Hanya Kamu Seorang!

Hanya Kamu Seorang!
145. Rendra, Jannah


__ADS_3

*Heran, perasaan makan juga gak aneh aneh kok masih aja naik asam lambung ku* Batin Shinta menggelengkan kepala kemudian membasuh mulut nya dan segera keluar dari kamar mandi karena suami nya sedari tadi masih menggedor pintu


"Kamu gak papa kan sayang? kok gak lemes?" Tanya Reyhan kala istri nya sudah ada di depan mata dan bisa di pandang tentu nya


"Hmm? ngapain lemes? kan aku cuman asam lambung mas" Jawab Shinta nyengir


"Makanya jangan suka telat makan" Ucap Reyhan memencet hidung pesek itu


"Kan nunggu kamu pulang dulu" Ucap Shinta memberi alasan karena suami nya belakangan ini memang pulang agak larut alias lembur


"Lain kali kamu makan duluan aja sayang, dari pada nanti kamu sakit" Ucap Reyhan mengecup bibir mungil itu bertubi tubi karena tergoda melihat nya basah terkena air


"Iya, udah ah sekarang mending ganti baju trus ke tempat acara nya Jannah" Ajak Shinta karena waktu mereka semakin menipis bagaikan ozon yang terkena gas karbon monoksida


Keduanya menyiapkan diri dengan memakai pakaian yang warna nya senada, biru menjadi pilihan keduanya


"Oke selesai" Ucap Shinta duduk di depan meja rias saat selesai merapikan hijab nya


"Cantik" Ucap Reyhan memuji istri nya dengan tersenyum lembut


"Ohh jelas, wanita iku akan selalu terlihat cantik di mata orang yang tepat" Ucap Shinta mengedipkan satu mata nya


"Contoh nya yang gak tepat gimana?" Tanya Reyhan dengan merangkul pundak istri nya dari belakang


"Body shaming, kirim pap dulu kalau cantik baru aku pacarin, itu kebanyakan anak muda jaman sekarang, makanya jadi banyak tukang ghosting dan korban ghosting" Jawab Shinta menggunakan nada julid bak netijen +62


"Haha... jangan jangan kamu admin akun lambe turah ya? julid banget" Ucap Reyhan tertawa


"Enak aja, masa jadi admin gosip? ogah ih naudzubillah" Ucap Shinta bergidik ngeri sambil mengelus dada nya sendiri


"iya dosa jariyah, yaudah ayo... mau berangkat atau satu ronde dulu?" Goda Reyhan yang sukses mendapat balasan cubitan di pinggang nya


"Udah mau telat, jangan macam macam" Ucap Shinta memperingatkan


"Iya sayang... tapi nanti malam boleh kan?" Tanya Reyhan


"Emang kapan kamu libur? perasaan gak pernah" Jawab Shinta menggelengkan kepala


"Biar cepet jadi sayang, lagian rasanya juga enak kan? kayak terbang di angkasa?" Goda Reyhan lagi


"Salah... yang bener terbang di hati kamu" Ucap Shinta sedikit belajar menggombal


"Haha... udah ayo!" Ajak Reyhan tergelak kemudian menggandeng tangan istri nya untuk keluar dari apartemen menuju parkiran


30 menit perjalanan menuju hotel tempat ijab qabul, begitu pula resepsi yang akan langsung di laksanakan setelah nya, Rendra lebih memilih merangkap semua kegiatan menjadi satu hari karena mengambil pengalaman Reyhan yang di malam ketiga baru bisa unboxing dan dia jelas enggan mengalami hal itu, haha


"Kenapa acara nya barengan ya? kasian Jannah capek dong" Ucap Shinta saat mereka sampai di loby hotel


"Rendra gak mau kayak aku sayang" Jawab Reyhan membuat kening istri nya berkerut


"Pengalaman kamu apa?" Tanya Shinta


"Baru buka segel di malam ketiga" Jawab Reyhan santai


"Kenapa laki laki selalu nunggu hal itu ya?" Ucap Shinta heran


"Laki laki normal sayang, liat perempuan yang kita cintai, trus udah dapat sertifikat halal pula, mana bisa tahan? aku aja waktu itu nahan mati mati an supaya gak nyentuh kamu lebih dulu, kamu gak tau gimana rasanya sih" Ucap Reyhan menjelaskan


"Dih... kamu juga gak tau gimana rasanya aku harus nahan malu, waktu satu kamar sama kamu dan first kiss dari kamu malah di katain asin lagi" Ucap Shinta kesal, bukan nya kata romantis yang keluar tapi malah ejekan asin yang terlontar


"Aku juga gugup sayang, tapi aku bisa menyembunyikan hal itu" Ucap Reyhan mengecup dahi itu kemudian keluar mobil tetap dengan menggandeng istri nya


"Aku heran sama satu hal deh" Ucap Shinta di sela sela langkah mereka masuk ke tempat aula


"Heran kenapa?" Tanya Reyhan


"kamu tau kan kalau pernikahan kita di laksanakan sangat tertutup dan privasi, bahkan beberapa jalan menuju hotel juga di tutup sama papa, tapi kenapa masih ada satu dua orang wartawan waktu itu? mereka lewat mana coba?" Tanya Shinta


"Mereka lebih tau jalan jalan tertentu atau jalan dalam sayang, emang kamu belum siap kalau go publik?" Tanya Reyhan balik


"Ya... kadang cemburu kalau kamu di katain single terus, tapi aku masih belum mau muncul di publik, tunggu in aku siap ya mas" Ucap Shinta tersenyum manis seperti madu menurut suami nya


"Aku paham sayang, aku juga sangat mementingkan privasi bahkan gak mau kalau sampai wajah tampan ku ini kepotret sama wartawan" Ucap Reyhan pede

__ADS_1


"Iya deh iya, apapun alasan nya terserah kamu aja mas" Ucap Shinta mengiyakan saja tingkat kepedean suami nya, kemudian memberikan undangan pada bodyguard yang berdiri tegak di depan pintu aula, setelah di konfirmasi baru lah mereka di izinkan masuk ke dalam


Aula yang luas sudah rapi dan cantik dengan hiasan yang ramai seperti resepsi pada umum nya, konsep putih selalu mendominasi dengan elegan, kedua nama mempelai tercantum di panggung pelaminan yang megah


"Assalamualaikum om, tante... " Ucap Reyhan menyalami kedua orang tua Rendra yang sudah pasti mengenal baik dia dan keluarga nya


"Waalaikumsalam... wah nak Reyhan makin ganteng ya" Puji mama Kiran, mama nya Rendra


"Iya, makin tegap nih anak nya Raka" Timpal papa Satya, papa nya Rendra


"Om bisa aja" Ucap Reyhan menanggapi dengan senyum tipis nya


"Ini juga, istri nya makin cantik, terakhir ketemu waktu di resepsi kalian kan" Ucap mama Kiran yang dulu hadir di resepsi mereka


"Eh iya tante, apa kabar?" Ucap Shinta membenarkan seraya bertanya kabar


"Tante alhamdulillah baik... oh iya kalau mau ke Jannah dia ada di kamar dekat aula, kamu kesana ya temani sahabat kamu" Ucap mama Kiran yang dasar nya memang orang baik, sama seperti mama Riana


"Iya tante, saya permisi kesana dulu ya" Pamit Shinta kemudian meminta izin pada suami nya, Reyhan sempat berkata hati hati karena di depan sudah ada beberapa wartawan yang entah muncul darimana, pernikahan sahabat nya juga di laksanakan tertutup sama seperti dia dulu


"Rey... " Ucap Rendra yang tiba tiba datang dan berdiri di samping Reyhan


"Awas jangan sampai salah sebut nama" Ucap Reyhan memperingatkan


"Emang mau salah sebut nama siapa?" Tanya papa Satya


"Juminten om, wanita yang jadi staf di kantin perusahaan" Jawab Reyhan membocorkan


"Shit... gila lo, dia janda punya anak punya pacar, yakali mau gue embat" Ucap Rendra membaela diri


"Kali aja beneran sama juminten jadi nanti punya istri dua" Sahut Andrew yang baru saja datang dan masuk aula


"Satu aja dapet in nya susah, gak gak naudzubillah kalau poligami" Ucap Rendra menggelengkan kepala


"Kalau lo gimana Rey? mau punya dua juga?" Goda Andrew menaik turunkan alis nya


"Ogah, satu aja susah jaga nya kayak itik" Ucap Reyhan


"Good, gue gak mau kalian jadi penjahat dan menyakiti wanita, oh... salam om, tante" Ucap Andrew pada orang tua Rendra


"Tuh Ren... mau di potong buat imlek" Ucap Andrew terkekeh


"Enak aja gue di sama in kayak babi, gantengan gue kemana mana kali" Ucap Rendra tidak terima


"Oh iya gimana kerja sama antara perusahaan kalian dengan perusahaan yang baru ini di bangun? kalau gak salah nama nya growyer group" Ucap papa Satya


"Saya belum memiliki kerjasama dengan perusahaan itu om, karena masih baru dan ada satu kasus yang membuat nama mereka sedikit di ragukan" Jawab Reyhan


"Saya juga belum om, mungkin kedepan nya ada kesempatan kalau mereka mengajukan kerja sama dengan perusahaan cabang sini" Jawab Andrew


"Rendra sempat menerima pengajuan kerja sama pa, untuk mereka yang mau membangun rumah sakit baru, tapi masih ada hal yang perlu di konfirmasi" Ucap Rendra menimpali karena dia memang memegang perusahaan farmasi milik orang tua nya


"Kalian ini di manapun dan kapan pun selalu bahas kerjaan" Ucap mama Kiran menggelengkan kepala nya


"Nanti hasil nya juga buat mama shoping kan?" Ucap papa Satya yang benar adanya


Jika para laki laki membahas urusan bisnis, maka berbeda pula di kamar Jannah yang tengah heboh akibat kedatangan sahabat nya


"Masyaalloh... cantik banget asli" Ucap Shinta memuji dengan memberikan dua jempol nya


"Hua... tinggal lah Lala yang jomblo abadi seorang diri" Ucap Laila mendrama bak meratapi nasib nya


"Kan gue bilang sama Bian aja gak papa" Ucap Jannah terkekeh, gadis yang sebentar lagi akan menjadi istri orang itu sudah di rias oleh MUA, cantik, anggun dan menggunakan baju putih dari butik Laila, hijab membalut mahkota nya, juga gaun dari tempat yang sama rancangan milik Laila yang akan di gunakan sewaktu resepsi nanti sore


"Ogah ih, nanti aja kalau ada orang yang ngelamar gue" Ucap Laila, gadis itu mengenakan baju berwarna lylac dengan hijab yang rapi


"Terserah lo deh, gue cuman berharap orang tua gue di atas bahagia ngeliat gue sekarang" Ucap Jannah dengan tatapan sendu karena orang tua yang sudah berpulang ke pangkuan nya sejak dia masih kecil


"Kita selalu ada buat lo" Ucap Laila menepuk pundak itu


"Lo udah ke makam mereka?" Tanya Shinta


"Udah, kemarin waktu lamaran pulang nya kita mampir ke makam sebentar buat minta izin trus do'a in orang tua gue juga" Jawab Jannah karena dia dan keluarga Rendra memang nenyempatkan diri kesana sebelum semuanya terlaksana sekarang

__ADS_1


"Good, semoga semuanya lancar dan orang tua lo pasti bahagia liat anak gadis nya udah dewasa, mau jadi istri orang dan punya cucu juga" Ucap Shinta yang membuat kulit Jannah memerah mendengar kata terakhir dari sahabat nya


"Sakit gak ya?" Tanya Jannah ragu


"Apanya yang sakit?" Tanya Laila


"Eleh... gak usah berlagak polos ya, lo kan pro di antara kita bertiga meskipun jomblo" Ucap Jannah


"Hehe... kan gue cuman denger juga dari temen temen, katanya sakit pas pertama doang, tapi ya gak tau kan gue masih perawan ting ting" Ucap Laila


"Bener Shin?" Tanya Jannah meminta kebenaran


"Ha? ya... gimana ya, rasain aja sendiri ntar juga tau" Ucap Shinta enggan menjelaskan karena bingung dengan kata apa yang harus ia rangkai


"kan gue maunya tau dari elo" Ucap Jannah memaksa


"Gue gak bisa jelasin, saru woi malu juga lah gue" Ucap Shinta memberi alasan


"Udah la Jan, tar juga ngalamin kok... meskipun beneran sakit juga itu udah kewajiban istri, iya kan Shin?" Ucap Laila yang tiba tiba menjadi bijak dalam pembicaraan ini


"Iya, bener tuh... jangan mikirin yang gak gak, lagian kalau sakit juga ngapain orang orang pada punya banyak anak?" Ucap Shinta


"Iya sih" Ucap Jannah membenarkan


30 menit kemudian ketiga gadis itu masih mengobrol kesana kemari hingga nenek Jannah yang kemarin di bawa ke Bandung pun memasuki kamar nya


"Nak... nanti jangan keluar dulu sebelum kata sah ya" Ucap nya mengingatkan


"Iya nek" Ucap Jannah menurut


Di aula, ada dua keluarga yang sudah datang untuk menjadi tamu ijab qabul, memang antara keluarga dan teman dekat saja, berbeda dengan nanti acara resepsi yang pasti akan ada banyak petinggi perusahaan


"Gimana? sudah siap?" Tanya seorang laki laki yang merupakan paman dari Jannah dan menggantikan posisi untuk menjadi wali dari keponakan nya


"Siap om" Jawab Rendra yakin, di belakang nya ada Andrew dan Reyhan yang tak henti henti nya mengingatkan agar tidak salah menyebut nama


"Silahkan berjabat tangan" Ucap pak penghulu membimbing, setelah paman Jannah mengucapkan kata yang seharus nya, baru lah Rendra menirukan


"Saya terima nikah dan kawin nya Yatimatul Jannah binti Hendra Hidayat dengan mas kawin tersebut tunai" Rendra berhasil mengucapkan nya dalam satu tarikan nafas


"Bagaimana para saksi? sah?" Tanya pak penghulu memastikan dan semuanya kompak menjawab


"SAH"


Dada Rendra bergemuruh, tentu saja perasan nya senang karena dapat menghalalkan orang yang dia cintai tanpa berlama lama pacaran, kata syukur selalu saja menghiasi bibir nya


"Congrats bro!" Ucap Reyhan menepuk bahu sahabat nya


Detik kemudian semua mata tertuju pada bintang utama siang ini, Jannah berjalan dengan anggun di apit oleh sang nenek, sedangkan dua wanita cantik yang tak lain dan tak bukan adalah Laila dan Shinta berada di belakang mereka


Rendra menyambut nya, mengucapkan do'a dengan memegang ubun ubun perempuan yang sudah menjadi istri nya, lalu mengecup dahi itu untuk pertama kali


"tolong bimbing aku dalam rumah tangga ini, terimakasih" Ucap Jannah ganti mencium punggung tangan suami nya


"Akh... jadi pengen nikah lagi" Ucap Shinta spontan yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari suami nya


"Ha? kamu bilang apa barusan?" Tanya Reyhan memastikan dengan pandangan yang entah ekspresi apa itu


"Apa sayang? maksud nya tuh nikah sama kamu lah" Jawab Shinta enteng karena melihat barusan dia jadi teringat pada akad nikah nya sendiri


"Bukan sama pria lain" Sambung Shinta sambil bergelayut manja pada lengan suami nya


"Tumben manja? jangan disini masih rame" Goda Reyhan berbisik


"Siapa juga yang mau sekarang? kan aku cuman meluk doang" Ucap Shinta melilit lengan itu semakin kuat


"Dasar gak tau tempat" Umpat Andrew yang duduk di samping Reyhan


"Sirik aja lo" Ucap Reyhan tanpa mempedulikan omelan Andrew lagi


Acara pun di lanjut kan dengan yang semestinya, seperti yang di jadwalkan kalau selesai akad, maka semua orang istirahat sebentar lalu bersiap lagi untuk resepsi


"kamu jangan macam macam ya nanti!" Ucap Shinta mewanti wanti saat keduanya sudah di kamar hotel

__ADS_1


"Gak janji sayang" Ucap Reyhan merebahkan tubuh nya di kasur empuk itu, dia tidak takut kusut karena memang membawa baju ganti tadi


Bersambung


__ADS_2