Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
132.Nanti malam


__ADS_3

Shinta melihat ke lantai dan ada beberapa kecoa yang sedang berjalan jalan santai di dalam kamar nya


"Aaaa geli" Ucap Shinta heboh dengan menyilangkan tangan nya di dada dan kaki yang berjinjit jinjit, Yap... Shinta sangat geli dan paling anti dengan serangga berwarna coklat itu


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Reyhan sembari menutup pintu kamar mereka, sebenarnya dia terkejut melihat Shinta yang memakai baju kurang bahan yang memperlihatkan kaki jenjang nya, namun dia lebih terkejut lagi ketika mendengar teriakan istri nya


"Jangan bilang kamu lupa lagi kalau kita udah menikah?" Tebak Reyhan


"Mas, liat ke bawah sekarang!" Jawab Shinta sekaligus memberikan perintah, Reyhan pun refleks menurut karena dia juga penasaran hal apa yang membuat istrinya berteriak


Mata nya membulat sempurna ketika mendapati benda yang juga di lihat Shinta, bagaimana bisa kamar di mereka ada beberapa kecoa yang berkeliaran? begitu juga dengan Shinta yang heran kenapa ada kecoa karena tadi sebelum dia mandi, Shinta tidak memperhatikan lantai kamar nya


"Aaa... mas, buang kecoa nya" Teriak Shinta berlari dan naik ke atas ranjang, menutup badan dengan selimut agar kecoa tidak menghinggapi tubuh nya, taburan bunga di atas selimut yang awal nya berbentuk hati kini pun telah berhamburan terbang kemana mana


Berbeda dengan pemikiran nya, Reyhan justru melepas alas kaki dan ikut naik ke atas ranjang lalu duduk manis di samping Shinta


"Mas, kok naik? jangan bilang kamu takut sama kecoa?" Tanya Shinta terkejut


"Aku gak takut, cuman geli" Jawab Reyhan memperhatikan benda coklat yang berjalan jalan tersebut


"Itu sama aja, aaa..... " Teriak Shinta ketika menyadari ada satu kecoa di samping nakas tempat tidur, refleks dia pun menggeser badan ke tengah tengah ranjang dan memeluk tangan suami nya


"Aku geli sama kecoa, buang kecoa nya mas" Ucap Shinta memejamkan mata dan mengeratkan pelukan nya


"Mana bisa sayang? banyak itu gak mungkin di ambil satu persatu" Ucap Reyhan mengelak karena dia sendiri pun takut dengan hewan itu


"Emang kamu mau dia makan aku?" Tanya Shinta


"Badan kamu lebih besar dari kecoa itu" Jawab Reyhan enteng


"Terserah lah, pokok nya aku gak mau tidur!" Ucap Shinta melebarkan mata nya karena jujur jika ada hewan di dalam kamar maka sudah pasti dia lebih memilih berjaga jaga dari pada tidur


"Kok gitu? jangan dong... kita pindah kamar aja ya" Ucap Reyhan terkejut mendengar pernyataan istri nya, oh ayolah... dia sudah tergoda dengan penampilan wanita di samping nya malam ini


"Kamu mau aku keluar kamar pakai baju kurang bahan ini? oh no... lebih baik aku gak tidur dan lagian kamar hotel disini juga udah penuh" Ucap Shinta menolak


"Yaudah kita berdua gak tidur sampai besok gimana? itung itung melayani suami sayang" Goda Reyhan menaik turunkan alis nya


"Hua...masa di saksikan sama kecoa sih? kasian dong mata mereka ternodai" Ucap Shinta kesal, masa iya malam pertama bareng kecoa? gak boleh gak boleh


"Trus kamu mau nya gimana?" Tanya Reyhan frustrasi menahan gejolak syahwat yang muncul dari tubuh nya


"Aku gak akan tidur sebelum kecoa itu hilang" Jawab Shinta semakin mengeratkan pelukan nya, kecoa itu benar benar membuat nya lupa pada rasa malu karena memakai baju kurang bahan di depan Reyhan


Reyhan sampai tercekat ketika tubuh itu menempel bak lem dengan kertas nya, bahkan dia bisa merasakan sapuan halus kulit Shinta di tangan nya


"Yaudah aku coba buang dulu" Ucap Reyhan melepas pelukan sang istri dari tangan nya dan mendekati satu kecoa yang berada di lantai, sedangkan Shinta hanya diam dan menutup seluruh tubuh nya dengan selimut sambil mengintip suami nya


Reyhan sungguh berusaha menahan rasa geli nya pada hewan kecil itu, kemudian ia mengernyitkan dahi ketika melihat kecoa hanya jalan maju dan mundur


*Kok maju mundur? lo cewek apa cowok? kalau cewek berarti maju mundur gak cantik, karena yang cantik cuma istri dan mama gue, nah kalah cowok berarti lo maju mundur gak jelas karena yang ganteng cuman gue doang* Batin Reyhan entah kenapa bisa mengomel tidak jelas di dalam hati nya, jika Shinta mendengar mungkin istri nya itu akan tertawa terbahak bahak


Reyhan perlahan mengambil satu kecoa, dan... terlihat ada tombol on off ketika ia membalik badan hewan menggelikan itu


*Sialan! ini mainan* Batin Reyhan mengumpat sebab ia juga melihat ada penutup lubang kecil untuk memasukkan baterai, untung saja dia belum komplain pada pihak hotel yang mana pasti ada yang sengaja mengerjai nya sekarang


"Mas, kenapa di pegang terus? udah sana buang" Ucap Shinta kala melihat Reyhan menggenggam kecoa dengan tangan nya


"Iya sayang, ini mau di buang" Ucap Reyhan mengumpulkan semua kecoa itu dengan waktu yang lumayan lama karena dia sedang was was apabila ada kecoa asli di dalam kamar nya


15 menit berlalu pun kecoa akhirnya terkumpul di tangan Reyhan dan ternyata semua sama sama mainan, tidak ada yang asli, lalu Reyhan membuka balkon kamar mereka dan melempar semua kecoa mainan itu.


Beres sudah misi untuk membuang kecoa, dan sekarang giliran dia yang bermanja ria dengan sang istri, hehe... seringai langsung muncul di wajah pria dua puluh enam tahun itu


"Sayang, semua kecoa udah ku bu-" Ucap Reyhan terhenti ketika ia membalik kan badan dan melihat wanita yang sedari tadi merengek tidak mau tidur pun akhirnya tertidur juga dengan selimut yang tersingkap hingga memperlihatkan badan nya yang memakai baju kurang bahan


Reyhan mendekat dan duduk di samping istri nya yang sedang berbaring


*Beneran tidur pulas* Batin Reyhan, niat ingin membangunkan pun ia urungkan karena tidak tega melihat Shinta yang seperti nya kelelahan

__ADS_1


Reyhan kemudian memikirkan siapa yang meletakkan kecoa mainan di kamar nereka, lalu pikiran nya tiba tiba travelling mengingat kejadian di acara tadi


Flashback


Saat para tamu undangan mengucapkan selamat termasuk teman teman mereka yang entah normal atau tidak, Andrew membisikkan sesuatu pada Reyhan setelah ia mengucapkan selamat


"Rey, gue minta izin pinjem kamar lo" Ucap Andrew


"Gak" Jawab Reyhan karena dia tidak mengijinkan orang masuk ke dalam kamar nya


"Gue mohon Rey, tiba tiba klien gue yang ada di Surabaya minta ketemu sekarang juga" Ucap Andrew memohon


"Kamar lo kan ada, ngapain pakai kamar gue?" Ucap Reyhan heran sekaligus enggan memberikan kunci kamar nya


"Kunci nya dibawa Rendra dan entah kemana Rendra sekarang" Ucap Andrew berpura pura celingukan mencari Rendra, padahal yang di cari pun sengaja bersembunyi di balik panggung pelaminan setelah mengucapkan selamat


"Bodo, mending lo cari Rendra" Ucap Reyhan tetap enggan memberikan kunci kamar nya


"Gue mohon lah Rey... lagian kamar lo kan ada ruang tamu nya, gue pinjem ruang tamu doang" Ucap Andrew


"Gak ya gak" Ucap Reyhan ketus


"Gue gak bisa cari Rendra Rey... lagian klien gue juga udah nyampe disini, bisa bisa gagal kerja sama antar perusahaan Rey... nasib gue ada di tangan lo" Ucap Andrew berusaha meluluhkan gunung es yang ada di sebelah nya


"Lo jangan masuk ke kamar gue!" Peringat Reyhan sembari memberikan kunci kamar nya meskipun sedikit ada rasa curiga dan tidak rela


"Iya, thanks" Ucap Andrew menerima kunci kamar itu dan menghilang dari pandangan Reyhan entah kemana


Flashback end


Reyhan berasa ingin mengumpat pada duo sableng yang sengaja mengerjai nya, karena Andrew tidak mungkin melakukan itu sendirian mengingat di antara mereka bertiga yang paling jahil itu Rendra si bandar ide seribu satu cara kejahilan


*Sialan, awas aja lo berdua!* Batin Reyhan kesal sampai ke ubun ubun karena malam yang harus nya dia habiskan dengan bermanja ria pun harus gagal akibat perbuatan sahabat nya


Jika orang tua mereka sengaja menghias kamar agar terkesan romantis, tapi berbeda dengan sahabat nya yang justru sengaja menggagalkan rencana pribadi nya


Reyhan melepas jas, dasi dan jam tangan kemudian meletakkan nya di atas nakas dan berbaring di sebelah istri nya, ia menaikkan selimut sampai menutupi tubuh Shinta dengan rapat karena dia harus menahan sesuatu yang muncul di tubuh nya


*Selamat malam sayang* Batin Reyhan mengecup dahi Shinta, mendekap badan itu, kemudian ikut masuk ke alam mimpi tanpa mengganti kemeja dan celana panjang nya karena kelelahan


🌸🌸🌸


Keesokan hari nya Shinta kembali terbangun lebih dulu dan melihat ada tangan kekar yang berada di atas perut nya, ia perlahan menoleh dan mendapati Reyhan tidur dengan dengkuran halus bahkan tanpa selimut


*Jadi semalam aku ketiduran? maaf ya sayang* Batin Shinta merasa bersalah, awal nya dia tidak ingin membangunkan Reyhan terlebih dahulu, namun mengingat mereka harus menjalankan sholat subuh pun Shinta terpaksa membangunkan suami nya


"Mas, bangun... ayo sholat dulu" Ucap Shinta menepuk pelan lengan Reyhan


"Hmm... lima menit lagi sayang" Ucap Reyhan dengan suara serak khas bangun tidur dan mata yang masih terpejam


"Sholat dulu, keburu waktu nya habis, nanti setelah sholat kamu bisa tidur lagi" Ucap Shinta berusaha membangunkan tubuh yang lebih besar dari nya


"Iya deh, tapi kiss dulu" Ucap Reyhan membuka mata dan menunjuk bibir nya


"Gak mau, baru bangun tidur belum sikat gigi" Ucap Shinta menutup mulut nya sendiri


"Emang aku peduli?" Tanya Reyhan


"Peduli" Jawab Shinta


"Yaudah aku gak mau bangun" Ucap Reyhan


"Dosa loh ya ninggalin sholat" Ucap Shinta mengingatkan


"Makanya cium dulu" Ucap Reyhan tanpa bisa di tolak


"Iya deh" Ucap Shinta pasrah menurut, sedangkan Reyhan tersenyum puas dan segera memejamkan mata saat wajah istri nya benar benar mendekat ke arah nya, detik berikutnya kedua benda kenyal itu menempel mirip seperti perangko dengan surat nya


Shinta ingin melepas ciuman itu karena dia hanya berniat memberikan kecupan saja akibat mencium pipi saja sudah membuat jantung nya berasa melayang, apalagi sekarang dia yang mencium bibir itu, Reyhan yang tidak ingin melepas kan ciuman pun justru menekan tengkuk istri nya dan mencium lembut, tautan yang awal nya lembut kini menjadi lebih panas akibat mereka yang membalas satu sama lain dengan sebelah tangan Reyhan memegang kepala Shinta yang ada di atas nya, tapi tetap tubuh nya berbatas dengan selimut yang membelit tubuh istri nya

__ADS_1


"Kok masih merah? alergi?" Tanya Reyhan membahas pipi Shinta setelah menyudahi tautan kedua nya


"Iya alergi, makanya jangan cium aku lagi" Jawab Shinta memalingkan wajah nya karena rasa malu yang menghampiri


"Haha... maaf sayang" Ucap Reyhan tergelak dan saat ia memiringkan kepala karena ingin mengulang hal yang menurut nya manis tadi, bel pintu kamar mereka berbunyi menandakan ada seseorang yang datang


"Buka dulu kak, mungkin bunda mau nganter baju ku yang di sembunyi in kemarin malam" Ucap Shinta yang diangguki Reyhan


Ceklek, pintu terbuka dan memperlihatkan bunda membawa koper milik putri nya


"Eh... bunda" Ucap Reyhan kala melihat ibu mertua nya


"Ini bunda mau nganterin baju nya Shinta" Ucap bunda memberikan koper itu


"Iya bunda, makasih... bunda mau masuk dulu?" Ucap Reyhan menawari dengan menerima koper milik istri nya


"Nggak perlu nak, bunda gak mau ganggu kalian berdua, semoga lancar ya" Ucap bunda tersenyum dan menepuk pundak Reyhan kemudian pergi kembali ke kamar nya sendiri meski ia sedikit bingung dengan menantu nya yang tidak mengganti baju dari semalam


"Benar tebakanku" Ucap Shinta saat melihat Reyhan masuk dengan membawa koper milik nya


"Kamu mandi duluan kak" Ucap Shinta yang mana ia tidak berani mandi duluan karena masih malu jika harus membuka selimut di depan Reyhan yang akan menampakkan tubuh nya memakai baju laknat itu


"Nggak mau lanjut? atau mandi berdua gitu?" Goda Reyhan


"Waktu subuh mau habis ya... jangan goda in aku terus" Ucap Shinta mengerucutkan bibir nya


"Iya sayang, galak banget serigala ku ini" Ucap Reyhan terkekeh kemudian berlari menuju kamar mandi sebelum Shinta akan semakin kesal nanti nya


Ketika kedua nya sama sama sudah membersihkan diri, mereka memulai sholat subuh berjamaah seperti tadi pagi dan mengakhiri nya dengan do'a bersama


"Mas, kamu gak jadi tidur?" Tanya Shinta melihat suami nya hanya duduk diam di ranjang


"Mau nya makan kamu" Ucap Reyhan menarik Shinta yang sudah memakai baju tertutup tanpa mengenakan hijab


"Emang bisa?" Tanya Shinta dengan jantung yang dag dig dug ser


Reyhan yang terfokus dengan bibir pink istri nya pun tidak menjawab


"Habis ini kita sarapan bareng keluarga loh" Ucap Shinta mengingatkan yang membuat Reyhan menghela nafas dan menjatuhkan kepala nya di caruk leher jenjang sang istri


"Kenapa ada aja halangan nya" Ucap Reyhan lirih, lagi pun jika melakukan sekarang pasti waktu nya tidak akan cukup mengingat sebentar lagi jam sarapan pagi dan jam penerbangan ke bandung pun juga pagi ini


"Mungkin bukan sekarang" Ucap Shinta dengan berusaha menahan geli akibat nafas Reyhan yang berbenturan dengan leher nta


"Trus kapan?" Tanya Reyhan


"Mu-mungkin nanti malam" Jawab Shinta gugup mengelus pelan rambut suami nya


"Janji ya? kamu siap?" Tanya Reyhan mengangkat kepala nya dari caruk leher itu


"Insyaalloh" Jawab Shinta dengan semburat merah di wajah nya, padahal Shinta tidak pernah berniat menunda tapi memang ada saja yang menghalangi mereka, entah itu rasa lelah atau yang lain nya


Jam 7 pagi semua anggota keluarga berkumpul di restoran hotel, tentu nya dengan sahabat mereka juga


"Pengantin baru raut muka nya bahagia banget" Goda Rendra yang dibalas pelototan mata oleh Reyhan


"Awas aja gue bakal balas perbuatan kalian berdua" Ucap Reyhan sinis tertuju pada Rendra dan Andrew yang duduk bersebelahan


"Balas aja gak papa" Ucap Andrew santai karena dia kan belum ada niatan untuk menikah


"Kalau gue jangan" Ucap Rendra terkekeh


"Udah ayo makan" Ucap mama Riana karena setelah makan mereka harus pergi ke bandara


"Emang balas perbuatan apa sih?" Tanya Shinta berbisik


"Gak ada sayang, kamu salah denger mungkin" Jawab Reyhan kemudian kembali meneruskan makan nya


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2