Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
188. Harapan


__ADS_3

Setelah konfrensi pers itu selesai, Reyhan beralih mengumumkan kepada semua karyawan dan mengonfirmasi soal rumor pasangan nya nya yang sempat muncul dan hal itu memang benar ada nya, dia sudah menikah dengan orang yang menjadi cinta nya


"Apa itu gak berlebihan?" Tanya Shinta selepas semua karyawan bubar namun masih banyak mata yang melirik nya


"Aku rasa enggak, karena rasa penasaran media lebih tinggi dari pada mereka" Jawab Reyhan


Ya walaupun Shinta bersyukur mendapat do'a baik dari pegawai, tapi tetap saja dia harus membiasakan diri dengan kondisi dan situasi seperti ini


"Udah mau maghrib, kita siap siap sholat dulu ayo" Ucap Reyhan menggandeng tangan sang istri lalu menuju ruangan kerja nya sendiri untuk sholat maghrib berdua


Selepas sholat, mereka berdzikir sebentar sebelum memikirkan langkah apa dan bagaimana yang akan mereka ambil setelah ini


Cup!


"Aku sayang banget sama kamu" Ucap Reyhan mencium dahi istri nya seraya memegang kepala yang tertutup mukena


"Aku juga, sayang sayang banget sama kamu, semoga semuanya baik baik aja" Ucap Shinta, cup! tersenyum sambil balik mencium dahi suami nya


"Yang, kalau seandainya aku gak bisa nemenin kamu gak bisa menang dari hal ini maka apapun yang terjadi kamu harus kuat... jaga anak kita ya" Ucap Reyhan membelai wajah yang selalu nampak cantik di depan nya


"Kamu ngomong apa sih? Ini kasus aku... kalau ada yang harus berkorban itu aku" Ucap Shinta tidak ingin jika suami nya nanti dalam keadaan tidak baik baik saja


Reyhan hanya tersenyum, walaupun istri nya dengan bersikeras akan mengorbankan diri jika di perlukan, maka dia yang akan menghalangi wanita itu, Reyhan tidak akan pernah membiarkan Shinta untuk mengorbankan nyawa nya


"Udah ah mas, kamu jangan ngomong gitu lagi hiks... aku percaya kok kalau kita semua baik baik aja, selamanya akan baik baik aja" Ucap Shinta mengeluarkan air mata nya


Jujur saja kadang ia bertanya kenapa harus ada keadaan seperti ini? Walau jawaban nya tetap sama yaitu semua adalah cobaan, tapi bisakah ia tetap percaya dan maju ke depan dengan harapan semua akan baik baik saja? Bisakah tetap seperti itu walau tidak ada yangΒ  menjamin keselamatan mereka berdua


"Iya iya, semua baik baik aja" Ucap Reyhan menarik gemas hidung pesek yang semakin merah tersebut


Keduanya lalu membereskan peralatan sholat dan keluar dari kamar untuk kembali ke ruang kerja Reyhan, mereka harus membicarakan langkah yang di gunakan sambil terus berpegangan tangan


"Gimana tentang artikel itu mas?" Tanya Shinta yang duduk di sebelah sang suami karena dia pun menyeret kursi agar bisa duduk lebih nyaman


"Harusnya mereka udah lihat karena perusahaan itu cukup aktif di portal bisnis" Jawab Reyhan membuka komputer nya untuk melihat apakah ada laporan atau sesuatu yang harus di kerjakan


"Kok kamu tahu?" Tanya Shinta heran


"Sebenarnya aku beli saham di perusahaan itu, gak banyak sih tapi dengan itu kita bisa tahu kondisi perusahaan mereka seperti apa" Jawab Reyhan


"Kapan kamu beli?" Tanya Shinta


"Setelah tahu tentang logo kemarin, karena harga saham mereka sedang turun jadi aku beli dengan nama orang lain supaya mereka gak curiga kalau aku hanya niat memantau aja" Jawab Reyhan


"Jadi inti nya sekarang kamu bisa mantau keadaan perusahaan mereka dan menentukan serangan apa yang kita lakukan?" Ucap Shinta menebak


"Pandai sekali istri ku" Ucap Reyhan tersenyum karena dia bukan hanya ingin menyerang pemilik tapi juga perusahaan nya, bukan dendam sih tapi WY grup milik nya juga sempat mengalami turun saham akibat dari kasus kemarin


Shinta menghela nafas "Aku tahu kamu juga marah karena keadaan perusahaan kemarin, tapi memenjarakan pelaku aja udah cukup" Ucap nya


"Trus kesalahan mereka sama perusahaan papa gimana?" Tanya Reyhan


"Sanksi sosial masih berlaku mas, dengan di penjara nya pemilik Growyer itu pasti keadaan perusahaan mereka ikut kacau, kamu gak perlu usaha begitu keras karena aku takut kita yang jadi dosa di mata tuhan" Ucap Shinta


"Percaya sama aku... kita niat kan untuk mencari dan hukum penjahat itu sesuai negara, soal Growyer hancur atau enggak hanya tuhan yang menentukan, yang penting kita udah mengungkap semua kebenaran, ya?" Ucap Shinta menepuk berkali kali pundak suami nua


"Gimana kalau aku mengakuisisi perusahaan itu?" Ucap Reyhan meminta pendapat


"Hah? Buat apa? Aku rasa jangan karena aneh kalau kamu membeli Growyer yang pernah berbuat jahat sama perusahaan kamu sendiri" Ucap Shinta tidak setuju dan aneh saja ide suami nya


"Iya sih" Ucap Reyhan membenarkan


"Tujuan kita hanya menangkap penjahat nya, yang lain belakangan aja karena itu juga harus di pikirin baik baik mas" Ucap Shinta


"Iya sayang" Ucap Reyhan, dengan begitu maka urusan nya hanya satu yaitu menangkap penjahat dan selesai dari itu dia harus fokus pada kehamilan pertama istri nya


"Aku laper banget, kita makan dulu deh mas" Ucap Shinta merasa perut nya sudah demo


"Anak papa laper ya?" Ucap Reyhan mengelus dan memberikan ciuman bertubi tubi pada perut buncit sang istri


"Anak nya doang yang di tanya" Cibir Shinta memajukan bibir nya yang membuat Reyhan tertawa, memang lucu dan menggemaskan jika istri nya bersikap seperti ini


"Kamu laper yang? Kita makan ya" Ucap Reyhan


"Telat, baru nanya sekarang" Ucap Shinta


"Hahaha.. iya iya, sekarang kita bertiga makan" Ucap Reyhan ingin membantu istri nya berdiri dari kursi namun pintu ruang kerja nya justru tiba tiba terbuka


Ceklek!


"Kakak... aku bawain makanan" Ucap Adib menenteng dua kantong plastik di tangan nya


"Ketuk pintu dulu kalau masuk Dib" Ucap Reyhan


"Bodo amat" Ucap Adib yang mana sedari dulu suka sekali bersikap sedikit kurang ajar pada kakak ipar nya


"Wah... makanan apakah ini?" Ucap Shinta membuka kedua kantong plastik itu yang ternyata berisi 3 porsi kwetiau dan cemilan lain nya termasuk coklat matcha


"Aku baik kan?" Ucap Adib menaik turunkan alis nya


"Baik cekali"


Mereka duduk di sofa dan menikmati makanan masing masing, terlebih lagi Shinta yang lahap karena rasa lapar nya menjadi jadi


"Gimana kak?" Tanya Adib tertuju pada Reyhan


"Gimana apanya?"


"Artikel itu, mereka udah lihat belum?" Tanya Adib kembali


"Harusnya udah, dan kalau udah mungkin ada sesuatu di rumah kamu" Jawab Reyhan karena bisa jadi mereka tahu dimana rumah lama Shinta yang sekarang di tempati adik nya


"Jadi bisa aja ada sesuatu di rumah?" Tanya Adib memastikan


"Iya, siap siap aja dan jangan panik" Ucap Reyhan


"Tenang, polisi ini sudah terlatih untuk menghadapi segala macam keadaan" Ucap Adib enteng

__ADS_1


"Kamu sih iya, bibi udah tua jadi pasti kaget loh kalau beneran ada sesuatu dari musuh" Ucap Shinta menyadarkan adik nya


"Ya Allah... iya kak, aku lupa kalau bibi gampang panik" Ucap Adib segera menyelesaikan makan nya agar ia bisa pulang


"Buset... pikun bener" Ucap Reyhan menggelengkan kepala nya "Nanti kalau beneran ada wajib lapor sama aku" Lanjut nya mengingatkan


"Iya kak Rey" Ucap Adib patuh saja


Belum sampai lima menit, handphone Adib berbunyi dan menunjukkan ada telefon dari nomor rumah yang mungkin dari bibi atau pak Didi


"Ada telefon dari rumah kak" Ucap Adib lalu menerima panggilan tersebut


πŸ“ž : Ha-halo, den ada dimana?


Adib mengerutkan alis karena suara bibi terdengar ketakutan sekarang, detik itu juga mata nya melebar, apa prediksi mereka barusan sudah terjadi?


πŸ“ž : "Kenapa bi? Saya diluar"


πŸ“ž : I-ini sekarang bisa pulang den? Ada f-foto di rumah


πŸ“ž : "Foto apa memangnya bi?" Tanya Adib


Shinta dan Reyhan hanya menyimak saja karena adik mereka itu tidak menloudspeaker obrolan mereka


πŸ“ž : "Ya bi, saya pulang sekarang" Ucap Adib langsung menutup telefon dan memakai jaket nya setelah mendengar apa yang bi Asti jelaskan


"Mau pulang? Ada apa?" Tanya Shinta bingung


"Aku pulang sekarang kak, di rumah ada paket yang isi nya foto di lumuri darah" Jawab Adib menjelaskan dengan memegang kunci mobil nya


"Sebentar!" Cegah Reyhan


"Apa lagi sih kak? Gawat loh bibi masih panik" Ucap Adib kesal


"Kalau udah sampai di rumah, besok pagi bawa bi Asti sama suami nya ke rumah" Ucap Reyhan


"Buat apa?" Tanya Adib


"Untuk sementara biar bibi sama suami nya kerja di rumah kita, karena gak tahu apa aja yang terjadi di rumah itu kedepan nya" Ucap Reyhan


"Iya, nanti aku sampein bay..." Ucap Adib berlari secepat mungkin dan keluar dari kantor WY grup untuk menuju ke rumah


Shinta melirik suami nya, dia jadi kepikiran dan khawatir dengan kondisi bi Asti yang pasti sedang terkejut sekarang


"Kenapa yang?" Tanya Reyhan dengan nasa santuy santuy saja walau mereka sudah mendapat teror dadakan


"Rencana selanjutnya gimana? Kamu kan cuman bilang soal perusahaan aja tadi" Ucap Shinta


"Besok pagi kita adakan pertemuan seluruh pemimpin tim white blood dan aku nanti juga akan diskusi sama pihak jalur hitam yang bantuin kita kemarin" Jawab Reyhan


"Aku harus hadir di pertemuan itu dong?" Ucap Shinta yang di balas anggukan oleh suami nya karena pertemuan yang melibatkan tim secara menyeluruh itu hanya bisa di lakukan dan wajib atas kehadiran nya sebagai pemilik white blood


"Kita libatkan semua tim, aku juga udah bilang sama Adib untuk minta bantuan polisi sesuai dimana tempat kita berperang nanti" Ucap Reyhan


"Oke oke, aku kabarin Bian dulu untuk besok biar semuanya udah siap" Ucap Shinta mengotak atik handphone sesuai tujuan nya


"Jadi besok kita ke sini dulu, kalau udah selesai langsung ke Zeze grup untuk pertemuan tim kita" Ucap Reyhan sudah menentukan jam berapa mereka harus melakukan pertemuan


"Iya, kalau besok rencana nya memang udah selesai maka dari itu aku usahakan lusa kita bisa menyelesaikan dan bertemu langsung sama mereka" Ucap Reyhan sudah tidak sabar untuk menyelesaikan semuanya walau ada rasa takut akan berhasil atau tidak dan nyawa mereka selamat atau tidak


"Aku harap ini jalan yang baik dan berhasil mas" Ucap Shinta benar benar mengaminkan berkali kali agar mereka berhasil dalam menyelesaikan masalah kali ini.


🌸🌸🌸


Keesokan hari nya, Shinta bangun dini hari sebelum masuk waktu subuh karena biasanya dia akan lapar di jam seperti sekarang


"Mas, lepasin dulu aku mau ke bawah" Ucap Shinta melepas pelan lengan sang suami yang sedang memeluk nya dengan erat


"Enggak"


Pelukan itu justru semakin erat sampai Shinta bisa merasakan nafas hangat Reyhan yang menyapu seluruh wajah nya


"Kamu tumben dengkuran nya keras tadi" Ucap Shinta membelai rahang yang mulai di tumbuhi rambut halus, entah kapan terakhir dia merapikan nya


"Gak papa, belakangan ini kita sibuk bahas kasus itu sampai gak boleh lengah sedikit pun.. aku mau kita berdua terus kayak gini yang, jadi biarkan sebentar ya" Ucap Reyhan dengan mata masih terpejam karena dia memang mengantuk dan cukup lelah, itulah alasan kenapa dia mendengkur selama tidur tadi malam


Shinta juga kasihan dengan suami nya sih, sudah berusaha dengan keras dan dia juga ingin hasil nya nanti sesuai harapan mereka


"Iya, maaf ya udah bikin kamu capek... sekarang kamu istirahat dulu mas" Ucap Shinta meletakkan kepala sang suami di dada nya, mengelus nya dengan perlahan serta sangat lembut sampai Reyhan tidur kembali dalam senyum nya


"Jangan khawatir sayang, keluarga kita baik baik aja" Sayup sayup Shinta mendengar gumaman dari mulut sang suami saat pria itu tertidur


Sontak saja senyum langsung mengembang di bibir nya, Reyhan benar benar pria baik yang sudah mencintai nya dan menjaga nya sepenuh hati seperti ini


Cup!


"Iya, insyaallah keluarga kita baik baik aja" Ucap Shinta memberi ciuman bertubi tubi di dahi sang suami sebagai kasih sayang serta rasa bersyukur nya.


Saat adzan subuh kedua pasutri itu bangun kembali karena mereka pun harus mandi wajib sebelum melaksanakan sholat dua rokaat tersebut


"Mau masak apa bi?" Tanya Shinta kembali ke mode ceria sebagai calon ibu ibu


"Bingung sih bu... tapi sayur asem kayak nya seger banget" Jawab bi Surti yang sudah enam bulan bekerja sebagai asisten rumah tangga saat mereka masih tinggal di apartmen dulu


"Saya sih apa aja boleh yang penting bisa kenyang bi" Ucap Shinta tergelak


"Sayang..."


Sudah bisa di tebak siapa yang pagi pagi teriak memanggil seperti itu, pasti lah Reyhan yang baru turun dari atas selepas berganti pakaian menggunakan setelan kemeja nya


"Kenapa mas?" Tanya Shinta sambil berjalan menuju depan tangga


"Ini" Ucap Reyhan membawa dasi nya di lengan kanan


"Kamu lupa cara nya pakai dasi ya?" Ucap Shinta tertawa lalu melakukan tugas nya yaitu memasang dasi seperti biasa


"Iya, semenjak punya istri aku lupa gimana cara nya" Jawab Reyhan menundukkan kepala nya sedikit untuk mempermudah sang istri

__ADS_1


Shinta menggelengkan kepala, semenjak berhenti kerja dia sangat menikmati keseharian berperan sebagai istri walau kadang juga rindu dengan pekerjaan yang ia lakukan saat di rumah sakit


"Pak... bu, kata nya ada tamu di depan" Ucap bi Surti memberi tahu


"Oh iya bi tolong buka aja pintu nya, sebentar lagi saya ke depan" Ucap Shinta karena memutar kain panjang di leher suami nya itu belum selesai


"Mungkin bi Asti sama suami nya yang" Ucap Reyhan mengingat ucapan nya kemarin


"Iya, akhirnya aku punya temen lagi" Ucap Shinta karena dia sudah cukup dekat dengan bi Asti semenjak tinggal di Bandung


"Senengnya istriku..." Ucap Reyhan menyentuh bibir itu dengan tangan nya dan mendekatkan kepala, ingin melakukan apa yang readers pikiran sekarang


"Kakak!!!"


Belum sempat bertaut saja suara Adib sudah memenuhi rumah mereka, memang benar benar ya adik ipar laknat itu


"Upsss... aku salah waktu kayak nya" Ucap Adib melihat bagaimana posisi kakak dan kakak ipar nya


"Kalau masuk salam dulu kek... permisi gitu, main nyelonong aja kamu" Ucap Shinta yang mana dia juga menginginkan ciuman itu namun terganggu oleh sang adik


"Efek ngejomblo lama jadi makin ngeselin" Ucap Reyhan menggelengkan mata nya


"Dih.. kenapa kak? Malu ya kalau ada aku?" Goda Adib menaik turunkan alis nya


"Siapa yang malu? Ini rumah ku jadi terserah aku" Ucap Reyhan menyangkal


"Cielah... pake malu segala, udah anggap aja rumah sendiri kayak gak ada orang lain di sini" Ucap Adib yang memang ngeselin sedari lahir


Cup!


Mata Shinta membulat ketika Reyhan benar benar mencium bibir nya di depan sang adik, walau secepat kilat tapi tetap saja dia sangat malu kalau seperti ini


"Woi woi woi"


"Apa? Terserah aku ya" Ucap Reyhan


"Kak... badanmu pendek banget ya? Kasian kak Rey pasti susah kalau mau cium kamu kak" Ucap Adib semakin blak blakan di depan pasutri itu


Plak...


"Sembarangan, udah kamu belum nikah jangan bahas yang gak gak" Ucap Shinta memberi pukulan di lengan sang adik


"Nikah sana... ngejomblo mulu ngiler baru tahu rasa!" Ucap Reyhan


"Idih"


"Assalamualaikum... non apa kabar nya?" Ucap seseorang yang berdiri jauh dari mereka, ya dia adalah bi Asti wanita yang sudah berumur namun tetap setia di samping Shinta


"Waalaikumsalam.. bi Asti" Ucap Shinta cepat cepat melangkah ke ruang tamu dan meninggalkan dua pria yang sedang hobi ledek meledek sekarang


Pelukan hangat pun terjadi, bagi Shinta bi Asti juga sudah seperti orang tua nya, begitu pula bi Asti yang menganggap Shinta sebagai anak nya


"Non apa kabar?" Tanya bi Asti, senang rasa nya bisa bertemu kembali


"Saya alhamdulillah baik kok, bibi sendiri?" Tanya Shinta balik


"Seperti yang non lihat, saya juga baik non.." Ucap bi Asti terharu kala melihat perempuan yang dulu nya dingin kini sudah akan menjadi seorang ibu


"Loh pak Didi nya mana bi?" Tanya Shinta


"Saya di sini non" Ucap pak Didi yang tersenyum sambil berdiri di belakang istri nya sambil melambaikan tangan, senang rasanya jika melihat majikan nya sudah menemukan kebahagiaan


"Gimana kabar nya pak?" Tanya Shinta mengatupkan kedua tangan nya


"Alhamdulillah saya juga baik sekali non" Jawab pak Didi ramah seperti dulu dan tidak ada perubahan


"Jadi pak.. bi, untuk sementara kita tinggal di sini sampai semuanya aman kembali ya" Ucap Adib membuat dahi Reyhan mengernyit


"Kita? Siapa aja?"


"Aku, bibi sama pak Didi" Jawab Adib tersenyum seakan tidak ada dosa yang ia lakukan


Reyhan terkejut, kemarin dia hanya menyuruh bi Asti dan pak Didi saja untuk tinggal di sini, tapi kenapa adik ipar nya yang ngeselin bukan main itu ikut tinggal di sini? Entah akan seperti apa rumah nya nanti jika ada cecunguk jahil itu


"Non.. apa ada masalah yang terjadi?" Tanya bi Asti serius karena khawatir setelah menemukan foto kemarin


"Gak ada apa apa sih bi... nanti saya jelaskan aja bagaimana yang sebenarnya" Ucap Shinta yang belum membicarakan hal tersebut dengan suami nya


"Sayang, kita berangkat bentar lagi ya" Ucap Reyhan melirik arloji nya karena dua pertemuan akan di laksanakan hari ini sesuai rencana mereka kemarin


"Iya mas, kita sarapan bareng dulu... baru nanti berangkat" Ucap Shinta


Mereka sarapan layak nya seperti keluarga normal, walaupun berkali kali Adib menggoda sang kakak ipar dengan memberi tendangan ringan pada kaki berkali kali


"Kalau sampai sekali lagi, aku jamin kamu gak akan bisa ikut hari ini" Ancam Reyhan kesal akibat makan nya yang biasa tenang kini terganggu


"Iya kak"


Selepas sarapan mereka membiarkan bi Asti dan pak Didi untuk beristirahat di kamar yang sudah di tentukan, baru lah mereka berangkat ke kantor WY grup lalu nanti ganti ke kantor Zeze grup


"Yang... kok bisa adik ipar ngeselin banget ya?" Tanya Reyhan di tengah perjalanan mereka


"Karena itu memang sifat asli nya, kalau dia deket sama cewek pasti lebih pendiam" Ucap Shinta melirik spion yang menunjukkan mobil sang adik di belakang


Memang tujuan sama tapi hanya berbeda mobil saja untuk jaga jaga jika mereka nanti harus berbeda tujuan


"Rumah kamu itu masih di pertahankan walau pernah ada teror yang masuk?" Tanya Reyhan dengan pandangan fokus ke jalan raya


"Apapun yang terjadi rumah itu gak akan aku jual mas, karena itu rumah pertama yang aku punya atas hasil kerja ku sendiri tanpa campur tangan dari kak Zean" Jawab Shinta


"Dari yang aku lihat harga nya ber M M yang" Ucap Reyhan


"Ya emang iya, cuman nanti kan bisa di pakai Adib atau bahkan Wildan saat dia ada tugas di Bandung" Ucap Shinta yang inti nya dia sangat cinta dan sayang dengan rumah pertama


Beberapa menit mereka sampai di kantor WY grup, sudah ramai para pegawai yang akan bekerja hari ini seperti biasa


"Kamu siap kan?"

__ADS_1


"Insyaallah"


Bersambung.


__ADS_2