
"Ma... siapa yang pakai baju pasien?" Ucap Reyhan menyibak selimut yang menutupi kaki nya
Mama Riana baru paham di sini, ternyata anak nya yang sakit "Loh... emang kamu sakit apa sampai masuk rumah sakit gini?" Ucap nya mendekat pada sang anak dan mengusap lembut rambut nya
Shinta melirik suami nya, dalam artian meminta izin untuk menceritakan semuanya secara jujur perihal apa yang mereka alami
"Itu-
"Hanya luka kecil ma" Potong Reyhan sebelum istri nya menjawab pertanyaan barusan
"Luka di lengan? kok bisa?" Tanya mama Riana penasaran
"A-
Saat Shinta ingin membuka mulut nya, lagi lagi Reyhan dengan cepat memotong ucapan itu sebelum satu kata pun keluar dari mulut istri nya
"Terbentur meja kantor, hanya sobek dikit" Jawab Reyhan santai
Mama Riana pun mengangguk saja meskipun ada yang janggal, mungkin anak nya memang enggan menceritakan masalah yang di alami, dia hanya berdo'a apapun yang terbaik untuk rumah tangga anak nya
"Sendirian aja ma? kesini sama siapa?" Tanya Shinta menyalami punggung tangan ibu mertua nya
"Sama papa tapi masih di luar" Jawab mama Riana, pandangan nya kemudian terjurus pada perut sang menantu
Senyum berulang kali mengembang mengingat dia yang akan menjadi seorang oma walau masih beberapa bulan lagi
"Mama kesemsem sama perut kamu" Ucap mama Riana terkekeh
"Sama orang nya enggak ma?" Tanya Shinta
"Kalau sama orang nya udah dari dulu" Jawab mama Riana tersenyum "Mama boleh pegang perut kamu?"
"Boleh dong ma" Jawab Shinta melangkahkan kaki nya untuk lebih dekat
"Alhamdulillah... sehat sehat di ruangan yang hangat, oma menanti kamu" Ucap mama Riana tersenyum sembari mengelus perut yang belum nampak itu
Shinta juga ikut tersenyum, mama kandung atau bukan bagi nya itu sama saja, kehangatan seseorang dan perhatian itu akan sangat berarti bagi nya
Apalagi Reyhan, meskipun ponsel nya jarang mendapat telefon dari mama Riana, tapi dia tahu kalau posisi nya tidak pernah terganti, senang juga melihat kebersamaan dua wanita berbeda generasi itu saling berbagi kebahagiaan, hal itu juga menjadi kehangatan tersendiri bagi nya
"Bunda kamu udah tahu?" Tanya mama Riana
Mendengar pertanyaan tersebut Shinta jadi bingung ingin menjawab apa, hal itu mengingatkan nya pada permasalahan yang belum selesai
Di tambah Harun yang melarang nya untuk menghubungi sang bunda, sudah pernah ia coba namun hasil nya nihil tidak ada yang menjawab, bagaimana cara nya dia bisa mengabari bunda nya tentang anggota keluarga mereka yang akan kedatangan personil baru?
"Bunda udah tau kok ma" Celetuk Reyhan
"Oh ya? alhamdulillah berarti mama sama bunda kalian lagi menanti cucu" Ucap mama Riana membayangkan bagaimana keseharian nya nanti yang akan bermain dengan cucu nya
Shinta mengernyitkan alis nya, kenapa Reyhan berbicara seperti itu? sejak kapan bunda nya tahu tentang kehamilan pertama ini?
"Ma, papa di kantin ya?" Tanya Reyhan
"Iya, katanya sih beli makanan buat sarapan tapi lama banget" Ucap mama Riana heran dengan menggelengkan kepala nya
"Rey lapar ma" Ucap Reyhan mengadu, bukan lapar sih karena tadi sebelum sholat subuh dia sudah makan dengan istri nya
"Kalau gitu aku susul ke kantin aja mas" Ucap Shinta hendak melepas mukena nya untuk berganti memakai hijab
"Eh... jangan, biar mama aja" Ucap mama Riana mencegah
"Nanti mama capek loh... kantin nya kan ada di bawah, biar Shinta aja gak papa" Ucap Shinta melarang
"Kan ada lift, udah biar mama aja yang ke bawah" Ucap mama Riana membenahi hijab nya lalu keluar ruang rawat VVIP yang biasa di gunakan anggota keluarga nya itu
Setelah pintu tertutup, Shinta kembali menatap suami nya, meminta penjelasan tentang ucapan barusan
"Kamu ngapain mas? sengaja ya supaya mama keluar dulu" Tuduh Shinta tau seluk beluk pemikiran suami nya
"Maaf sayang, tapi emang ada hal yang harus kita bicarakan berdua" Ucap Reyhan membenarkan
"Kan bisa nanti aja, kasihan loh mama harus turun ke bawah" Ucap Shinta kesal
"Kan aku udah bilang maaf sayang, mama juga pasti mau nyusulin bayi gede nya" Ucap Reyhan tergelak
Lah... gak sadar diri, dia juga seperti bayi gede bahkan lebih parah dari papa Raka jika sedang bersama istri nya
Plakk!
"Heh... sembarangan kamu mas, nanti kualat loh" Ucap Shinta menepuk lengan kiri suami nya
"Kan aku bener yang, bayi gede" Ucap Reyhan tersenyum menunjukkan barisan gigi rapi nya, senyum yang hanya dia tunjukkan untuk sang istri
Aduh... malted dah kayak mozzarella
"Keluar pembahasan, mau bicara tentang apa emang?" Tanya Shinta, lama lama melihat senyum itu rasanya justru ingin menggigit saja
"Bunda udah tahu kalau kamu hamil" Ucap Reyhan
"Siapa yang ngasih tahu? kalau kak Harun aku rasa gak mungkin" Ucap Shinta
Reyhan tersenyum, jawaban istri nya sangat benar dan tepat bahwa bukan Harun yang memberi tahu hal itu pada bunda nya
"Sisil, dia yang ngasih tahu kehamilan kamu sama bunda" Ucap Reyhan
"Hah? kapan?" Tanya Shinta
"Setelah kita video call makan siang kemarin, kak Seli telefon waktu aku di kantor karena katanya Sisil mau cerita sesuatu"
"Trus?" Tanya Shinta
"Ternyata yang, setelah kita video call itu Sisil nanya nanya tentang apa itu isi tapi kak Seli gak bisa jawab dan akhirnya dia lari trus nanya ke bunda, jadi nya sekarang bunda tahu kalau beliau juga akan punya cucu lagi"
"Dan bunda juga telefon aku pakai ponsel nya kak Seli, bilang alhamdulillah bersyukur akan ada anggota baru, dan yang paling penting juga beliau nyuruh kamu banyak istirahat, minum vitamin, jangan sampai kecepek an" Ucap Reyhan menjelaskan
__ADS_1
Shinta jadi terharu disini, ternyata ada pesan terserat untuk nya yang di sampaikan melalui sang suami
"Makasih" Ucap Shinta tersenyum lalu refleks memeluk suami nya dari samping
"Sama sama, tapi panggil sayang dulu" Ucap Reyhan mengelus lengan istri nya
"Harus ya?" Tanya Shinta, sekadar panggilan sayang saja masih malu jika harus dia ucapkan sendiri
"Harus dong, wajib malah" Jawab Reyhan
Shinta tersenyum malu, lalu mendekatkan mulut nya ke telinga sang suami "Makasih sayang" Ucap nya di sertai kecupan singkat di daun telinga
Reyhan memejamkan mata disini, istri nya itu memang jahil sekali "Kamu sengaja yang?" Tanya nya
"Hmm? apanya yang sengaja? bener dong kan aku udah manggil sayang" Ucap Shinta menahan tawa, pura pura bodoh aja lah
Tanpa aba aba, Reyhan memegang tengkuk istri nya, mencium bibir yang selalu manis dan candu bagi nya, syukur dalam hati selalu terucap saat ingat bahwa ada wanita tangguh yang berdiri di samping nya
"Hukuman untuk kamu" Ucap Reyhan mengusap bibir yang basah karena ulah nya
"Hukuman apa? cuman sebentar, yang di sebut hukuman itu kayak gini mas" Ucap Shinta mengalungkan tangan nya di leher sang suami dan melakukan seperti apa yang di lakukan Reyhan barusan
Tidak salah jika wanita bersuami menyerang duluan bukan? toh yang di serang juga suami nya sendiri, bukan suami tetangga
Ceklek
Tautan itu terlepas ketika bunyi pintu terdengar
"Astagfirullah... mama jadi kaget Rey" Ucap mama Riana mengelus dada nya karena sempat melihat
Sedangkan papa Raka hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, kelakuan Reyhan tidak jauh beda dengan nya, bahkan sangat persis saat masih jadi pengantin baru dulu
"Ehem... kayak nya ma, mereka ini perlu babymoon supaya punya waktu berdua lebih banyak" Usul papa Raka
Hah?
"Pa...
πΈπΈπΈ
Disisi lain, ajudan yang sudah bangun dan sholat subuh tadi mulai melakukan olahraga pagi sebelum melakukan misi nya
Karena hari ini dia masuk siang, maka dari itu di pagi hari dia akan berolahraga sebentar dan mrnyrkidiiki tentang peluru kemarin
"Wah... kebiasaan pagi pagi udah bangun ya den" Ucap bi Asti yang baru datang dan melihat Adib berolahraga di pelataran rumah
"Iya bi, saya mau pergi juga soalnya, gerbang nya biarin aja terbuka karena mau ada tamu" Ucap Adib dengan pandangan fokus ke pengukur waktu
"Siapa den? jangan jangan pacar nya nih" Goda bi Asti
"Bibi bisa aja, saya masih single tanpa mengurangi ketampanan bi" Ucap Adib pede
"Loh trus gak jadi sama teman nya non Shinta yang kerja di rumah sakit itu?" Tanya bi Asti
Ajudan hanya mengedikkan bahu nya dan menjawab "Entahlah bi, saya hanya berdo'a yang baik aja" Ucap nya berusaha tersenyum
Bi Asti mengerti permasalahan cinta anak muda, sudah menjadi kebiasaan dari dulu sampai sekarang "Sabar ya den, kalau jodoh juga pasti di satukan, kalau bukan berarti ada wanita yang lebih baik lagi untuk menjadi jodoh nya den dan calon ibu dari anak anak nya den juga nanti" Ucap nya
"Iya bi, makasih... kalau gitu saya joging keliling kompleks dulu bi" Ucap Adib membuat langkah lari di tempat
"Ah iya den, saya juga mau masak sarapan dulu" Ucap bi Asti mempersilahkan
Adib mulai keliling kompleks seperti yang biasa Shinta lakukan saat tinggal di sini dulu, di sekeliling jalan banyak orang yang menyapa karena sudah mengenal satu sama lain
Ada juga beberapa gadis yang selalu menyapa nya, tapi entah lah dia sama sekali tidak tertarik dengan gadis manapun, sekarang sedang mencoba untuk menunggu keputusan seseorang yang sudah merebut hati nya
Jadi untuk saat ini hanya satu jurus kura kura ninja dari Reyhan yang dia gunakan, yaitu cuek bebek pada semua perempuan apalagi yang memang memiliki sifat centil
45 menit memutar kompleks, capek juga ternyata dan akhirnya langsung pulang ke rumah karena ada tamu yang akan datang
"Ini sepeda nya pak Didi kan? jadi udah datang" Ucap Adib mangut mangut saja kala melihat sepeda motor di depan pagar rumah
Karena kaos yang dia gunakan sudah sangat basah karena terkena keringat, Adib lebih memilih untuk langsung melepasnya dab mengibaskan kaos putih itu di halaman tanpa melihat ada orang di depan nya atau tidak
Brushhh
Keringat seketika keluar seperti hujan tanpa mengadakan mendung
"Ini tinggal di cuci lalu jemur" Ucap ajudan menatap kaos yang dia bentangkan lalu melihatnya dan
"Cuih... hujan yang najis" Ucap Tiara memuntahkan air liur nya dengan wajah setengah basah akibat kaos barusan
"Loh... udah di sini?" Tanya Adib terkejut, kenapa pagi sekali?
"Anda pikir saya di alam lain" Ucap Tiara datar
"Maaf maaf, saya gak sengaja dan lebih baik kamu mandi lalu ganti pakaian" Ucap Adib sadar jika wajah gadis itu tidak sedap di pandang, apalagi rambut pendek sebahu yang juga ikut terkena keringat
"Mandi di mana? saya tidak bawa baju ganti" Ucap Tiara
"Di alam lain. Ya di rumah ini lah Tir, kan ada kamar mandi sama nanti pakai baju kakak aja yang masih ada di kamar nya" Jawab Adib
"Gak deh, nanti timbul fitnah" Tolak Tiara
"Emang kamu mau pakai baju yang kena keringat saya? apalagi untuk menyelidiki peluru itu bukan waktu yang sebentar" Ucap Adib yang membuat Tiara berpikir
*Iya juga sih, mana mungkin aku pakai baju yang udah bau gara gara si sialan ini?* Batin nya
"Udahlah mandi aja, kamu di kamar mandi atas nanti saya juga mandi di kamar saya kok, jangan khawatir" Ucap Adib melenggang begitu saja walau hanya tinggal kaos dalam yang dia gunakan
Selepas mandi dengan arahan bi Asti tentu nya, mereka sarapan sebentar sebelum melakukan misi
"Sini non sarapan bareng" Ajak bi Asti pada Tiara yang baru saja turun selepas mandi dan mengganti pakaian nya
"Ah saya tadi udah makan kok bi, tidak perlu repot repot" Ucap Tiara menolak secara halus
__ADS_1
"Makan ya tinggal makan, masakan bi Asti enak dan bukan nya tamu wajib menghargai tuan rumah ya walau hanya makan sedikit?" Ucap Adib yang duduk di meja makan sambil melirik Tiara
Baju yang di kenakan seperti nya sedikit kebesaran karena badan Tiara lebih mungil di bandingkan tubuh kakak nya
"Ck, saya lagi diet tahu" Ketus Tiara
"Diet nya besok aja non, masakan istri saya enak loh... sayang kalau gak di coba" Ucap pak Didi
Karena tidak enak hati dengan beberapa tawaran barusan, akhirnya ia memutuskan untuk makan juga meskipun hanya sedikit
"Gimana non? enak kan masakan istri saya?" Ucap pak Didi setelah melihat gadis itu mencicipi makanan yang ada di piring nya
"Enak banget pak, serius ini cocok sama lidah saya" Jawab Tiara tersenyum
"Alhamdulillah kalau cocok" Ucap bi Asti lega
"Gitu aja tadi sok sok an mau diet, badan udah kecil juga masih mau menyiksa diri" Cibir Adib
Plak!
"Hust... den, jangan gitu" Ucap bi Asti sembari menepuk lengan Adib
"Emang bener loh bi" Ucap Adib membela diri
"Jangan gitu den, nanti kalau kalian ternyata jodoh gimana?" Goda pak Didi menaik turunkan alis nya
"Saya sama dia?" Tanya Adib menunjuk diri nya lalu ganti Tiara
"Saya dan dia?" Ucap Tiara menujuk Adib dengan ekspresi malas
"OGAH!!!" Ucap kedua orang itu bersamaan dengan cula yang tiba tiba muncul di kepala keduanya
"Haha, awal benci jadi cinta" Goda bi Asti tersenyum, ada ada saja kelakuan anak muda jaman sekarang
πΈπΈπΈ
Di situasi lain, papa Raka yang menawarkan babymoon tadi langsung di setujui saja oleh Reyhan
"Aku rasa babymoon itu agak-" Ucap Shinta terhenti karena sang suami yang menatap nya
"Karena apa sayang? bagus kalau kita liburan karena kita emang belum pernah liburan kan" Ucap Reyhan
"Iya sih, tapi dengan situasi sekarang?" Tanya Shinta tidak yakin
"Aku gak mempersalahkan situasi nya yang, kalau kita bisa liburan kenapa harus di tunda?" Ucap Reyhan tidak peduli dengan situasi sekarang, yang paati dia akan memperketat keamanan mereka
Saat Shinta ingin membuka mulut nya, ponsel Reyhan berbunyi yang tertera panggilan dari Evan
π : Assalamualaikum pak, saya mau mengabarkan sesuatu
π: "Waalaikumussalam, ada apa Van?" Tanya Reyhan menloudspeaker obrolan itu agar istri nya juga bisa mendengarkan
π : Alina Lee sedang dalam perjalanan pak, beberapa jam kedepan akan sampai
π: "Baik, kalau gitu langsung kirim ke markas, saya akan menemui wanita itu secara langsung setelah saya pulang" Ucap Reyhan
π : Emang pak bos sekarang lagi di mana?
π : "Nanti saya bicarakan, panjang kejadian nya Van" Jawab Reyhan
Setelah mengakhiri panggilan telepon, Reyhan menatap istri nya yang diam dengan ekspresi datar
"Kenapa?" Tanya Reyhan memegang dagu itu
"Kenapa kamu gak bilang aja semuanya sama mama dan papa sebelum mereka pulang tadi?" Tanya Shinta ingat beberapa kali sang suami yang mencegah nya bicara
"Aku hanya merasa kalau masalah ini antar suami istri, walaupun Evan juga tahu tapi aku gak mau menambah beban pikiran mereka sayang" Ucap Reyhan
Dingin dingin gitu dia sangat menyayangi orang tuanya sampai enggan membicarakan hal yang akan membuat orang tuanya berpikir keras
"Aku juga awal nya seperti itu, tapi lama kelamaan sesuatu juga akan terungkap dengan jelas bukan?" Ucap Shinta
"Aku tahu sayang, tapi setidaknya hal ini terungkap setelah masalah selesai dan tanpa menimbulkan luka lagi"
"Untuk misi penyelesaian juga aku tunda, aku melarang kamu untuk menyelesaikan nya sekarang" Ucap Reyhan
"Hah? trus selesai nya kapan kalau aku gak maju?" Tanya Shinta terkejut
"Minimal saat kehamilan kamu berusia tiga bulan, ingat janin di rahim kamu masih rentan keguguran sayang, jalan terbaik hanya itu sayang atau nunggu anak kita lahir nanti" Ucap Reyhan menjelaskan
"Trus selama itu aku ngapain?" Tanya Shinta, sekarang saja dia pengangguran, hanya mengurus cafe aja
"Kita coba me time, habisin waktu berdua, menikmati tanpa adanya gangguan" Jawab Reyhan tersenyum
Shinta hanya bisa setuju saja sih, bisa apa dia sekarang? gegabah juga akan menyebabkan janin nya dalam bahaya
Apakah dia begitu istimewa sampai di beri ujian seperti ini? ia menatap langit pagi yang cerah dari jendela kaca ruang rawat
Sangat indah, tapi ia lebih menyukai langit malam karena di waktu itu cahaya tersembunyi akan menunjukkan sinar nya, menunjukkan kalau dia juga tak kalah hebat dari matahari
"Aku tidak berguna, hanya bisa menyusahkan orang saja" Ucap Shinta tersenyum getir dengan tangan menutupi mata nya
"Bukan nya membantu, justru aku menyebabkan orang lain terluka hanya karena masalah yang peyebabnya apa aku juga tidak tahu, sebegitu tidak berguna nya aku sampai menyakiti orang lain termasuk tim ku" Ucap nya lagi
Mengingat Bian yang mengalami kecelakaan dan anggota white blood yang terus mengalami serangan internal
Reyhan membuka paksa tangan yang menutupi mata cantik itu "Kenapa kamu ngomong kayak gitu sih?"
"Aku yakin kalau Zean gak akan menyalahkan kamu atas semua ini, sama dengan Bian bahkan aku juga gak pernah dengar kalau dia nyalahin kamu sayang" Ucap Reyhan
"Aku hanya merasa bersalah, merasa takut dengan apa yang akan terjadi di kemudian hari" Ucap Shinta
"Untuk apa kamu takut yang? ada aku, orang yang bisa melakukan segala nya untuk mu dan melindungi mu" Ucap Reyhan mengusap pipi itu
Shinta tersenyum, sekarang dia tidak sendiri bahkan pasukan nya semakin bertambah "Iya, aku lupa kalau sekutu yang sangat kuat ada di samping ku" Ucap nya
__ADS_1
Bersambung