Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
HKS 191


__ADS_3

Waktu yang mereka tempuh mencapai 39 jam, dan baru sampai di Osaka keesokan hari nya tepat jam 11 malam sedangkan tim yang berangkat lebih awal bersama Alina dan Alena sampai jam 9 pagi tadi


Perjalanan yang sangat melelahkan, namun untung nya mereka saling menyemangati satu sama lain, tidak hanya untuk menyelesaikan masalah tapi juga hitung hitung bisa liburan ke Osaka setelah selesai nanti


Tidak lupa juga berterimakasih pada pilot dan co-pilot yang sudah bertugas untuk pesawat pribadi perusahaan beserta layanan lain nya


"Walaupun kursi nya bisa di jadiin tempat tidur, tapi serius pinggang ku kayak mau retak" Ucap Shinta memegang pinggang belakang nya yang agak nyeri


"Sama, badan gue bener bener capek" Ucap Laila mengeluh


Mereka semua sedang duduk di ruang tunggu bandara Osaka karena menunggu Bref yang akan menjemput mereka


"Norak amat lo gak pernah keluar negeri ya?" Tanya Bian


"Mohon maaf, saya anak baik baik yang gak pernah keluyuran dan kerjaan nya cuman gambar sama main pistol" Ucap Laila dengan rasa hormat nya yang di sertai kantuk


Adib yang melihat Tiara diam saja namun dengan ekspresi yang sangat lelah, dia paham sih kalau perjalanan ini tidak main main bahkan sangat lama


"Minum" Ucap Adib memberikan segelas air putih hangat yang barusan ia beli di cafe bandara


"Makasih"


"Bucin nya... gini amat ngontrak di bumi" Ucap Laila mengiri, pengen pacaran tapi takut dosa, pengen nikah tapi gak mau kejebak buaya darat, jadi serba salah deh


Mereka yang di goda terus menerus hanya terdiam, rasa lelah membuat mereka malas untuk menanggapi lelucon yang Laila buat


"Gak tau ah" Ucap Shinta menjadi kesal dan marah sendiri jika tubuh nya merasa lelah yang berlebihan, dari sebelum hamil juga sudah seperti itu


"Sabar... bentar lagi bisa tidur di ranjang yang luas" Ucap Reyhan menyusupkan kepala sang istri di dada nya lalu mengusap pinggang itu secara terus menerus


"Tuh kan... ya Allah berasa ngontrak beneran" Ucap Laila makin menjadi jadi ketika melihat keuwuan yang ada di hadapan nya


15 menit mereka menunggu jemputan, dengan ekspresi lelah marah kesal bercampur aduk menjadi satu, apalagi Shinta yang pegal nya sudah sampai keluar batas


"Permisi, maaf saya sedikit terlambat pak, non" Ucap seseorang yang di tunggu tunggu sejak tadi, siapa lagi kalau bukan Bref


"Bukan sedikit lagi pak, tapi banyak" Ucap Laila


"Maaf, kalian masuk saja ke mobil yang di sediakan" Ucap Bref karena dia dan rekan lain yang akan membawa barang barang tersebut


Ada 2 mobil yang di sediakan Bref, Shinta Reyhan dan Adib masuk ke mobil pertama sedangkan yang lain berada di mobil kedua


"Langsung ke hotel aja pak" Ucap Adib kala melihat bagaimana Shinta yang justru tiduran di kursi belakang dengan paha Reyhan sebagai bantalan kepala


"Iya, pasti capek soalnya" Ucap Bref menyalakan mesin benda berbahan baja itu dan melaju ke hotel yang mereka gunakan


"Osaka benar benar dingin" Gumam Reyhan menatap jalan raya yang mereka lewati, masih ramai dengan banyak orang tersenyum berjalan kesana kemari


*Seandainya kita kesini hanya karena liburan, pasti kamu seneng banget yang... ada banyak makanan kaki lima di sana* Batin Reyhan


Sampai di loby hotel pun Reyhan harus menggendong istri nya karena tidak tega jika membangunkan, ada orang yang beranggapan lebay namun yang dia lakukan adalah salah satu bentuk perhatian dan kasih sayang


"Aku istirahat dulu semua..." Ucap Adib sebelum menutup pintu kamar nya, mereka semua satu lantai dan hanya berbeda kamar saja


"Kalian juga istirahat" Ucap Reyhan kemudian benar benar masuk ke kamar, meletakkan istri nya di ranjang lalu melepas hijab dan sepatu yang masih melekat


Tak lupa ia juga membersihkan diri dulu sebelum istirahat agar bisa tidur dengan nyeyak sampai waktu subuh membangunkan nanti


🌸🌸🌸


"Kak.. ayo sarapan" Ucap Adib sembari mengetuk pintu kamar Reyhan


Tak lama yang di panggil pun keluar dengan wajah segar karena habis mandi dan sholat subuh tadi


"Apa?" Tanya Reyhan


"Sarapan, trus kita ke winter wonderland" Jawab Adib


"Ya, ke bawah aja duluan nanti aku nyusul" Ucap Reyhan yang di angguki oleh sang adik ipar


Adib langsung ke restoran bawah dimana ada rekan mereka yang sedang menunggu dan membicarakan beberapa hal


"Wonderland hari ini di tutup kan?" Tanya Laila


"Di tutup untuk umum, karena tim kita udah minta izin untuk sewa tempat itu" Jawab Tiara karena area peperangan nanti hanya ada 2 tempat kemungkinan, yaitu di winter wonderland dan gedung Zeze grup yang berada di sini


"Hmm... kali ini harus sarapan yang banyak karena ya kita gak tahu kapan perang ini selesai" Ucap Laila mengedikkan bahu lalu menikmati makanan nya


"Bener, makan yang banyak karena kita gak tahu nanti siang bisa makan atau enggak" Ucap Adib bergabung dengan mereka


"Bawa cemilan kalau bisa" Usul Bian mengada ngada, mana bisa tembak tembakan sambil makan


"Heh... ngelag dia mah" Ucap Adib menggelengkan kepala, benar benar aneh


"Biasa, mungkin lagi kepikiran" Timpal Tiara


"Emang otak dia bisa mikir?" Tanya Adib yang membuat Bian melotot ke arah nya


"Bisa, mikirin kemarin malam Laila bisa tidur nyenyak atau enggak" Jawab Tiara dengan senyum nya karena sekarang ganti dia lah yang menggoda balik Laila


"Haha balas dendam yang sesungguhnya" Ucap Adib sambil tertawa saja karena selama ini dia sudah banyak ternistakan


Laila yang sedang malu pun langsung mengalihkan pembicaraan ketika melihat Shinta dan suami nya yang baru turun, tetap dengan serba hitam yang entah apa maksud mereka berdua


"Lo ngapain dari kemarin jadi black card?" Tanya Laila


"Ada deh, kepo lo" Jawab Shinta yang duduk di samping suami nya


Reyhan


"Makan yang banyak yang" Ucap Reyhan membelai kepala tertutup hijab tersebut


Shinta hanya membalas dengan senyum serta anggukan kepala, walau sekarang saat nya sarapan namun tetap saja pikiran nya mengarah bagaimana dan seperti apa ending mereka semua nanti


"Kita harus siapin semuanya sebelum Bref jemput kesini" Ucap Bian mengode bahwa mereka alias Shinta dan Reyhan harus sudah membawa senjata masing masing


"Udah, aman kok" Jawab Shinta karena mereka tidak mungkin membawa senjata ke dalam hotel, jadi lah pistol yang ia bawa sedang berada di tangan Bref


"Iya" Jawab Reyhan ikut membenarkan


Selepas sarapan, mereka bersiap menuju winter  wonderland dengan meninggalkan barang barang lain nya di hotel karena bisa saja nanti mereka akan kembali kesini


"Mas, aku minta maaf ya... salah aku udah banyak banget sama kamu selama ini" Ucap Shinta entahlah tiba tiba saja merasa dia harus minta maaf sekarang


Reyhan mengerutkan alis nya "Kenapa? Gak ada yang salah sama keadaan sekarang, dan kesalahan soal kamu bohong itu aku anggap udah lunas.. jangan di besar besarin lagi, aku yang cinta sama kamu maka dari itu aku juga mau nerima apapun keadaan kamu" Ucap nya sebelum mereka masuk ke dalam mobil Bref


Suit suit...


Seketika Bian langsung bersiul dan meleyot melihat pasangan suami istru itu


"Ngiri aja lo jomblo" Ejek Reyhan


"Udah udah buruan masuk mobil sana" Ucap Adib menunjuk mobil satu nya yang ada di belakang.


Hanya beberapa menit saja mereka sampai di winter wonderland Osaka, tempat dan kejadian dimana Bian meninggal di sini satu tahun lalu


"Wah... dejavu" Ucap Shinta bergidik dan memejamkan mata kala ingat bukit bukit salju yang tinggi dan suhu yang benar benar dingin


"Kita di sini mengungkap kebenaran, jangan merasa bersalah lagi" Ucap Reyhan berusaha menenangkan istri nya


Namun baru beberapa langkah mereka semua memasuki tempat itu, terdengar derap langkah yang tegas hingga suara tembakan


Dor!!!!


"Siapa?!" Tanya Reyhan panik sendiri hingga menyembunyikan sang istri di balik tubuh nya


"Sialan lo? siapa bangs*t keluar lo sekarang" Ucap Adib ikut kesal dengan apa yang barusan mereka dengar


Tiara hanya menggelengkan kepala karena dia sudah tahu dari mana tembakan tadi


"Wee white blood" Suara serentak itu muncul beserta puluhan orang yang berada di depan mereka, itu artinya tembakan barusan adalah tanda selamat datang dari tim white blood


"Buset... bikin kaget" Ucap Adib melongo sambil mengelus dada nya sendiri


"Nona, mereka sebagian dari tim white blood yang bertugas di wonderland kali ini" Ucap Bref memberikan dua senjata api yang sempat di titipkan pada nya, yaitu satu milik Shinta dan satu nya lagi punya Reyhan


"Sisa nya?"


"Mereka bertugas menjaga dan mengosongkan gedung Zeze grup di sini" Jawab Bref karena hanya ada dua kemungkinan tempat yang akan terjadi peperangan


Shinta paham, sekarang dia yang akan mengambil alih kepemimpinan white blood untuk menghimbau perintah apa saja yang harus di lakukan tim mereka


"Jangan lupa ni dua curut juga harus di kasih hukuman" Ucap Laila menunjuk Alina dan Alena yang juga sudah di bawa ke wonderland


Bagiamana keadaan kedua sandra itu? Mereka baik baik saja bahkan tidak mengalami luka sedikit pun, malah berat badan mereka semakin naik karena Shinta melarang kekerasan terhadap sandra dan harus memberi makan setiap hari


"Aman, udah ada porsi nya masing masing" Ucap Shinta


Mereka semua memegang senjata masing masing yang sudah di siapkan termasuk Laila, karena hari ini pun dia sudah berjanji untuk membantu sahabat nya dalam mengungkap kebenaran


Tidak lupa juga semuanya sudah memegang walkie talkie sebagai alat komunikasi yang sudah di atur di siaran 1, maka semua orang pasti akan mendengar apapun itu


"Pakai ini" Ucap Shinta memberikan earphone pada suami nya agar semakin mempermudah

__ADS_1


"Hati hati ya... kita pasti pulang dengan selamat" Ucap Reyhan dengan senyum nya yang selalu terlihat manis, namun juga dalam hati tetap khawatir apa yang terjadi hari ini


Walkie talkie berbunyi


"Lapor... musuh menerobos kawasan wonderland sekarang, harap hati hati dengan semuanya" Suara yang terdengar jelas dari tim white blood yang mereka atur di pintu masuk


"Oke, semuanya menyebar!!!!" Teriak Shinta sekencang kencang nya sampai tim mereka semua berlari dengan lawan arah


Kecuali Reyhan, dia memang berlari namun tidak terlalu jauh dari sang istri karena dia harus melindungi wanita tersebut


Suara tembakan bertubi tubi mulai terdengar dari arah atas bukit, jelas sekali bahwa musuh mereka sudah memulai penyerangan sekarang


Dor! Dor! Dor!


Bunyi yang sangat tidak asing bagi Shinta, dia harus fokus mana orang yang musuh dan mana yang berada di pihak nya karena menembak di tempat bising bukan satu hal yang mudah


Semua orang sedang berjuang


Reyhan yang melawan dan melumpuhkan satu persatu musuh di hadapan nya, walau bahu nya memang sedikit tergores peluru yang meleset namun itu belum apa apa di banding nyawa mereka semua


Shinta yang harus memegang senjata dalam keadaan hamil, dia sengaja memakai pakaian longgar dan hitam agar perut buncit nya tidak kelihatan dan bagian tersebut tidak akan di jadikan objek untuk peluru, walaupun berakhir terkena lebih baik di bagian tubuh lain saja


"Hati hati semuanya... jangan lengah" Ucap Shinta pada walkie talkie nya dan tangan satu memegang pistol untuk menghadang beberapa orang jahat yang mendekati nya


"Wah wah... saya gak ada perintah buat menyakiti anda loh" Ucap seorang pria dengan seringai menyeramkan


"Trus saya harus bilang waw gitu?" Ucap Shinta menantang karena dia tidak boleh takut demi keselamatan semua orang


"Berani juga ternyata wanita yang jadi incaran bos saya"


Mereka berdua saling mengajukan pistol dengan waktu cukup lama karena beberapa kata dari pria tersebut


Disini Shinta agak heran, kenapa yang menyerangnya hanya sedikit sedangkan rekan mereka lain nya harus menghadapi begitu banyak pemegang senjata api


"Bangs*t lo yang buat sahabat gue kesusahan, gila kalian semua" Ucap Laila semakin gencar menarik pelatuk pistol pada semua orang yang berusaha membunuh mereka


Tiara, Bian, dan Adib juga melakukan hal yang sama, mereka bertengkar melawan musuh untuk keselamatan semua orang, mereka ingin pulang dalam keadaan utuh serta kebenaran masa lalu yang terungkap


"Kenapa? Anda bingung karena yang mendekati anda hanya saya ya?" Ucap pria itu tetap dengan tampang yang menakutkan


"Apa maksud dari semua ini? Jelaskan!!!!" Teriak Shinta sudah tidak tahan dengan teka teki yang harus di pecahkan


"Susah payah saya jelaskan, lebih baik anda ikut saya saja... dan tenang, saya tidak akan membunuh kamu kok" Jawab pria tersebut semakin berputra putar


Namun sepertinya Shinta mulai paham bahwa serangan di winter wonderland sekarang hanya untuk mengecohkan tim dan membawa nya pergi menemui bos besar alias dalang dari semua ini


"Gimana saya bisa percaya sama kamu?" Tanya Shinta


Pria tersebut kembali menganggap enteng pertanyaan barusan "Saya tidak akan menyita senjata yang anda bawa, pegang saja perkataan saya baik baik dan jika saya melanggar maka anda bisa membunuh saya di tempat itu juga" Ucap nya


Shinta dilema sekarang, bagaimana ini? Kalaupun dia yang dibawa maka dibawa kemana? Ke gedung Zeze grup atau tempat lain yang tidak mereka ketahui


"Saya bukan orang yang sabar menunggu" Ucap nya dengan nada mengancam


"Oke, saya setuju" Ucap Shinta memikirkan dengan matang bahwa hanya dengan cara ini dia bisa menemui pelaku sebenarnya termasuk mengungkap kebenaran


Tapi bagaimana dengan rekan mereka yang ada di sini? Apa mereka semua bisa menyelesaikan serangan di wonderland dengan baik tanpa terluka sedikitpun


"Berani juga ya... perempuan seperti anda" Ejek pria tersebut dengan tatapan tajam seolah bilang dan memaksa untuk ikut dengan nya sekarang juga


*Aku berdo'a semoga kalian semua selamat, termasuk kamu mas* Batin Shinta harap harap cemas sebelum kaki nya melangkah mengikuti pria tadi


Reyhan yang baru selesai menembak pun terbelalak ketika mendapati istri nya berjalan keluar dari area wonderland, jelas sekali bahwa itu pemaksaan yang sedang terjadi


"Sayang... jangan, aku gak mau kamu pergi kesana" Teriak Reyhan sambil berlari mengejar istri nya, namun langkah itu berhenti ketika melihat Shinta meletakkan kedua tangan nya di punggung dengan telunjuk yang mengangkat satu


"Saya gak segan segan membunuh orang yang ikut tanpa undangan" Ucap Pria tadi dengan horor yang maksudnya adalah melarang Reyhan ikut


Shinta hanya diam karena malas menanggapi pria berwajah seram itu, lebih baik kicep sampai dia bertemu dengan dalang dibalik semua ini


Reyhan yang kaget sekaligus linglung memang paham dengan kode istri nya tadi, dalam artian 'diam, aku akan baik baik saja dan kita bertemu di sana'


Tapi maksud disana, disana dimana maksudnya? Tempat apa yang akan di kunjungi istri nya bersama pria tadi


15 menit kemudian Bian,Tiara, Adib dan tim white blood sudah bermandikan keringat karena baru selesai bertengkar lawan fisik dan menembak musuh satu persatu sampai semuanya tumbang


Bahkan kedua sandra pun bergidik ngeri ketika melihat bagaimana serangan yang terjadi antar dua kubu tadi


"Rey, Zefa mana Zefa?" Tanya Bian panik ketika tidak mendapati Shinta disitu beserta semua yang ikut panik, mereka tidak mau kalau sampai bumil itu kenapa kenapa


"Dia dibawa sama pria bajingan itu, aku masih ngelacak lewat walkie talkie yang dia pakai" Ucap Reyhan membuka ponsel nya berharap lokasi akan segera muncul


Setelah mendengar jawaban Reyhan semua malah makin frustasi, dimana mereka akan membawa Shinta dan kenapa hanya satu orang saja yang mereka bawa


📻 : annyeonghaseyo yeoleobun,  geogjeonghajimaseyo gwaenchanh-ayo jeoleul growyer geulub samusillo delyeogangeo gat-euni ppalli jiwongun bonaejuseyo


( halo semua, jangan khawatir aku baik baik saja, sepertinya dia membawaku menuju kantor growyer  grup, jadi tolong segera mengirim bala bantuan )


안녕하세요 여러분 걱정하지마세요 저는 무사합니다 사육사 사무실로 데려가는 것 같으니 빨리 지원군을 보내주세요


"Kakak bilang apa?" Tanya Adib yang tidak paham bahasa korea


"Shinta lagi di bawa ke kantor growyer grup, dan kita di suruh kesana untuk ngirim bala bantuan" Jawab Laila


Bian, Bref dan yang lain pun segera menyiapkan apa yang mereka perlukan termasuk tim kepolisian juga, hari ini kasus harus selesai, kebenaran harus terungkap, dan yang paling penting adalah keselamatan Shinta... mereka tidak tahu apa saja yang akan terjadi di sana


Dalam perjalanan pun polisi mengenakan mobil dan pakaian biasa agar tidak terlihat bahwa mereka anggota kepolisian


"Bukan nya ini jalan ke kantor Growyer yang lama ya?" Ucap Bian mengingat ingat ketika dia pernah kesini tahun lalu


"Kayak nya iya" Ucap Reyhan membenarkan karena dia melihat letak GPS yang berada di walkie talkie milik istri nya


"Aku gak paham ini dimana" Ucap Adib bingung, baru pertama kali ia ke Jepang hanya untuk bertengkar secara fisik seperti ini


"Ini jalan ke gedung Growyer yang lama, gedung bekas alias gak terpakai karena posisi nya yang rawan gempa... Jadi kalau memang ada bom juga yang  terpasang dan meledak, mereka gak akan rugi soal gedung itu" Ucap Tiara menjelaskan


"Bom!? Kamu bilang apa barusan?" Tanya Reyhan terkejut mendengar benda berbahaya tersebut


*Waduh... salah ngomong* Batin Tiara merutuki diri sendiri


"Tiara cuman nerka nerka, Lo jangan khawatir yang berlebihan" Ucap Bian


"Gimana gak khawatir? Istri gue hamil dan dia lagi dalam keadaan bahaya, trus gue harus diem aja?"


"Enggak gitu juga kak Rey... aku khawatir, tapi jangan pakai marah... ini kita kesana juga karena mau nyelamatin kakak" Ucap Adib berusaha memberi ketenangan


Reyhan tidak peduli dan menyuruh Bian untuk menambah kecepatan mobil, pikirnya semakin cepat sampai maka semakin besar pula nilai keselamatan istri nya




Mereka semua sampai di gedung Growyer dengan mengepung semua sisi tanpa membunyikan sirine polisi, gedung yang nampak tidak terawat itu sepi serta gelap



"Ini masuk lewat mana?" Tanya Bian



"Sebagian lewat depan, belakang dan samping kanan kiri" Ucap Reyhan memberi tahu semua orang lewat walkie talkie



"Saya bagian belakang aja pak" Ucap Tiara



"Ikut ikut, kak Rey sama kak Bian lewat depan... aku sama Tiara lewat belakang" Ucap Adib bergegas ke bagian belakang gedung dan masuk lewat sana



"Buset... bucin tak terhingga" Ucap Bian geleng geleng kepala



"Udah udah" Ucap Reyhan lalu membuat gestur agar mereka berdua masuk dari pintu depan secara perlahan



"Kamerad Bian segera beraksi" Brakkk!!! belum lima menit berjalan saja ia sudah menabrak dinding gedung



Reyhan kesal sendiri jadi nya, bisa bisa nya saat mereka serius malah Bian menjadi ceroboh seperti ini



"Niat nggak sih?"



"Aduh... maaf maaf, gak fokus nih jadi nabrak" Ucap Bian mengelus kepala nya yang terbentur

__ADS_1



Ponsel Reyhan sempat berbunyi, namun ia abaikan karena sedang menjalankan misi yang lebih penting



Sedangkan di sebuah ruangan gedung atas, Shinta sendiri duduk di kursi dengan ikatan di tangan nya



"Mau kamu apa?" Tanya Shinta terlihat tenang walau dalam hati ia sangat takut tidak akan bisa keluar dengan selamat



"Mau saya, anda duduk diam disini dan dengar sendiri alasan nya" Jawab pria tadi langsung berlalu begitu saja



Dahi Shinta mengernyit, ia bingung dengan ucapan pria tersebut, ponsel nya juga berdering panggilan dari papa Raka, tapi karena tangan nya terikat maka ia tidak bisa menerima panggilan itu



\*Maaf ya pa... do'a kan Shinta dari sana\*



Ceklek


Pintu terbuka, walau ruangan remang remang namun terlihat seorang wanita menggunakan high heels masuk ke sini



Dor!!!



"Halo... tembakan tadi hanya sebagai pembuka saja" Ucap nya lalu menyalakan seluruh lampu ruangan



Shinta terkejut namun masih bisa menyembunyikan rasa itu, dia pernah bertemu wanita ini saat Bian masih kuliah dulu



"Masih kenal dengan saya kan? Bagaimana kabar kamu? Baik?" Tanya nya dengan senyum sinis dan melangkah mendekati Shinta secara perlahan



"Oh... Jadi kamu yang merencanakan semua ini, Alana?" Tanya Shinta yang mulai menggali informasi dan suatu kenyataan



"Emm... Jujur atau enggak ya? Jujur aja deh, memang saya yang merencankan semua ini" Ucap Wanita bernama Alana tersebut



"Tujuan kamu?" Tanya Shinta



"Tujuan saya? Ya saya mau kamu mati lah, kamu pikir saya bakal biarin aja kamu hidup bahagia setelah menikah gitu? No. Itu salah besar" Jawab Alana sambil memegang dagu Shinta



"Ck ck ck.. kamu hamil ya? Duh... gimana rasanya kalau bayi yang kamu tunggu selama ini juga ikut mati?" Lanjut nya ketika melihat perut buncit itu



"Maksud kamu apa? Punya dendam apa sampai kamu mau bunuh saya?" Tanya Shinta tidak menghiraukan ancaman tentang bayi nya



"Masih gak sadar?"



Plakk!!!



Alana menampar keras pipi Shinta dengan pistol yang ia pegang, hanya sekali namun darah langsung mengucur dari sana



"Salah saya apa?" Tanya Shinta terus menggali kebenaran dengan rasa sakit yang ia tahan



"Salah kamu? Kamu punya salah besar karena udah berani merebut Zean dari saya, perusahaan itu pun juga beralih nama kamu kan? Masih nanya salah kamu apa? Sadar!!!" Jawab Alana menggebu sambil menodongkan pistol milik nya



"Merebut? Saya gak pernah merebut siapapun dari anda" Ucap Shinta



Plakkk!!!



Mendengar ucapan pembelaan itu membuat Alana tidak terima dan kembali menampar pipi bagian sebelah nya



"Haha... tidak pernah kamu bilang? Yang suka sama Zean itu saya, yang menemani dia saat saat kuliah juga saya, bukan kamu" Ucap Alana yang mata nya sudah sangat tajam sedari awal ia masuk



"Tapi kenapa kamu yang jadi prioritas utama nya Zean? Harus nya saya... bukan kamu si bocah cilik yang selalu Zean utamakan, tapi kenapa? KENAPA HARUS KAMU?????!!!!!"



Shinta yang mendapat luka parah di bagian wajah hanya diam dan tidak bisa membalas, dia tidak akan melakukan pembalasan sebelum semuanya jelas.



Sedangkan disisi lain, Reyhan dan tim lain nya terus mengarah masuk ke gedung walau mereka bingung karena tidak ada penjaga sama sekali



"Rey... ini gak ada penjaga sama sekali?" Tanya Bian



"Iya, tapi gedung delapan lantai ini banyak ruangan jadi kita harus bagi tim menjadi delapan untuk cari tahu" Ucap Reyha terus memegang pistol untuk berjaga jaga apabila tiba tiba muncul lawan mereka



Bian mengeluarkan walkie talkie dan memberi perintah untuk membagi tim menjadi delapan, dan masing masing tim akan menyelusuri satu lantai gedung



"Kita bagian lantai paling atas" Ucap Reyhan



Bian mengangguk, tapi kemudian ia menyadari sesuatu tentang gedung ini "Rey Rey Rey..." ia menepuk pundak Reyhan berkali kali seperti orang panik



"Apa?"



"Kalau gak ada penjaga di sini, kemungkinan besar gedung ini memang mau di hancurkan Rey" Ucap Bian yang membuat Reyhan semakin khawatir



"Kenapa baru ngomong sekarang? Bisa gila aku" Ucap  Reyhan frustasi dan segera naik ke lantai paling atas untuk menemukan dimana istri nya berada



Beberapa menit mereka mencari dan membuka semua ruangan, namun dari tim lantai bawah pun sama sekali tidak menemukan keberadaan Shinta



"Gak ada yang bisa nemu in Zefa" Ucap Bian selepas mendapat laporan lewat walkie talkie



"Udah tahu" Ucap Reyhan karena dia sendiri pun sudah menyambungkan walkie talkie dengan headset yang ia gunakan


__ADS_1


"Ssstt...." Ucap Bian meletakkan telunjuk nya di bibir karena seperti mendengar sesuatu.


__ADS_2