Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
HKS 192


__ADS_3

"KENAPAA??? KENAPA HARUS KAMU???" Teriak Alana tepat di depan wajah Shinta


"Saya tidak pernah merebut kak Zean, anda sudah salah paham dari awal" Ucap Shinta lirih namun jelas


"Salah paham? Haha... salah paham bagaimana? Zean mati juga karena melindungi kamu kan? Demi kamu dia sampai rela mati" Ucap Alana


Shinta sudah tidak terkejut lagi karena dia menebak kalau meninggal nya Zean juga pasti berhubungan dengan Alana, atau kemungkinan Alana dalang di balik semuanya


"Jangan jangan kamu yang membunuh kak Zean, iya kan?" Tanya Shinta, sedikit lagi ia akan tahu semuanya.


Bian dan Reyhan melihat ada seorang pria yang berdiri di tangga lantai delapan, dengan begitu maka sudah pasti Shinta berada di lantai tersebut


"Bekap dari belakang" Ucap Reyhan


Bian mengangguk, ia dengan cepat membekap pria yang membawa Shinta tadi dari belalang sampai hilang kesadaran, baru setelah itu mereka lanjut naik ke atas


"Rey, itu" Bian menunjuk satu ruangan yang sangat terang karena lampu menyala


Reyhan mengangguk, mereka melangkah sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara langkah kaki sedikit pun


Mata mereka membulat ketika sampai di depan pintu dan melihat langsung dua wanita dengan Shinta yang sudah dalam keadaan terluka


Rahang Reyhan mengeras menyaksikan apa yang ada di depan nya, istri yang ia sayangi dan ia cintai kini terluka dengan keadaan terikat, ingin sekali untuk menembak wanita yang menyakiti istri nya iti, namun dengan cepat Bian menghalangi karena tangan Shinta memberi kode untuk jangan masuk sebelum ia mengijinkan


Shinta sudah tahu bahwa suami nya dan Bian ada di balik pintu, namun bersyukur Alana membelakangi pintu tersebut hingga belum sadar akan kehadiran orang lain


"Iya kan? Kamu yang membunuh kak Zean kan?" Shinta tidak berhenti bertanya sebelum Alana menjelaskan semuanya


"IYA, kalau iya kenapa? Waktu itu saya mau bunuh kamu, tapi ternyata... Zean lebih dulu jadi pahlawan untuk kamu kan? Sampai akhirnya dia sendiri yang tewas di tangan saya"


"Tapi setelah semua ini dengan mudah nya kamu menikah, hidup bahagia bahkan segera mempunyai anak, enak sekali hidup kamu ya?"


"Harus nya perusahaan itu jadi milik ku, bukan kamu yang mudah melupakan Zean begitu saja" Ucap Alana panjang lebar dengan emosi serta air mata bercucuran


"Akhirnya... akhirnya aku tahu semuanya" Ucap Shinta pun mengeluarkan air mata ketika dia tahu siapa yang sebenarnya sudah membunuh Zean


Dor!!


Alana menembak lengan Shinta bagian kanan


"Akhhh" Ringis nya benar benar menahan sakit peluru yang masuk ke lengan nya


"Mau nya sih saya nembak kamu biar mati aja langsung, tapi... kalau mati perlahan sepertinya lebih baik" Ucap Alana tersenyum jahat lalu memakai topi nya


"Angkat tangan" Ucap Reyhan masuk dengan Bian serta Adib yang sudah menyeret Alina dan Alena


Alana langsung balik badan ke belakang, bukan nya takut... ia justru semakin tertantang ketika banyak orang yang mengepung diri nya


"Kalian pikir saya takut?"


"Lepaskan istri saya, atau mereka berdua yang akan mati?" Ucap Reyhan menunjuk si kembar Alina Alena yang sudah menangis sedari tadi karena ketakutan


Alana hanya melirik saja, dia pun tidak berniat menyelamatkan sekutu nya sendiri "Silahkan saja" Ucap Alana menyalakan korek api lalu mata nya mengarah ke bawah


Semuanya ikut melihat ke bawah, di mana gas cair sudah tersebar dimana mana dan jika korek api tersebut jatuh maka gedung ini pun akan terbakar


"Mereka mati saya juga tidak peduli, dan saya pastikan kalian semua tidak akan bisa selamat dari sini" Ucap Alana menjatuhkan korek api begitu saja dan langsung lari ketika semua orang panik dengan api yang langsung menyala


Wushhss...


"Aaaa..." Teriak Shinta ketika ia pun di kelilingi dengan kobaran api


"Sayang... tunggu, tahan sebentar" Ucap Reyhan berusaha masuk lebih dalam untuk menyelamatkan istri nya


"Kak Rey, awas kak..." Ucap Adib ingin mencegah namun tidak bisa karena ia juga khawatir dengan Shinta


"Rey.. lo gila, jangan kesana Rey" Cegah Bian


"Lo yang gila, lebih baik kalian turun... cari bantuan dan bawa keluar semua tim dari sini, pasang kasur angin di bawah sana" Ucap Reyhan memberi perintah


"Ta-tapi kak" Ucap Adib ingin membantu Reyhan saja namun ketika korban semakin banyak maka ini juga tidak akan baik


"CEPAT PERGI!!!!" Teriak Reyhan menggelegar


Bian dan Adib pun terpaksa setuju, mereka turun ke bawah dengan Alina dan Alena, walaupun musuh tapi mereka juga tidak bisa di biarkan mati di sini


"TOLONG!!!" Teriak Shinta, tubuh nya sudah sakit dan merasakan panas akibat kobaran api yang semakin besar


"Tenang.... aku disini sayang, aku sama kamu" Ucap Reyhan menutup mata nya sebentar untuk mengurangi panas, lalu menerobos melewati api untuk menyelamatkan istrinya


"Mas" Ucap Shinta menahan sakit ketika Reyhan sudah ada di hadapan nya, dengan cepat ia melepas ikatan itu lalu menggendong sang istri untuk keluar dari gedung


"Hati hati mas" Ucap Shinta berpegangan erat pada suami nya


Mereka harus menerobos dan menghindari beberapa bahan yang jatuh akibat api tersebut, dan ketika sudah sampai tangga, ketika mereka akan turun justru api dari bawah malah semakin besar


"Ke rooftop mas, ayoo" Ajak Shinta segera menarik tangan Reyhan untuk menaiki tangga ke atas


Saat sudah sampai rooftop, Reyhan mendapat kabar bahwa gedung bagian bawah pun sudah terbakar karena Alana memang sudah merencanakan pembakaran gedung tersebut


"Sekarang gimana? Aku- aku gak tau harus apa" Ucap Shinta frustasi, sekarang mereka terjebak di gedung yang terbakar dan jalan keluar satu satu nya pun hanya lewat rooftop saja


๐Ÿ“ป : Haloo, kita udah pasang kasur angin dan cara satu satu nya kalian lompat sekarang juga


"Kita, kita terjun ke bawah" Ucap Reyhan yang mendapat info dari tim mereka di bawah


"Gak, gak mau" Ucap Shinta menolak dengan cepat, bagaimana bisa ia lompat dengan keadaan hamil seperti ini? Yang ada bayi mereka tidak akan selamat nanti


"Yang, ini jalan satu satu nya... kamu mau kita gak selamat disini?" Tanya Reyhan panik karena api pun pasti sudah semakin menjalar ke atas sekarang


๐Ÿ“ป : tunggu apalagi kalian? AYO CEPAT LOMPAT!!!


"Kalau aku lompat trus anak kita gimana mas? Hiks.. kamu mau mereka belum lahir tapi udah pergi?" Ucap Shinta memegang kuat perut nya, jika dia lompat maka resiko keguguran pasti akan terjadi


Reyhan ingat kalau istri nya hamil dan dia juga tahu kalau ini sangat berbahaya, tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada cara lain yang bisa di lakukan


"Sayang... dengerin aku, kita gak punya cara lagi selain ini" Ucap Reyhan mengusap kedua pipi penuh luka tersebut


"Anak kita... hiks, anak kita gimana? Hiks aku gak mau dia pergi" Ucap Shinta menggeleng dan bersikeras untuk tidak lompat


Reyham bertanya pada tim mereka di bawah, apa tidak ada cara lain? Sedangkan menunggu pemadam kebakaran pun pasti akan membutuhkan waktu yang lama


Sudah banyak warga di dekat gedung itu yang berkumpul dan menyuruh mereka turun dalam bahasa mereka, namun Shinta tidak bisa turun begitu saja


"Maaf yang... tapi gak ada cara lain, kita lompat ya... apapun yang terjadi, aku selalu ada di samping kamu, jadi jangan khawatir yaa" Ucap Reyhan memberi kata penenang sedikit


Dengan terpaksa ia menarik badan sang istri untuk lompat bersama, walaupun Shinta berteriak menolak sekuat tenaga namun Reyhan tidak mau melepaskan demi keselamatan mereka berdua


Bukan karena tidak sayang dengan calon anak mereka, namun hanya ini jalan satu satu nya agar bisa keluar dengan selamat dari gedung itu


"Aaaa enggakk!!!!"


Ketika Shinta menolak dengan keras, tiba tiba ada helikopter dari atas yang seperti ingin mendarat di rooftop itu


๐Ÿ“ป : sepertinya itu memang bantuan, kalau benar cepat naik


Reyhan bingung, siapa yang meminta bantuan berupa helikopter? Tapi lebih baik nanti saja itu dia pikirkan


"Ayo naik Rey" Ucap seorang laki laki berumur, yakni papa Raka yang membuka pintu helikopter sendiri ketika sudah benar benar mendarat


"Papa..."


"AYO CEPATT!!!" Teriak papa Raka gemas dengan Reyhan yang malah melongo dengan mulut terbuka


Reyhan menggelengkan kepala lalu dengan cepat membopong istri nya untuk naik ke helikopter tersebut, dia harus tanggap karena istri nya mengalami pendarahan di bagian lengan


Helikopter itu langsung mengudara untuk menuju rumah sakit


"Makasih pa" Ucap Reyhan sambil mendekap Shinta yang dalam keadaan lemas sekarang


"Kalian harus jelasin semuanya sama papa" Ucap papa Raka


Saat sampai rumah sakit,ย  helikopter mendarat di jalur evakuasi rumah sakit yang berada di atas gedung rumah sakit, beberapa perawat langsung membawa Shinta untuk di tangani karena sudah mendapat telepon dalam perjalanan tadi


Karena Shinta mendapat luka tembak, jadi lah ia harus di operasi sekarang juga di rumah sakit Osaka, kalau tidak justru luka nya akan semakin parah


~


Disini Reyhan berada, di ruang tunggu rumah sakit Osaka... ia masih menunggu istri nya yang sedang menjalankan operasi di dalam


"Tenang Rey, papa yakin menantu papa baik baik aja" Ucap papa Raka menepuk bahu putra nya


"Rey khawatir pa" Ucap Reyhan memijat kepala nya sendiri dan menunggu dengan tidak sabar


Tidak lama kemudian datanglah Bian, Adib, Tiara, Laila serta Bref yang menyusul ke rumah sakit, sedangkan lain nya masih membawa Alana yang berhasil di tangkap untuk ke kantor polisi


"Kak Rey, gimana keadaan kakak?" Tanya Adib dengan nafas ngos ngos an, dan Reyhan hanya menunjuk ruang operasi yang masih berlangsung


"Untuk Alana, polisi sudah berhasil menangkap nya dan proses hukum akan di mulai pak" Lapor Bref yang hanya di angguki Reyhan, untuk sekarang dia ingin fokus dengan keselamatan istri nya


"Rey, papa butuh penjelasan kamu" Ucap papa Raka yang sudah bingung dengan keadaan sekarang


"Ya pa" Ucap Reyhan berdiri dari duduk nya, menyuruh Adib untuk menggantikan diri nya menjaga sebentar selama dia masih menjelaskan pada papa Raka


Mereka berdua bicara di kantin bawah, sekalian memberikan minuman untuk rekan rekan mereka


"Jadi bisa papa tau awal mula kejadian ini Rey?" Tanya papa Raka


Reyhan menghembuskan nafas nya perlahan, lalu mulai menjelaskan dari awal dimana istri nya memiliki masa lalu, dan meninggal nya pebisnis yang papa Raka kenal dulu


Dari awal sampai akhir Reyhan menceritakan semuanya tanpa berbohong apapun, dia hanya menutupi soal trauma istri nya karena itu masalah privasi Shinta yang tidak bisa di ungkap ke orang lain tanpa ijin istri nya sendiri


"Jadi begitu pa" Ucap Reyhan selepas mengakhiri penjelasan nya


"Papa paham sekarang, lebih baik kita balik ke atas.. siapa tahu operasi nya udah selesai" Ucap papa Raka berdiri dari duduk nya


"Papa marah? Kalau papa marah lebih baik marah sama Rey aja" Ucap Reyhan

__ADS_1


"Kita bicarakan itu nanti sama mama juga" Ucap papa Raka berlalu sambil membawa beberapa minuman untuk kembali ke ruang tunggu


Reyhan sudah menebak bahwa ending nya pun pasti harus di bicarakan dengan mama Riana juga, tidak apa apa yang penting masalah sudah selesai sekarang.




Selesai operasi Shinta langsung di pindahkan ke ruang perawatan, ia masih belum sadar karena efek obat operasi tadi



"Kak... aku janji habis ini bakal jagain kakak lebih baik lagi" Ucap Adib mencium punggung tangan Shinta



"Lebih baik kalian kembali ke hotel untuk istirahat, biar saya yang jaga disini" Ucap Reyhan



"Tapi kak... aku mau disini" Ucap Adib enggan pergi



"Biarin Shinta istirahat dan kalian semua juga istirahat, nanti kalau dia udah bangun, aku bakal kasih kabar" Ucap Reyhan



"Ayo... biarin Zefa istirahat" Ajak Bian kepada Adib, Bref dan juga Tiara dan Laila, mereka keluar dari rumah sakit untuk istirahat menuju ke hotel awal



"Papa juga... lebih baik papa istirahat" Ucap Reyhan



"Papa istirahat disini aja Rey, jangan paksa papa" Ucap papa Raka berbaring di sofa ruang rawat, sedangkan Reyhan hanya duduk di kursi samping ranjang istri nya



Ia makin merasa bersalah ketika melihat perban lengan bekas peluru, wajah yang mulus itu kini muncul luka lebam yang parah, ia merasa tidak bisa melindungi istri nya dengan baik



"Kamu dan menantu papa udah berusaha dengan kuat Rey, papa hargai itu dan biar papa yang ngomong pelan pelan sama mama... kalian jangan khawatir" Ucap papa Raka



"Ya pa, makasih" Ucap Reyhan.



Keesokan hari nya, Shinta yang memakai baju pasien dengan hijab itu pun mulai membuka mata... ia bisa melihat ada Reyhan yang tertidur sambil memegang kuat tangan nya



"Pagi" Ucap Shinta lirih dan mengelus kepala tersebut



Reyhan ikut membuka mata, raut muka bahagia seketika muncul ketika melihat istri nya sudah bangun selepas tidur panjang



"Kamu ngerasain sakit? Butuh sesuatu? Atau mau makan apa? Aku panggilin dokter ya?" Tanya Reyhan



Shinta menggeleng, ia tidak butuh apa apa... rasanya lega ketika melihat mereka selamat dari kejadian kemarin, bahkan kandungan nya pun sekarang baik baik saja



Reyhan membantu istri nya untuk duduk, mereka saling pandang dalam haru lalu berpelukan satu sama lain, benar benar sekarang mereka bisa benafas lega tanpa rasa khawatir lagi



"Makasih" Ucap mereka bersamaan, terimakasih karena sudah bertahan satu sama lain dan berjuang untuk ini



"Kalian udah bangun?" Tanya papa Raka yang sebenarnya tidak ingin mengganggu, namun ini sudah jam sholat subuh dimana mereka harus melaksanakan ibadah tersebut



"Pa... Shinta-"



"Papa udah tahu semuanya kok, jangan khawatir dan lebih baik fokus sama kesehatan kamu serta calon cucu papa" Ucap papa Raka mengerti bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk berbicara serius dengan menantu nya



๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ




"Aku gak papa, jangan khawatir" Ucap Shinta tersenyum pada Adib dan Tiara yang mengunjungi nya pagi ini



"Shin... gue khawatir banget sama lo, maaf ya kemarin itu gue gak bisa masuk gedung karena kaki gue cedera" Ucap Laila yang kemarin ikut ke bawah



"Gak papa, lo udah berusaha dengan baik kok.. makasih ya" Ucap Shinta



"Saya senang karena sekarang sudah selesai, dan nona juga baik baik saja" Ucap Tiara tulus



"Saya juga senang dan terimakasih banyak atas kerja keras kamu, oh iya... saya ada bukti pengakuan" Ucap Shinta memberikan alat perekam yang dia pakai selama bersama Alana kemarin



"Ini? Alat perekam?" Tanya Tiara



"Iya, saya sudah merekam semuanya... jadi tolong serahkan ke pengadilan Osaka, untuk lebih lanjut bisa kalian tambahkan terjemahan dalam pengakuan tersebut" Ucap Shinta sadar jika mereka berada di Jepang, sedangkan rekaman pengakuan Alana kemarin berbahasa Indonesia



"Baik, saya akan menyerahkan bersama pak Bian sekarang" Ucap Tiara berpamitan untuk pergi, sebenarnya Adib tidak terima ketika Tiara harus pergi dengan Bian namun sekarang tidak tepat untuk cemburu cemburu aj



"Pa... Mama udah tahu?" Tanya Shinta



"Belum, nanti papa jelasin ke mama setelah kalian pulang" Jawab papa Raka



"Maaf ya pa... karena Shinta papa jadi kesusahan begini" Ucap Shinta bersalah ketika orang tus mereka harus ikut andil



๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ



Seminggu sudah mereka di Osaka, hari ini mereka akan pulang ke Bandung, kasus Alana memang belum selesai namun Tiara dan Bian yang akan mengurus sepenuh nya disini



"Saya pulang duluan... nanti kalian menyusul ya" Ucap Shinta



"Pasti... gue nyusul kalau kasus ini udah selesai kok Zef" Ucap Bian



"Gue nyusul nya nunggu bokap selesai" Ucap Laila harus menunggu papa nya yang juga memiliki urusan di Osaka



Mereka berpamitan di bandara, karena Tiara dan Bian akan tinggal di Osaka sampai Alana masuk ke jeruji besi, ya... meskipun Adib sangat tidak rela mengetahui hal tersebut, rasanya ingin ikut tinggal di Osaka tapi ia juga punya pekerjaan lain



"Semoga selamat sampai tujuan" Ucap Tiara



"Tau ah, bete" Ucap Adib langsung check in dari pada harus berlama lama menghadapi kenyataan ini



"Lahh kok ngamok?" Tanya Bian dengan canda gurau nya


__ADS_1


"Halah... bilang aja lo juga aslinya bete" Ucap Rey karena tahu bahwa Laila memang di Osaka tapi tidak bisa bersama dengan Bian



"Enggak tuh" Elak Bian walau hati nya juga kecewa, ternyata Laila tinggal lebih lama di Osaka bukan untuk diri nya melainkan untuk sang papa



"Biasa, anak kalau lagi jatuh cinta ya gitu" Ucap papa Raka terkekeh mengingat Rey juga dulu seperti itu, gampang ngambek ketika baru jatuh cinta dengan Shinta



"Yaudah ya... babay assalamualaikum" Pamit Shinta melambaikan tangan nya



"Bay... waalaikumsalam"



๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ



Ketika sudah pulang di Bandung, mereka langsung di sambut oleh mama Riana dengan raut wajah gembira mengetahui anak dan menantu nya dalam keadaan sehat



"Ya Allah... anak anak ku sehat, baik baik aja" Ucap mama Riana memeluk bahkan mencium dahi mereka secara bergantian



"Suami nya gak di peluk ma?" Tanya papa Raka



"Nanti aja" Jawab mama Riana yang masih bersyukur dengan kepulangan mereka



"Ma... mama udah ta-"



"Mama udah tahu semuanya, papa udah cerita sedetail detail nya sama papa kemarin" Ucap mama Riana sambil menyuruh mereka untuk duduk istirahat di ruang keluarga



"Trus reaksi mama gimana?" Tanya Reyhan



"Ya mama sempet mau marah sampai mau nyusulin kalian kesana, tapu mama juga tahu kalau kalian udah berumah tangga pasti mau menghadapi semuanya sendiri.... hanya saja kalau ada apa apa yang penting, tolong kasih tahu mama... setidaknya mama sama papa bisa bantu kan?" Ucap mama Riana tidak henti henti nya mengelus punggung sang menantu



"Iya ma, kita minta maaf karena udah bohong sama mama..." Ucap Reyhan



"Trus besan mama gimana? Udah tahu?" Tanya mama Riana



Shinta menggeleng "Belum ma, nanti Shinta sendiri yang cerita sama mereka sejelas jelas nya"



"Ya lebih baik emang gitu, anak nya sendiri yang cerita" Ucap mama Riana tersenyum sambil memegang perlahan pipi Shinta yang terdapat luka di sana



๐ŸŒธ๐ŸŒธ๐ŸŒธ



2 bulan berlalu, kasus pembunuhan yang sudah terungkap kini membuahkan hasil... yakni hukuman penjara seumur hidup untuk Alana atas pembunuhan berencana pada Zean, dan percobaan pembunuhan di gedung Osaka



"Mas... akhirnya semuanya selesai" Ucap Shinta tersenyum lebar, wajah nya yang sempat terdapat luka lebam kini sudah kembali mulus seperti semula



"Iya, alhamdulillah... sekarang kita gak perlu khawatir soal apapun lagi" Ucap Reyhan lalu mencium perut buncit itu, yang mana kandungan Shinta sekarang sudah memasuki 6 bulan.



Bel rumah mereka berbunyi, karena memang Jannah dan Laila serta suami nya alias Rendra memang akan berkumpul disini



"Hua... bumil sehat?" Tanya Jannah dengan perut nya sendiri yang juga sudah buncit dengan usia yang berbeda



"Alhamdulillah sehat kok, lo sendiri?" Tanya Shinta balik



"Sehat juga... by the way, Laila ini belum ada rencana buat nikah gitu?" Tanya Jannah



"Ya.... gimana ya, jodoh nya belum ketemu, nanti aja deh" Ucap Laila santai karena dia sendiri juga belum ingin menikah, masih menunggu keponakan nya lahir



"Awas lo nanti di gondol, hahaha" Ucap Jannah tertawa



"Kalau jodoh mah gak bakal kemana, iya kan Shin?" Ucap Laila meminta pembenaran



"Iya iya..."



Mereka bercanda membahas ini dan itu, kadang nostalgia dari awal mereka bertemu, sama sama berjuang sampai seperti sekarang ini, sampai tidak sadar waktu sudah menunjukkan sore hari



Mereka pamit dengan janji bahwa minggu depan akan berkumpul lagi seperti ini, akam terus bercanda ria dan berkomunikasi, bersahabat bersama sampai mereka menua nanti



"Huft... sepi ya" Ucap Shinta menatap sahabat nya yang sudah keluar dari pagar rumah mereka



"Minggu depan ketemu lagi yang" Ucap Reyhan memeluk sang istri dari belakang, walau berat Shinta semakin bertambah tapi tubuh itu justru terlihat menggemaskan sekarang



"Aku gemuk ya? Kayak nya harus diet nanti" Ucap Shinta berbalik untuk menghadap suami nya



"Enggak, malah gemes... kayak guling, gak pelu diet kalau itu hanya menyakiti diri kamu sendiri" Ucap Reyhan menatap lekat wajah cantik itu, begitu pula sebaliknya



Saling menatap dan mengagumi satu sama lain, memuji dan mengucap syukur atas yang sudah mereka lalui selama ini



Cup, Reyhan mengecup kening serta bibir mungil istri nya... melakukan hal itu pasti memiliki rasa bahagia tersendiri



"Terimakasih sudah bertahan, dan semoga kita bisa melalui hal yang akan datang" Ucap Reyhan tersenyum manis sekali



"Terimakasih juga sayang, semoga Allah mendengar do'a hamba nya ini" Ucap Shinta membalas lalu memeluk Reyhan dengan erat seakan mereka tidak akan pernah berpisah sampai kakek nenek nanti



TAMAT...



Halo... terimakasih banyak untuk yang sudah bersedia membaca, maaf kalau terkesan buru buru karena saya harus segera menyelesaikan novel ini untuk lebih fokus ke pembelajaran yang saya lakukan



Maaf karena sangat lama saya baru update chapter baru nya karena terkendala sesuatu



Dan maaf juga karena banyak sekali kekurangan dalam novel ini, entah gaya bahasa atau penulisan yang salah.. saya benar benar minta maaf



Tentu nya cerita tidak berhenti disini, akan ada bonus chapter untuk kisah Rey dan Shinta serta anak anak mereka... TAMAT yang di maksud hanya untuk masalah mereka yang selesai, semoga bisa rilis bonus chapter dalam waktu dekat ini, aamiin

__ADS_1



Terimakasih.


__ADS_2