Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
18.Akrab


__ADS_3

ceklek!


"shitaaaa" panggil orang itu sedikit berteriak dan berlari dan memeluk shinta dengan erat


"jan.. jan" ucap shinta dengan napas mulai terengah engah, ya yang datang barusan adalah jannah diikuti rendra di belakangnya


"shinta.. akhirnya lo bangun juga" ucap jannah masih dengan memeluk shinta erat


"jan, gue gak bisa napas" ucap shinta terengah engah dan jannah pun melepaskan pelukannya


"uhuk uhuk, lo sengaja mau bunuh gue apa gimana?" ucap shinta terbatuk sambil menepuk nepuk dada nya


"mulut lo shin, kalo ngomong sembarangan" ucap jannah sambil menepuk pelan mulut shinta


"gue khawatir ntar kalo tiba tiba gue ditinggal sendirian sama sahabat gue" ucap jannah


"mulut lo jan, minta di lakban" ucap shinta dan menepuk pelan mulut jannah


"hahaha" tawa jannah


"eh apa lo kasih tau ajudan gue?" tanya shinta


"enggak lah, tapi dia tadi nelfon bibi nanyain lo" ucap jannah


"trus?" tanya shinta


"ya gue bilang aja ke bibi kalo lo lagi ada urusan diluar" ucap jannah renteng


"pintar banget lo kalau bikin alibi" ucap shinta terkekeh


"hhehe, ya iya dong" ucap jannah


"emang kenapa kalo ajudannya shinta tau soal ini?" tanya rendra tiba tiba


"kalo ajudannya tau, bisa bisa shinta di depak dari bandung dan dibawa pergi gak dibolehin tinggal di sini" ucap jannah


*siapa sih ajudannya itu?*batin reyhan bertanya tanya


"segitunya?" tanya rendra heran


"he'em" jawab jannah


"ajudannya shinta itu siapa nya sih?" tanya rendra lagi


"ajudannya itu... " belum selesai jannah mengatakannya, pintu dibuka oleh seorang suster juga dokter yang menangani shinta dari kemarin


"maaf mengganggu, saya kesini mau melakukan pemeriksaan" ucap dokter itu


"oh iya, silakan" ucap jannah


dokter dan suster itu pun masuk untuk memeriksa keadaan shinta


skip setelah pemeriksaan__


dokter perempuan itu mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga shinta


"kondisi anda sudah baik baik saja, tapi tolong jangan pikirkan hal berat, pikirkan saja apa yang membuat suasana hati dan pikiran anda menjadi senang, tolong ingat pesan saya" bisik dokter itu dan dibalas anggukan oleh shinta


*dokter ini kayak tau sesuatu tentang gue deh* batin shinta


rendra dan reyhan yang duduk di sofa pun bingung dengan apa yang dokter lakukan, kenapa harus bisik bisik segala? itu yang ada di pikiran mereka masing masing


sedangkan jannah yang juga duduk di sofa sudah tau hal apa yang di bisikan dokter itu pada shinta


"kondisi pasien sudah baik baik saja, kalau tidak ada kendala, nanti sore sudah di perbolehkan pulang" ucap dokter itu


"alhamdulillah" ucap semuanya


"kalau begitu terima kasih dokter" ucap jannah

__ADS_1


"terima kasih dok" ucap shinta dengan senyum tipis


"sama sama, kalau begitu saya permisi, mari" pamit dokter itu keluar ruangan di ikuti suster di belakangnya


"jan" panggil shinta


"kenapa?" tanya jannah


"apa elin kemarin bilang sesuatu sama dokternya?" tanya shinta


*elin siapa?*batin rendra dan reyhan


"iya" jawab jannah


"bilang apa aja?" tanya shinta


"gak tau gue, soalnya mereka bicara berdua lewat telepon, dan yang pegang semua surat medical check up lo kan elin, jadi hanya elin yang tau tentang kondisi lo, apalagi elin juga dokter yang menangani lo selama ini, alhasil ya dia yang jelasin ke dokternya" ucap jannah menjelaskan


"iya juga sih, duh ponsel gue mana jan?" tanya shinta kebingungan mencari ponselnya


"bentar gue ambilin, tadi pas gue tinggal baru gue cas" ucap jannah menuju nakas tempat tidur


"nih" ucap jannah menyerahkan ponsel shinta


"buat apa?" tanya jannah


"nelfon elin" ucap shinta singkat dan menelfon elin


"halo lin" ucap shinta setelah panggilan terhubung


"halo shin, lo udah sadar? ahh syukurlah gue kangen sama suara lo" ucap dokter elin di telepon


"kangen kangenannya nanti aja, sekarang jawab dulu pertanyaan gue" ucap shinta


"hmm iya apa?" tanya dokter elin


"lo kemarin bilang apa aja ke dokternya?" tanya shinta


"oh, syukur deh.. makasih ya" ucap shinta


"sama sama shin" ucap dokter elin, tiba tiba saja jannah berteriak


"elin... ini udah waktunya makan siang, biarin shinta makan dulu, jangan di ajak ngobrol" teriak jannah agar dokter elin dapat mendengarnya


"iya iya, yaudah gue matiin dulu, jaga kesehatan ya, bye shin" ucap dokter elin


"bye juga" ucap shinta dan tit! panggilan dimatikan


"eh itu kan tas gue jan, kok ada di sini?" tanya shinta sambil menunjuk tas ransel miliknya di sofa sebelah rendra duduk


"tadi gue ambilin lo baju sekalian" ucap jannah


"ohh" jawab shinta


"oh iya nih ada bubur ayam buatan bibi" ucap jannah sambil membuka sebuah kotak makan


"wahh bibi baik banget" ucap shinta


"mau gue suapin atau disuapin reyhan?" tanya jannah yang membuat shinta juga reyhan menatapnya dengan tajam


"gue bisa makan sendiri jan" ucap shinta dan mengambil kotak makan di tangan jannah


"bener nih gak mau di suapin mas rey?" tanya jannah berniat menggoda shinta


"lo kok maksa gue biar mau disuapin rey? bisanya orang yang maksa tuh sebenernya orangnya sendiri yang pengen, atau jangan jangan lo pengen disuapin rendra ya?" ucap shinta, nah kan skakmat


"ndra, udah ngode tuh suruh nyuapin" ucap shinta pada rendra


"beneran jan? kamu mau aku suapin?" tanya rendra pada jannah

__ADS_1


"enggak kok ren, shinta ihhh" ucap jannah sambil mengerucutkan bibirnya


"hahha" tawa shinta dan rendra sampai sampai reyhan pun ikut tertawa kecil melihat kelakuan mereka


*baru kali ini gue liat shinta ketawa* batin reyhan tersenyum


"trus kalian makan apa?" tanya shinta


"tadi kita mampir beli makanan" jawab rendra


"ooh" ucap shinta


semua pun memakan makanannya masing masing dengan hikmat


"eh jan apaan tuh, burger ya?" tanya shinta sambil melihat makanan yang dipegang jannah


"udah tau burger, masih nanya lagi" jawab jannah jutek


"dih kan nanya doang neng, jutek amat" ucap shinta menggoda jannah


"biarin dong, bilang aja kalau mau minta" ucap jannah


"itu tau, minta dong" ucap shinta


"no no, lo gak boleh makan junkfood" ucap jannah


"siapa yang bilang?" tanya shinta


"ya gak ada, kan lo lagi sakit, jadi gak boleh makan ini" ucap jannah


"satu gigit aja jan" ucap shinta memohon


"no, gue bilang gak boleh ya gak boleh" ucap jannah


"satu gigit... aja, pliss" ucap shinta dengan mengeluarkan puppy eyes nya untuk memohon, hidungnya dibuat kembang kempis seprti ingin menangis


*ya ampun, kalo lagi mohon mohon gitu mukanya lucu banget* batin reyhan


"yaudah yaudah, nih satu gigit aja, gak tega gue liat muka lo mupeng gitu" ucap jannah sambil menyuapi shinta burger


"emm enak, makasih jan" cap shinta saat burger masuk ke dalam mulutnya


"hhahaha, lucu banget sih kalian" ucap rendra sambil tertawa


"ya iya dong" jawab shinta sambil tersenyum, ya sepertinya dia sudah mulai terbiasa berbicara santai dengan rendra juga rey


"ternyata shinta orangnya asyik juga ya, aku kira dia bakalan jutek terus" ucap rendra


"shinta mah gitu, kalau orang yang gak deket sama dia ya gak tau kalau shinta orangnya asyik, bahkan orang orang pasti nganggap shinta kayak es kutub, ya gak shin?" jawab jannah terkekeh


"hhaha, iya" ucap shinta membenarkan


"berarti kita semua udah deket dong, buktinya kita udah akrab" ucap rendra


"bisa dibilang begitu" ucap shinta


"tinggal pdkt nya nih yang belum" ucap rendra


"silakan aja kalau mau pdkt ren, jannah siap kok, iya kan jan?" ucap shinta menggoda jannah


"shintaaaa" teriak jannah dengan wajah bersemu merah


"hahahaha" tawa semua orang kecuali reyhan yang hanya tersenyum kecil


BERSAMBUNG


________________________________________


AYO LIKE NYA DONG! 💞

__ADS_1


JANGAN LUPA KOMEN JUGA, VOTE YA!✨


TERIMA KASIH❤🙏


__ADS_2