk, dia udah laper" Ucap Shinta menunjuk perut nya
"Kamu atau dia yang laper?" Goda Reyhan tergelak
"Lah kalau aku laper berarti anak kita juga laper dong, aku kan ibu nya" Jawab Shinta sengena dia
"Iya iya, kita makan makanan yang di bawain mama tadi" Ucap Reyhan menunjuk meja samping ranjang
🌸🌸🌸
Disisi lain, Tiara dan Adib yang baru selesai sarapan langsung menuju ke tempat yang akan mereka datangi
__ADS_1
"Kapan kapan kesini lagi ya" Ucap bi Asti
"Ah... insyaalloh kapan kapan bi" Jawan Tiara ramah
Adib mencebikkan bibir nya, kenapa bi Asti sekarang perhatian sekali dengan gadis itu? entahlah
"Ayo, jadi atau gak?" Tanya Adib melirik arloji nya dan menunggu di samping pintu mobil
"Ya kalau gak jadi juga gak papa, lagian siapa yang butuh?" Tanya Tiara balik karena hanya dia yang bisa membantu untuk menemukan kunci tentang peluru itu
"Kamu pikir saya gak bisa menyelidiki ini sendiri?" Ucap Adib menantang
"Gak, gak akan bisa!" Jawab Tiara memelototkan mata nya
"Siapa bilang saya gak bisa?" Tanya Adib membalas pelototan mata itu
"Siapa yang tahu kunci nya? siapa yang tahu jawaban nya?" Tanya Tiara balik tak kalah menantang
Adib diam, iya juga sih... yang tahu kunci itu hanya Tiara dan Bian, dia tidak mungkin langsung meminta pada Bian
"Apa apa? wlekkk... " Ejek Tiara menjulurkan lidah nya
Bi Asti dan pak Didi geleng geleng kepala ketika melihat dua anak muda yang selalu bertengkad layak nya tom and jery
Selesai dengan pertengkaran kecil itu, baru lah mereka berdua berangkat ke kantor Zeze grup yang ada di Bandung
"Kau yakin soal peluru itu?" Tanya Adib
"Yakin gak yakin, dan daripada banyak bicara mending fokus ke jalan raya" Jawab Tiara acuh dengan menoleh ke jendela
"Kenapa? takut mati?" Tanya Adib
"Takut mati? yang ada takut nanti arwah saya gentayangan karena kamu penyebab nya" Jawab Tiara
"Ck ck ck, heran banget saya sama kamu yang judes nya melebihi kakak" Ucap Adib berdecak
"Dih... emang situ siapa? terserah saya dong mau judes sama siapa aja" Ucap Tiara
"Senyum itu ibadah, sekali sekali senyum gitu loh" Ucap Adib
"Senyum? biar apa?" Tanya Tiara
"Biar cantik lah, emang mau semua laki laki ketakutan liat sifat judes mu itu?" Tanya Adib
"Cih... terserah mereka, karena orang lain selalu memandang dari luar bukan berarti saya harus merubah sikap saya" Jawab Tiara
Memang benar, jika ada laki laki yang tulus mencintaimu maka sudah pasti apapun keadaan nya, mau murah senyum ataupun jutek juga tidak ada masalah, yang penting cinta
Adib jadi penasaran kenapa Tiara bisa se jutek itu padanya? apa memang sifat nya seperti itu atau ada hal lain?
Tin tin!!!
"Cepat jalan, lampu hijau loh" Ucap Tiara mendenfar bising nya klakson mobil yang ada di belakang mereka saat di rambu rambu lalu lintas
"Lagian punya mata itu di buat liat jalan raya, jangan natap anak gadis orang" Sindir Tiara
"Maaf, khilaf" Ucap Adib mengaruk kepala nya yang tidak gatal
15 menit perjalanan, mereka sampai di gedung pencakar lagit yang tinggi dan megah itu, ada tulisan logo doble Z sangat besar di atas
"Baru kali ini aku ke kantor" Ucap Adib menatap area kantor itu
"Kau akan melihat hal baru nanti" Ucap Tiara
Mereka langsung masuk dengan Tiara yang sudah mendapatkan izin dan mempunyai janji dengan Bian di ruang pribadi nya
"Kamu sering kesini?" Tanya Adib saat mereka berdua tengah ada di dalam lift
"Ya, saat ada kasus ataupun mengurus hal lain" Jawab Tiara
Ting!!!
Lift terbuka, pandangan pertama yang mereka lihat adalah koridor di sertai beberapa ruangan setiap jabatan
"Ruangan Bian ada di mana?" Tanya Adib
"Paling ujung" Jawab Tiara
"Ha? berarti ruang yang di gunakan kak Zean dulu?" Tanya Adib
"Iya lah, ruangan presiden direkrut tidak pernah di ganti" Jawab Tiara
"Alasan nya?"
"Untuk menghormati perasaan orang yang membangun perusahaan ini walaupun dia telah tiada, dan ada satu hal yang perlu di lindungi di sana" Jawab Tiara
"Hal yang di lin-
"Udah jangan banyak nanya, nanti juga tahu sendiri" Kesal Tiara yang bosan menjawan setiap pertanyaan demi pertanyan
Mereka berdiri di depan sebuah pintu berwarna putih, ukuran seperti pintu ruang atasan pada umum nya, hanya saja di setiap pintu ruangan selalu terdapat logo doble Z
Tok tok tok!
"Pak, ini saya" Ucap Tiara
"Masuk" Suara Bian yang menyahut dari dalam
Ceklek!
"Assalamualaikum" Ucap Tiara dan Adib bersamaan
"Waalaikumussalam, duduk aja di manapun yang bisa membuat kalian nyaman" Ucap Bian
__ADS_1
Ruangan itu serba warna putih, hanya lebih dobe dan barang barang tersusun rapi, ukuran yang luas dengan beberapa hiasan dinding yang menarik
"Pak, gak cari sekretaris baru?" Tanya Tiara sadar jika Alena sudah keluar bahkan berada di bawah tahanan mereka
"Kamu aja gimana?" Tanya Bian menawarkan
"No no, saya ogah ngurusin berkas segitu banyak nya" Jawab Tiara enggan
Mereka bertiga duduk berhadapan, Bian di kursi jabatan nya yang dulu di tempati Zean, sedangkan Adib dan Tiara duduk di kursi depan yang hanya terhalang dengan meja
"Mana peluru nya?" Tanya Bian
"Ah iya" Ucap Adib merogoh kantong lalu mengeluarkan kantong plastik berisi satu peluru yang mengenai lengan Reyhan kemarin
"Pak, saya masih ingat peluru yang mengenai tuan Zean satu tahun lalu, harus nya bapak juga ingat peluru itu kan?" Tanya Tiara
"Masa'? kamu gak silinder dan salah lihat kan?" Tanya Adib meragukan
"Hust!!! enak aja, mata ku masih jeli tau!" Ucap Tiara melirik tajam pria yang berada di sebelah nya
Sebelum menjawab, Bian memperhatikan peluru itu dengan seksama, memastikan agar tidak ada kekeliruan nanti
"Saya ingat" Jawab nya
"Nah... bapak ingat kan? gimana? peluru yang bapak pegang itu sama seperti tahun lalu kan?" Tanya Tiara
"Sebentar" Jawab Bian menunda pembicaraan itu sebentar, lalu membuka laci dan mengambil barang yang sudah dia siapkan
"Apa itu pak?"
"Apa itu Bi? perasaan kakak gak pernah nunjukin barang itu" Tanya Adib
"Ini peluru yang mengenai Zean satu tahun lalu, aku masih menyimpan nya dengan baik untuk bukti suatu saat nanti di pengadilan" Jawab Bian
Tiara mengangguk faham, dia juga baru melihat peluru itu lagi setelah kejadian satu tahun lalu
"Kau polisi dan pasti paham jenis jenis peluru kan? aku rasa keduanya ini sama" Ucap Bian menjajarkan tiga peluru dari kejadian yang berbeda
Satu peluru yang mengenai Reyhan, dan dua peluru yang mengenai Zean
"Ini.... " Ucap Adib memandang benda kecil itu dengan seksama, dahi nya mengernyit seperti berpikir sesuatu
"Kamu tahu?" Tanya Tiara
"Peluru ini ilegal, semua mempunyai standar untuk peralatan senjata dan ada ukiran huruf G di ujung nya walaupun sangat kecil" Jawab Adib
"Masa'?" Tanya Tiara yang lansung merebut peluru itu, ikut mencari ukiran huruf yang di bilang tadi
"Berarti itu dari tempat yang sama dan di pesan khusus dari seseorang" Ucap Bian
"Iya, sangat kelihatan dan tinggal beberapa langkah lagi hal ini selesai" Ucap Adib
"Maksudnya?" Tanya Bian tidak faham
"Kemungkinan Alina Lee, kembaran asisten mu yang menjebak kak Rey itu besok datang ke Indonesia" Jawab Adib
"Menangkap nya di area mana?" Tanya Bian
"Di Osaka, persembunyian yang lumayan jauh" Ucap Adib geleng geleng kepala
"Osaka? kenapa semuanya berkaitan dengan Osaka?" Tanya Bian penasaran
"Kemungkinan ada yang melindungi nya di sana, entah siapa tapi sepertinya ada kaitan dengan huruf G itu" Ucap Adib menunjuk Tiara yang sedang sibuk sendiri memperhatikan peluru
"Mana sih? katanya ada hurf G?" Tanya Tiara kesal merasa di bohongi
Huft...
"Anak buah mu ini silinder ya?" Tanya Adib pada Bian
"Mana? mana ada huruf G?" Tanya Tiara kesal karena sedari tadi belum menemukan nya
"Ck, sini" Ucap Adib merebut peluru itu, menunjukkan nya pas di depan mata Tiara
"Lihat ujung nya, ada huruf G kecil di sana" Ucap Adib
"Lihat baik baik!" Ucap Bian
Tiara mengedipkan mata nya, berusaha fokus dengan benda super kecil itu dan memfokuskan pandangan pada satu titik
"Ada huruf G kan? kalau gak lihat berarti silinder parah!" Ucap Adib gemas sekali dengan perempuan berambut pendek itu
"Oh iya ya... ada huruf ji kecil" Ucap Tiara baru menyadari
"Ja ji ja ji, G tir...." Ucap Adib membenarkan
"Sama aja, Ji kan pelafalan versi inggris nya" Ucap Tiara enteng
"Oh iya kak Bi, aku belum pernah liat ruangan rahasia yang di maksud kakak" Ucap Adib penasaran
"Ruang rahasia?" Tanya Bian balik
"Iya, isi nya ada beberapa hal dari kak Zean" Ucap Adib
"Ruangan itu ada di belakang, tapi kalau mau masuk hanya bisa sama kakak kamu aja, tanpa izin nya juga gak akan bisa" Ucap Bian menunjuk tembok belakang kursi nya
Tembok putih dobe, warna nya tidak beda dari tembok yang lain, hanya saja di tengah ada logo doble Z di sana
"Itu ruangan nya?" Tanya Adib
"Iya, kelihatan nya mirip seperti tembok biasa tapi ada hal serius yang harus di lindungi di situ" Ucap Bian
Bersambung
__ADS_1
AKHIRNYA BISA UPDATE LAGI SETELAH HP EROR DAN SIBUK SAMA UJIAN😁