
Happy reading!
"kalau begitu saya balik dulu pak" pamit shinta sambil berdiri setelah selesai membersihkan bekas tempat makan mereka tadi
"tunggu" cegah reyhan menghentikan langkah shinta
"iya pak?" jawab shinta
"ini punya kamu ketinggalan, tadi jatuh di kolong meja" ucap reyhan sambil memberikan botol obat mini yang selalu shinta bawa ke mana mana
*aduhh, kok bisa jatuh sih? kalau vitamin yang jatuh sih gak masalah, lah itu..* batin shinta merutuki kebodohannya
"oh iya pak, terima kasih" ucap shinta sambil menerima botol mini itu
"itu obat apa?" tanya reyhan
"cuman vitamin biasa kok pak, kalau gitu saya keluar dulu" pamit shinta dan segera keluar dari ruangan reyhan
"rhodiola rosea" gumam reyhan mengingat tulisan yang tertera di botol obat milik shinta tadi
*aku harus cari tau tentang obat itu* batin reyhan
sedangkan di tempat shinta berada
"siang" sapa shinta saat masuk ke ruang farmasi
"siang juga" jawab mereka serentak
"ekhem, yang habis dari ruangannya pak rey" goda sela
"enak gak shin?" tanya jannah
"gimana rasanya?" tanya monik
*aku masuk kok malah di bombardir sama pertanyaan sih?* batin shinta kesal
"iya tuh, gimana rasanya shin?" tanya bagas ikut ikutan
"sama aja" jawab shinta
"sama aja gimana sih?" tanya jannah
"ya sama sama kerja" jawab shinta
"emang disuruh ngapain?" tanya sela
"mengurutkan berkas laporan dari tahun tahun lalu sampai sekarang" jawab shinta
"haaa? banyak banget dong" ucap monik menanggapi
"hmm" jawab shinta menganggukan kepala sambil duduk di kursi nya
"pak rey kalau pdkt gak asyik ih" ucap sela
"ho'oh" ucap bagas
"di mana mana kalau pdkt tuh di perhatiin, lah ini malah dikasih kerjaan yang banyak" ucap monik
*namanya juga manusia langka* batin shinta terkekeh mendengar celotehan temannya
"shin, kok lo diem aja?" tanya jannah
"gak papa" jawab shinta menggelengkan kepala
"itu si adit juga ngapain diem aja?" tanya sela
"lagi fokus" jawab adit singkat
*kok aku ngerasa dia kayak gak suka ya kalau pak rey deket sama shinta* batin jannah juga sela
"udah ah, ayo kerja" lerai bagas
skip jam pulang
"lo yang nyetir jan" ucap shinta sambil memberikan kuci mobil nya
"oke" jawab jannah
"jan" panggil shinta saat jannah duduk di kursi kemudi nya
"apa?" tanya jannah
"emm, gak jadi deh" jawab shinta menggelengkan kepala
__ADS_1
*disaat aku ingin menjauh dari kak rey, mengapa aku malah jadi semakin dekat?* batin shinta
"lo kepikiran sama pak rey ya?" tebak jannah dan refleks shinta mengangguk
"lo niat ngejauh, tetapi takdir justru mendekatkan kalian" tebak jannah
"hmm" jawab shinta menganggukan kepala
"ya kalau pak rey emang beneran jodoh lo, lo bisa apa?" tanya jannah
"gak tau jan" jawab shinta menggelengkan kepala
"shinta..entah kapan tetapi pasti hati lo itu akan ada orang yang ngisi" ucap jannah pelan
"dan mungkin sekarang adalah waktu yang tepat" ucap jannah yang membuat shinta menoleh ke arah nya
"gue... " ucap shinta menggantung
"yaudah, biarin aja mengalir dengan sendirinya, yang pasti kalau lo emang udah yakin, lo kasih tau sama pak rey" ucap jannah yang memang mengerti kalau shinta masih ragu dengan hati nya sendiri
"udah ya, jangan dipikirin" ucap jannah sambil mengelus pelan punggung shinta
"makasih" ucap shinta yang di angguki jannah dan kembali fokus untuk menyetir
sedangkan shinta hanya memandang keluar jendela
"tadi obat gue jatuh trus ditemuin sama kak rey" ucap shinta tiba tiba
"trus?" tanya jannah meminta penjelasan lebih sambil fokus menyetir
"gue takut" jawab shinta
"takut mengapa?" tanya jannah
"gue takut kalau sampai kak rey tau tentang obat itu" jawab shinta
"emang ada dampaknya kalau pak rey tau?" tanya jannah memancing shinta
"gue takut kak rey ngejauhin gue setelah tau tentang obat apa itu" jawab shinta datar dan jannah tersenyum mendengar jawaban dari sahabatnya itu
"katanya mau ngejauh, eh sekarang malah takut kalau dijauhin sama pak rey" ucap jannah menggoda shinta dan shinta hanya diam
"gue yakin kalau pak rey gak akan pernah ngejauhin lo setelah tau tentang obat itu, bahkan setelah tau tentang semuanya" sambung jannah
"lo gak inget apa kata pak rey? apapun alasannya aku tetap menyukaimu, pak rey bilang gitu kan?" ucap jannah
"hmmm" jawab shinta sambil mengangguk
"karena itu gue bisa yakin" ucap jannah
"ohh" jawab shinta
"kalau lo takut pak rey menjauh, itu artinya lo udah nyaman sama pak rey shin" ucap jannah
"gue emang nyaman jan, tetapi kalau soal jatuh cinta, gue gak tau" ucap shinta
"nyaman sama jatuh cinta itu beda tipis, nanti kalau lo udah bisa bedain, tolong kasih tau pak rey, kasihan dia" ucap jannah
"iya" jawab shinta singkat, padat, dan jelas
skip sampai rumah
"assalamu'alaikum" ucap mereka saat masuk rumah
"waalaikumsalam" jawab bi asti
"loh, kok jam segini bibi belum pulang?" tanya jannah yang memang tau kalau ini sudah sangat sore
"iya non, tadi nungguin non laila nya pulang dahulu" jawab bi asti
"jadi sampai sekarang belum pulang dia bi?" tanya shinta
"belum non" jawab bi asti
"yaudah, bibi sekarang pulang aja gak papa, kan di rumah udah ada kita" ucap jannah yang merasa tak enak karena bibi harus pulang telat
"gak papa kok non, kalau gitu saya pulang dulu, assalamu'alaikum" pamit bi asti
"waalaikumsalam" jawab shinta juga jannah
"ni anak ke mana lagi" ucap jannah
"dia keluar pakai mobil punya lo kan?" tanya shinta
__ADS_1
"iya" jawab jannah
"lo ngapain?" tanya jannah saat melihat shinta mengotak atik ponselnya, dan shinta hanya diam
"jangan bilang kalau lo udah masang GPS di mobil gue?" tebak jannah yang memang tau sifat sahabat nya itu
"emang udah" jawab shinta enteng
"buat apaan?" tanya jannah heran
"setidaknya berguna juga dalam keadaan kayak gini" jawab shinta
"ya, iya juga sih" ucap jannah membenarkan sambil menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal
"dia baru sampai di depan rumah" ucap shinta setelah melihat GPS di ponsel nya
"owalah, yauda sih, tungguin aja" ucap jannah yang di angguki shinta
"assalamu'alaikum everibody" salam laila heboh saat masuk rumah
"waalaikumsalam" jawab shinta juga jannah
"ke mana aja?" tanya shinta yang nada nya sudah seperti guru BK
"jalan jalan doang kok" jawab laila
"lain kali itu kabarin salah satu dari kita" ucap shinta
"iya iya" jawab lail
skip malam
"katanya ada hal yang mau lo bicarain?" tanya shinta saat laila sudah duduk di sofa
"oh itu, minggu depan bonyok gue pulang ke bogor, dan minggu depan gue juga pulang kesana" ucap laila
"kok pulang? kenapa gak di sini aja?" tanya jannah
"gue mau di ajarin bisnis noh sama papa" ucap laila mengerucutkan bibirnya
"tapi ya emang bener sih kalau lo juga harus belajar bisnis" ucap shinta
"iya sih, tapi...au ah" ucap laila uring jringan sendiri
"udah udah, itu juga demi kebaikan lo" ucap shinta
"oke oke, untuk saat ini lupakan gue yang akan pulang" ucap laila
"trus?" tanya jannah meminta penjelasan
"hari minggu kita keluar yuk, jalan jalan bareng sebelum gue pulang" ajak laila bersemangat
"gue mau banget" jawab shinta
"tapi gue gak bisa" jawab jannah lesu
"kok gak bisa?" tanya laila
"minggu gue mau keluar sama rendra, katanya sih mau di ajak ke rumah orang tuanya" jawab jannah yang malu malu kucing
"ciee ketemu calmer" goda shinta juga laila kompak
"apaan sih kalian, nanti kalian juga bakal ngerasain sendiri" ucap jannah
"iya iya neng" jawab shinta terkekeh
"semoga lancar ya!" ucap laila memberi semangat
sedangkan di tempat reyhan berada, tepatnya di kamar tidur nya sendiri (ya iyalah sendiri, masa' berdua sih? othor mah ada ada aja)
reyhang masih sangat penasaran dengan obat milik shinta yang dia temukan tadi siang, jadi dia memutuskan untuk mencari tau tentang obat itu lewat ponsel nya saja
beberapa menit setelah mencari informasi tentang obat itu, akhirnya reyhan menemukan sesuatu kemudian membaca nya dengan seksama
dan
betapa terkejutnya reyhan setelah membaca sesuatu tentang obat itu
"apa penyebabnya sampai kamu harus mengonsumsi obat itu?" gumam reyhan bertanya tanya
______________
terima kasih buat readers kesayangan author yang masih setia mendukung novel ini🙆❤
__ADS_1